Oleh: Restoe Prawironegoro Ibrahim

Mayat Berajah Sepasang Kuda

17 Mai 2015 - 07.18 WIB > Dibaca 1405 kali | Komentar
 
Mayat itu telah berhasil diangkat dari dalam sungai. Kulitnya jadi pucat macam kertas, sehingga rajah-rajah yang banyak pada kulit tubuhnya itu menampak dengan jelas.

Kemudian mayat yang tiga perempat telanjang itu ditelentangkan di atas jembatan. Sebenarnya aku selalu mendapat pesan ngeri bila melihat mayat. Tapi karena ingin tahu, aku mendekat bersama sejumlah penonton yang lain.

Aku terkejut. Rajah di dada kiri dan kanan mayat itu bergambar sepasang kuda yang sedang berdiri dengan kedua kaki belakangnya, saling berhadapan. Tepat di tengah-tengah kepala kedua ekor kuda itu terdapat lubang yang menganga. Jelas lubang peluru. Tak sangsi lelaki itu mati ditembak.

Lama aku tertegun. Rajah sepasang kuda itu aku kenal. Wajah pucat mayat itu aku kenal. Walau sudah belasan tahun yang lalu, tapi dia tak pernah bisa kulupakan.
***

Buku-buku dirampas di luar, di pos penjagaan, sebelum memasuki pagar kawat berduri. Alasannya apa, tak dijelaskan. Karena itu aku ngotot. Tapi sia-sia saja. Aku telah kehilangan kebebasanku. Juga untuk membaca.

Lapangan tenis yang kulintasi sesudah itu, tentunya hanya untuk para sipir saja. Mustahil untuk narapidana atau tahanan. Sebelum didorong masuk ke dalam sel yang kotor, dua bungkus rokok dalam sakuku diserobot satu. Korek api juga di rampas.

Pintu kerangkeng ditutup sesudah aku di dalam. Sejenak aku termangu. Rasanya telah melangkah mundur begitu jauh, melewati batas-batas cromagnon, maenderihal,  dan bahkan lebih ke belakang dari batas homo erectus. Persis macam gorila dalam kerangkeng di kebun binatang.

Enam pasang mata menyambut kedatanganku dalam kandangku yang baru itu. Empat pasang di antaranya menunduk ketika aku balas memandang. Tapi yang dua pasang masih melotot macam mata suara harimau gembong yang siap hendak menerkam.

Kualihkan pandanganku ke tembok. Kurungan itu bertembok tebal dan tinggi. Banyak slogan di tulis dengan arang pada keempat sisi tembok yang kotor itu. Di antaranya; Hidup serasa mati, Mana tempat kencing?, Ya, Tuhan, lihatlah ummat-Mu ini!, Mohon dikasihani!, Oh, Ibu, mengapa nasib anakmu ini?, Bagaimanapun aku tetap masih seorang manusia!.

Aku tak mengerti arti slogan-slogan itu. Tapi aku bergidik ngeri. Betapa santainya keenam lelaki yang masih muda-muda itu duduk di atas lembaran-lembaran tikar yang digelar di atas lantai yang lembab. Mereka seperti sedang menunggu. Salah seorang yang bertelanjang dada dan badannya penuh rajah tetap menelanku dengan tatapannya, pelan-pelan.

Sini! katanya dengan suara bengis, Duduk di mukaku sini..!

Kumisnya melintang. Wajahnya kejam. Matanya membayangkan kekerasan hatinya. Sikapnya amat dingin. Ketika dia menghardik lagi dengan lototan matanya, buru-buru aku maju dan duduk. Beberapa jam yang lalu aku masih duduk di rumah dengan anakku duduk di atas pangkuanku.

Tapi kini aku duduk berpangku tangan di depan seorang algojo. Tak ada yang mau peduli. Setiap orang mengantongi nasibnya sendiri-sendiri.

Kau masuk kamar orang tanpa permisi lebih dulu, hahhhh? bentaknya.

Lha, ini kan bukan kemauanku sendiri. Aku diseret dari rumah dengan paksa dan didepak masuk ke sini tanpa hak untuk melawan.

Bungkusan pakaianku dirampas, isi sakuku digeledah. Dalam rimba yang pekat itu aku seorang diri dan tak berdaya. Tembok pun ikut memusuhiku. Setelah itu aku tercampak di pojok yang basah. Udara beku di situ. Waktu merayap macam cicak di dinding. Kecoa di sini berani berkeliaran di siang hari. Kutunggu waktu berlalu. Kupeluk kedua lututku. Seakan malu, kusembunyikan wajahku di atas lengan.

