Oleh: Agus Salim

Bulan Merah

10 Mai 2015 - 07.38 WIB > Dibaca 1302 kali | Komentar
 
Bila suatu hari tanpa sengaja kau berjumpa Qom sedang duduk sendiri di lencak (1) sambil memain-mainkan rambutnya yang kemilau dan sepasang matanya yang samak beradu pandang dengan matamu, aku mohon dengan sangat simpan niatmu untuk bertanya kepadanya soal sesuatu yang sudah menimpanya. Tapi bila kemudian karenanya kau merasa susah hati dan lalu penasaran, maka aku sebagai saksi hidup, akan memuaskan rasa ingin tahumu.

Apakah lidahnya dikerat?

Maaf, aku tak suka pertanyaan itu dan aku mohon jangan melepaskan pertanyaan lagi sebelum aku mengisahkannya kepadamu.

Aku  bersedia merawikan kisah ini hanya kepadamu saja dan aku mohon tak usah menularkannya kepada yang lain. Patutlah diingat, sebelum aku merampungkannya, janganlah berani menyela dan apalagi sampai berkesimpulan yang macam-macam. Maka simaklah baik-baik.
***

#Satu
Sabtu malam, dini hari, tepat di bawah gerhana bulan merah. Situasi yang semula tenang tiba-tiba menjadi tegang. Apa hal sedang terbangun? Rupanya di dalam bilik berdinding bidhik (2), di atas lencak beralas kasur tipis, ada seorang Nisa sedang berjuang keras mengeluarkan anak manusia dari dalam perutnya. Dan, setelah waktu lama berselang, anak manusia akhirnya keluar juga dari rongga sempit tubuhnya dengan selamat. Patutlah jika kemudian ia bersyukur sebab yang semula hatinya berselaput cemas berlipat-lipat segera bertukar dengan bahagia. Tapi andai saja tak ada dukun beranak yang begitu cekatan dan berpengalaman, mungkin cerita akan jadi berbeda.

Adalah Mak Imah, dukun beranak tak tergantikan, salah satu sesepuh yang dikeramatkan, yang begitu tabah dan tekun membantu proses kelahiran itu. Maka sangat pantas jika kemudian ia tak menarik bayaran, sebab yang melahirkan itu adalah keponakannya sendiri. Tak maulah ia dikata sebagai manusia tak kenal darah sendiri. Namun, meski demikian, Nisa tetap merasa tak nyaman jika Mak Imah harus pulang dengan tangan alembay (3). Dan Lugi, suami Nisa, telah menyiapkan beras, dua nyior (4), satu bungkus gula pasir dan satu bungkus serbuk kopi, disatukan dalam wadah karung kecil sebagai mahar dan sekaligus tanda rasa terima kasih kepada Mak Imah. Soal ini sudah kaprah dan Mak Imah tak menampiknya.  Sebelum pulang, Mak Imah bergumam sendiri di dekat Nisa.

Gerhana bulan merah,ah,  semoga saja bayi ini selamat.

Nisa lamat-lamat mendengarnya dan ia pun menanyakan maksud ucapan Mak Imah itu.

Siapa yang selamat, Mak? Ada apa dengan gerhana bulan merah?

Ah, tidak. Yang kugumamkan tadi hanya mitos. Tak usah  kau risaukan.

Nisa tak memperpanjang rasa ingin tahunya. Sebab ia hanya ingin merasakan kebahagiaan. Tapi, tak bisalah ia mengelak bahwa tiga hari sebelum kelahiran itu, ia dirundung cemas. Cemas yang berlapis-lapis. Sangatlah pantas jika ia begitu, karena usianya memang terbilang terlalu dini untuk mengandung dan melahirkan anak manusia, yang sebenarnya tersimpan resiko besar yang mengancam dirinya.

Sungguh, waktu dinikahkan Nisa tak punya pilihan lain. Tirani seorang ayah yang gendeng (5) dan mau menang sendiri, pantanglah dilawan. Apalagi bila sang ayah dikuasai setan celleng (6), maka jalan selamat adalah sumarah. Menolak dinikahkan bagi gadis desa Manjirada adalah aib dan dosa yang akan ditanggung seumur hidup. Bisa-bisa memunculkan basto (7) dan sepanjang hidup akan menjadi perawan.

Sebagai suami Nisa, Lugila, akrab dipanggil Lugi, juga terbilang masih muda. Usianya masih mau menuju angka tujuh belas tahun dan waktu menikah ia belum menggenggam penghidupan. Namun itu dianggap lumrah sebab pepatah sesat sudah terlanjur menjadi darah dan daging: menikahlah lancing (8) dan penghidupan pasti akan menyusul datang. Gara-gara pepatah itu, remaja-remaja bau kencur banyak yang memilih matang sebelum masa itu tiba. Akibatnya, rumah tangga yang terlalu dini dibangun sebagian besar hancur berantakan.

