Sajak-sajak Endang Supriadi

10 Mai 2015 - 07.56 WIB > Dibaca 1280 kali | Komentar
 
Uban yang Lupa Kau Cabut dari Alis Mataku

aku melihat ada jejak kakimu di keset basah dua meter
dari panas matahari yang tak terhadang atap rumah
jejakmu itu  masuk ke ruang tamu, mengejang sesampai
di kamarku. sejak kapan kau jadi pencuri? di kamarku,
kau tahu aku menyimpan segala kenangan. kertas surat
perceraian yang belum selesai aku tulis. juga pecahan gelas
yang tak jadi kaugoreskan ke lenganmu, sepotong lipstik
merah darah bekas menulis ancaman di kaca lemari pakaian itu,
semua raib. berganti dengan robekan bajuku yang tercecer

kau mau jadi apa perempuanku? seorang istri yang minta suami lagi?
laut yang sudah bergaram mau kau sulap jadi kebun tebu
cawan yang telah berisi air susumu mau kautuang jadi napsu baru
ohooi, ini mimpi burukku atau mimpi indahmu? hidup dalam
krangkeng duri, tak bisa kubedakan mana kata mana rasa,
mana luka mana suka? di setiap persimpangan berdiri rambu-rambu
kesesatan. tak ada yang menuntun ke jalan yang benar. semua
merangsek, menghimpit. tangan-tangan petaka seperti menabur
masalah di setiap jejak. orang-orang mengunyah tanpa melepehkannya

aku melihat jejakmu semakin jauh dari teras rumah. berjalan
ke arah labirin di ujung waktu. dan waktu mengapitmu di antara
badai dan topan. sepoi angin di ujung senja tak lagi membawa sosokmu
sebagai peracik malam yang manis. pengolah getar darah
di sendi-sendi pikiranku. sehingga semua malam pernah jadi siang
kita seperti pekerja berat yang bekerja mendirikan menara kemenangan    
meski  terengah-engah itu adalah kebahagiaan. ah, itu dulu
sewaktu kau belum jadi pelacur. atau mungkin ini karena uban
yang lupa kaucabut dari alis mataku!

Depok, 11/15




Gerimis Telah Menjadi Serbuk di Dalam Gelasmu

ada gerimis di gelasmu ketika uap langit mengasin di  laut
orang-orang rajin bertukar topeng di pengadilan. menyimpan belati
di setiap tatapan, menepis percikan api ke orang lain. ini negeri
sudah biasa hidup dengan bencana, katamu. mau bakar kayu besar
harus membakar kayu yang kecil terlebih dahulu

kita berhadap-hadapan di satu meja. di belakangmu terpampang
gambar cangkang padi di dalam kepompong. di belakangku
terpampang gambar semut bertaring gajah. semua dalam lingkaran
warna jingga. bagian yang  aman ada di ujung jarum ketika semua tangan
meninggalkannya. sedang kedamaian berada di danau ujung bumi

dalam bercinta, kita masih berharap ada meja  kosong
untuk kita isi dengan orang lain.lalu bersulang memulai langkah tualang
bukan tak saling percaya; kadang rumput halaman rumah lebih hijau
rumput di halaman rumah tetangga. oh, inilah sempurnanya tuhan
menciptakan manusia, setiap  melihat pohon bukan ranting yang
dilihat namun menghitung buah yang jatuh di  bawahnya

kau tawarkan aku segelas kopi di malam yang bercadar rembulan
padahal detak jam di dinding terus menerus
meneteskan kejenuhan
kita hidup seperti berperahu tanpa dayung.  
membiarkan ombak
membawanya kemana entah. tapi dimanapun kita
menepi, masih berada
di lingkaran setan yang sama, sama-sama bernapas di dalam tanda tanya

ada gerimis telah jadi serbuk di dalam gelasmu.
lalu catatan perjalanan
yang kita lipat menjelma kapal mainan, terdampar di dasar lembah. lembab
oleh kebekuan jiwa yang kita pelihara setiap hari. padahal  di sana-sini
gempa, panen bencana. sedang kita heboh oleh hukuman yang dibuat
oleh ulah kita sendiri!

Depok, 11/15



Perempuan yang Memilih Hidup Sendiri

aku melihatmu turun bersama kabut pagi
meramaikan dunia sebagai debu
di jalan-jalan penuh rambu

seseorang mencarimu sambil mencatat
nama-nama kenangan. mungkin ia kekasih
atau seseorang yang pernah dikalahkan oleh
egonya sendiri. kau tak peduli. atau memberi
sekadar tanda bahwa kau baru saja
memunguti butir kerinduannya di jalan itu

aku telah melihatmu turun bersama angin
mendengungkan pekik rambu-rambu
yang kerap merancukan langkah para urban

kini kesendirianmu sebagai lambang para pesakitan
berada dalam didih waktu yang panas. sedang hatimu,
seperti kayu kering yang terbakar. sehari-hari,
kau menanak kesunyian di belantara airmata.

Depok, 04/15




Endang Supriadi
lahir di Bogor, 1 Agustus 1960. Menulis puisi dan cerpen secara otodidak sejak tahun 1983. karya-karyanya dimuat di pelbagai media seperti Suara Karya, Republika, Merdeka, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Nova, Lampung Post, Anita Cemerlang, Singgalang, Kompas, Horison, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Jurnal Nasional, Suara Merdeka. Buku puisi tunggalnya Tontonan Dalam Jam (1996), Lumpur di Mulutmu (2010), Meditasi (2013).
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us