Melawan Lupa Ala "Indonesia Baghandu"

19 April 2015 - 07.10 WIB > Dibaca 1761 kali | Komentar
 
Hanya Hitam yang mampu membuat putih menjadi lebih putih, korupsi membuat orang rindu kepada hari yang bersih.

Laporan JEFRIZAL, Pekanbaru


PENGGAL dialog dalam pentas seni pertunjukan Indonesia Baghandu produksi Riau Beraksi Studio Seni Peran yang berlangsung selama tiga malam berturut-turut di Anjung Seni Idrus Tintin (9-11 April 2015). Dialog yang diucapkan berkali-kali oleh para aktor itu seolah-olah menjadi kata kunci yang terus terngiang-ngiang di telinga penonton. Karena selain berulang-ulang, juga diucapkan dengan nada-nada tegas. Pesan dari pentas yang berdurasi sekitar satu jam setengah itu seolah-olah dapat disimpulkan dari dialog tersebut.

Seperti lima pementasan tahun-tahun sebelumnya, tema nasionalisme kembali diangkat dalam pentas Riau Beraksi kali ini. Layaknya sebuah seni pertunjukan yang salah satu fungsinya adalah sebagai media edukasi, pentas Indonesia Baghandu pantas pula dijadikan sebagai media pengingat bagi bangsa ini atas berbagai persoalan yang terjadi dan tidak pernah tuntas di negeri bernama Indonesia.

Tak heran kemudian pragmen-pragmen yang menegaskan persoalan itu muncul di atas panggung. Baik persoalan yang sedang terjadi seperti halnya turun naik Bahan Bakar Minyak (BBM), kasus korupsi, perebutan kekuasaan di kalangan elit pejabat, maraknya narkoba dan portisusi bahkan peristiwa-perisitiwa masa lalu pun ikut pula hadir dalam pentas tersebut, hadir misalnya tokoh Marsinah, Munir, Widji Tukul bahkan pahlawan-pahlawan nasional pun ikut pula hadir dalam bentuk fotograpi yang ditayangkan di screen yang telah disediakan.

Sementara itu, dari sekian banyak persoalan yang mencuat tersebut, di panggung juga terhidang sebuah keadaan yang sangat ironis sekali. Kampung-kampung yang kemudian menjadi korban dari semua itu. Hal itu dapat disaksikan lewat dialog yang disampaikan tokoh datuk yang diperankan oleh Muslim Eskar. Sambil menarik tali yang berkaitan dengan kaleng-kaleng dan orang sawah, suara datuk berbancuh padu dengan bunyi-bunyi kaleng berdetang-dentang yang memang menjadi set dekor dan properti dalam pentas Indonesia Baghandu tersebut.

Moncik-moncik
datang daghi sagalo aghah.
Rakus menyerang sawah
yang saungguok, tanah
yang sepetak
Hingga tak terdengar
lagi tangisan bayi di
sela-sela nasehat baghandu
Kampuong longang.
Anak-anak muda
berbondong ke kota mengejar
harapan.
Kampuong tak berpenghuni
Tradisi mati


Terasa lebih miris lagi ketika aktor lainnya yang berperan sebagai pewarta (Aleph) meneriakkan kata-kata cerminan kegelisahan dan kegamangan akan keadaan negeri ini. Sementara...Berita hari ini masih tentang maraknya begal dan geng motor merajai jalan raya. Berita hari ini masih tentang hukum yang terkelupas. Berita hari ini masih tentang ekonomi yang sekarat. Berita hari ini masih tentang para penguasa yang berebut kuasa, sementara anak-anak SD masih mengeja Pancasila.

Sutradara Willy Fwi mengatakan Riau Beraksi Studio Seni Peran memang mengangkat tema nasionalisme serta kondisi Indonesia hari ini yang diparalelkan dengan tradisi Baghandu dari Kampar. Katanya, pertunjukan kali ini mencoba meyakinkan penonton bahwa tradisi budaya seperti halnya Baghandu mempunyai nilai-nilai yang kuat dalam membentuk karakter anak bangsa sejak dalam buaian. Jika kita tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur budaya, maka saya yakin tak akan marak genk motor, tawuran, korupsi, narkoba hingga korupsi. Bagahndu banyak mengandung pesan moral, ayat-ayat al quran, kepahlawanan dan cinta negeri yang disenandungkankepada anak-anak dalam buaian, ulas Willy.

