Sajak-sajak Gunawan Tri Atmodjo

3 Mai 2015 - 07.28 WIB > Dibaca 1970 kali | Komentar
 
Yang Melingkar di dalam Hujan
 
Anak Rumah
Ketika bayang hujan masih samar, Dia keluar kamar. Memunguti jejak masa kanak yang tersebar. Menatanya dengan sabar agar mudah dibakar. Bebunga mawar yang menguar gelisah sepanjang pagar menatapnya dengan nanar, segusar sosok Bapak yang berangsur pudar. Tiba-tiba Dia rasakan ada yang menjalar, membuat kakinya gemetar. Ada memar yang kian mekar di balik gelang akar bahar, di urat nadinya yang makin seru berdebar. Tapi toh api tetap berkobar, menjilat-jilat liar, hingga semua ingatan menjadi Abu Kenangan yang begitu hambar.

Penyatuan
Ada yang berkelindan di halaman ketika turun hujan. Saling lumat tanpa sedu sedan. Mengalir perlahan di ruas dedaunan. Menerobos sela bebatuan. Menuju parit kecil di pinggir jalan. Semakin liat perjalanan, semakin erat kesetiaan, semakin pekat penyatuan. Dilupakan dan kerinduan telah mengajarkan ketabahan bahwa tiap penantian tak akan tersiakan. Abu Kenangan dan Debu Kemarau memulai pengembaraan menuju lautan%muasal keabadian.

Perpisahan
Di tepi Sungai Tua, saat hujan reda, untuk kesekian kalinya seribu mantra pemikat yang ditabur Pemancing Kata hablur ke udara. Seekor burung gereja memangsanya dan tiba-tiba oceh prenjak lahir dari kicaunya. Sungai Tua mendengarnya bagai ringkik kuda betina yang mengingatkannya pada istal istana, pada Maharaja yang sering dirundung gulana, yang kerap melabuh dukalara tak kentara di tubuh beningnya. Walau sejatinya kini hanya ada Pemancing Kata dengan masa lalu penuh luka, yang begitu setia menungguinya. Lelaki renta yang kini terperanjat saat seserpih kenangan terjerat pukat. Sungai Tua memahami ini sebagai isyarat pisah. Pemancing Kata harus pergi meneruskan takdirnya sebagai Bapak Kembara yang mesti kembali ke rumah untuk menyembuhkan luka masa lalunya.
 
Bapak Kembara
Dia telah melerainya hingga berpisah jalan sewaktu gerimis kembali tiba. Debu Kemarau dibiarkannya meneruskan perjalanan menuju lautan dengan perasaan kehilangan tak tertanggungkan. Abu Kenangan dibawa pulang sebagai tanda kemenangan atas Sungai Tua, yang setelah sekian lama menggodanya, akhirnya tertaklukkan juga. Meski tinggal butir-butir halus memedihkan, Dia sangat yakin masih mampu merangkai serat kenangan itu menjadi sebuah sajak penebus rasa bersalah untuk dibawa pulang. Layaknya buah tangan untuk anak semata wayang yang telah lama Dia tinggalkan.
 
Solo, 2009-2015



Sepasang Totem
 
Di ujung penyerahan ini
Kubiarkan semuanya tak ternamai
Kurelakan segalanya berjalan di ruas sunyi
 
Aku bangun di ranum subuh dan kehilangan tubuhku. Aku mengambang seperti senja di rembang petang. Segalanya barangkali telah sirna tapi aku masih asing dengan ketiadaan. Dunia menjelma selembar daun dan aku sebutir embun yang terpelanting di atasnya. Aku mendengar suara-suara, berulang menjadi gema. Dunia serasa sepuluh kali lebih tua ketika aku tiba-tiba memiliki telinga.
 
Aku mencari tubuhmu dalam kekosongan yang sempurna. Ragamu adalah airmata yang melinangi senjakala udara. Aku tak pernah selesai memburumu hingga debar jantungku tinggal desir. Dan angin mengabarkannya pada mereka yang bersetia kepada yang tiada sebagai desah yang menyedihkan. Lantas, apakah kita memang digariskan menjadi sepasang senyawa yang saling menggenapi kehampaan?
 
Di tikungan jalan itu mungkin hujan akan terbelah. Mungkin pula kita akan kesulitan mencapai rumah. Sementara cuaca begitu tergesa menghapus segala denah dan tanda baca. Mungkin ada baiknya kita bergegas menyusun cangkang yang nyaman untuk persinggahan sementara. Sebuah bilik remang di bawah naungan pohon cemara. Kita akan berteduh di sana sembari menunggu para pengembara melintas dan menuang sedikit cerita tentang marabahaya di sepanjang jalan.
 
