Mutiara Pemikiran Tenas Effendy

27 April 2015 - 23.11 WIB > Dibaca 1213 kali | Komentar
 
Mutiara Pemikiran Tenas Effendy
(dari kiri) Akademisi dari Universitas Riau (UR) Darmadi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning Dr Junaidi, Ustadz H Mustafa Umar, Tokoh masyarakat Riau drh H Chaidir MM, dan moderator Elmustian Rahman di helat launching buku almarhum Tenas Effendy di Gedung LAM Riau. Foto: Jefri al Malay/Riau Pos
Manusia mati meninggalkan nama. Terlebih pula, sang manusia tersebut telah mengabadikan namanya dengan sejumlah karya-karya, pemikiran, dan contoh tauladan semasa hidupnya.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

TEPAT 40 hari kepergian, pujangga, budayawan kebanggaan Riau Tenas Effendy, Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau me-launcing buku karya alahyarham yang berjudul Pemimpin dalam Ungkapan Melayu.

Buku yang hendak diterbitkan dan di-launcing-kan beberapa waktu lalu itu terhenti karena kondisi penulis tidak sehat hingga sampailah almarhum kembali menghadap yang maha kuasa.

Pekan kedua lalu, hajat yang tertuda itu, baru dapat dilaksanakan di Balai Adat LAM Riau yang dihadiri oleh Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, pejabat dan petinggi negeri, para seniman budayawan, datuk-datuk dari LAM kabupaten/kota dan serombongan mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas yang ada di Riau.

Buku yang diterbitkan LAM Riau itu, sebenarnya sudah diterbitkan oleh Dewan Bahasa Pustaka Malaysia pada 2000 dan 2002 dicetak ulang oleh Dewan Bahasa Pustaka Kuala Lumpur. Seperti yang disampaikan Ketua Harian LAM Riau, Al azhar.

Katanya, dalam waktu 15 tahun, buku tersebut tidak pernah dicetak lagi. Di Indonesia, inilah kali pertama dicetak meskipun diketahui dan didapat kabar, buku karya Tenas Effendy ini di Malaysia justru kandungan di dalamnya dijadikan bahan rujukan dalam sidang-sidang majelis agung.

Kandungan buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu ini merupakan mutiara pemikiran pujangga Tenas Effendy yang telah diayak dan ditapis dari pengalaman hidup beliau sejak kecil di tengah-tengah masyarakat Melayu serta ditambah dengan kajian almarhum terhadap ekspresi-ekspresi budaya Melayu selama puluhan tahun. Sudah 15 tahun tidak pernah muncul buku ini di Indonesia, dan inilah kali pertamanya, ucap budayawan Riau, Al azhar.

Dalam teks-teks yang terhidang di hadapan pembaca, Tenas Effendy melabuhkan ungkapan-ungkapannya pada pandangan orang Melayu terhadap pemimpinnya. Saya kira dengan cara itulah menunjukkan kesan bahwa sesungguhnya kebudayaan Melayu telah memberikan pilihan jalan kepribadian dan moral, baik dan buruk, untuk ditempuh oleh seorang pemimpin di berbagai jenjang kepemimpinannya.

Sementara itu, Plt Gubernur, Arsyadjuliandi Rachman yang hadir me-launcing buku tersebut mengatakan buku-buku hasil karya almarhum Tenas Effendy yang berisikan pemikiran dan petuah-petuah Melayu sangat diperlukan untuk dijadikan renungan dan rujukan hari ini. Terutama bagi tamu undangan yang hadir dalam kesempatan itu adalah merupakan tokoh-tokoh masyarakat Riau.

Apalagi terkait dengan buku yang diterbitkan ini, sebuah buku yang di dalamnya menyampaikan hal kepemimpinan dalam ungkapan Melayu. Sebetulnya kalau kita dalami makna, renungi pesan kemudian diamalkan, insyaallah aman, ucap Plt Gubernur sembari berharap semoga akan bermunculan Tenas Effendy-Tenas Effendy lain yang bermunculan di Riau ini, yang tetap konsekwen menelaah nilai-nilai kemelayuan dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Krisis Kepemimpinan
Usai acara launcing buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu karya Tenas Effendy, dilanjutkan dengan kegiatan membedah buku tersebut dengan menghadirkan pembicara diantaranya drh Chaidir MM, Ust. H MustafA Umar, Dr Junaidi, Darmadi yang dimoderatori oleh Elmustian Rahman.

