Sajak-sajak Alvi Puspita

3 Mai 2015 - 07.29 WIB > Dibaca 1282 kali | Komentar
 
dikau

pernah kau adalah api
dan tiada sesiapa terbakar selain diri sendiri
lalu malam-malam datang dengan mimpi yang sama
telaga dan udara
menyelam dan terbang
hantu yang berdiam di pucuk kepala
dan kau pun mengingau tentang jalan pulang
maka kau ciduk air telaga dari mimpimu
membasuh api di kedalaman diri
membunuh hantu yang menjelma Aku
walau tak pernah jadi abu!

2013



di ganjuran

patung itu
putih pualam
pendar merah cahya
menekuk. diam purba
orang-orang berdoa menghilangkan kepala
sepasang kekasih menyalakan lilin
suami istri bergenggam tangan
kidung gema
langit petang warna jingga
sebentar lagi senja
angin datang
kerudungmu goyang
kau pejamkan mata
desir di dadamu seketika
kita katamu sama-sama gembala dengan lubang di dada

2013



istirah

jika telah padam lampu terakhir
dan pejalan pulang pada dada perempuan
dan burung hantu membaca mantra di pohon pekuburan
mata yang kita punya lepaslah, katamu
letakkan di langit-langit
tepat di atas bujur jasad
biarkan ia menatap
menelusup
segala di kepala pindahlah ke dada

2013



insomnia

aku tidur lambat
mata tak  picing jua
kucing ngeong-ngeong di lantai bawah
barangkali mereka kawin

engkau sedang apa di sana
siapa yang tahu
dinding begitu tebal
jarak kian kental

Mbak Iik, Juli dan Ayik sudah tidurkah?

tiang listrik di pukul dua kali
kucing kini menari-menari
melompati terali mencakari diri meminumi ampas kopi

sebentar lagi pagi
sebentar lagi pagi
aku tak ingin pergi

Pekanbaru, 2015



rumbai

ke jembatan leighton
kita sore itu
melintasi pabrik karet
bau menyengat
di jalan nelayan anak-anak bermain kecipak banjir
menulis nama pada jejak air
di dinding

inikah kotamu?
ya, kataku

takkah kau lihat retak di situ?
tak, jawabku

lalu kita pun saling diam
memunguti kata dari kelam
melaungkan pada siak yang hitam

dari jembatan leighton
kita pulang malam itu
anak-anak tertidur di genangan air
aku tenggelam dalam retak kotaku

Pekanbaru, 2015



kereta

di seberang rel itu, abang
perempuan bersayap beludru
bermata langit
bibirnya doa-doa
senyum rekah pada kita

adik..adik...
palang kereta itu, adik

di seberang rel itu, abang
orang-orang berarak
menabuh rebana
memakai baju untuk ke pesta
menjunjung roti dan buah

adik..adik...
kereta, adik!

abang..abang...
tak hendak ikutkah, abang
ajak juga ibu
perut kita akan kenyang oleh susu

adik!!!

abang, aku pergi dulu, abang
kalau abang tak hendak ikut
akan kubungkus nanti makanan untuk kita
katakan pada ibu aku pergi ke pesta

Adiiiiiik!

rel simbah darah
orang-orang berarak
mengusung keranda
ia di dalamnya

Pekanbaru, 2015



Alvi Puspita
lahir di desa Teratak-Kampar, 3 Maret 1988. Kini menjadi dosen di Universitas Lancang Kuning. Karyanya termuat di sejumlah media massa, dan termaktub dalam beberapa antologi bersama yang diterbitkan oleh Yayasan Sagang, seperti Tamsil Syair Api (2008), Ziarah Angin (2009), Riwayat Tanah (2011), dan Ayat-ayat Selat Sakat (2013).
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Follow Us