Kolaborasi Teater, Musik dan Fotografi

19 April 2015 - 07.11 WIB > Dibaca 779 kali | Komentar
 
Seni Pertunjukan “Indonesia Baghandu” dikemas sutradara, Willy Fwi dengan mengkolaborasikan tiga elemen, di antaranya akting, musik dan fotografi. Panggung dibahagi dalam tiga bahagian. Di sebelah kiri panggung, berdiri kokoh pondok sawah, di central panggung berkumpul pemusik  dan aktor, sedangkan di kanan panggung terdapat screen dan tokoh pewarta.

Ke tiga bahagian bentuk dekor itu kemudian menjadi satu kesatuan panggung dalam “Indonesia Baghandu”. Sesekali tiga bingkai ini seolah saling terpisah satu dengan yang lainnya. Dialog-dialog yang terlontar dari aktor seperti hendak menyampaikan pesan masing-masing dalam bingkai yang tentu saja sama.  Namun di lain pihak, tiga panggung ini saling sahut menyahut satu dengan lainnya. Akhirnya, secara gamblang, ketiganya menyimbolkan potret Indonesia dari waktu ke waktu baik dari dialog-dailog yang diucapkan tokoh, musik maupun slide foto dan berita-berita di media massa yang dibacakan pewarta.

Di samping itu, pentas Riau Beraksi kali ini, memadukan sebuah tradisi dari Kampar yakni Bagahndu ke dalam pertunjukan. Baghandu itu sendiri berart bersenandung, yagn diturunkan orang tua kepada anak-anaknya. Baghandu berisikan petuah, petatah-petitih, doa-doa dan harapan orang tua kepada anaknya.

Senandung itulah yang kemudian menjadi pembuka pentas Indonesia Baghandu. Pantun nasehat yagn disenandungkan terdengar lirih dan cukup memukau penonton yang keluar dari mulut seorang bernama Icha Martilove.  Dia juga yang memerankan tokoh Emak dalam lakom ‘’Indonesia Baghandu’’ sembari melafazkan lirik tersebut dengan suaranya yang mendayu dan terkadang seperti mengisak tangis, semakin membuat orang-orang terhanyut. Apalagi, suaranya yang sedap didengar itu, begitu fasih dengan cengkok logat Ocu, di mana tradisi baghandu itu berasal.

Tradisi baghandu yang penuh nasihat, mengantarkan anak-anak tidur itu tak lagi berarti, doa tinggal doa, harapan tinggal harapan. Semuanya bertolak belakang dengan kondisi Indonesia hari ini. Nasihat si Emak sewaktu akan menidurkan anaknya terlupakan, karena orang-orang hidup nyaman dengan hasil korupsi. Harga pendidikan lebih mahal daripada harga diri, sehingga banyak praktik prostitusi. Narkoba jadi permainan anak-anak muda. Kota jadi pilihan. Kampung-kapung ditinggalkan. Tradisi dibiarkan.Buruh-buruh pabrik ditindas. Aktivis dibungkam. Kemakmuran jadi kamulflase di tengah kemelaratan di mana-mana.

Penonton disuguhkan realita-realita dan problem yang sepertinya tidak kunjung pernah selesai di negeri ini. Diperkuat pula dengan musik yang bervariasi genre serta tawaran-tawaran gambar foto hasil karya Julian Nail Sitompul. Penoton larut dan seperti disadarkan akan pentingnya kembali memahami semangat nasionalisme.

Kesemua itu tergambar dengan jelas dari peristiwa-peristiwa yang ditawarkan dalam pentas Indonesia Baghandu. Terkait dengan ide garapan, Willy mengakui bermula dari membaca sebuah naskah teater karya Putu Wijaya yang berjudul “Jangan Menangis Indonesia”.
Naskah tersebut dinilai oleh Willy, sebagai naskah teater yang mengkritisi Indonesia atas persoalan-persoalan sosial yang tak pernah tuntas. Namun, Willly selaku pembaca ketika itu tidak menemukan jawaban apa-apa. Kemudian, ketika mendalami informasi tentang Baghandu sebuah sastra lisan menidurkan anak di Kampar, dirinya seolah menemukan pencerahan dari permasalahan tersebut.

