Oleh: Basuki Fitrianto

Kamar Keramat

3 Mai 2015 - 07.17 WIB > Dibaca 1965 kali | Komentar
 
Dalam kamar penuh aroma bunga mawar, aku tercenung duduk simpuh di samping istriku. Semalam aku bermimpi bertemu dan bersetubuh dengan kekasih lamaku, kataku pelan.

Mataku kaku seperti mata bocah yang ketahuan mencuri uang recehan. Sedetik aku menatap wajahmu. Kau masih terdiam. Tapi aku yakin kau marah dan cemburu. Itu hanya mimpi sayangku, di kehidupan nyata tak mungkin aku mengkhianatimu. Percayalah. Aku memberanikan diri menatapmu lebih lama. Dan penuh rasa cinta aku belai rambut kelabumu yang panjang tergerai.

Aku tersenyum sendiri ketika teringat peristiwa kau mencemburui aku. Berhari-hari kau mengacuhkan aku. Mulanya aku tak tahu alasan kenapa kau mengacuhkan aku. Kau selalu menghindar ketika aku bertanya. Betapa aku sedih melihat sikapmu.

Aku cemburu, katamu. Mungkin kau mengatakan itu karena tak tega melihat wajahku murung.

Cemburu? Sama siapa? Sungguh aku gembira dan merasa bangga karena kau mencemburui aku. Lalu aku bertanya-tanya apa yang telah aku lakukan sehingga kau mencemburuiku?

Aku cemburu dengan kucing peliharaanmu yang baru, katamu manja.

Pecahlah tawaku dengar ucapanmu. Tiba-tiba kau mencubit lenganku. Dan tawaku semakin keras terdengar.

Setelah kau memiliki kucing itu, waktu hanya kau habiskan bercengkerama dengan kucing itu. Kau tidak mempedulikan aku.

Tentu tidak sayang. Oke, maafkanlah aku tentang kucing itu.

Maka demi rasa cintaku, keesokannya kucing jenis angora dengan bulu indahnya aku berikan ke saudara yang kebetulan juga suka memelihara kucing. Akhirnya kau ceria kembali.

Kau ingat kejadian itu? tanyaku berusaha tersenyum. Kali ini aku merapikan rambutmu, menyisir dengan sela-sela jari tanganku. Rambutmu terlihat kotor. Ingin sekali malam ini aku akan mencuci rambutmu atau menyemir hitam. Tapi maaf sayang, hari ini aku capai sekali. Tadi siang di kantor pekerjaan seakan tak ada habisnya.

***
Suara pelan hujan di luar mulai terdengar dan makin lama makin riuh. Tak lama kemudian kilatan-kilatan cahaya bermunculan dan disusul suara petir menggelegar. Maka aku tutup kedua telingamu, berusaha agar suara petir tak membuatmu terkejut. Jangan takut sayang, jangan takut.

Aku ingat setelah satu bulan kita membina rumah tangga, waktu itu malam hari, juga hujan deras, tiba-tiba kau menjerit ketakutan lalu menangis. Aku pun panik  melihat tingkahmu. Ada apa sayang, kenapa kau menjerit ketakutan?

Petir. Aku takut petir. Kau mendekapku erat-erat.

Aku berusaha menenangkan dirimu. Petir tak mungkin menyentuhmu di rumah ini. Jangan takut.

Aku trauma mendengar suara petir. Sejak kecil aku takut setelah mendengar cerita nenekku.

Suara petir menggelegar lagi seakan rumah bergetar karena suaranya. Kau semakin erat mendekapku.

Apa yang diceritakan nenekmu?

Setelah ketakutanmu mereda, kau mulai bercerita: Sebelum tidur, nenek bercerita tentang petir. Sebenarnya petir itu adalah roh-roh jahat mencari anak-anak nakal sepertiku. Waktu kecil aku memang nakal. Suka membantah perintah ibu. Menangis kalau permintaanku tidak dituruti. Dan aku sering membuat jengkel ayah dan ibu. Lalu nenek berpesan jika aku tetap nakal suatu saat nanti pasti petir akan menjemputku, membawaku ke neraka.

Ah, itu hanya dongeng agar kau tak nakal lagi.

Tapi cerita nenek sungguh membekas sampai sekarang.

Dan malam itu aku setia duduk di sampingmu mendendangkan lagu-lagu indah sampai kau tertidur pulas.

Malam ini tampaknya aku juga harus berlama-lama menemanimu. Di luar hujan masih deras. Suara-suara petir masih terdengar.

Malam ini akan menjadi malam panjang untukku. Tapi tak apa, besok aku libur kerja. Kau ingin aku berdendang seperti malam itu? Tanpa menunggu jawabmu, aku mulai berdendang tentang cinta. Tentang lagu kesukaanmu.

***
Suara lonceng jam terdengar dari ruangan tengah. Menggema. Jam 00:00. Sebenarnya aku sudah ngantuk sekali. Tapi rasanya belum puas melihat sekujur tubuhmu. Malam ini kau terlihat semakin cantik. Meski kian hari kulit dan warna bajumu bertambah kusam, tapi kau tetap cantik.

