Oleh: Gde Agung Lontar

Daripada

3 Mai 2015 - 07.22 WIB > Dibaca 1213 kali | Komentar
 
Ada satu (atau barangkali dua) kata, yang konon dianggap menjadi salah satu ciri khas dalam berbahasa Indonesia sepanjang masa Orde Baru dan menjadi kontroversi dalam pertelingkahan politik di awal Orde Reformasi, yakni daripada.

Kata itu pun kian melambung popularitasnya (atau justru sebaliknya) ketika Butet Kertaradjasa berkali-kali mementaskannya dengan artikulasi dan intonasi yang begitu kental, mengingatkan kita pada sosok Soeharto, satu-satunya presiden Indonesia di masa Orde Baru itu.

Penulis sempat terpesona dengan fenomena itu sehingga sempat juga menggunakan daripada (secara melebih-lebihkan) dalam beberapa cerpen atau novel. Ironis memang. Syukurlah, belakangan ini penulis sadar bahwa sudah ikut terbawa arus yang keliru, lupa pada tradisi di lingkungan sendiri.

Ya, hanya sebuah preposisi komparatif: daripada.

Namun, ternyata tidaklah sesederhana teorinya. Pada praktiknya, penggunaan preposisi ini  berkelindan dengan preposisi lain, seperti dari dan dari pada (bentuk lain yang tampaknya terlewatkan oleh para linguis). Kelindan [dalam resam Melayu dapat juga bermakna benang kusut] itu terjadi, antara lain, karena biasnya antara bahasa lisan dan tulisan, pengetahuan berbahasa para penuturnya, dan tumbuh-kembangnya bahasa [termasuk persoalan kebakuan] Melayu-Indonesia.

Ada beberapa bahasan khusus tentang daripadadatang dari para linguis, yang memeningkan kepala. Tampaknya mereka terjebak hanya pada dua soal, yaitu persoalan kekacauan penggunaan bentuk (dari dan daripada) serta persoalan ragam lisan dan ragam tulisan.

John Verhaar, misalnya, mengatakan bahwa bahasa Indonesia modern memperlihatkan adanya perubahan yang tengah berlangsung pada pemakaian preposisi dari dan bentuk yang lebih lama, daripada. Dari (pada [bertugas] memarkahi konstituen komplemen apa saja yang lazim untuk keposesifan, asosiasi, jarak, asal, pemisahan, penggantian ... dst. (dalam Kajian Serba Linguistik).

Sementara itu, Soedjarwo (1994:102-104) menunjukkan adanya dua penulisan:daripada dan dari pada, tanpa menganalisis kemungkinan adanya perbedaan makna atau maksud yang dikandungnya.

Dalam teks Hikayat Hang Tuah (HHT) (1978:5190),tidak ditemukan penggunaan kata dari sebagai preposisi komparatif. Dalam HHT, dari digunakan sebagai preposisi pemarkah dengan frekuensi kemunculan 17 kali. Sementara itu, kata daripada digunakan 4 kali sebagai preposisi komparatif dan 26 kali sebagai preposisi pemarkah. Menariknya, dalam HHT muncul juga bentuk dari pada sebagai pemarkah (2 kali).

Dalam teks Sulalatus Salatin (SS) (1986:166), kata dari juga tidak digunakan sebagai preposisi komparatif. Dalam SS, dari digunakan sebagai pemarkah (43 kali); sedangkan daripada digunakan sebagai preposisi komparatif (5 kali) dan sebagai pemarkah (50 kali). Dari pada tidak ditemukan dalam SS.

Dalam teks Tata Bahasa Melayu (TBM) (1985:190), dari digunakan sebagai preposisi komparatif (4 kali) dan sebagai pemarkah (108 kali); sedangkan daripada digunakan sebagai preposisi komparatif (9 kali) dan sebagai pemarkah (5 kali). Dalam TBM juga tidak ditemukan penggunaan dari pada. DalamWarta Malaya (WM), 24 Mei 1934, hanya ditemukan penggunaan daripada sebagai pemarkah (5 kali); dalam Editorial Saudara (SA), 27 Juli 1935, ditemukan penggunaan daripada sebagai komparatif  (1 kali) dan sebagai pemarkah (10 kali); dan dalam Majalah Guru (MG), Januari 1935, hanya ditemukan penggunaan daripada sebagai komparatif (1 kali) dan sebagai pemarkah (4 kali).

