Potret Alur Kehidupan

12 April 2015 - 06.28 WIB > Dibaca 1712 kali | Komentar
 
Mengalir bagi sebagian orang dianggap tidak memiliki obsesi, pasrah kepada keadaan tetapi tidak bagi seorang kreator dan pelaku seni. Mengalir mengikuti alur kehidupan adalah salah satu cara mengarifi hidup. Begitulah kira-kira dasar konsep proses kreatif Syah Ril Alek Dance Company (SADC) yang beberapa waktu lalu menampilkan enam reportoar tari selama dua malam di Anjung Seni Idrus Tintin.

Laporan JEFRIZAL, Pekanbaru

SADC sendiri merupakan sebuah kelompok tari asal Padangpanjang-Sumatera Barat yang langsung dipimpin oleh Syah Ril Alek yang juga dosen di ISI Padang Panjang.  Dalam dunia tari, Syah Ril Alek dikenal sebagai koreografer yang cukup diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional. Dalam proses kreatifnya, beliau selalu menawarkan gerak dalam tari yang memiliki konsep dan pemikiran yang jelas. Hal itu pula lah yang menjadikan dirinya bersama kelompok, menjajaki kawasan dunia untuk memberikan tawaran gerak dalam bungkusan tradisi Indonesia khususnya Sumatera Barat.

Bagi Alek, menari dan berkarya merupakan salah satu cara yang dalam memetik hikmah kehidupan. Fenomena-fenomena yang muncul di sekitarannya, merupakan titik-titik kehidupan, puncak-puncak keadaan yang selalu memberikan petunjuk naluri seorang Alek untuk diarifi sehingga setiap fenomena yang dipetik itu menjadi sumber karya yang tidak ada habis-habisnya untuk dikreasikan.

“Memang memerlukan waktu yang panjang dalam menerjemahkan fenomena-fenomena tersebut, untuk itulah diperlukan proses pematangan terus menerus dan selalu berkembang. Baik pematangan dalam proses ide dan gagasan maupun proses dalam latihan menerjemahkan ide dan gagasan ke dalam sebuah karya. Bagi saya, pada akhirnya sebuah karya menjadi potret jati diri dan potret alur kehidupan hari ini,” ungkap sang koreografer ketika ditemui usai pemanggungan.

SADC juga sebenarnya merupakan laboratorium bagi proses keanggotaan mereka. Artinya, di sanalah mereka sama-sama belajar dan ditempa baik olah tubuh atau pembentukan tubuh. Bagi mereka, tubuh itu terpenting. Sudah terbentuk, barulah dicari ide, konsep dan bentuk.
“Proses kreatif seperti inilah, kami mencari formula, dan kami usahakan menjadi sebuah karya setelah melewati pembedahan dan diskusi bersama-sama. Enam reportoar tari ini, semuanya hasil dari proses dalam sebuah labor. Yang selalu kami usahakan adalah agar tidak meniru karya-karya yang sudah ada. Kami mencari dan menemukan formula yang sangat berbeda yang kemudian ditawarkan, kesamaan akan sangat kecil baik dari segi konsep, gerak maupun bentuk. Labor seperti itulah yang kami ciptakan,” terang Alek.

Memilih dengan Cara Unik
Sebagai sebuah labor yang dinaungi Institut Seni di Padang Panjang, keanggotan SADC umumnya adalah mahasiswa. Uniknya, Alek selaku pimpinan labor memilih dan menyeleksi keanggotaan dengan cara tidak biasa. Bagi Alek disebut mahasiswa terpilih. Dalam artian, semuanya penari yang diseleksi adalah mahasiswa yang baru-baru yang tidak pernah dilirik atau pun yang belum memiliki kemampuan tehnik tubuh yang baik.

Kata Alek, penari-penari di SADC, adalah penari-penari yang “tersingkirkan”, kalah dalam saingan di dalam lokasi kampus, mereka yang tidak memiliki kesempatan menyalurkan kemampuannya tapi yang terpenting punya semangat dan tekad kuat. “Inilah yang direkrut. Kami kum pulkan dengan sebuah kesepakatan, kami melakukan latihan tiga kali seminggu setiap malam. Disiplinnya lebih berat daripada kuliah, tak datang dua kali, keluar,” ucap Alek lagi.

Hal itu juga dikatakan salah seorang penari, Siska Aprisia yang sudah lima tahun  bergabung di SADC. Katanya masing-masing anggota dituntut disiplin. Jadi kalau untuk latihan, disiplin menjadi keutamaan yang terus ditanam oleh pimpinan. Sedangkan prinsip proses kreatif dari SADC,tidak pernah memaksa anggota untuk langsung pintar. Misalnya penari yang tidak tahu tempo, teknik menari yang benar, dan hal-hal dasar lainnya. Setelah semuanya tampak hasilnya, barulah didedahkan ide dan gagasan yang kemudian dijadikan sebuah karya.
“Kekeluargaan dan kebersamaan konsepnya, artinya tugas senior yang mengajar junior-junior yang baru bergabung. Jadi kalau ada anak baru yang belum paham,kita bimbing terus,” ujar Siska yang awalnya dulu bergabung di SADC, juga tidak tahu bagaimana menari dengan benar.

