Sajak-sajak Alpha Hambally

10 Mai 2015 - 07.55 WIB > Dibaca 1036 kali | Komentar
 
Taubat Malena Scordia

Custelcuto bagai direbus dalam kuali. Seakan tak ada tempat baginya untuk kembali. Dan yang hangus tinggal menunggu kapan semua itu bakal jadi waktu.

I
Bagai ulat bulu yang tak tahu ada gatal di atas tubuhnya. Malena Scordia. Subur dan cantik. Di halaman yang kotor. Di depan cermin yang tak lagi memantulkan senyumnya.

Dihimpit batu-batu setelah dilempar kepadanya. Lengannya ikut memikul segala yang lebih berat dari itu. Mata yang lebam, beribu rasa sakit perang dunia ada di dalamnya, ditampungnya tanpa kata-kata.

Tulang menopang tubuhnya seperti rangka cemara. Dibalut daging lentur apabila dilipat. Lembaran kulit yang dihadiahi bulu-bulu tipis. Beserta sepasang bandul payudara yang bergoyang. Semua itu ternyata harus dibayar dengan luka yang pedis.

Tak ada lagi malam. Tak ada seperti yang dia harapkan. Setelah dia menjadi tempat tidur yang tak pernah dirapikan. Menganga tumpukan cucian di bawahnya, menampung tubuhnya yang kusut dan berantakan.

II
Perempuan itu, Malena Scordia, adalah sebaris angin sore Sisilia. Hangat dan bisu yang tahu sesuatu, bahwa dosanya terhitung ketika dia cantik dan sendiri.

Semua yang ingin dia katakan hanya menyumbat mulutnya. Bahasanya hangat air mata. Seperti bunda Maria yang mencoba merahasiakan kelahiran Isa.

Dan, Musolini tumpas di suatu hari. Jerit penghakiman ikut menjerat. Rambutnya ditarik sepanjang kota, punggungnya dicabik, perutnya dihantam. Sepatu, sandal, kayu, batu, dan ketidakberdayaan hinggap di badannya semudah mesin gergaji membelah kayu jati.

Lalu, ah. Malena Scordia. Gumpalan nanah  besar yang lengket di bawah perbannya, tetap harum aromanya.

Tuhan, dia bertaubat dan berharap bisa terlelap tanpa ada lagi fitnah yang mengendap di dalam matanya.

Sampai pada detik ini aku ingin sekali bertanya
Apakah kau mencintainya dan bersedia direbus dalam kuali bersamanya?
Tapi kau terlihat ragu sebelum memacu sepeda itu, karena selama sepeda itu terpacu untuknya, maka akan terhapus luka dan tertebus dosanya. Nyonya Malena Scordia, maafkan dia apabila menghentikan sepedanya.

2015

*diadaptasi dari film layar lebar pada tahun 2000 yang berjudul A Triumph Malena



Munir

Sebelum terhampar menjadi bening danau
Perjuangan itu terbentuk dari kepundan yang mendidih
Dia berjalan di atas pijar seribu pedang
Milik mereka yang belum tenang
Hari ini pun bermula dari langkahnya.
Dari gunung yang membongkar rahasianya lewat getaran-getaran.
Lewat hujan. Lewat pengorbanan. Bahkan dingin liang kematian.
Dan hari yang belum akan terjadi nanti
Akan menerima sisa gema lagu-lagu lama
Ketika ada yang berhasil mengembalikan sebuah puisi
ke dalam jiwamu yang tercuri.

2015  



Potret Sesal (Hayati)

Aku membiarkan mata dadu menjatuhkan pilihannya
Dan menunggu giliran waktu menggulirkan tanda tanya
Ke dalam perasaan ini
Ketika luka mencapai bagian paling lempung
Yang pedihnya melampaui akar bisul dalam dagingku
Karena pada waktunya, angkasa pun menyatakan gugur,
apalagi kami
Aku berjudi dengan kekalahan seumpama dengan mudah
menerbangkan balon ke udara
Menyusuri ketinggian malam rambutnya yang hitam rembyak
Mewarnai kegembiraan, dan pelan-pelan
Tanpa sepengetahuan siapa pun  
Kulepas tangannya, agar tak meletus seperti jantungku
Atau tangisnya, sebelum itu
Lebih mudah ternyata mengambil bola matanya
Ketimbang mengembalikannya
Dalam keadaan tanpa air mata
Aku harus menelan ludah dan pahit kata
Yang aku muntahkan sepanjang malam menampungnya