Chaidir menilai, Peluncuran buku karya Tenas Effendy tentang kepemimpinan itu sebuah momentum yang tepat dikarenakan beberapa alasan. Diantaranya, fenomena kepemimpinan hari ini dipandang Chaidir sedang banyak dibicarakan tapi sedikit sekali dipahami.

Demikianlah kepemimpinan itu, sesuatu yang dikenal akrab namun belum tentu dimengerti secara logis. Semakin banyak dibicarakan tapi semakin tidak dipahami, ucapnya.

Paradigma kepemimpinan hari ini, mengalami krisis. Dari 10 krisis yang ada di negeri ini, rangking yang pertama itu adalah krisis kepemimpinan. Hal itu, dikatakan Chaidir dapat dengan mudah dilihat sekarang ini di tengah masyarakat. Bagaimana kekacauan terjadi, anarkis, perampokan, penyamuan, politik tanpa etika dan tak ada sopan santun dan sebagainya.

Masyarakat di negeri ini seolah-olah sedang berada di masa penyamun. Penyamun politik, harta benda, proyek, anggaran. Kita pun seakan-akan kehilangan logika, kehilangan akal baik atau commone sense. Negeri kita ini menjadi negeri salah urus. Kita misikin, tertinggal bukan karena apa-apa tapi karena salah urus. Kalau salah urus berarti yang salah pemimpinnya, Mungkin pemimpinnya baik tapi kepemimpinannya tidak efektif. Nah itu yang terjadi, bahwa moral tidak hadir dalam kepemimpnan kita hari ini, jelas Chaidir.

Salah satu penyebab tidak hadirnya moral menurut Chaidir  adalah para pemimpin hampir tidak pernah melakukan komunikasi intra personal. Komunikasi pada dirinya sendiri, bertanya di mana dia berada, apa yang harus diperbuat, apa yang sudah diperbuat, apa faktor kelemahan dan lain sebagainya.

Mengutip apa yang tertera di dalam buku karya Almarhum, pemimpin itu, ditingikan seranting didulukan selangkah. Hal itu dalam pandangan Chaidir dapat ditafsir bahwa pemimpin itu didulukan selangkah supaya mudah diraih, ditinggikan seranting supaya mudah dijangkau, jauh pun tidak berjarak.

Maknanya Tenas Effendy, jauh sebelumnya sudah bicara tentang fenomena kepemimpinan modern sekarang ini. Kepemimpinan yang tumbuh dari tengah masyarakat, itulah kepemimpinan Melayu, dia dekat dengan masyarakat, sehingga Dia bisa merasakan geraran-getaran yang tumbuh di tengah-tengah masyarakatnya, ulas Chaidir lagi.

Harapannya, buku ini dapat diedarkan lebih luas, di seluruh bangsa ini. Sehingga daerah lain bisa belajar dari kearaifan Melayu. Dari Melayu kita bangun bangsa kita dengan kepemimpinan yang benar, tutup Chaidir.

Pemimpin Itu Imam
Narasumber lainnya yang membedah buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu adalah Ust. H Mustafa Umar. Dalam kesempatan itu, Ust. Mustafa menguraikan dan mengkaitkan isi buku dengan pandangan-pandang Islam terhadap pemimpin.

Dikatakan, kekuatan Melayu itu berakar kepada ajaran agam Islam. Meski tidak tertutup kemungkiann untuk mengambil potert kepimpinan di luar budaya Melayu tetapi tidak mengorbankan jati diri Melayu yang sudah berhasil dari bukti-bukti sejarah.

Ketika membaca kandungan buku karya almarhum ini terbayang oleh kita ayat-ayat Alquran dan Hadist yang terang menjelaskan seperti apa pemimpin itu. Tetapi satu pandangna kunci untuk memahami pemimpin dalam Alquran dan hadis yakni pemipmin itu disebut Imam. Pemimpin yang sejati itu untuk mengabdi, mengabdi yang dimaksud bukan memikirkan apa yang menjadi hak sendiri tetapi memikirkan apa yang diberi, ucapnya.