Beda Konsep
Malam pertama, dibuka dengan tarian berjudul “Bumi Rakena” panggung disulap seolah-seolah menjadi layaknya daerah perbukitan. Jangan heran kemudian, terlihat batu-batu berserakan di atas panggung. Plastik bening menyerupai air dan kain hitam membentang, memperkuat suasana perbukitan yang hendak ditawarkan koreografer, Syah Ril Alek.

Disebutkan koreografer, Alek,  “Bumi Rakena” sebuah karya yang diangkat dari fenomena kabut yang menjadi kegelisahan tersendiri bagi masyarakat dunia. Akan tetapi di daerah pergunungan, kabut menjadi sahabat bagi masyarakat setempat khususnya Padangpanjang yang terletak di seputaran daerah bukit batu dan pergunungan, sebuah daerah yang kaya akan material alam dan budaya. Sesuai pula dengan falsafah Minangkabau mengatakan alam terkambang jadikan guru.

“Dalam tarian ini juga, penari harus mampu menari di lantai yang tidak datar. Karena ukuran di tempat kami, penari bisa dikatakan sebagai penari jika mampu menari di atas wadah yang tidak datar. Berangkat dari itulah, setting dari karya tari ini menggunakan setting dan properti dari batu, alu dan piring yang juga terdapat dalam kesenian Alu Katentong dan Tari Piriang, Batu Barajuik,” jelas Alek.

Melengkapi pertunjukan malam pertama itu, dilanjutkan dengan dua tarian berjudul “Siklus Magis” dan ditutup dengan tarian yang mengeksplorasi gerak zapin, berjudul “Bulan Terlambat Pulang”. “Siklus Magis” sebuah karya yang rangsangan awalnya dari persitiwa guna-guna yang terdapat di Payakumbuh yang bernama sirompak namun dalam karya tersebut mengalami perkembangan konsep yaitu tentang laku, prilaku dan tingkah laku orang yang terkena magis yang ditranformasikan kepada tubuh penari.

Sedangkan, tari “Bulan Terlambat Pulang” diangkat dari fenomena alam terkait wilayah kekuasaan siang dan malam. Sedangkan spirit dalam tarian ini diambil dari tari zapin yang berkembang di ranah Melayu. Zapin sebagai budaya Melayu yang dikenal denagn Melayu pesisir telah bergerak ke tempat baru yaitu budaya agraris namun hel demikian mampu memberi support inovasi menjadikan bagian sejarah perjalan zapin yang memang hadir karena estetika masyarakat pendukungnya.

Di malam ke dua, pertunjukan yang tak kalah menariknya dengan malam sebelumnya. Pentas tari dibuka dengan tarian diberi judul “Nagari Itiak Patah”. Karya ini berangkat dari fenomena sosial yang terdapat dari sebuah lingkungan atau nagari yang di dalamnya terdapat sebuah gejolak dan ketidakseimbangan sosial yang digambarkan melalui simbol pada seekor binatang Itik atau bebek yang salah satu kakinya yang patah.

Dilanjutkan dengan tari ke dua berjudul “Demi Cintaaaaaa”. Sebuah karya yang bila dilihat dari judulnya adalah kisah percintaan antara sepasang insan tetapi tidak seperti itu yang dimaksudkan sang koreografer. Kecintaan yang dimaksud, adalah demi cinta, sebuah bentuk pengorbanan yang tidak rela teatpi harus dijalani dalam hal ini dianalogikan sebagai banyaknya pengaruh globalisasi yang datang berkembang di lingkungan dan menjadi pengaruh yang sangat besar bagi kebudayaan Indonesia.

“Kecintaan kita kepada budaya kita harus terus dipupuk dan ditanam namun tidak pula serta merta menolak pengaruh dari luar yang terpenting adalah bagaimana kecintaan itu ditanam sejak dini dan menjadi kekuatan kita dalam menghasilan karya serta menunjukkan jati diri kita,” ungkap Alek.

Pentas ditutup dengan tarian pemuncak yang bereksplorasi dari bentuk tarian Randai, berjudul “Demokrasi”. Dikatakan pemuncak, karena karya ini sepertinya mengeksplor kekuatan-kekuatan penari SADC yang tidak hanya mampu menari dengan baik akan tetapi juga setiap penari dalam tarian ini dituntut untuk bersenandung. Tak ayal lagi, satu persatu dari puluhan penari menari dan sesekali bersenandung lewat legaran randai serta dendang-dendang minangkabau dalam garapan tari berjudul “Demokrasi”.

Nyanyian Mentawai dipilih pula untuk menggabarkan kesunyian dan kesepian dari seni tradisi itu sendiri. Begitu juga dengan legaran Randai yang sangat enerjik yang tidak hanya menggambarkan permainan semata namun juga pemberontakan terhadap kondisi randai itu sendiri.

Kata Alek dari segi properti yang dihadirkan berupa mesin jahit digambarkan sebuah teknologi manual yang digunakan perempuan untuk merajut kebudayaan itu sendiri, hasil rajutannya menyisakan persoalan baru pula dalam kebudayaan. “Pola dalam randai telah berubah menjadi tidak lagi legaran dalam karya ini namun telah menjadi berbagai bentuk. Perubahan ini merupakan gambaran demokrasi yang terjadi di Minangkabau. Randai esensinya menjadi berkembang namun ianya tidak membunuh randai sebelumnya. Perubahan identitas randai menuju multicultural juga merubah konsep identitas kebudayaan. Hadirnya randai dalam bentuk baru yang diakibatkan sentuhan dari kebudayaan lain membuka peluang untuk merevisi definisi kebudayan yang selama ini ada,” jelas Alek lagi.

Koreografer senior Riau, Iwan Irawan Permadi yang hadir mengapresiasi pertunjukan dari SADC mengatakan Syah Ril Alek adalah sati dari sekian seniman tari di Sumatera Barat yang bisa mengolah kearifan lokal ke dalam percaturan dunia tari dunia.

Katanya sudah menjadi kecendrungan Alek untuk menggarap karya yang diambil dari bahan dasar gerak tari tradisi Minangkabau yang dipadu dengan gerak tari modern, pembauran modern dan tradisi akan tampak di karya tari yang disajikan.

“Menyikapi karya konseptual semacam ini, kita memang tidak bisa mengharapkan sebuah pencapaian artistic semisal kepuasan atau kenikmatan ketika kita melihat keindahan teknik gerak atau sapuan kuas yang detil menirukan realita dalam lukisan. Seni konseptual lebih menitikberatkan pada desain, konsep, ide. Dalam hal ini, Alek menyuarakan keresahannya pada negeri ini dalam untaian gerak. ini membuktikan, di Indonesia tradisi memang tidak pernah mati melainkan tumbuh. Ada perubahan yang diinginkandan diupayakan dari dalam. Ada pula yang terpaksa karena desakan dari luar,” jelas Pimpinan Pusat Lembaga Tari Laksemana.

Sementara itu, Kepala UPT Bandar Seni Raja Ali Haji, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, OK Pulsiamitra yang hadir dua malam berturut-turut sangat mengapresiasi pagelaran tari dari SADC. Katanya, kesemua karya menunjukan sang koreografer berhasil membawa suasana Minangkabau dengan segala properti dan sebagainya. Dan mereka mampu menampilkan ide-ide sosial budaya Minangkabau itu secara jernih di panggung Idrus Tintin. “saya sangat apresiasi. Saya lihat karya Alek ini selalu berbeda dan tidak sama antara tari satu dengan yang lainnya, itu sebuah hal yang harus diapresiasi seniman-seniman kita. Untuk menggarap karya itu yag terpenting adalah konsep, Jadi degan konsep yang jelas, baru diciptakan gerak dan komposisinya,” kata Pulsiamitra.

Selaku Kepala UPT Bandar Seni Raja Ali haji, Pulsimitra juga menjelaskan kegiatan-kegiatan seperti inilah yang akan diagendakan secara kontinu sebagai program dari UPT Bandar Serai ke depannya. “Harapan kami di 2016 nanti, Insyaallah akan mengundang seniman-seniman dalam dan luar yang dianggap layak untuk tampil di sini sebulan sekali sehingga Anjung Seni Idrus Tintin ini menjadi tujuan penampilan seniman Indonesia dan mancanegara,” tambahnya.

Dikatakan juga, pihak UPT Bandar Serai sudah pula  berdiskusi dengan seniman, terkait dengan bagaimana langkah-langkah untuk menjadikan gedung ASIT menjadi keinginan dan target seniman –seniman dari luar dan mancanegara tampil, begitu juga seniman di Riau sehingga ASIT menjadi tolok ukur tampilan kesenian layaknya gedung-gedung pertunjukan di tempat lainnya.
 
“Kita juga berharap, dari kita sendiri mulai disolidkan. Kita akan mengusahakan SDM kita semakin baik dan memiliki kemampuan. Mungkin kita upayakan kru-kru kita mendapat pelatihan. Kita juga harapkan ASIT bisa setara dengan Esplaned, kita menuju ke arah itu. Dengan cara mari bersama-sama menjaga gedung ini, bersama juga menjaga kawasan Bandar Serai ini, sehingga benar-benar menjadi pusat budaya dan seni seperti yang kita harapkan bersama,” tutup Pulsiamitra.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us