Oleh: Irwanto

Mengenal Sastra dalam Menumbai

27 April 2015 - 23.29 WIB > Dibaca 1375 kali | Komentar
 
Mengenal Sastra dalam Menumbai
Irwanto
Dalam benak kebanyakan orang, aktivitas mengambil madu lebah di pohon dilakukan dengan terlebih dahulu mengasapi pohon yang ditempati oleh lebah. Setelah lebah pergi (karena asap), madu diambil. Kalau takut akan disengat lebah yang masih tertinggal di pohon, pengambil madu dapat mengenakan pengaman seperti jaring. Tidak demikian halnya dengan masyarakat di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu, Kampar, Siak, dan Kabupaten Rokan Hulu. Bagi mereka, pengambilan madu lebah dari pohon (sialang) tidak dilakukan seperti itu, ada mantra yang harus dibaca. Bahkan, aktivitas itu termasuk upacara adat yang disebut menumbai.

Saat menumbai, pawang lebah membaca/melantunkan tumbai. Yusuf Efendi dalam tulisannya “Tumbai: Mantra Mengambil Madu Masyarakat Pedalaman Indragiri Hilir”.(Melayuonline.com, 2015) memperkenalkan tumbai yang terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir. Di sana, tumbai diyakini sebagai mantra yang menghibur, sekaligus sebagai doa dalam prosesi pengambilan madu lebah. Berikut ini salah satu liriknya.

Sudah masak rambai
yang manis
Satu pun tidak ada
yang muda
Sudah nampak yang hitam
Berbalik darah kami ke muka

Siamang di pulau tigo
Balibis bertengger
di batang laboi
Cemaslah kami yang
baru datang
Orang sedang tidur terbuai
Menengok orang hitam
yang sedang tidur terbui

Ikan makan kail ku
Anak ruanting bertali-tali
Induk lebah turunlah turun
Ini baritiong kami bekali


Di Kabupaten Rokan Hulu, terutama suku Bonai, manumbai (yang disebut maibek)  lebah boleh dibilang sebuah profesi yang unik. Tidak semua masyarakat suku Bonai bisa melakukan pekerjaan tersebut. Profesi langka ini terkait dua keahlian sekaligus, yaitu penguasaan mantra dan keahlian memanjat pohon yang tingginya bisa mencapai 30 meter atau setara dengan gedung 7,5 lantai. Yang tak kalah penting, para pelaku tentu harus memiliki keberanian. Sayang sekali, saat ini mereka sudah uzur, bahkan ada yang sudah meninggal. Salah seorang penduduk Desa Kasang Padang Kecamatan Bonai bernama Telai (69 tahun) bertutur bahwa profesi ini sudah belasan tahun tidak dilakoninya. Hebatnya, Pak Telai masih tetap mampu mengingat proses ritual tersebut secara detail dari awal hingga akhir, termasuk mantranya.

 Maibek (dilakukan oleh 2 hingga 3 orang) diawali dengan pembuatan tiang (lantak) dari bambu. Bambu berfungsi sebagai tangga untuk memanjat pohon sialang (tempat bersarangnya ratusan onggok lebah). Setidaknya dibutuhkan 200 batang bambu untuk bisa mencapai ketinggian pohon lebih kurang 30 meter itu. Bambu terlebih dahulu diasapi atau disalai di atas para-para (paro) api setinggi lebih kurang 40 cm. Selanjutnya, anggota yang lainnya bertugas menyiapkan tunam (bahan yang dibakar untuk menghasilkan asap yang dibuat dari akar kayu, berbentuk obor yang panjangnya mencapai 2 meter), sebagai bahan perapian yang menghasilkan banyak asap untuk menghalau lebah hingga meninggalkan sarangnya.

Sambil membawa tunam yang digantungkan di badan, proses pengambilan madu pun dimulai, biasanya setelah salat isya. Prosesi ini diawali dengan pembacaan doa (mantra) oleh sang pawang lebah. Mantra (masyarakat suku Bonai menyebutnya dengan tawa), dibaca sebanyak 3 kali. Mantra pertama dibaca  saat pawang (dengan mata terpejam) menancapkan tiang panjang (lantak) untuk tangga: diawali dengan basmallah, surah al  Fatihah, dan diakhiri dengan surah al Lahab.

Prosesi pun dilanjutkan dengan membakar tunam yang diiringi dengan pembacaan lahaula waalakuata sampai akhir. Bacaan ini diiringi dengan pemukulan (dengan tangan) batang pohon yang akan dipanjat oleh si pawang lebah. Prosesi memanjat pun dimulai dengan mendendangkan andu (nyanyian, tumbai). Biasanya yang dilantunkan adalah “Andu Siti Fatimah”. Berikut ini petikannya.

Turunlah anak,
turunlah sayang
Turun anak di tanah
lombang
(tanah berlekuk)
Tukullah lantak badeko-deko
Tukullah anak urang
jauh-jauh
(2 kali)
Togurlah badan dengan
nyawo


Seiring lantunan andu atau tumbai itu oleh si pawang, berjatuhan pula lebah-lebah ke tanah meninggalkan sarangnya. Tanpa halangan, si pawang memanjat dan dengan mudah mengambil sarang lebah yang beratnya mencapai 25 hingga 50 kg.

Dalam prosesi pengambilan madu lebah, si pawang tidak bekerja sendiri. Dia ditemani satu atau dua orang anak reteh (tukang sambut) madu di bawah pohon. Saat sang pawang menurunkan sarang lebah yang diulurkan dari atas pohon dengan ember dan tali rotan (maarakat Bonai menyebutnya dengan tali kolek), anak reteh dengan sigap menyambutnya. Sarang lebah bermuatan madu tersebut lalu dimasukkan ke penampungan berbentuk drum yang disebut pladungan (terbuat dari kulit kayu pohon tarok, yang sebelumnya sudah dikeringkan diperapian hingga elastik). Maka, selesailah prosesi pengambilan sarang lebah (bisa sampai subuh).

Sebagai orang kepercayaan pawang, ternyata anak reteh merupakan kerabat dekat sang pawang. Alasannya, pekerjaan sebagai seorang pawang yang mengambil madu di ketinggian pohon mengandung risiko besar. Bisa saja seorang anak reteh mencelakai pawang saat proses menurunkan madu. Jika salah tarik, bisa-bisa sang pawang yang jatuh ke tanah (bukan sarang lebah).

Sayang sekali, menumbai  (juga maibek) mulai langka. Salah satu penyebabnya adalah kepunahan pohon sialang (karena pembabatan hutan). Padahal, tumbai  dan tawa merupakan salah satu tradisi lisan yang pernah ada dan berkembang di tengah masyarakat Riau dengan nilai-nilai kearifan lokal yang melekat pada seni tradisi tersebut. Mantra ini merupakan salah satu kekayaan sastra masyarakat Melayu Riau. Mantra ini dapat ditelisik dari berbagai sudut pandang. Selain bentuk, makna dan/atau fungsinya dapat  pula diperbincangkan (secara ilmiah). Oleh sebab itu, mari kenali tumbai sebelum lenyap seiring menghilangnya pohon sialang.***


Irwanto
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Follow Us