Oleh: Yose Rizal

Bono, Si Macho yang Mempesona

27 April 2015 - 23.10 WIB > Dibaca 894 kali | Komentar
 
Bono, Si Macho yang Mempesona
BONO, dulu kalau mendengar nama tersebut yang terbayang dalam benak saya adalah sosok macho. Dengan aksi panggung yang selalu atraktif, Bono, vokalis grup rock legendaris U2, selalu menebar pesona dan membuat para gadis berteriak-teriak histeris. Lagu The Street Have No Name, dengan video klipnya dimana U2 tiba-tiba muncul tampil dan beraksi di atas atap sebuah bangunan di jalanan penuh sesak, jelas terpampang di depan mata. Pokoknya Bono adalah gairah hidup kawula muda. Ditambah lagi jika mengingat saat bersama band ketika kuliah dulu tampil membawakan lagu With or Without You, bikin saya makin teler.

Namun saat berkunjung pertama kali ke Teluk Meranti di tahun 2007, Bono adalah kata yang menakutkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Terutama bagi masyarakat yang bepergian dengan menggunakan pompong atau speedboat di hilir Sungai Kampar, Bono laksana malaikat maut yang siap mencabut nyawa. Walaupun pengemudi kapal sudah berpengalaman dan paham akan gelombang dahsyat yang akan berubah menjadi tsunami kecil di sepanjang aliran sungai, namun penumpang tetap saja takut. Apalagi jika kapal kandas di perairan dangkal, maka alamat kena Bono lah semua penumpang. Menurut cerita masyarakat setempat kepada saya, suara gemuruh Bono sudah terdengar dari kejauhan dan semakin nyaring saat mendekat serta menyapu semua yang ada di sepanjang aliran sungai. Yah, pokoknya yang serba menakutkanlah.

Kebetulan saya pergi ke Kota Bono Sakti Kecamatan Teluk Meranti saat itu dengan menggunakan helikopter perusahaan kayu Indah Kiat. Jadi ketakutan akan Bono tidak menghinggapi. Bahkan keingintahuan makin muncul ketika warga setempat bercerita seputar mitos tentang Bono serta kejadian-kejadian yang menimpa pompong atau speedboat yang jadi korbannya.

Saat itu saya ikut rombongan perusahaan tersebut yang akan memberikan bantuan peralatan pemadaman api kepada masyarakat Teluk Meranti. Dimana ketika itu, asap pembakaran lahan mulai menggeliat memenuhi langit Bumi Lancang Kuning. Berangkat dari Perawang, perjalanan ke Desa Teluk Meranti hanya memakan waktu lebih kurang setengah jam. Dari atas, terlihat rimbunan pepohonan sawit serta akasia HTI perusahaan kayu. Bumi seakan sudah dipatok-patok dan dipetak-petak. Walaupun masih ada hutan, namun tidaklah begitu banyak. Nun dari kejauhan terlihatlah sungai dengan airnya berwarna coklat kehitam-hitaman meliuk-liuk melintasi permukaan tanah.

Tak ada hal yang menarik di daerah tersebut saat dilihat dari atas udara. Bangunan kebanyakan terbuat dari papan dan banyak yang berupa rumah panggung. Mungkin antisipasi banjir akibat ombak Bono. Di lokasi, kebetulan saat itu ada kunjungan Wakil Bupati Pelalawan yang ke desa tersebut. Menurut penuturan salah wartawan yang ikut rombongan, mereka berangkat  menggunakan speedboat pada pagi hari dan sampai di daerah tersebut usai Zuhur.

Namun di tahun 2013, terjadi sebuah pembalikan keadaan. Bono yang kerap dianggap hantu yang menakutkan, terlihat macho layaknya sebuah area jalanan offroad yang dilalui kendaraan para offroader. Tak kurang para atlet dari luar negeri terjun menjajal kegananasan ombak Bono sambil berselancar. Festival Bakudo Bono 2013 telah membuat imej Bono jadi positif dan terkenal seantero tanah air dan dunia. Hingga sempat menjadi cuplikan iklan sebuah produk di televisi swasta.

Dengan slogan Bono Menyapa Dunia dan Dunia, membuat orang berduyun-duyun ingin melihat lebih dekat fenomena alam yang kini menjadi area surfing terpanjang di dunia. Hal ini membuat Wakil Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif (Parekraf) Indonesia kala itu, DR Sapta Nirwandar mengatakan bahwa gelombang Bono adalah merupakan suatu kekayaan alam dan anugerah yang tidak ternilai dari sang pencipta. Tidak semua daerah atau negara mempunyai gelombang yang bisa dijadikan surfing, tuturnya ketika membuka festival kala itu. Untuk sekedar diketahui bahwa Bono di dunia hanya ada di negara Inggris, Brazil, Alaska, Cina dan Indonesia.

Riau perlu bangga. Karena memiliki fenomena tidak biasa yang bisa jadi asset pariwisata daerah. Karena sejak berpisahnya daerah Kepulauan dari Provinsi Riau, otomatis jumlah kunjungan wisatawan ke Riau menurut angka jelas berkurang. Dengan adanya objek wisata baru seperti Bono di Teluk Meranti bisa membuat  Riau kembali menggeliat di bidang kepariwisataan. Hal ini tentu berdampak positif bagi perekonomian masyarakat tempatan.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah bisa menyajikan obyek wisata tak biasa tersebut ke hadapan para tamu yang ingin menikmatinya. Janganlah sampai seperti kata orang tua-tua hangat-hangat tahi ayam. Menggebu-gebu di awal lalu kemudian melempem hingga tak terkesan lagi. Seperti banyaknya objek wisata di Riau ini yang kini banyak terbengkalai dan terbiarkan setelah proyek selesai dikerjakan. Semoga Bono tidak seperti itu. Mari kita doakan bersama-sama. Amin.***


YOSE RIZAL
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us