Apa yang dapat dimaknai dari data kuantitatif di atas? Rupanya, yang paling menonjol adalah begitu tingginya penggunaan preposisi daripada sebagai pemarkah. Hal itu, jika diukur dengan kaidah bahasa masa kini, merupakan kesalahan.

Mengapa kesalahan itu terjadi? Tentu banyak kemungkinan jawabannya. Namun, menurut penulis, kemungkinan yang paling mungkin adalahkarena persoalan kecil, remeh-temeh,dan teknis, mulai dari proses penyuntingan, layout, cetak, hingga (mungkin) sekadar kebiasaan.

Teks HHT dan SS, misalnya, pada awalnya (aslinya) ditulis dalam Arab-Melayu/Jawi. Karena ditransliterasi ke abjad Latin (yang pada masa itu juga masih berkelindan dengan pengembangan tulisan Jawi dan pembakuan/konsensus proses transliterasi), memungkinkan penggunaan daripada tidak dipahami secara benar oleh si pengalih-aksara: sebagai komparatif ataukah pemarkah.

Menariknya, HHT justru menggunakan daripada sebagai pemarkah (26 kali), menyimpang dari tren masa itu. Apakah itu hanya sekadar kebetulan,salah edit, atau salah cetak? Agaknya patut diduga demikian. Meskipun demikian, mari kita coba lihat kedua contoh baik yang tampaknya tak disengaja itu.

(1) ... maka dirajakan oleh Mamak Bendahara pada negeri Bintan, kemudian dari pada itu, maka kita pun kerajaan pula di Melaka ini, .... (hlm. 66)

(2) Hai Saudaraku, keris ini keris aku, dianugerahkan oleh Batara Majapahit, sebab itulah maka kuambil pula dari padamu. (hlm. 84)

Persoalan daripada yang muncul sebagai preposisi pemarkah dalam teks di atas (sehingga mengganggu posisi daripada yang tampaknya sudah pakem sebagai preposisi komparatif), bisa jadi, hanya masalah konsensus dalam bentuk ragam tulisan. Perlu diingat bahwa bentuk dari[pada] sebagai pemarkah nyaris hanya muncul [pada mulanya] dalam ragam lisan. Dalam HHT pun, daripada muncul sebagai pemarkah kepemilikan dan/atau pemarkah jeda.

Verhaar sebenarnya sempat menyinggung masalah itu. Katanya, Mereka juga sering memakai dari(pada) sebagai alat pemerpanjang waktu untuk menemukan N2 dan dengan demikian pemakaian dari(pada) itu mirip dengan eh.... [mirip dengan e....-nya Moerdiono, penulis]. Saya yakin bahwa dapat diterima keberatan dari sudut gaya bahasa terhadap pemakaian dari(pada) yang memang redundan dan/atau berfungsi sebagai jeda karena belum jelas N2-nya itu, lanjutnya (hlm. 398). Demikian juga pendapat Soedjarwo. Ia mengatakan bahwa daripada (sebagai penanda hubungan milik) sering digunakan dalam ragam lisan. Tujuan penggunaan kata perangkai tersebut ialah untuk mengulur-ulur waktu sambil memikirkan kata-kata lain untuk melanjutkan pengungkapan gagasannya, tulisnya (hlm. 104).

Atas dasar itu, menurut penulis, kita dapat mengambil jalan tengah: dalam kutipan langsung percakapan dapat digunakan dari[pada] sebagai preposisi pemarkah, baik sebagai pemarkah kepemilikan maupun sebagai pemarkah jeda. Mengapa? Karena bagaimana pun kita tidak bisa membakukan gaya bicara, kecakapan, aksen, atau logat orang dalam berbahasa.Namun, untuk narasi, hal demikian adalah haram.

Contoh:

(3) Hai Si Jebat durhaka, jika engkau berani turunlah engkau daripada istana Tuanku ini, supaya aku penggal lehermu! (dalam dialog/ucapan)

(4) Maka, destar (dari) emas yang bepermata itu pun dipakainya (dalam narasi).

Begitukah?***


Gde Agung Lontar
Payungsekaki, 230415
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us