Haul Ketiga Pujangga Hasan Junus

Cerita Kenang yang Tak Terlerai

5 April 2015 - 10.06 WIB > Dibaca 1245 kali | Komentar
 
 Cerita Kenang yang Tak Terlerai
ilustrasi: eko faizin/riaupos
Haul ketiga tahun wafatnya Imam Sastra Riau, Hasan Junus digelar belasan seniman dan sastrawan Riau di aula Dewan Kesenian Riau (DKR), Senin (30/3) lalu. Semula helat tersebut hendak dilaksanakan di Panggung Pinang Merah, tepatnya di sebelah gedung DKR, di belakang gedung menjulang Anjung Seni Idrus Tintin tetapi cuaca tidak memungkinkan sehingga harus dipindahkan malam itu juga tempat pelaksanaannya.

Laporan JEFRIZAL, Pekanbaru jefrizal@riaupos.co.id

LAZIMNYA, acara dibuka dengan pembacaan yasin bersama. Duduk melingkar, para seniman dan sastrawan Riau membacakan ayat-ayat dengan khusuk yang kemudian ditutup doa bersama. Kemudian acara dilajutkan dengan mengapresiasi karya-karya Hasan Junus baik berupa cerpen, esai, pembacaan puisi maupun cerita-cerita kenang dari masing-masing hadirin yang hadir. 

Acara berlangsung dengan kesederhanaannya. Tak ada persiapan yang memadai hanya semangat dan kehendak hati yang begitu kuat untuk menghargai tokoh-tokoh yang telah mendahului, yang telah banyak memberikan dan menyumbangkan jasa-jasanya dalam kancah kesusasteraan di Riau, nasional bahkan international.

SPN Zuarman Ahmad, salah seorang sahabat karib Hasan Junus mengatakan acara serupa ini penting sekali untuk dilaksanakan. Bukan hanya sekedar memperingati hari wafat yang diselenggarakan setahun sekali, tetapi lebih dari itu, sosok Hasan Junus merupakan salah seorang sastrawan yang telah mendedikasikan hidupnya dalam dunia kepenulisan. Katanya, jejak yang telah ditoreh almarhum semasa hidup hendaknya dapat diperturut. Spirit dan semangat serta ketotalannya terhadap dunia sastra tidak ada bandingnya. semangat inilah yang harus dimiliki generasi hari ini, meski pun saya masih belum menemukan semangat itu pada anak-anak muda hari ini, ucapnya.

Terlahir sebagai Pujangga
Tiga tahun yang lalu, tepatnya tanggal 30 Maret 2012, Hasan Junus telah berangkat meninggalkan kefanaan, kembali ke dermaga keabadaian dan tak akan pernah kembali lagi.  Yang tinggal, adalah ragam jenis tulisan yang telah dihasilkan berupa esai, artikel, cerita pendek, naskah drama dan terjemahan karya-karya pengarang dunia serta tulisan-tulisan dari kegiatan penelitian budaya dan sejarah yang pernah dilakukannya. 

Karyanya dalam berbagai genre itu lahir dari kecendekiawanan, kecerdasan, kepedulian dan kesetiaannya kepada sastra berupa puisi, cerpen, naskah sandiwara, novelet, esai, kritik sastra mengalir deras semasa hidupnya. Tulisannya bertebaran dimana-mana, dalam bentuk buku, berbagai majalah dan surat kabar. Bahkan beberapa karangan kreatifnya juga menjadi bahan kajian untuk skripsi oleh para mahasiswa. Bahkan saat ini, karya-karya Hasan Junus dibuat dokumentasinya oleh pihak pustaka Soeman Hs.

Maka sosok almarhum sangat padan dengan  sebuah pepatah Latin yang selalu pula disampaikan dulu semasa hidup kepada sesiapa saja yang singgah di kator Sagang lama (panam red). verba volant scripta manent  yang bermakna kata-kata lisan itu bisa terbang hilang melayang, mudah dilupakan, sebaliknya apa yang ditulis akan tetap tinggal.

Hasan Junus memang terlahir sebagai seorang pujangga. Intelektual Melayu, Abdul Malik, sebagaimana dimuat www.tamadunmelayu.info (22/10/2011) menulis, di dalam diri Hasan Junus mengalir darah kepengarangan Raja Ali Haji, pujangga terkenal Melayu, pahlawan nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia. Kakek dari ayahanda Hasan Junus, Raja Haji Muhammad Junus adalah Raja Haji Umar tak lain tak bukan adalah saudara kandung Raja Ali Haji. Kedua orang itu adalah Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua. Bukankah Engku Haji Tua adalah seorang pengarang? Dan juga pengarang dan pejuang marwah perempuan, Aisyah Sulaiman, adalah ibu saudara dua pupu Hasan Junus. 

