Menari Delapan Jam

3 Mai 2015 - 07.08 WIB > Dibaca 1323 kali | Komentar
 
Merayakan hari tari sedunia juga dilakukan mahasiswa Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) dan sanggar, komunitas lainnya. Momen yang dipilih dengan meramaikan dan memeriahkan sebelum hari yang telah ditetapkan sebagai hari tari sedunia (29 April, red).

Mereka menari selama delapan jam, dimulai pukul 14:00 sampai 22:00 WIB. Kegiatan itu dilaksanakan pada Sabtu (25/4) yang berpusat di area Bandar Seni Raja Ali Haji. Dibuka dengan  lima penari yang empat darinya adalah masih berstatus mahasiswa AKMR dan seorang penari yang datang dari Tanjung Balai Karimun.  Mereka mulai melenggang-lenggok mengikuti irama musik. Gerak gemulai ini dimulakan dari Panggung Pinang Merah, kemudian menari di beberapa titik di kawasan sekitar Anjung Seni Idrus Tintin.

Gerak demi gerak yang dibiarkan mengalir mengikuti irama musik itu dilakukan nonstop. Berhenti ketika menyambut waktu sholat sahaja. Namun dalam helat yang ditaja Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni Tari AKMR itu juga diramaikan dari komunitas dan sanggar tari lainnya, terutama tampil di sesi malamnya.  

Sekitar pukul 22.00 WIB, lima penari tersebut kembali dijemput naik ke Panggung Pinang Merah. Denni Alfriadi selaku pemandu acara, mengajak para pengunjug untuk menghitung mundur. Dimulai dari hitungan sepuluh sampailah nol. Semakin rendah hitungan semakin cepat gerakan ke lima penari. Begitu sampai hitungan di angka satu, maka selesailah kelimanya menari. Tepuk tangan gemuruh sebagai apresiasi dari penonton pun diberikan kepada lima orang penari yaitu Alfi Rizwan, Sutarosi, Miftahul Husna, dan Ayu Kumala Sari serta Syamsul Bahri (Tanjung Balai Karimun).

Ketua Jurusan HMJ Tari AKMR Syafmanefi Alamanda, dalam kesempatan itu, mengatakan apa disajikan kelima penari tersebut menunjukkan semangat untuk terus menari. Perayaan menyambut Hari Tari Sedunia ini, merupakan hal perdana yang dibuat oleh mahasiswa tari AKMR. Sekarang delapan jam. Tahun depan adik-adik ini bertekad jadi sepuluh jam. Suatu ketika kita akan menari 12 jam dan bila perlu 24 jam, ucap koreografer yang akrab disapa Nanda ini.

Ditambah nanda lagi, beberapa daerah seperti Surakarta, Solo, dan Jogja, memang dalam memperingati Hari Tari Sedunia ini dengan menari selama 12 jam dan di Solo 24 jam. Hanya saja, mereka sifatnya bergantian dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa ini menari delapan jam tanpa putus.

Dosen tari AKMR ini juga menyebutkan, semestinya helat ditutup pukul 22.00 WIB. Hanya saja, dikarenakan ada beberapa kelompok yang belum tampil, kegiatan terus berlanjut. Acara malam itu ditutup dengan solo dance oleh salah seorang penari senior Aamesa Aryana.  Aamesa mengeksplorasi gerakan demi gerakan dengan ciri khasnya, sekaligus menampakkan kemampuan olah tubuh dan kelenturan sebagai seorang penari.

Melihat dan menyaksikan hal itu, salah seorang penari lainnya tampaknya tidak mampu menahan hasratnya untuk bergerak, Wan Harun Ismail kemudian merespon gerakan Aamesa. Tidak cukup Wan Harun saja. Ketua Jurusan Tari AKMR, Syafmanefi Alamanda ternyata juga tidak bisa mem bendung hatinya untuk bergerak. Dia pun naik ke atas panggung. Tak ayal lagi, ke tiga penari tersebut menunjukkan kelenturan tubuh di atas panggung. Ditutup dengan ucapan selamat Hari Tari Sedunia.***
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us