Oleh: Edwir Sulaiman

"Bokap Gue Miskin"

3 Mai 2015 - 07.07 WIB > Dibaca 2213 kali | Komentar
 
Edwir Sulaiman
TIDAK ada satu jiwa pun yang akan menyerahkan diri dinikmati dengan harga-harga. Tidak ada satu pun insan yang merelakan kehormatannya disinggahi banyak benda. Tidak akan ada seorang kita merelakan teman, saudara, tetangga, untuk mengais kenikmatan semu dari cumbu-cumbu yang berbumbu.

Ketinggian diri ditentukan oleh ketinggian hati. Harga sebuah diri adalah harga yang bila dinilai akan banyak memiliki nominal-nominal. Namun, ada banyak sebab yang akan mengikuti ketika seorang jiwa memaksakan diri untuk terjerumus dalam ruang mengeksploitasi kelamin. Ini bukan pembenaran. Ini hanya sebuah muara dari kenyataan. Bahwa sesungguhnya apa yang terjadi ada sebab yang menyertai akibat.

 Persoalan ini ada, lahir dari banyak masalah, soal keimanan, keputusasaan, ketakutan, kemiskinan, dan tentu saja soal kenikmatan itu sendiri yang tak dikurung sehingga bermain bebas dalam urat-urat tegang menuju ke ovarium.

Dalam sejarahnya, hampir setiap peradaban umat manusia tidak pernah sepi dari pelacuran. Pada masa Nabi Saleh, misalnya, pelacuran terjelma dalam bentuk iming-iming seorang wanita cantik bernama Shaduq binti Mahya kepada Masda bin Mahraj yang berjanji membunuh unta Nabi Saleh. Langkah ini kemudian diikuti oleh wanita lain yang menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada pemuda Qudar bin Salif (Ihsan: 2004:129-136).

Jadi aktivitas menjual kelamin adalah sebuah keniscayaan yang tak akan mampu diusut sampai ke ujung batas. Dia akan terus ada, selagi kenikmatan itu ada. Dia akan selalu lahir, ketika pemerintah tak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Dia akan selalu muncul, ketika kita sebagai orangtua tak kuasa memagari anak-anak dengan ilmu agama dan iman. Dia akan tumbuh seperti ilalang, jika ladang kemiskinan masih terbentang.

Para antropolog menggambarkan bahwa pelacuran merupakan fakta yang tak dapat dielakkan, karena adanya pembagian peran laki-laki dan perempuan yang sudah muncul pada masyarakat primitif. Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks laki-laki. Sedangkan kaum feminis memandang bahwa pelacuran adalah akibat dari kuatnya sistem patriarkhi (pria sebagai sosok otoritas utama) . Sementara kaum Marxis melihat pelacuran sebagai akibat yang niscaya dari perkembangan kapitalisme.

Sebagai pemangku kepentingan, pemerintah berperan dalam fungsi pengawasan dan pencegahan agar kemaksiatan tidak tumbuh dan berbiak-biak sehingga tidak melahirkan sentimenisme kesucian antar kita.  

Ketika Teleju dibenamkan dalam sebuah peradaban, dibangun lebih suci, ketika itu juga warga penghuni  menyebar ke sudut-sudut peradaban kota. Membentuk komunitas, membangun singgasana kenikmatan yang berbeda. Di Meredan, di KM 54 Pelalawan, di panti-panti pijat berpredikat plus-plus. Hingga memeriahkan Jondul yang memang telah bertaji. Jadi tidak membanggakan jika konsumen kini banyak pilihan-pilihan.

 Lalu berhasilkah kita sebagai orang yang suci membangun kesadaran mereka? Bukankah kita yang merasa suci, memandang tinggi keberhasilan haram, dengan cara-cara koruptif, tidak lebih suci dari para penjual kelamin, yang hanya merusak diri dan keimanannya.
Namanya Ginta (18) mahasiswi ternama di kota Bogor. Parasnya manis, tinggi sekira 164 cm. Ketika pagi hingga sore hari, dirinya menjadi mahasiswi yang anggun, berpakaian anggun, berkelakuan anggun, berkehidupan anggun.

 Menjelang malam, di sebuah tempat kos, ketika armada taxi menjemput untuk mengantarkannya sebagai Ladies escort di salah satu pusat hiburan malam di Jakarta pusat, maka seketika itulah keanggunannya memudar, hingga dini hari keanggunan itu hilang ditelan keintiman yang tersadar. Satu kalimat yang diungkapkan Ginta. Bokap gue miskin,. ***


EDWIR SULAIMAN
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Follow Us