Oleh: Alex R. Nainggolan

Bangunan Sebuah Puisi

5 April 2015 - 10.41 WIB > Dibaca 1081 kali | Komentar
 
Bangunan Sebuah Puisi
Alex R. Nainggolan
“Pada mulanya adalah kata,” tulis Sutardji Calzoum Bachri suatu ketika. Kemudian, aura kata-kata itu bersusun secara sistematis, melengkapi setiap ruang kosong, memadat, mencairkan semua suara yang tak pernah selesai ditangkap oleh relung telinga. Seorang penyair, barangkali, dapat diibaratkan sebagai pemancing yang selalu membawa umpan (berupa kata-kata). Ia mungkin hanya menunggu, menjelajah, atau bahkan tidur-tiduran sambil berharap umpannya ada yang menyantapnya. 

Maka, kata-kata yang terdapat dalam puisi memang merupakan bauran warna, sepotong riwayat, kata-kata yang asing, kalimat yang tak pernah selesai—untuk segera dibuka tafsirnya. Di hadapan pembaca, puisi menjadi kalimat yang dirangkaikan kembali, dibaca perlahan-lahan  satu per satu. Diksi demi diksi coba dicerna kembali, menghamburkan—atau sekadar menghubungkan jejak-jejak yang pernah terekam oleh sejarah sebelumnya.

Pun puisi selalu memiliki bentuknya sendiri bergantung pada individu yang menulisnya (tidak lagi membawa komunitas yang digelutinya). Puisi telah membuka medan yang baru, memaknai kejadian-kejadian yang baru. Seluruh sejarah yang terangkum, barangkali, hanya sekadar penjelasan-penjelasan semu. Jika memang puisi tetap ditulis, memang itu kewajibannya. Puisi bertindak sebagai the other voice—meminjam ucapan Oktavio Paz. Si penyair sebagai pengolah kata tentu tidak mengerti mengapa puisi yang ditulis dapat berubah jadi seperti itu: sebagai sebentuk aura suara yang bisa menyuarakan keinginan-keinginan di masa mendatang.

Seseorang yang duduk termenung mencari sesuatu (dirinya) di antara bayangan-bayangan yang selalu menyergap bisa saja menipu puisi. Ia bisa saja menuliskan imaji-imaji yang dipenuhi dengan “kebohongan”. Namun, setidaknya, ia telah membacanya, melihatnya, mendengarkannya, lalu menuliskannya. Pengertian ini—dirujuk pula oleh Goenawan Mohammad, “Jika sesungguhnya penyair adalah seseorang yang bersedia dan memasrahkan dirinya menjadi orang yang tak memiliki batas. Menjadi orang tanpa warga negara,” keidentikan puisi akan membulat hingga kerap dihubungkan pada prinsip yang dipegang teguh H.B. Jassin sebagai humanisme universal (kemanusiaan secara menyeluruh).

 Prinsip ini mungkin telah lama menghilang dari kehidupan manusia. Buktinya, kekerasan begitu mudah diciptakan dan kerap membuat kita trauma juga mengelus dada. Bisa pula orang  berpura-pura tak sedih sembari melenggang ke mal-mal, tertawa dalam pesta sekeras-kerasnya—melupakan apabila di belahan dunia lain telah terjadi suatu tragedi kemanusiaan; yang menyebabkan hilangnya nyawa, darah tumpah, pembunuhan massal. Atau juga melupakan jerit kemiskinan ketika keluar dari pusat perbelanjaan di sebuah daerah, dengan para gelandangan yang bertubuh dekil (dengan kuku-kuku kehitaman—yang menyodorkan mangkuk plastik) dengan mata yang penuh harap meminta sekeping uang logam. 

Bisakah puisi menerjang batas-batas semacam itu? Dapatkan puisi menjadi cermin realitas atau apa hanya sekadar menelingkup sakit hati, frustasi, pencarian yang tak kunjung habis—yang membuat puisi menjadi sekadar metafora?

Bangunan puisi sesungguhnya tak pernah tuntas—ia bisa menjelma ke segala lingkup. Di mata pembaca, kesemua itu ditangkap. Maka, sebagaimana yang pernah dilansir Ahmadun Y. Herfanda, sesungguhnya letak kekayaan bangunan puisi tersebut bergantung pada kekayaan intelektual pembaca. Namun, benarkah kita memiliki pembaca yang kuat? Dengan rendahnya tingkat baca-tulis; yang membuat masyarakat lebih suka menghamburkan waktunya dengan tertawa keras-keras, menonton film-film asing dan/atau sinetron; pembaca sastra kita, saya pikir, tak pernah menampakkan dirinya secara utuh. Pembaca kita hanya segelintir orang, yang mungkin jumlahnya terus menurun sepanjang tahun. Padahal, karya sastra (termasuk puisi) tetap saja ditulis. Ini yang membuat takjub; di tengah realitas semacam ini ternyata masih banyak orang yang menulis puisi (yang barangkali bermula dari menuliskan suatu ihwal dalam diary-nya). 

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Seorang teman pernah berujar, wajar—jika puisi merupakan salah satu karya sastra yang paling banyak ditulis. Dengan kata lain, wilayah kreatif penciptaan puisi selalu mengalami reproduksi. Semua parodi, keseriusan, intrik, intip-mengintip, pengaruh dari sajak-sajak lain, kekesalan—segala yang bermuara pada perasaan senantiasa mudah diungkapkan dalam kata-kata. Bahkan, puisi yang hanya kesamaan bunyi, hanya berupa pertautan iklim, atau kegilaan dalam melakukan penjelajahan kata-kata, sudah sedemikian banyak ditemukan. 

Lalu, seperti apakah puisi yang baik? Benarkah puisi hanya sekadar ucapan igau seseorang (penulis) untuk menjadi penyair? Jawabannya tidak mudah.

Bangunan puisi kita mungkin sudah tidak begitu rekat, terlampau banyak penghamburan kata, seperti yang kerap terjadi pada sebuah berita. Ia akhirnya menjadi semacam tissue. Namun, puisi tetap saja lahir. Ketika ia muncul, kita kembali tergoda pada karya itu, sehingga puisi-puisi yang lalu menjadi abai oleh waktu.Kalau begitu perlu ada pembatasan dalam menulis puisi? Saya ingin mengatakannya “tidak”, sebab ini hanya akan mengekang kreativitas. Setiap penulis puisi tentu memiliki ciri khas. 

Peradapan global dengan teknologinya yang maju turut pula memengaruhi dunia  kepenyairan. Muncullah puisi yang mengikuti tren semacam itu, dengan hadirnya puisi-puisi instant. Pembaca tidak perlu berpusing kepala dalam menyusun bangunannya. Barangkali karena ia hadir seperti makanan siap saji. Puisi semacam itu biasanya berkisah tentang suatu pemandangan secara umum dan lebih menyerupai bentuk mikro dari keseluruhan hidup ini.

Benarkah puisi-puisi yang telah tertulis dalam sejarah sastra merupakan sebuah karya adiluhung, yang akan tetap abadi? Atau hanya akan menunda sebuah kekalahan, sebab begitu minimnya orang-orang yang peduli dengan kesungguhan kerja seorang penyair? Akankah puisi menjelma menjadi sebuah rangkaian kata yang piatu, yang hanya bermain di dunianya sendiri, tanpa dipedulikan? Mudah-mudahan tidak, kita berharap bangunan itu ada dan tetap berdiri tegak. Semoga.***
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us