“Jawabannya ada di Riau, itu yang paling hebat. Kita bisa dengarkan kalau daerah lain biasa disuruh makan dengan menakut-nakuti. Misalnya tidak makan digondol wewe, lagu nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk. Dari bayi diancam, termasuk saya sendiri dari kecil ketika saya tanyakan kepada Ibu saya. Kalau di tempat lain dari kecil dikasi ancaman. Nah, kita di sini malah diajarkan nasehat-nasehat dengan Baghandu. Pentas ini juga bagi kami menjadi sebuah kado di usia 70 tahun Republik ini. Sebuah karya sebagai ungkapan kesungguhan hati, bahwa semua warga di manapun berada, di kota, di kampung, diceruk-ceruk belahan Indonesia adalah bagian dari Indonesia hari ini, dan nanti, “ ungkapnya.

Namun demikian, untuk proses, Willy mengungkapkan dirinya bersama seluruh team menjalani selama empat bulan. Dimulai membaca dan proses adaptasi naskah “Jangan Menangis Indonesia” selama satu bulan dan proses latihan yang memakan waktu selama tiga bulan. Dari proses tersebut berjalanlah berbagai macam kemungkinan untuk menjadikan sajian tersebut lebih menarik, termasuk ide memadukan unsur musik tradisi dan modern.

“Walau bagaimana pun kalau saya memilih untuk tidak melawan penonton saya harus berada berpihak kepada penonton. Saya bukan main di depan seniman, saya main di depan anak-anak yang hobinya nongkrong. Kalau kita jejali dengan bahasa, musik dan sajian yang berat, sulit. Kita harus berikan keseimbangan keberpihakan kepada penonton,” tambahnya.

Dengan pentas produksi yang ke enam dari Riau Beraksi, Willy selaku pimpinan dan sutradara berharap terhadap bangsa ini, kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang telah menetap di luar negeri untuk bisa kembali. Menumbuhkan rasa nasionalisme untuk membangun negeri Indonesia.

“Sebetulnya ini kita diundang ke Belanda untuk KBRI di sana. Tapi mereka minta ini dibikin dulu di sini divideokan dengan bagus, baru dikirim ke sana. Merekalah yang menyeleksi apakah ini layak atau tidak. Waktunya Agustus di KBRI Belanda. Namun kita tidak tau apakah hasil videonya mereka suka atau tidak. Karena ini teater bukan film begitu divideokan, tentunya berbeda,” tutupnya.

Berbagai kalangan dari penonton memberikan paresiasi terhadap pertunjukan Riau Beraksi yang memang mengedepankan rasa Nasionalisme ini. Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Noviwaldi Yusman yang hadir, mengucapkan terima kasih kepada seniman dan budayawan yang selalu menghasilkan karya-karya yang luar biasa di mana di dalamnya terdapat keritik-kritik terhadap fenomena yang terjadi di negeri ini. Katanya, pertunjukan Indonesia Baghandu sungguh menusuk sukma. Seharusnya dipertontonkan di hadapan para petinggi-petinggi lainnya di negeri ini.

“Pesan-pesan yang disampaikan terutama oleh tradisi Baghandu itu sendiri, berisikan nasihat, petuah-petuah, ayat-ayat suci al quran yang kesemua itu seperti terlupakan oleh kita. Saya sangat apresiasi, semoga pentas-pentas seperti ini terus mengisi gedung Idrus Tintin dari tangan-tangan seniman lainnya. Kami, Insyaallah akan terus mensuport kawan-kawan seniman,” ucapnya.

 Hadir juga, Sekretaris DHD 45, Rustam Effendi. di luar dugaannya, Rustam sangat apresiasi seperti halnya penonton lain yang memadati gedung selama tiga malam pertunjukan tersebut. Kata Rustam, pertunjukan Indonesia Baghandu sunggu luar biasa, menyentuh rasa nasionalisme yang kian terkikis hari ini. “Ini sebuah informasi yang harus ditonton oleh semua kalangan masyarakat bahkan pejabat-pejabat negara agar Indonesia hari ini lebih adil dan makmur,” ucap Rustam.

Hadir juga pada malam ke tiga, serombongan dari Kampar yang sangat penasaran dengan pementasan Indonesia Baghandu. Salah satu tokoh masyarakat, Abdul Latief selaku ketua rombongan mengucapkan terima kasih kepada Riau Beraksi karena telah mengangkat tradisi yang ada di kabupaten Kampar. Masih banyak tradisi-tradisi yang ada untuk dikolaborasikan yang kesemuanya memang hampir punah.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us