Hasan Junus lahir di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 12 Januari 1941. Ketotalan Alm Hasan Junus dalam bidang kepenulisan semasa hidupnya memang tidak diragukan lagi. Di Tanjung Pinang dalam tahun 1970-an, Hasan Junus bersama Eddy Mawuntu dan Iskandar Leo (nama pena Rida K Liamsi ketika itu) telah menerbitkan buletin budaya yang diberi nama Solarium serta memulai karya kreatif dalam sastra dengan kumpulan sajak mereka Jelaga. Setelah pindah ke Pekanbaru, Hasan Junus bersama Rida K Liamsi menerbitkan mingguan Genta. selain itu, Hasan Junus terlibat dengan berbagai kegiatan budaya diantaranya dengan majalah Menyimak. Hingga sampai akhir hayatnya, Hasan Junus yang dikalangan kerabatnya dikenal dengan panggilan HJ, memegang teraju majalah budaya sagang semasa hidupnya.

Karya dan Kisah
Karya-karya cerpen Hasan Junus, dibacakan secara bergiliran malam itu. Cerpen berjudul Lagu Untuk Elize dibacakan dengan takzim oleh salah seorang pelaku teater Riau, Monda Gianes. Cerpen itu juga sebagai pembuka bagi rekan-rekannya yang lain untuk maju satu persatu secara bergilir.

Sebuah puisi berjudul Engkau Telah Selesai Membaca dibacakan budayawan Riau ,Taufik Ikram Jamil yang berkesempatan hadir malam itu. Sebelum bait demi bati dibacakan, Taufik yang dikalangan seniman lebih dikenal TIJ itu mengatakan ada banyak cerita antara dia bersama Hasan Junus, baik suka maupun duka. Kalau diceritakan malam ini, tak pakai habis-habis, ucap Taufik.

Demikian juga, Hang Kafrawi yang juga turut membacakan sajak terkhusus untuk almarhum Hasan Junus. Tampil juga, Eriyanto Hadi bersama Deni Afriadi membacakan penggal cerita pendek karya Hasan Junus. Tidak hanya karya-karya dibaca malam itu. Tetapi rangkaian cerita kenangan juga meluncur dari mulut para hadirin. Cerita-cerita suka dan duka, diceritakan di atas panggung aula DKR tersebut. Seperti yang dilakukan Yoserizal Zen, Plt Kabiro Humas yang aktif mengapresiasi kegiatan seni itu. Dalam ceritanya dikatakan melalui almarhumlah, beliau banyak mengetahui silsilah keluarganya. Kesimpulannya dari HJ lah, saya tahu keluarga dan sanak famili saya. Tanpa HJ, saya mungkin tak tau silsilah keluarga, itu yang paling penting, ucapnya.  

Sementara itu, tampil juga bercerita GM Riaupos.co, Raja Isyam Azwar. Cerita-cerita dengan almarhum, kenang Isyam sapaan akrabnya lebih banyak kena marah tetapi diakui Raja Isyam, marahnya Hasan Junus tidak semata-mata terkait dengan kesalahan tetapi dia percaya, begitulah cara Hasan Junus kemudian mengajarinya tentang banyak hal. cerita-cerita dengan Tok Hasan, saya sering kena marah tapi marah yang dapat melecuti diri menjadi lebih baik. Melintas saja di depan kantornya dulu di Panam, pasti kena marah. Tapi satu hal, beliau selalu menyemangati saya untuk menulis. Beliau memang tokoh bagi saya dalam hal memotivasi dan sebagai penyemangat, kenang Raja Isyam. 

Berurai air mata, Budy Utami juga menceritakan kisah dan kenangannya bersama Hasan Junus. Tak sedikit cerita dan pembelajaran yang diperoleh kata Uut sapaan akrabnya itu sembari terus mengingat dan mengungkai kembali kisah-kisahnya bersama Hasan Junus. 

Demikian juga, Herlela Ningsih yang sudah sejak paginya berikim SMS kepada seniman-seniman tentang helat Haul ke 3 wafatnya Hasan Junus. Penyair perempuan itu, juga bercerita tentang sosok Hasan Junus. Mengingat dan mengenang kembali momen-momen yang pernah dirasakan dan dijalani semasa hidup almarhum. Seperti halnya juga yang dilakukan Aamesa Aryana dalam helat malam itu. Sepertinya ada banyak cerita yang tak terlerai dalam waktu yang singkat. Aamesa terus bercerita sembari sesekali meniru gerak dan pola ucap almarhum di hadapan belasan seniman yang hadir. Sehingga tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Akhirnya, helat Haul ke 3 HJ, ditutup dengan cerita yang disampaikan oleh Herif.(fed) 
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Follow Us