Redaksi

Malaysia Bersih-bersih

14 Juli 2011 - 10.29 WIB > Dibaca 689 kali | Komentar
 

TENSI politik di negeri jiran Malaysia tiba-tiba Sabtu (9/7) akhir pekan lalu meledak. Unjuk rasa dari koalisi oposisi menuntut Pemilu Bersih 2012 berakhir rusuh, setelah polisi anti huru-hara bertindak keras untuk menghentikan aksi yang pada awalnya berjalan damai. Bahkan, salah satu pimpinan oposisi yaitu Anwar Ibrahim terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka-luka memar saat terjadi bentrok dengan polisi.

Kendati suasana politik terbilang kondusif, karena ditopang oleh kondisi ekonomi yang baik. Namun Malaysia sebenarnya menyimpan sejumlah potensi konflik bak api dalam sekam. Perseteruan antara partai yang berkuasa di pemerintahan dengan kelompok oposisi semakin hari kian menajam. Kokohnya jejaring kekuasaan partai berkuasa yang dikomandani UMNO, MCA, dan MIC ternyata tak berdampak baik. Isu korupsi, nepotisme, dan kolusi dalam beberapa tahun terakhir mulai berhembus. Belum lagi isu negatif seputar kehidupan para pejabat di negeri tersebut juga mulai muncul.

Jika ditarik sejarah ke belakang, Malaysia sebenarnya pernah mengalami masa-masa kelam seperti halnya Indonesia saat menghadapi kerusuhan 20 Mei 1998. Kerusuhan 10 Mei 1969 menjadi catatan sejarah hitam bagi Malaysia sepanjang masa. Kerusuhan etnis antara Melayu dan Tionghoa itu nyaris melumpuhkan negara yang memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 31 Agustus 1957 tersebut. Pemicunya adalah ketimpangan ekonomi antara penduduk pribumi Melayu dengan pendatang dari etnis Tionghoa. Selain menguasai perekonomian, etnis Tionghoa yang saat itu menjadi kelompok oposisi memenangkan Pemilu Malaysia 1967, yang dinilai oleh etnis Melayu dilakukan secara curang.

Sejak itu Malaysia belajar dari sejarah. Kerusuhan membuat mereka kembali menyusun sistem perekonomian yang dikenal dengan Sistem Ekonomi Baru. Etnis Melayu sebagai mayoritas penduduk menempati komposisi yang besar, berikut hak-hak keistimewaanya. Sedangkan etnis Cina dan India juga diberikan tempat yang proposional baik di bidang politik, ekonomi dan sosial.

Kekuatan baru ketiga etnis ini kemudian juga berkoalisi di partai politik dengan membentuk Barisan Nasional (UMNO, MCA, MIC). Ketiga kekuatan ini pun menjelma menjadi partai berkuasa yang sulit dikoreksi dan cenderung otoriter selama 40 tahun. Dan, inilah yang kemudian dikoreksi oleh kelompok oposisi yang juga komposisinya melibatkan partai-partai dari etnis Melayu, Tionghoa dan India. Isunya bukan lagi etnis, tapi koalisi partai yang memimpin pemerintahan mengabaikan demokrasi dan pemerintahan yang bersih.***
KOMENTAR
Terbaru
Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 WIB

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 WIB

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa
Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 WIB

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 WIB

Follow Us