Menurutku, aku adalah laki-laki yang beruntung bisa memilikimu. Ingatkah ketika kita kuliah dulu? Banyak mahasiswa yang mencoba mendekatimu berusaha ingin memilikimu. Tak terkecuali aku. Kau seperti bidadari yang turun ke dunia. Tingkah polahmu dan gaya bicaramu membuat tiap laki-laki terpesona. Tak terkecuali aku. Setiap ada kesempatan tak pernah lepas mata memandang mulai dari rambut hitam panjangmu, bibir tipismu, cara berjalanmu. Ternyata bukan perkara mudah untuk bisa memilikimu. Butuh perjuangan keras dan pengorbanan.

Kata temanku kau sudah memiliki pujaan hati, namanya Robet. Laki-laki yang masih aku benci sampai detik ini. Mulanya aku tidak tahu siapa Robet. Karena besarnya hasrat untuk bisa memilikimu, aku pun mencari tahu siapa sebenarnya Robet, laki-laki yang bisa membuat hatimu terpukau. Ternyata ia teman satu jurusan denganmu. Setelah beberapa lama aku menyelidiki siapa itu Robet, aku mengambil kesimpulan: Robet adalah laki-laki berengsek, laki-laki yang suka mempermainkan perempuan. Ia ganteng, kaya, pandai berkata. Sungguh aku meradang kenapa kau bisa tertipu olehnya?

Hasil penyelidikanku akhirnya aku sampaikan pada kau, istriku, tapi kau menganggap hanya omong kosong. Kau menduga aku berusaha mencuri hatimu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain.

Ia benar-benar brengsek, kataku waktu itu.

Aku lebih tahu tentangnya. Pandanganmu kaku seakan aku adalah manusia hina.

Waktu berjalan bersama rasa cemburuku. Akhirnya berita mengejutkan sampai ke telingaku: kau hamil dan Robet tidak mau bertanggungjawab. Mendengar berita itu aku pun menjadi murka. Aku adalah laki-laki yang sangat mencintaimu. Aku menganggap kau adalah satu jiwa denganku. Aku tak rela kau diperlakukan dengan cara menjijikkan itu. Maka tanpa sepengetahuanmu, malam hari setelah aku mendengar kejadian yang menimpamu, aku datangi rumah Robet. Dengan dua botol bom Molotov aku lempar rumahnya. Satu hari kemudian berita terbakarnya rumah Robet muncul di koran. Itu adalah hari bahagia untukku. Aku merasa telah memberi pelajaran atas perbuatan Robet.

Dengan kehamilanmu tentu saja kau malu, aku tahu itu. Demi rasa kegilaannku padamu, aku menawarkan diri menjadi ayah bayi dalam kandunganmu. Mulanya kau menolak. Tapi karena keadaan yang memaksamu akhirnya kau menerima tawaranku. Kita menikah.

Kejadian yang membuatku gembira lainnya adalah: beberapa bulan setelah kita menikah, kau keguguran. Sungguh gembira, karena benih laki-laki berengsek itu tak berada lagi dalam tubuhmu.

***
Hampir lima tahun kita menikah, peristiwa memuakkan terjadi. Hari belum siang benar. Aku masih di kantor. Hari itu seluruh tubuhku rasanya kacau. Aku demam. Aku pun minta ijin pulang. Setelah sampai di rumah kejutan tak masuk akal ada di depan mataku. Kau dan Robet ada di dalam kamar! Amarahku memuncak seperti gunung berapi memuntahkan isi perutnya. Membabi buta aku hajar Robet. Bermacam alasan yang ia ucapkan tak aku hiraukan. Dengan ketakutan ia lari keluar rumah.

Rupanya kau masih berhubungan dengannya?! Nafasku masih tersengal. Rasa marahku masih membara.

Kau menangis sesenggukan. Tidak.

Aku tak percaya dengan jawabanmu. Karena takut kehilanganmu dan dibakar rasa cemburu, dengan sekuat tenaga aku mencekikmu. Kau meronta berusaha melepaskan diri. Aku semakin menjepit lehermu. Beberapa menit kemudian kau mulai lemas dan akhirnya kau tewas.

Peristiwa itu selalu membayangiku, istriku. Aku takut kehilanganmu. Kau harus memahaminya.

Suara jam di ruang tengah menggema lagi. Jam 03:00.

Sudah larut istriku. Besok malam aku kembali lagi.

Sejenak aku pandangi wujud istriku yang sudah menjadi kerangka di dalam peti.  Gaun putihmu sudah terlihat kusam. Besok aku akan beli gaun baru untukmu.

Setelah membelai rambut kelabu istriku, aku tutup kembali pintu petinya. Dan seperti biasa sebelum aku tinggalkan kamar istriku, aku kecup tiga kali pintu peti itu.***

Rumah Mimpi, 2014.


Basuki Fitrianto,
Lahir Yogyakarta, 22 Desember 1968 Pendidikan Smki N Yogyakarta Jurusan Teater.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 13:30 wib

Jessica Raih Emas Kejurnas Piala Panglima

Senin, 24 September 2018 - 13:23 wib

Nasabah BRI Juanda Dapat Xenia dari Simpedes

Senin, 24 September 2018 - 13:16 wib

Paripurna Molor 6 Jam, 11 Anggota Dewan Bolos

Senin, 24 September 2018 - 13:00 wib

Joshua Penuhi Janji

Senin, 24 September 2018 - 12:55 wib

Setujui Tobasa Jadi Toba

Senin, 24 September 2018 - 12:31 wib

12 Jamaah Haji Nagan Belum Kembali

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Marquez Juara di Aragon

Senin, 24 September 2018 - 12:30 wib

Flyover Ditunda

Follow Us