Sembang-sembang Sastra (S3)

Sastra Riau dan Kerisauan Bersama

10 Mai 2015 - 07.22 WIB > Dibaca 2044 kali | Komentar
 
Perihal sastra di Riau menjadi perbincangan bersama dalam helat Sembang-sembang Sastra (S3) oleh sastrawan Riau tajaan Komunitas Sembang-sembang Sastra (S3) bekerja sama dengan Badan Arsip dan Pustaka Soeman Hs. Dalam majelis yang berlangsung di salah satu ruangan di gedung Pustaka Wilayah, Rabu (6/5) itu menghadirkan pembicara dari kalangan sastrawan dan budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil dan Al azhar.

Laporan JEFRI AL MALAY, Pekanbaru

MAJELIS itu juga kemudian menjadi ruang pertemuan dalam mendedahkan segala kerisauan terkait dengan persoalan sastra di Riau. Hadir para penulis Riau baik dari komunitas, mahasiswa, seniman-seniman yang ada di Pekanbaru bahkan dari instansi-instansi pemerintahan. Perbincangan yang berlangsung pada sore hari tersebut menunjukkan sebuah itikad bersama untuk menjadikan dunia sastra Riau kembali ke jalurnya.

Harapan dan kesepakatan yang kemudian terlontar dalam bincang-bincang tersebut, bagaimana majelis dan pertemuan para sastrawan itu dapat dilakukan secara periodik, sebulan sekali. Hal itu disampaikan Taufik Ikram Jamil. Pertemuan seperti ini sangat penting dilakukan sebab pekerjaan sebagai satrawan ini, pertamanya adalah berbual, kemudian kerja menulis, barulah dikerjakan masing-masing.

Dengan berbual, akan memunculkan banyak gagasan tapi sekarang kita sibuk dengan dunia masing-masing. Analoginya begini, bagaimana pun domba satu ekor akan mudah ditankgap srigala, tapi kalau domba 20 ekor, srigala akan takut. Demikian juga sastra, bersama-sama kita berupaya memajukan dunia sastra  Riau yang dimulai dengan perbincangan seperti ini, ucap sastrawan senior tersebut.

Selain itu, lanjut Taufik,  majelis serupa ini bisa mengecas gairah sastrawan untuk lebih mendekati karya sastra untuk memproduksi karyanya. Sehingga karya yang dihasilkan lebih matang, mampu memberikan darah daging, karena pada akhirnya, karya-karya sastra juga harus dipertanggung jawabkan dihadapan sang Penguasa.

Senada dengan itu, Al azhar juga menyatakan pertemuan ini penting sekali dilakukan, semua orang boleh mengusulkan dan mengelaborasi sebuah tema bersama-sama dan dari berbagai pemikiran. Jadikan pertemuan ini sebagai universitas sastra.

Itulah pointnya, tempat di mana kita mendekati kesusateraan itu sebagai manusia kreatif dan  keluar dari sini menjadi kreator. Saya juga berharap sembang-sembang sastra ini, dapat dilakukan dilakukan secara periodik sehingga bisa dipastikan 2015 ke atas, sudah ada peta yang jelas terkait dengan persoalan produksi dan pemasarannya, ada lembaga yang bertanggung jawab. Sehingga sastrawan tidak lagi, dia dibebankan tugas, berkarya, membiaya, menerbit bahkan sampai tipis tapak sepatu untuk menjajakan karya-karyanya itu, kata Ketua Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau itu.

