Oleh: Devi Fauziyah Ma’rifat

Pendidikan Karakter ala Manuskrip

12 April 2015 - 06.42 WIB > Dibaca 1767 kali | Komentar
 
Pendidikan Karakter ala Manuskrip
Devi Fauziyah Ma’rifat
Pada 24 Maret 2015, Balai Bahasa Provinsi Riau dikunjungi oleh rombongan guru Kanaan (guru-guru senior) Pusat Bahasa Singapura. Rupanya, tamu dari negeri jiran tersebut tertarik dan ingin mengetahui implementasi Kurikulum 2013 pada sekolah dasar (SD) khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia. Perbincangan menjadi semakin menarik saat Kurikulum 2013 dikaitkan dengan pendidikan karakter.

Terlepas dari perbincangan dengan para pendidik dari negeri singa itu, pendidikan karakter memang kembali ramai diperbincangkan. Dunia pendidikan Indonesia seolah kembali digugat. Perkara yang diusung pun masih sama, yaitu terlalu berfokus pada kompetensi kognisi dan minus penanaman nilai-nilai. Kenyataan itu dipertentangkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang konon penuh nilai luhur. Kerumpangan itu diisi oleh Kurikulum 2013.

Dalam pandangan Thomas Lickona pendidikan karakter merupakan “suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.” Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas telah mendaftar nilai-nilai dan menyebutnya dengan 18 nilai karakter yang diharapkan dapat ditanamkan dalam diri peserta didik. Kedelapan belas nilai karakter itu, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (Haryadi, 2012).

Nilai-nilai karakter itu ada di tengah masyarakat, dipraktikkan, dan menjadi ciri mentalitas bangsa Indonesia yang dijadikan acuan dalam berperilaku bagi peserta didik. Nilai-nilai tersebut bukanlah hasil imajinasi Puskur Balitbang Kemendiknas, tetapi bersumber dari budaya bangsa (Indonesia).

Dalam masyarakat Melayu ada tunjuk ajar yang memberi petunjuk berperilaku. Isinya tentu saja bersifat pedagogis. Tunjuk ajar yang sangat terkenal adalah yang dirangkum oleh budayawan sekaligus tokoh masyarakat Melayu Riau, H. Tenas Effendy (alm.). Salah satunya dipetik untuk pembaca kolom ini: “Apa tanda orang pilihan, bersopan santun dalam pergaulan, bila bercakap dengan beradab, bila berbual menggunakan akal, bila berbicara berkira-kira, bila bertutur mengikuti alur, bila berdiri tahu kan diri, bila berjalan memakai pedoman” (Riau Pos,  21 April 2014).

Petuah di atas memuat karakter religius, toleransi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, dan tanggung jawab. Kata-kata bijak itu mengingatkan pembaca supaya sebelum berbicara hendaklah berpikir terlebih dahulu, dipertimbangkan buruk baiknya, sesuai menurut alur, patut layaknya; supaya cakap tidak menyelap, supaya bual tiada janggal, supaya bergurau tidak meracau.

Ternyata nilai-nilai yang diangkat dalam pendidikan karakter itu telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia. Jadi, tidak saja yang bersifat kekinian seperti tunjuk ajar di atas. Jejak nilai-nilai itu dapat ditelusuri, salah satunya, melalui manuskrip. Beberapa manuskrip (‘naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi,’ KBBI, 2008), naskah kuno, juga secara deskriptif mengisahkan pendidikan karakter bagi pembacanya, salah satunya yang tercantum dalam “Syair Jawi” berikut ini.

“Pertama-tama pada manyatakan hai urang mudah  akan yang ke rah}matulla>h ayyu> urang mudah  nyawa hatiku/ yang barhanti jangan aku lupa akan matimu/ hai urang mudah sakitnya bagai di kuliti/ sangat barkasih  hai  urang mudah  gigitnya tiada barhanti-hantlah akulah ayahandamu dan bunda/mu  mangadap ayahandamu dan bundamu bercinta/ akan hai urang mudah tiada baruba anak dan istarimu umur  tetapi ituh mudah/ sekalian urang mudah  mangadap pun tiada/ sayang dan sarat  aku mancuci air/ mataku hai urang mudah  terlalu sayang rasa/ hatiku  jan[ngu]tungku hancur oleh di dalam diriku/ yang mancaya muhaya  hai ayu urang mudah //” (Ma’rifat, 2014).

Kutipan di atas memberi pesan kepada orang muda  bahwa  mereka hadir di bumi ini karena rasa cinta ayah dan ibunya. Orang tua sangat menyayangi mereka, akan melakukan apa pun demi anaknya. Rasa sayang tersebut sudah ada sejak mereka masih dalam kandungan ibu. Selama mereka masih bayi hingga dewasa, rasa  sayang itu terus dipupuk dengan harapan kelak akan menjadi anak yang hormat kepada ayah dan ibu, selalu bersalawat kepada Nabi Muhammad dan taat beribadah kepada Allah. Suatu saat nanti mereka akan kembali ke rahmatullah (meninggal). Kematian itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti memisahkan kulit dari dagingnya, sungguh teramat perih.  Kelak akan diminta pertanggungjawaban atas semua sikap yang telah mereka lakukan kepada ayah-ibu mereka.

Itulah salah satu pendidikan karakter ala manuskrip (“Syair Jawi”). Muatan serupa juga dapat ditemukan dalam manuskrip “Hikayat Raja Pasai”, “Syair Ken Tambuhan”, “Hikayat Aladin”, “Hikayat Nakhoda Asik”.

Temuan ini menegaskan bahwa manuskrip pun telah menyinggung masalah pendidikan karakter. Walaupun dalam manuskrip “Syair Jawi” tersebut secara khusus hanya mengungkapkan nilai religius, tidak mustahil bahwa manuskrip lainnya juga memuat pendidikan karakter (dengan beragam karakter). Dari profesor filologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Oman Fathurahman, terungkap bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pemilik naskah kuno (manuskrip) terbesar di dunia, dengan tak kurang dari 20 ragam bahasa lokal yang dipakai.

Naskah kuno itu seharusnya jadi sumber primer karena mengandung banyak informasi kehidupan masyarakat Nusantara di masa lalu. Sayang sekali manuskrip tersebut masih berceceran dan belum tersentuh (dikaji). Tulisan singkat ini mudah-mudahan dapat menyentuh pembaca untuk menggali informasi tentang barang kuno tetapi antik itu. Semoga.***


Devi Fauziyah Ma’rifat
Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Follow Us