Di tengah malam, kala kesunyian dibangkitkan dari kematian, kita akan bersijingkat menjadi ziarah singkat. Segala hewan melata menyertakan roh kita dalam doa mereka. Kita pun terlantun dalam bahasa tanah dan pepohonan. Kita menjelma kemurnian dalam keasingan meski kita tak sempat mengingat wajah tuhan. Ah, kau mengabur terlalu cepat sebelum segala kepasrahan lengkap. Tapi aku akan tetap menyusulmu sebagai kalimat suci yang sekarat.
 
Di ujung penyerahan ini
Mungkin satu di antara kita sudah mati
Barangkali ada yang telah dihidupkan lagi
 
Pada sebuah taman, orang-orang menjerang kenangan. Sepasang kupu-kupu dilahirkan dari mimpi paling gulita. Dan untuk kali pertama berani menantang pagi. Aku bergegas dari utara sedang kau masih mengemas serbuk kenangan di tenggara. Aku mengirim isyarat lewat kilas lamunan yang akan segera terlupakan saat kabar itu kauangankan. Lalu aku menjelma patung yang bahagia di tengah kolam.
 
Kau berjalan memutar, menyambangi belukar bunga dan rumput liar. Matahari menjatuhkan cahaya setiap kali kau melangkah. Ada yang sesaat terperangah lalu mengguratkan serpih kisah. Dalam kebisuan abadi, aku mengeja kepasrahan. Sepasang angsa bercinta sepanjang siang di permukaan kolam, menguarkan kerinduan yang tak tertahankan. Aku telah menghapus ingatan akan jarum jam ketika menunggu sudah menjadi takdir yang dibenamkan di sekujur badan.
 
Barangkali perjumpaan hanyalah titik entah dalam sebuah garis panjang. Dia hanya simpul dari bertemunya arah. Hanya seutas simpang dalam lalu-lalang yang tak kepalang. Maka ketika saling mencari mungkin kita justru urung saling menemukan.
 
Maka lebih baik hari-hari luruh dalam penantian dan kita terbakar bersama dalam semesta kata yang fana. Kita menjelma segala isyarat. Aku adalah ibarat. Kau adalah laksana. Aku adalah bak. Kau adalah umpama. Kita adalah tafsir yang merahasiakan diri dari makna. Dengan begini, barangkali kita telah bertemu tapi tak saling mengenali. Kita pernah bersua di suatu masa yang tak kuasa ditempuh dengan usia.
 
Di ujung penyerahan ini
Aku adalah angin bagi kutub matahari
Kau adalah rinai dari gerimis api
 
Kita adalah puisi yang berjalan sendiri dalam kesenyapan. Ketika mereka bertikai seraya menuliskan kita lalu membunyikannya dalam kegaduhan yang pecah dan berkepanjangan.
 
Solo, 2 Maret 2013-2015



Sajak Berparak
 
seperti cenayang yang tak pernah kehilangan jejak
seperti penebang kayu yang memercayakan takdir pada mata kapak
ibu tak pernah lelah menjahit metafora yang koyak
 
seperti siluman yang ingin nampak
seperti bocah yang tak henti mengagumi sihir bedak
aku terus bergerilya menulis sajak
 
kami memang telah lama berparak
 
ibu adalah semesta bahasa yang bijak
sedang aku hanyalah gerak kata pada puisi yang retak
 
Solo, 2009-2015

 

Anjing Pelacak
 
telah kucium semua ceruk kematian
di lubuk persembunyian

telah kuendus setiap getir maut
yang tak kenal kata luput

telah kuhirup segala yang kian pejal
ditabalkan ajal

telah kubaui dengan sempurna tiap parfum
yang akan membawaku pada aroma Pembunuhmu
 
tapi tak ada yang dapat kuberitakan padamu
selain kenyataan bahwa

aku tak dapat mencium bau tubuhku sendiri
yang mungkin saja melekat pada tubuh mayatmu
 
 Solo, 2014
 
 
 
Gunawan Tri Atmodjo
lahir di Solo pada 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta program studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Indopos, Riau Pos, Suara Merdeka, Femina, Solopos, Minggu Pagi, Cempaka, Majalah Sagang, Majalah Basis, Majalah Kartini, Bali Post, Suara NTB, Koran Merapi, dan sejumlah jurnal kebudayaan.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us