Udara penuh asap rokok. Satu pak rokokku sedang mereka bantai beramai-ramai. Ketika tinggal sebatang, mereka isap secara bergiliran. Mereka sesungguhnya orang-orang yang malang. Mereka lahir ke atas dunia ini bukan atas kehendak mereka sendiri. Mengapa mereka harus masuk ke sini?

Piring-piring disorong masuk lewat lubang kecil di sudut pintu. Barusan kulihat seorang penghuni sel kencing  di situ. Piring-piring itu kotor, seperti tak pernah dicuci. Segenggam nasi macam ampas tahu ditaruh di atasnya. Lalu mangkok-mangkok sayur dari aluminium juga disorong melintang lubang yang sama. Bagianku dibagi dua antara yang berkumis melintang dengan yang tadi terus-terusan menatapku. Seorang lain menggerayangi bawah tikar dan mengeluarkan bungkusan daun pisang kering. Isinya sejumput garam dan sebutir cabe yang sudah kering.

Berikan cabe itu kepadaku, Limang! bentak orang itu yang tadi terus-terusan menatapku.

Tapi, Mas, ini bagianku yang dulu, kata Limang memohon dikasihani.

Berikan!

Limang menyerahkan. Orang itu membagi cabe yang cuma sebutir itu menjadi dua dan menyerahkan yang separuhnya kepada yang berkumis melintang.

Semuanya! hardik yang berkumis melintang.

Jangan begitu Cak, biar sama-sama merasakan.

Kubilang, semuanya ya semuanya!

Dengan nyengir kecewa potongan cabe kering yang satunya dia serahkan. Dia mengomel, mengatakan setiap hari sayur kangkung. Tanpa bumbu. Hanya kangkung direbus dengan air. Bahkan garam pun dikorupsi di dapur. Mereka yang di dapur gendut-gendut.

Aku tidak melihat matahari. Tapi tampaknya matahari sudah tenggelam. Pintu rangkap yang terbuat dari kayu jati tebal ditutup. Di dalam jadi gelap. Tak lama kemudian lampu remang-remang dinyalakan. Keenam orang itu rebah di tikar masing-masing. Mereka saling bercerita.

Cak Noral sudah empat bulan ditahan, karena merampok di Manisrenggo. Limang sudah sebulan ditahan, mencuri tv di desanya. Sudah pernah empat kali masuk penjara. Ini yang kelima kalinya. Sedangkan Marta yang paling pendiam paling lama menghuni sel tahanan itu. Sudah hampir dua tahun, namun belum juga perkaranya diadili. Dia sedang bercumbu dengan kakak iparnya ketika kakak kandungnya datang membawa parang. Marta berhasil merampas parang itu dan kakak kandungnya mati terbunuh.

Alwi adalah pegawai kantor penerangan. Bersama Mahmud, dia dituduh mencuri sepeda motor di Pedan. Mereka berdua selalu berunding mengenai apa yang kelak harus mereka katakan di pengadilan. Orang terakhir yang masuk ke situ sebelum aku adalah Nasir. Orang ganteng dan masih muda. Dia dituduh memperkosa gadis tetangganya. Padahal menurut dia justru gadis tetangganya itu yang memaksanya untuk melakukan perbuatan terlarang itu.

Mereka semuanya menyatakan tak bersalah. Tak ada seorangpun di atas dunia ini yang mau disalahkan. Semua orang pasti mengaku baik. Mungkin semua orang memang baik. Tapi mereka telah melanggar hukum dan mereka dijebloskan ke dalam bui.

Aku tetap memeluk lutut di pojok. Malam merayap seperti kecoa-kecoa yang mencari sisa-sisa makanan. Tapi aku kehilangan waktu. Aku tak tahu jam be   rapa lampu tiba-tiba dimatikan. Kegelapan mengerikan meliputi diriku. Kesenyapan meraung-raung dari keempat sudut sel.

Dalam kegelapan pekat aku tak tahu di mana aku sedang berada. Mungkin aku sedang mengurung diri dalam kamar sendiri. Atau aku sedang berada dalam sebuah gua purba yang dalam? Merasa aman dikelilingi ruh-ruh nenek moyang?