Sastra Riau Dimulai dari Puncak
Tugas dan tanggung jawab sastrawan Riau dalam memberikan sumbangsih bagi sastra Indonesia menjadi berat dikarenakan sastra Riau dimulai dari puncak. Sebut saja Raja Ali Haji yang menghasilkan Gurindam Duabelas, sebagai bentuk pembaruan karya sastra di Indonesia.
Menurut Taufik Ikram Jamil, itulah salah satu kerisauan bersama dan itu juga yang diutarakan Sutardji Calzoum Bachri, bahwa orang Riau susah berkarya karena berasal dari puncak. Kalau di daerah lain tidak, tidak ada sastra puncak yang muncul. Kita dengan keberadaan Raja Ali Haji sebagai pakar pembaruan, Gurindam Duabelas dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tugas kita hari ini, memberikan lagi sesuatu kepada Indonesia. Dan memang hal itu adalah keniscayaan yang harus dicari dari subkultur yang ada di Indonesia ini, terang Taufik.

Seperti hal lainnya lanjut Taufik, Sutardji Calzoum Bachri selaku Presiden Penyair Indonesia juga sudah selesai tugasnya memberikan sumbangan terhadap kesusasteraan bukan hanya kesusasteraan Indonesia tapi perkembangan sastra dunia. Menyumbangkan bentuk sastra yang tidak bisa dibaca Eropa dan muncul di Indonesia terutama dalam hal membuat wawasan baru dari Riau.

Memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Sutardji sebagai Presiden Penyair itu, hadir begitu mempesona dan menghebohkan dunia sastra. Hal itu ditandai, ketika Sutardji membaca sajaknya di Taman Ismail Marzuki pada 2 Juli 1978 padahal kata Taufik, sajak-sajak Sutarjdi sudah pernah dimuat di majalah-majalah sastra tahun 1968. Ketika sajak dibacakan itulah baru heboh, ada apa sastra, kenapa puisi itu tidak hadir ketika tidak dibacakan, kenapa Sutardji begitu total. Ternyata semuanya bermula sederhana, kata Sutardji, 15 tahun lalu, sebelumnya aku telah membebaskan kata-kata dan aku kembalikan kata-kata kepada mantra terutama mantra-mantra Riau, ungkap Taufik sembari mengutip apa yang pernah disampaikan Sutardji kepadanya.

Hal itulah kemudian menjadi jelas, bahwa tidak perlu ke mana-mana dalam proses kreatif penulis dan pengarang Riau. Sebab selain pembacaan Sutardji begitu beragam, semangat dan juga khazanah Riau itu yang perlu dijajaki oleh penulis Riau hari ini.

Taufik yang mengaku sedang menulis buku biografi Presiden Penyair Indonesia, Sutradji Calzoum Bachri itu juga membeberkan beberapa bentuk atau genre sastra lainnya seperti apa yang dicetuskan Gabriel Garcia Marquez dengan realisme magsinya.

Di Riau sendiri, kata TIJ sapaan akrabnya itu. Jauh sebelum muncul sebuah novel berjudul Tumbangnya Seorang Diktator tahun 70-an, yang mengisahkan burung-burung bangau menyerang presdien, pada abad ke 18, di Riau sudah ada sebuah kisah yang cukup dekat dengan masyarakat yaitu Ikan Todak melanggar Singapura. Artinya, hampir tidak ada beda dengan kisah keduanya itu. Nah, wawasan ini yang kemudian perlu digali karena Riau kaya akan hal-hal seruap itu, banyak mitologi-mitologi yang tidak kalah dengan mitologi di negara lain. Seperti Muaratakus dan lain sebagainya, terang mantan wartawan Kompas itu.

Kerisauan lain yang menjadi perbincangan dalam bincang-bincang sastra hari itu, yaitu perkembangan media tekhnologi yang tidak sebanding dengan kegairahan di dunia sastra. Di Indonesia terutama, tingkat inovasi menurut penelitian mengalahkan Hongkong. Tapi menurut Taufik, di satu sisi, terutama sastra seolah-olah mengalami stagnan. Perkembangan teknologi muncul tapi sastra seolah-olah mati.