Ketika memandang dalam-dalam wajah bayinya itu, timbullah kemudian rasa bingung bercampur takut. Ada pertanyaan diam-diam tumbuh dalam di bibir Nisa: bagaimana cara membesarkan dan mendidik bayi ini? Ia sangat sadar kalau ilmu yang didapat hanya sampai di bangku Tsnawiyah. Sedangkan Lugi sendiri hanya sampai di bangku SD. Setelah lama merenung kuat-kuat, timbullah tekad dalam hatinya: ia ingin merubah kebiasaan desa yang sangat senang menikahkan anak-anak di usia tak sewajarnya.

#Dua
Lewat satu minggu, Nisa pun memberi nama Qomariyahselanjutnya dipanggil Qompada anaknya. Sebab saat melahirkan sedang terjadi gerhana bulan merah di angkasa. Lugitanpa mau menimbang-nimbang lagi soal namasegera bersetuju.  

Ada perubahan setelah bayi memiliki nama. Si bayi menjadi rewel, suka menangis dan Nisa bingung menghadapinya. Ibu Nisa berkata: mulut bayi yang menangis hanya bisa dibungkam dengan puting susu. Namun, setelah berkali-kali disodorkan puting Nisa, Qom menolak keras dengan mengibas-ngibaskan mulutnya. Di hari ke sembilan, semalam penuh Qom tak mau menyusu. Oleh sebab masih hidup sabengko (9), ibu Nisa tak tahan mendengar bayi yang begitu sengit menangis. Ia hampiri Nisa yang sibuk mencari cara mendiamkan Qom dalam gendongannya di teras rumah.

Kenapa kau tak susui bayimu? Tak nyaman sama tetangga jika kau biarkan terus-terusan menangis, kata sang ibu.
 
Mungkin Qom sudah tak mau lagi, Bu, jawab Nisa.

Celaka. Benar-benar celaka. Akan semakin rumit hidupmu jika susumu tak berarti. Mampukah kau membeli susu yang lain?  

Menjadi gentarlah Nisa. Tapi mau tak mau Nisa harus berterus terang kepada suaminya. Dan, Lugi yang mendengar berita bayinya tak mau air susu Nisa, langsung naik darah dan marah.

Buat apa susumu yang besar itu jika tak berguna? Bikin pusing kepala saja. Ya sudah, beli saja susu yang murah. Ingat, susu yang murah!

Apa yang bisa Nisa perbuat? Melawan suami?  Tak bisa. Sebab melawan, walau dalam posisi benar, dianggap tindakan melanggar. Di desa Manjirada, suami memang memiliki derajat paling tinggi, dan bahkan karenanya, mereka sering lupa diri.

Nisa menuruti apa kata Lugila. Dibelilah susu paling murah. Dari saking takutnya, satu bungkus susu dicukupkan sampai satu minggu. Jelaslah itu tak memenuhi kadar gizi yang diperlukan Qom. Apa boleh buat, dalam titik terlemahnya, ia sudah melakukan apa yang mampu dilakukan. Menerima dan tidak melawan.

#Tiga

Di usia tiga bulan, Nisa memberi makan pisang pada si bayi. Ia patuh pada kata ibunya bahwa dengan dikasih makan si bayi akan cepat tumbuh besar dan hidup segera terbebas dari keruwetan. Sebenarnya, jika ia mau belajar, hal demikian sungguh-sungguh sangat tak dianjurkan. Tapi peduli apa Nisa soal itu?

Satu sampai lima kali dikasih makan pisang, Qom baik-baik saja. Tapi setelah masuk pada ke enam kalinya, tubuhnya tiba-tiba meriang dengan suhu panas begitu tinggi. Lagi-lagi Nisa tak paham soal ini. Ia tak tahu-menahu soal mengobati deman bayi dengan cara-cara tradisional. Ia gamam bukan kepalang dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Qom terus menangis dengan suara basau menggundahkan. Akhirnya ibu Nisa kembali turun tangan.

Segeralah kau pergi ke rumah Mak Imah. Hanya dialah yang tahu harus berbuat apa pada bayimu. Ini adalah perintah dan Nisa langsung melaksanakan.