Atau barangkali aku telah mati dan ditelikung di dalam sebuah peti mati. Kemudian tutup peti dipaku. Kegelapannya sama saja. Dan dengan iringan pelayat yang tak seberapa aku sedang digotong ke kuburan. Diawali dengan doa dan taburan bunga, aku dalam peti mati sedang dikerek turun ke dalam liang lahat. Sedikit demi sedikit diuruk dengan tanah. Maka sempurnalah kegelapanku.

Aku raba wajahku. Asing benar wajahku ini. Sudah hilang bentukkah? Pikiran-pikiran semakin mengerikan tak mau berhenti. Badanku bisa dipenjarakan, tapi pikiran-pikiran tak bisa dijebloskan ke dalam bui. Ia masih tetap bebas untuk bisa merayap lewat lubang kecil di pojok pintu dan mengembara menembus batas ruang dan waktu.

Aku dengar kerikil berjatuhan. Juga gemanya yang mengembara. Semua itu dalam kehitaman penutup keranda. Slogan itu menampakkan maknanya. Hidup serasa mati. Demikian pentingnya arti kebebasan. Tembok-tembok sel yang beratnya puluhan ton telah menindih kebebasanku hingga lumat. Aku merindukan bisa berada di sebuah puncak dan memandang cakrawala. Dari puncak itu seluruh kaki langit bisa dilihat. Angin dari sawah yang membawa wanginya bumi membuat perasaan lapang.

Belum tidur? tanya sebuah suara. Dan itu suara Cak Noral. Tidak sebengis tadi. Tapi juga tidak terlalu ramah.

Belum, jawabku. Pertanyaan itu mustahil bisa dijawab sudah.

Temanmu yang setia di sini adalah angin dingin, lapar, rindu, dan sepi.

Ya, jawabku. Apa yang kau katakan itu memang benar.

Sekarang sudah pagi, katanya.

Bagaimana kau tahu?

Kalau kau sudah lama di sini, kau pun akan tahu.

Pintu rangkap dibuka. Cahaya masuk. Teriakan-teriakan dari luar masuk. Dari blok para narapidana terdengar ejekan-ejekan. Ada yang berteriak minta gerontol jagung. Ada yang berteriak minta kopi. Ada yang berteriak minta nasi goreng sangan.
Apa itu nasi goreng sangan?

Bulgur, jawab Cak Noral, Konon di Amerika itu makanan kuda.

Dia menunjuk pada dadanya yang di rajah dengan gambar-gambar sepasang kuda yang sedang berdiri dengan kedua kaki belakang masing-masing, saling berhadapan. Dia tertawa dan aku mencoba ikut tertawa.

Seorang lelaki tua yang tubuhnya kurus kering kelihatan sedang memunguti puntung rokok di pelataran. Cak Noral memperhatikan arah pandangan mataku.

Dia dipanggil Si Puntung. Sudah sebelas tahun di penjara dan masih menunggu tiga tahun lagi. Dia tak dikurung karena tak mungkin minggat. Dia pabrik rokok di sini. Puntung-puntung itu dia gulung dengan kertas koran. Kalau ada yang mau boleh menukarnya dengan dis. Maksudnya dis adalah rangsum. Di sini tak berlaku mata uang. Semuanya dilakukan dengan barter.

 Selembar baju bisa berharga lima dis nasi atau delapan dis gerontol jagung. Tembakau paling laris untuk dijadikan barang tukaran. Sejumput tembakau bisa ditukar dengan lima butir cabe dengan orang dapur. Cabe di sini amat penting. Buat mendorong nasi yang macam ampas tahu masuk ke tenggorakan. Garam juga penting. Sayur kangkung yang disorong masuk setiap hari tak bergaram sama sekali.

Aku mendengar pelajaran pertama dalam bui itu dengan tekun, sementara Limang membersihkan ruangan. Ketika aku mau membantunya, Cak Noral melarang. Sudah menjadi tugas Limang, katanya. Di dalam sel kami memang Limang paling lemah posisinya. Tapi kulihat dia tidak tertekan diperlakukan begitu. Alwi yang pegawai kantor penerangan satu-satunya di antara mereka yang kelihatannya terpelajar. Dia galak kepada yang lain-lain, tapi tunduk pada Cak Noral.

Menjelang siang ada kiriman untukku. Dari istriku, tapi aku tak boleh ketemu. Aku sesalkan mengapa istriku tak mengirim tembakau saja. Tiga pak rokok yang sampai kepadaku cuma satu pak saja. Dua mandek di pos penjagaan, kata Cak Noral. