Hati Ada pada Tradisi

3 Mai 2015 - 07.09 WIB > Dibaca 1572 kali | Komentar
 
Mengusung tema Keindahan Karya Nusantara, perayaan mem peringati hari tari dunia berlangsung meriah. Hal itu ditandai, penuh sesaknya pengunjung di areal Taman Budaya, yang datang dari berbagai kalangan, para pekerja tari, seniman, siswa dan mahasiswa serta masyarakat Pekanbaru.

Tidak hanya itu, berbagai jenis, bentuk dan ragam tarian disuguhkan dari puluhan sanggar yang tampil. Kesemuanya membawa corak dan ciri khas masing-masing. Keragaman itu pula yang pada akhirnya menjadi kekuatan dan keindahan dari karya tari nusantara.

Beberapa sanggar yang tampil diantaranya, BB Manajemen, Tari Lintas Etnik, Tengkah Zapin, Seni Serayun (Aceh), Cah Yayak, Sanggar Susun Sirih (Rohil), Sanggar Mustika, Sanggar Putih Limau Jurai, Latah Tuah, FKIP Sendratasik UIR, Lentik Dance Riau, Gobah Dance, Sanggar Malay, Seri Mersing, Sanggar Temasik, Limpape, Banua Riau bahkan beberapa sanggar membawa tarian yang ditarikan oleh anak-anak seperti BI Production, Sanggar Anak Cikal dan lain-lain.

Dalam orasi budaya yang disampaikan seniman Yoserizal Zen, mengatakan Riau memiliki berbagai macam tari tradisonal. Kekayaan itu juga terletak dalam hal, tari tradisional juga menyatu padu dengan menggabungkan beberapa unsur di dalamnya seperti seni teater, musik dan tari. Lebih dari pada itu, tari tradisional memiliki nilai-nilai keluhuran yang mampu menggiring masyarakatnya untuk tetap peduli terhadap tari tradisional tersebut.

Kadang menari, mampu mengisahkan cerita tentang bagaimana masyarakat itu menyelesaikan masalah atau bahkan meluahkan kegembiraanya atas hasil yang dicapai dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Artinya proses menari menghibur diri tersebut mampu menarik untuk ditonton sebab ibarat pepatah bersilang kayu dalam tungku bara api akan hidup, tentu saja dalam hal ini proses dramatisasi dari gerak tari yang mampu bercerita tentang keinginan si koreografer, ucap mantan Kabiro Humas tersebut.

Yose sapaan akarabnya itu juga di moment hari tari dunia itu kembali mempertanyakan bagaimana perkembangan seni tradisional di negeri berazam menjadi pusat kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara ini dan mempertanyakan niai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, seni tradisi mampu mendidik masyarakatnya lebih mengenal diri atau mengenal Ibunya. Melalui seni tradisi juga terutama seni-seni Islami seperti zapin, kita sebagai masyarakat terdidik untuk sopan, santun, taat beragama. Seperti halnya, tari zapin, bermula dari langkah Alif dan setiap gerak lainnya menjaga nilai-nilai keislaman baik melalui gerak maupun lagu-lagu zapin yang dilantunkan.

Penari hari ini, tidak banyak yang bekerja dengan hati padahal dari hatilah semua bisa meluruskan jalan yang bengkok. Dan itulah yang dipekikkan guru tari saya, Iwan Irawan Permadi ketika saya jadi penari dulu. Bagi saya, hati itu ada pada tradisi, hati itu ada ibu yang punya bahasa diri, apa jadinya bila tidak kenal ibunya. Jangan aniaya diri karena ketidaktahuan akan seni tradisi. Di mana hatimu? Tanya pada ibumu, sebab bahasa ibu menjadi dirimu. Ragu? Mampuslah! ungkap Kepala Badan Arsip dan Pustaka Soeman Hs sekaligus penyair Riau itu dengan bahasa-bahasa puitisnya.

Sementara itu, Iwan Irawan Permadi mengungkapkan perayaan hari tari dunia di Riau yang sudah dilaksanakan beberapa kali sangat bagus, sebuah helat yang tentunya menunjukkan eksistensi penari-penari di Riau.

Hanya saja menurutnya, ada beberapa hal yang kemudian perlu dibenah ke depannya karena selama ini dilihat perayaan hari tari dunia di Riau ini hampir tidak menyentuh kepada hakikat tari itu sendiri.

Tari itu bukan sekedar bergerak tapi tari ini juga bisa melintasi batas ruang dan waktu, melintasi ras, suku agama, kalau kita melihat selama ini, tari dirayakan dengan bergerak saja, padahal sebenarnya gerak sebagai lahiriah, sebagai hati sebagai rasa, paling tidak itu yang harus dimunculkan, ucap Iwan.

Hal itu dapat dicapai, menurut pimpinan Pusat Latihan Tari Laksemana itu dengan menambah adanya seminar tari dan juga mengundang pelaku-pelaku tari tradisi yang ada di Riau, bila perlu mengundang tari Olang-Olang dari Sakai, tari Joget Bontek dan tari-tari tradisi lainnya. Rangkul mereka semua, hadirkan di hadapan anak muda saat ini yang memang tidak mengetahui tari-tari tradisi tersebut. Sehingga perayaan hari tari sedunia ini tidak hanya bersifat seremonial saja, ucap Iwan.***
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us