Ia tergopoh-gopoh, bahkan setengah berlari, pergi ke rumah Mak Imah dengan Qom yang menangis dalam gendongan. Beruntunglah ia karena rumah Mak Imah tak terlampu jauh, sekitar limaratus meter saja dari rumahnya. Dan keberuntungan kedua adalah Mak Imah sedang ada di rumah.

Kenapa? Tanya Mak Imah.

Qom demam, Mak, sahut Nisa.

Ah, itu mungkin hanya saben (10) saja. Baringkan di lencak sana, biar aku urut, kata Mak Imah, memerintah. Nisa segera membaringkan Qom di lencak dan Mak Imah pun segera bertindak.

Saat diurut, menangislah Qom dengan melengking. Pantaslah jika hati Nisa disaput gayat. Ia berharap Mak Imah segera menyelesaikan tugasnya. Sebab Qom terus menangis dan menggelinjang kuat, seperti memberi isyarat minta diselamatkan. Tapi Mak Imah mengabaikan. Sementara Nisa, hanya bisa memandangnya. Tak lama kemudian, selesailah sudah dan Nisa bisa bernafas lega. Mak Imah lantas masuk ke dalam rumah dan menyuruh Nisa menunggu. Selang sejenak, ia kembali.
 
Ini air kau minumkan tiga kali sehari kepada Qom, perintah Mak Imah.

Hanya ini, Mak? tanya Nisa.

Eit, jangan pernah meremehkan air pemberianku. Ini bukan air biasa. Dan pulanglah sebelum aku benar-benar marah, tegas Mak Imah.

Nisa segera pamit pulang dan beruntung Qom sudah bisa diam dalam gendongannya.

Sesampainya di rumah, Nisa langsung meminumkan air yang disebut bukan air biasa kepada bayinya. Ajaib, demam itu pelan-pelan reda. Layaklah bila Nisa berbahagia karenanya.

#Empat
Satu minggu kemudian, bahagia Nisa bertukar kembali menjadi cemas. Sebab Qom demam lagi. Nisa meminumkan air itu lagi dan redalah demam Qom. Esoknya, demam lagi, dan diminumkan air itu lagi. Hingga akhirnya air itu benar-benar tak bisa berfungsi. Saat seperti itulah Nisa menyampaikan permohonan kepada ibunya.

Bu, Qom harus dibawa ke Puskesmas. Ini bukan lagi urusan dukun beranak. Aku takut terlambat.

Terkejutlah ibu Nisa mendengarnya. Sepanjang sejarah dan sudah menjadi keyakinan turun-temurun dari masa ke masa, tak ada satu pun warga desa Manjirada masuk puskesmas, apalagi sampai berobat ke sana. Perdebatan pun tak bisa dihindari.

Baru kau yang berani berkata seperti itu. Mak Imah itu orang sakti. Mintalah air lagi padanya.

Tapi, Bu,  Qom tak butuh  air, tapi butuh obat. Aku tak tahu apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Aku takut terlambat dan Qom tidak terselamatkan.

Kau mendengar apa yang aku katakan tadi, kan? Apa kau mau disebut penista keyakinan warga desa?

Apa pun yang diyakini warga desa ini,  aku tak mau tahu. Yang aku tahu, bayiku sakit dan butuh pertolongan dokter. Aku harus ke sana sekarang.

Nisa berhenti berbicara. Ia segera berkemas dan berangkat bersama Qom dalam gendongannya dengan bekal sisa uang belanja di dompetnya, mengabaikan sang ibu. Berjalan kakilah ia, menempuh panjang jalan satu kilo untuk sampai ke Puskesmas yang terletak di sebelah kantor kecamatan, sambil terus memelihara sabar dalam hati karena Qom tak berhenti menangis.

Kemana si Lugi, remaja tanggung yang gemar mengadu ayam itu? Ah, tak usah ditanya kemana laki-laki ini. Karena memang sebagai suami yang sudah kadung merasa tinggi derajatnya, ia merasa tak perlu ikut campur dalam urusan seperti ini.

Berselang lama, Nisa pun sampai di puskesmas. Alangkah mujur ia, karena puskesmas sedang sepi dan segeralah ia merangsek masuk dengan wajah cemas berlipat-lipat. Dari saking cemasnya, ia sampai lupa mampir ke loket pendaftaranjangan salahkan Nisa, karena ia memang tak tahu soal prosedur administrasi. Tapi untung, dokter yang berjaga segera menyilahkan ia masuk.

Ada yang bisa saya bantu, Bu? tanya dokter.

Anak saya sakit, Dok. Demamnya tinggi. Kemarin dikasih air bermantra, reda sebentar lalu panas lagi, jelas Nisa.