Hal itu diduga penyebabnya,  apakah manusia hari ini terlena dan sudah berbahagia atau orang-orang di masa orde baru, sudah di didik menjadi orang instan. Mempercantik diri tapi tak mau berdarah-darah. Sehingga belum ada muncul karya yang menggugah, banyak penulis tapi tidak bisa memberikan getaran kepada orang. Nah, inilah tugas kita itu, berbincang-bincang kemudian dapat menghasilkan karya-karya yang mampu memberikan sumbangsih kepada dunia sastra di Indonesia bahkan dunia, tutup Taufik.

Dari Pedih yang Sama
Selaku pelaku sejarah, pencatat dan perekam peristiwa seni budaya, budayawan Riau, Al azhar mengatakan bahwa zaman yang melahirkan Raja Ali Haji itu tidak jauh bedanya dengan zaman yang melahirkan Taufik Ikram Jamil. Karena itu, karya mereka berada di pelataran representasi kritis, datang dari kepedihan. Apakah sastrawan-sastrawan hari ini berada dalam bungkusan yang sama? memprihatinkan atau membanggakan dalam konteks kebudayaan.

Saya rasa kita masih dalam pedih yang sama. Suara kepedihan itu, suara yang dilahirkan itu tidak harus dalam suasana murung atau nestapa melainkan juga bisa riang gembira, ungkapnya.

Terkait dengan kehidupan sastra di Riau, secara teoritis menurut AL azhar dipengaruhi bermacam hal, satu diantaranya adalah kelembagaan. Belum ada kelembagaan yang memungkinkan produksi sastra itu terjamin berkelanjutan, terjamin sampai kepada konsumen.
Kata Al azhar, kalau pandangan itu disimak atau diacukan dalam konteks Riau, maka banyak sekali yang salah terutama aspek kelembagaan. Tidak ada satu pun lembaga yang bertanggung jawab, baik penerbit, pemerintah, lembaga kesenian, di semua kabupaten/kota, termasuk LAM. Tidak ada satupun dari lemabaga-lembaga itu yang memperlihatkan rasa bertangung jawabnya yang tinggi terhadap keberlanjutan penerbitan sastra, ucapnya.

Sastrawan-sastrawan Riau itu  jalan sendiri, sehingga ada semacam paradigma, kalau nak jadi sastrawan, harus siap jadi penerbit, pencetak, pemasar. Oleh karena itu, yang memilih propesi sebagai sastrawan harus siap membiayai semuanya itu. Sehingga seperti yang diutarakan Sutardji, sebuah apologi atau bahasa memaafkan yang berbunyi sastrawan, seorang yang bergembira dalam ngangaan mulut luka dan dia menari-nari di dalamnya.

Sesungguhnya itu kedoifan, kedoifan politik dan pemerintah. Sutardji memang besar namanya. Taufik Ikram Jamil juga, tapi kebesaran nama orang ini, bukanlah karena dorongan politik, dalam pengertian kebijakan bukan karena itu, tapi karena etos pribadi yang keras kepala, teking, dan lainnya, terang Al azhar.

Menelisik dari apa yang pernah dilakukan Indoensia dengan keberadaan Balai pustaka sebagai tempat yang disediakan pemerintah bagi ruang menampung karya-karya anak bangsa sehingga  sastrawan, tidak memikirkan hal yang sifatnya teknis. Inilah yang kemudian dilakukan di negeri jiran Malaysia dengan Dewan Bahasa dan Pustaka, melalui lembaga inilah dunia literasi dibina, dikembangkan sampai hari ini dan tanpa harus menenggelamkan penerbit yang lain.

Riau pernah mengusulkan karena negeri kita ini negeri kata-kata dan sastra yang  ditasbihkan sebagai rajawali kesenian. Marwah sastra adalah adalah marwah diri kita di negeri ini, itu yang dibayangkan dan dirasakan dalam diri kita tapi itu membentur tembok yang sangat besar dan tebal, studi kelayakan sudah dibuat, disain, jadi tinggal pelaksanaannya saja, konsep semua sudah disiapkan rupanya tidak jalan. Nah, dalam kesempatan ini, saya ingin menggugah kita, kawan-kawan sastrawan untuk meminta hal itu kepada pemerintah agar sastrawan bisa fokus pada porses penciptaan, kata Al azhar.