Baginya, Indonesia Baghandu dalam prosesnya adalah salah satu jawaban dari akar permasalahan negara yang tidak pernah usai. Di dalam Baghandu penuh dengan pesan-pesan kebaikan yang selalu diberikan orang tua kepada anaknya. Namun nilai tersebut kian terkikis dan terlupakan seiring perkembangan zaman.

Jawaban yang saya temukan dari permasalahan ini, ketika anak-anak muda tidak ada harapan lagi di kampungnya, mereka berbondong-bondong ke kota mencari harapan karena di kampung tidak ada apa-apa lagi. Sawah hanya tinggal seonggok, tanah tinggal sepetak karena sudah berdiri pabrik perkebunan. Mereka tidak punya apa-apa lagi. Ketika akhirnya kampungnya sepi, pasti tradisinya mati, ungkap Willy yang juga sekaligus pimpinan Komunitas Riau Beraksi Studio Seni Peran itu.

Melalui pentas yang telah berproses selama empat bulan itu pulalah akhirnya Riau Beraksi berusaha untuk mengingatkan kembali kepada para penonton yang hadir. Aktor senior Riau, Taufik Effendi Aria usai pementasan berkomentar sungguh terharu menyaksikan pentas Indonesia Baghandu. Dalam ungkapan harunya itu, disebutkan pentas ini sungguh sebuah potret dari keberadaan negeri yang dicintai bernama Indonesia.

Saya sangat terharu karena dapat menyaksikan pentas teater yang menurut saya sesuai dengan kehendak saya. Pertunjukan ini seolah menyimbolkan kondisi yang sedang kita hadapi. Di sebelah kanan panggung, terdengar Bagahndu yang meninabobokkan kita, di sebelah kiri panggung, hadir pula aktor yang menyuguhkan berita-berita tentang kondisi negeri yang kian carut marut. Jadi pertanyaannya adalah, apakah pesan-pesan dari Baghandu sudah terlupakan atau sudah hilang dari sekitaran kita atau menjadi bagian dari kita? Saya sungguh terharu, ungkapnya dalam upaya menahan isak tangis dan sapuan air mata.

Keterharuan lainnya juga diungkapkan Kepala sekolah SMP Islam Terpadu Future Islamic School, Mario Kininnawa setelah menyaksikan Indonesia Baghandu pada hari ke 2. Katanya, Dia menangis mendengarkan percakapan atau dialog Munir dalam lakon Indoensia Baghandu. Betapa selama ini dia hanya diam cuek tidak mau tahu, yang diektahuinya, Munir dibunuh karena aktifis HAM.

Dialog demi dialog itu menyadarkan Mario, betapa hebat perjuangan Munir untuk negeri ini. Diakuinya juga, semakin terharu lagi ketika menyaksikan lakon arwah Marsinah (yang diperankan Ade) berdiri di hadapan penonton seraya berteriak. Marsinah buruh pabrik, bekerja seperti laki-laki dan menghidupkan 12 anak tanpa suami, suami tidak memperdulikannya karena terjerat narkoba. Tidak jelas, apa dosanya, sehingga Marsinah dibunuh diseret dan dilindas tiga container sampai gepeng, pembunuhnya sempat pula merokok sambil melihat jasad Marsinah dari jauh apa masih bergerak atau sudah mati.

Ini adalah cerita lima belas tahun yang lalu. Saya baru disadarkan oleh pentas Indonesia Baghandu. Saya pikir, teater ini wajib ditonton oleh remaja di negeri ini karena merekalah pemimpin masa depan. Dengan menonton Indonesia Baghandu, saya yakin akan lahir pemimpin yang adil, amanah, bersih dari korupsi. Berjiwa patriotisme. Mari kita wujudkan negara yang diidam-idamkan oleh para pendiri bangsa ini, ucapnya sembari mengulang penggal dialog, hanya hitam yang mampu membuat putih menjadi lebih putih, korupsi membuat orang rindu kepada hari yang bersih. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us