Oleh: Sarmianti

Orang Rumah

10 Mai 2015 - 07.44 WIB > Dibaca 3261 kali | Komentar
 
Orang Rumah
Dalam bebicara sehari-hari, kita sering medengar berbagai idiom. Suatu hari saya mendengar seorang laki-laki berbicara pada temannya, “Orang rumah sedang keluar kota, ada tugas dari kantor”. Meskipun tahu apa yang dimaksud oleh laki-laki itu, di dalam hati saya berbicara, “Itu tidak orang rumah tapi orang kantor!”.

 “Orang rumah” sudah menjadi idiom yang popular di masyarakat untuk menggantikan kata istri. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti pasangan kata ini tidak (belum) ada. Namun, bila kita rujuk makna perkatanya, gabungan kata ini dapat diartikan sebagai ‘manusia (orang) yang ada di rumah’ atau ’orang yang selalu di rumah’. Jadi, bisa berarti siapa saja yang berada di rumah. Lalu, mengapa idiom ini tidak lazim digunakan untuk menggantikan kata anak, suami, atau pembantu? Memang sebuah idiom tidak dapat lagi dimaknai dari unsur katanya. Yang menjadi masalah, mengapa laki-laki lebih suka memilih idiom ini untuk menyebut istri.

Adakah perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan? Pada bahasa tertentu memang terdapat perbedaan sedangkan pada bahasa yang lain tidak. Akan tetapi, hampir pada semua bahasa terdapat perbedaan gaya berbahasa laki-laki dan perempuan. Perbedaan gaya berbahasa ini menjadi topik yang menarik bagi para peneliti. Dari hasil peneilitian tersebut diketahui bahwa perbedaan itu dapat terjadi pada tataran fonem, morfem, dan diksi. Pada bahasa Jepang, misalnya, disebutkan bahwa perempuan dan laki-laki Jepang menggunakan dialek yang berbeda. Kaum perempuan menggunakan partikel ne untuk mengakhiri suatu kalimat sementara laki-laki tidak demikian. Begitu pula penggunaan bentuk watasi atau atasi pada perempuan dan laki-laki menggunakan bentuk wasi atau ore.

Pada bahasa Indonesia, bahkan juga kabanyakan bahasa lain di dunia, tidak dikenal perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan, baik pada tataran fonem, morfem, ataupun diksi. Namun, pada praktiknya memang terdapat perbedaan pemakaian bahasa atau gaya bertutur. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa muncul perbedaan berbahasa itu.

Robin Tolmach Lakoff dalam bukunya Language and Women’s Place (1975) menyebutkan bahwa bahasa laki-laki lebih tegas, matang, dan terang-terangan dengan kosakata yang tepat. Sedangkan, bahasa yang digunakan oleh perempuan tidak tegas, tidak secara terang-terangan, dan berhati-hati ketika mengungkapkan sesuatu, serta kerap menggunakan kata yang lebih halus dan sopan atau melalui isyarat. Bahkan pada saat mengumpat atau memaki, perempuan cenderung memilih kata-kata yang tidak kasar. Laki-laki pada saat mengumpat menggunakan kata damn atau shit, sementara perempuan memilih kata oh dear. Pada bahasa Jawa, kata makian asu ‘anjing’ oleh perempuan dihaluskan menjadi asem atau pada bahasa Sunda menjadi anjrit meski berikutnya laki-laki juga menggunakan bentukan ini.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perempuan sadar bahwa status mereka lebih rendah daripada laki-laki sehingga mereka menggunakan bentuk bahasa yang lebih standar. Jadi, perbedaan ini lebih disebabkan oleh sikap bahasa seorang penutur. Sikap bahasa, menurut  Kridalaksana (2001), merupakan posisi mental atau perasaan terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain. Sikap bahasa tidak dapat dilihat secara langsung tetapi dapat dilihat dari cara bertutur seseorang. Sikap bahasa seseorang akan selalu dipengaruhi oleh latar sosial budayanya.

Kembali pada pemilihan kata “orang rumah”, laki-laki memilih bentuk ini bukan karena bahasa laki-laki itu tegas dan terang-terangan melainkan karena faktor sosial budaya. Masyarakat kita masih memisahkan peran antara domestik dan publik serta antara produksi dan reproduksi bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pula di dalam adat, terutama dalam upacara adat, peran perempuan sangat sedikit.  Hal ini karena konsep wilayah kegiatan perempuan yang hanya di sekitar dapur, sumur, dan kasur masih tetap dipegang.  Pada budaya Jawa, misalnya, ada istilah kanca wingking ‘teman di belakang’ untuk perempuan. Seorang perempuan bagi laki-laki adalah teman di belakang, bukan teman di depan atau bahkan sejajar. Sepanjang hal ini masih dipegang maka istilah-istilah yang mirip orang rumah akan selalu ada.

Sementara saat ini, peran perempuan di dalam masyarakat sudah sangat berbeda dibandingkan dengan zaman dahulu. Perempuan sudah memasuki wilayah publik dan produktif, tidak lagi seputar dapur, sumur, dan kasur. Kesetaraan gender bukan lagi barang tabu. Perempuan sekarang adalah mitra sejajar laki-laki. Suami dan istri sama pentingnya dalam membina keluarga.

Sempena Hari Kartini, 21 April lalu, mari kita maknai perjuangan pahlawan perempuan ini. Mungkin dimulai dari hal kecil seperti mengubah panggilan “orang rumah” menjadi istri. Lebih manis dan terhormat, bukan? Selamat Hari Kartini!***


Sarmianti
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Tak Ganggu Target Pembangunan

Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo

Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi

Follow Us