O, Mak Imah yang memberinya, kan? kata dokter.

Dari mana dokter tahu? tanya Nisa.

Sudah. Tak usah bertanya. Baringkan saja bayimu di kasur, perintah dokter dan Nisa segera menurutinya.

Dokter memeriksa Qom dengan teliti, pelan-pelan dan penuh dengan senyuman.
 
Hmm, nyaris, kata dokter.

Maksud Dokter? tanya Nisa penasaran.

Nyaris tak tertolong. Terjadi infeksi parah di lambung bayi ini, jelas dokter.

Dokter lantas kembali ke tempat duduknya. Tangannya lincah menulis resep.

Berapa, Dok?

Gratis.  Obat dalam resep ini juga gratis. Kau tukarkan saja ke loket itu.

Nisa bergegas, menukarkan obat ke loket yang sudah ditunjuk.

Ingat, Bu, minumkan sesuai petunjuk. Ini dua kali sehari dan yang ini tiga kali sehari.  Jangan lupa.

Nisa mengangguk dan mengingat pesan penjaga loket dengan sungguh-sungguh.

Nisa pulang dengan hati riang. Sampai di rumah, tanpa menoleh kanan kiri, tak peduli pada ibunya yang sudah menunggu, ia langsung ambil air, kemudian mengambil obat, dihancurkan sesuai takaran, dan diminumkan ke mulut Qom. Seminggu kemudian setelah itu, Qom benar-benar sembuh.

Tapi kabar sudah kepalang tumpah seperti serbuk dibawa terbang angin. Bahwa Nisa dengan sadar dan sengaja telah melakukan penistaan pada keyakinan warga. Karenanya, ia diberi gelar gadis tercela dan sebagai hukumannya, Nisa dianggap tidak ada oleh warga satu desa. Nisa tak membantah dan bahkan berlapang dada menerima hukuman itu.

#Lima

Qom tumbuh dengan cepat. Tapi sayang, saat sampai di usia satu tahun, telinganya tak bisa mengenali suara. Tak hanya itu, lidah Qom juga tak bisa mengenali aksara. Nisa pun bertanya-tanya: apakah benar ini adalah akibat dari penistaan pada keyakinan warga desa Manjirada? Atauhkah karena Qom dilahirkan pada saat terjadi gerhana bulan merah?

Nisa tak mau percaya pada semua itu. Ia pun memeriksakan Qom kembali ke puskesmas. Dari sana ia mendapatkan penjelasan bahwa demam terlampu tinggi akibat infeksi lambung yang pernah diderita Qom telah merusak gendang telinganya. Karenanya Qom tak bisa mengenali suara dan akhirnya lidahnya pun juga tak bisa mengenali aksara.

Bersedihlah Nisa mendapati kenyataan demikian. Tapi, tidak bagi ibu Nisa. Ia tak bersedih dan malah menganggap sesuatu yang menimpa Qom adalah basto yang dikabulkan. Nisa marah besar. Namun, sayang, ia tak bisa melakukan apa-apa selain menerima kenyataan.
***

Nah, bolehlah sekarang kau mengambil kesimpulan. Tapi aku tetap memohon kepadamu agar tidak bertanya macam-macam saat berjumpa dengan Qom karena itu bisa menyakiti hatinya. Tersenyum sajalah padanya.

Bukan karena lidahnya dikerat apalagi basto, tapi aku lebih yakin Qom menderita karena dilahirkan tepat saat gerhana bulan merah.

Terserah kau mau bilang apa. Yang penting, simpan saja kisah ini dalam benakmu rapat-rapat. Jangan sampai ceroboh dengan menularkannya kepada yang lain. Karena kau bisa saja diburu atau mungkin dibunuh.***

Perdana, 2015



Catatan :
1. Lencak = dipan dari bambu
2. Bidhik    = dinding dari anyaman bambu
3. Alembay = melambai (pulang dengan tangan kosong)
4. Nyior    =  kelapa
5. Gendeng =  bodoh
6. Setan Celleng = setan hitam (dikuasai amarah)
7. Basto =  kutukan
8. Lanceng =  bujang
9. Sabengko =  satu rumah
10. Saben =  sawan


Agus Salim
lahir di Sumenep, 18 Juli 1980. Karya-karyanya dimuat diberbagai media massa seperti Suara Merdeka, Republika, Radar Surabaya, Annida Online, Surabaya Post,  Banjarmasin Post, Bangka Pos, Haluan, Sumut Pos dan lain-lain.  Sedangkan puisi-puisi saya pernah dimuat di Radar Madura, Surabaya Post dan Suara Karya.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us