Melihat kondisi di Riau, AL azhar juga mengemukakan di beberapa instansi terkait, dalam setahun itu diperkirakan ada tiga puluh buku dicetak, tapi adakah buku itu terdapat di toko-toko buku, di perpustakaan, tak ada. Banyaknya di gudang. Buku-buku, yang lahir dari suara kebudayaan dari penulisnya, sudah menyuarakan dengan baik, tapi di isntansi tertentu membiarkannya di gudang, menunggu rayap memakannya.

Al azhar berharap,  kepada tiga tiga tungku, Badan Arsip dan Pustaka Soeman Hs, Disparekraf, Dinas Pendidikan dan kebudayaan yang dinakhodai anak-anak muda hendaknya harus tampak kemudaannya mellaui program-program yang berarti dalam kehidupan sastra di Riau. Bagaimana caranya, kata Al azhar, bisa dirundingkan bersama sebab semua sudah tahu, persoalannya yang ada sudah berlangsung kurang lebih 40 tahun.

Menelisik proses kreatif dari Raja Ali Haji yang kemudian dapat dijadikan acuan atau katakanlah semangat bagi para penulis hari ini sebagai salah satu cirri khas Mazhab Riau, menurut AL azhar, Raja Ali Haji tidak melakukan reproduksi kreatif, tapi melakukan representasi kritis. Dalam setiap tulisan dan karyanya, Raja Ali Haji mengkritisi pensejarahan yang dibuat sebelumnya, mencari ruang-ruang yang kosong, pertanyaan yang tidak terjawab terdahulunya, dijawab olehnya dengan melakukan riset dan observasi.

Dia datang dari kekosongan, dari suatu teks, inter tekstual. Dicarinya sesuatu yang tiada dalam teks. Dalam ilmu sastranya disebut Read between the line atau membaca diantara dua baris. Yang dibaca itu di titk putih. Raja Ali Haji mengisinya sehingga karyanya itu hadir sebagai pembentuk sebagai pemaknaan yang baru bukan pengulangan yang sudah ada sebelumnya tapi sebagai sebuah pemaknaan yang baru, terang AL azhar.

Hal itu bisa dilakukan dengan  leave in, hidup di dalam teks-teks itu. Masuk dalam lingkunganya itu,sehingga apapun yang dituliskan merupakan suara kalbu. Bukan utak-atik dari teknik sastra. Tapi sebuah pernyatanyang telihat jujur. Dapat diliihat dari Syair-syair panji pada yang lahir pada waktu itu, teks yang dibeberkan seperti tercium baunya oleh pembaca bahkan pembaca hari ini, perihal di dalam isinya bukan sesuatu yang berada di ruang antah berantah.

Itu, maka kita melihat dan menyaksikan, syair bukan lagi sesautu yang bermain di kejauhan tapi sesutu yang berada di dekat kita. Karena itulah kemudian ianya  menjadi daya ubah yang kuat pada kebudayaan. Dan yang mendorong kita untuk melakukan representasi puitis itu adalah dengan menghadirkan dalam diri dan pikiran akan keprihatinan kebudayaan, ucapnya.

Sembang-sembang sastra yang juga dihadiri para pelaku seni di Riau itu berlangsung lebih kurang dua jam. Antusias dari hadirin yang hadir tampak dari beragam pertanyaan, saran dan juga pendapat yang disampaikan dalam majelis tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Pustaka dan Arsip Soeman HS, Yoserizal Zen  yang juga hadir mengatakan, sembang-sembang sastra merupakan kegiatan kebahasaan yang patut diberikan apresiasi karena bahasa dan sastra merupakan kekuatan yang lebih di Riau ini. Apalagi, lanjut penyair Riau itu, sastra merupakan rajawali dari kesenian. BPAD komit dengan program yang bertalirajut dengan bahasa terutama sastra, ucap Yose semangat.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us