**
Di mataku dia masih tinggal
Tumbuh, semakin besar tapi janggal
Mengganjal tidurku setiap malam
Namun perlahan itu mulai tanggal
Dedaunan yang meninggalkan pohon sendirian
Agar bisa ditebang, lalu bebas seperti perahu
Dan tak bisa lagi berubah  
Kecuali menjadi hari-hari yang hanyut dalam keadaan rapuh
Sebab, kami selalu menjatuhkan dadu
Dengan angka berbeda di tempat yang sama
Maka apa yang tersimpan dalam longgar dada
Selain rindu, hanyalah peluang
Dalam suara jantung yang dempang

Aku tak sempat menduga
Begitu dekatnya butir hujan pertama
Dengan kaca jendela
Pohon-pohon juga seakan berlari
Membawa salah satu dari kami
Udara dingin datang menebang siapa yang tinggal
Lalu menanam kesunyian baru
Menyisakan jalan setapak menuju hari pertama kami bertemu

Apakah harus kuingat sekali lagi
Sebelum melupakan
Pendaran ciuman dalam kepalaku?
Perihal yang menyala
Kejutan yang mampu membantun bulan dari tempatnya
Kemudian membantingnya
Membelah kami
Seperti sepasang magnet yang tak memberi kesempatan
Bersatu dalam medan yang sama
Meski sesungguhnya bukan hanya kebimbangan
Yang mengoyak kami pada selembar puisi yang salah
Melainkan sebuah pintu bagi seekor burung
Memanggil-manggil angkasa
(yang suatu hari juga akan gugur)
Ke dalam sangkarnya

Aku hanya menjadi semakin percaya
Jika laut bisa memberi makan ikan-ikan
Dengan gemuruhnya
Barangkali aku juga bisa
Mengajarinya menelan waktu
Yang bisa menyengatku
Kapan aku mengingatnya

Seberat itulah menghapus
Seluruh rekuiem yang ingin aku tulis lebih lama lagi
Bagian-bagiannya yang terbingkas
Berburai menuju tempat di mana
Semua kata bermula
Di dalam tubuhku
Yang paling tak aku mengerti

**
Senja menempel di jendela
Saat hari berjalan semakin jauh
Namanya aku tulis
Pada kalender yang ragu-ragu untuk berlalu
Hari bulan tahun masih berupa aba-aba
Tak tahu akan ke mana
Barangkali menuju beberapa bilangan
Di antara kawat pegas, mengikatku
Setelah mengulur luka
Dan menarik hal-hal yang sama beban perihnya
Kubiarkan kenangan merayap
Berlari serupa rasa takut
Pada tubuh cicak tanpa ekor
Atau pada ekornya yang (masih bergerak di atas lantai)
Entah mengapa mengucapkan selamat tinggal kepadaku
Dan satu-satunya yang bisa aku lakukan
Adalah menunggu hujan terakhir di musim dingin
Mendengar bunyi daun yang digesek angin
Kemudian tersenyum
Ketika kutemukan diriku yang baru
Berbuah tanpa sedikit pun tergigit
Atau terluka
Lantas apa yang mesti disesali
Demi melepas seekor burung
Yang luka sayapnya
Ternyata menyembuhkanku juga
Maka bentangkanlah itu
Sebab aku hanya ingin memotretnya
Di suatu pagi
Di antara rimbun daun yang ujungnya
Menetes sebutir embun
Bersama seseorang
Membangun sarang
Dari ranting, ilalang
Dan keputusanku yang dulu bimbang
Mengantarmu pulang

2015




Alpha Hambally
lahir di Medan, 26 Desember 1990. Menamatkan pendidikannya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Kini ia tinggal dan berkarya di Pekanbaru. Salah seorang penggerak Malam Puisi Pekanbaru. Puisinya termaktub dalam kumpulan puisi Bendera Putih Untuk Tuhan (Puisi Pilihan Riau Pos, 2014).
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us