Menurut Ust. Mustafa, buku ini tidak pula hanya untuk dikagumi, seperti halnya si kudung tak punya jari tapi bangga punya cincin akik. Satu hal yang kemudian diyakininya, pemimpin yang hadir hari ini dipilih rakyatnya, masyarakat yang baik akan memilih pemimpin yang baik pula. Tugas kita sebagai pembaca, terus merenung isi ungkapan yang indah-indah ini, inilah pintu gerbang peradaban Melayu yang akan memimpin ke depannya, tutup Ustasd Mustafa Umar.

Sebagai Renungan
Buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu karya Alayarham Tenas Effendy menurut narasumber lainnya, Dekan FIB Unilak, Dr Junaidi, SSM Hum merupakan bahan renungan bersama dan sebagai pengingat.

Hadirnya buku tunjuk ajar Pemimpin dalam Ungkapan Melayu di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk ungkapan-ungkapan bernas dari Tenas itu sangat penting. Kata Junaidi, tidak hanya untuk pemimpin formal atau pemerintahan tetapi juga bagi semua, betapa kemudian dapat dijadikan sebagai pengingat tugas-tugas kepemimpinan yang sedang dijalankan. Kepemimpinan itu adalah amanah yang harus dijalan sebaik-baiknya bukan untuk kepentingan diri tapi untuk kepentingan orang banyak, ucap Junaidi.

Disebutkan salah satu ungkapan dalam buku itu oleh Junaidi adalah, yang disebut pemimpin itu, tempat kusut diungkaikan, tempat keruh dijernihkan, tempat sengketa diselesaikan, tempat hukum dijalankan, tempat adat ditegakkan tempat syarak didirikan dan tempat lembaga dituangkan.

Bagi kami akademisi, yang memang mempelajari teks-teks serupa ini, akan selalau dikaitkan dengan kondisi kepemimpinan hari ini. Mahasiswa diajarkan untuk membongkar teks serupa ini dengan melihat kenyataan yang ada. Artinya, di masa kini kita lihat apa yang kita cari di masyarakat, kita bisa melihat praktek kepemimpinan yang dijalankan dan diselaraskan dengan nilai-nilai yang tertera dalam ungkapan Tenas Effendi, ungkapnya.

Pemupuk Harapan
Menurut akademisi lainnya dari Universitas Riau, Darmadi menyebutkan kehadiran buku Pemimpin dalam Ungkapan Melayu setidak-tidaknya dapat menjadi pengobat rasa, pemupuk harapan akan tujuan-tujuan terhadap pemimpin yang baik diinginkan masyarakat hari ini.

Selain itu, dengan membaca buku karya almarhum, mengingatkan kepada pembaca agar berwaspada dalam memlih pemimpin, berpandai-pandai memilih pemimpin, dan bagi saya memandang bahwa, pemimpin sedapat mungkin hanya kepada Allah lah tempatnya bersujud tegas Darmadi.

Sementara itu, mengupas lebih jauh karya Tenas Effendy itu, disebutkan Darmadi bahwa almarhum menulis bukunya dengan memilih ungkapan-ungkapan yang berarti mengingatkan, menegur tidak secara langsung, menyampaikan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan dan perumpamaan-perumpamaan. Begitulah cara orang Melayu mengungkapkannya, tidak langsung menembak tetapi halus sekali. Dan hal itulah mencerminkan budaya Melayu itu dalam mengingatkan banyak hal kepada orang lain, ucap Darmadi.

Dari buku itu juga menunjukkan bahwa Melayu punya komitmen. Pemimpin itu didahulukan tapi bagaimana cara mendahulukannya itu yang menarik. Tidak lebih dari selangkah, ditinggikan seranting saja. Artinya bukan dilebih-lebihkan. Kemudian, Darmadi juga melihat bagaimana buku karya Tenas Effendy itu menunjukkan Melayu begitu teliti dalam hal kempempinan. Semua aspek ada di sana, harus berwawasan, pandai, menjaga pantang larang, cerdik dan lain-lain.

Jadi saya membahasakannya kalau seumpama kita ingin menjadi pemimpin yang baik itu, tidak usah banyak waktu, sedikit saja, bacalah buku ini terlebih dahulu. Akan terlihat di dalamnya bahwa ada 74 pemimpin baik tetapi ada 120 jenis pemimpin yang tidak baik terungkap di sini. Artinya lagi, pemimpin yang buruk sering nampak oleh penulis maka berhati-hatilah memilih atau menjadi seorang pemimpin karena buruknya lebih bayak ditemui dari baiknya, tutupnya. (fed)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us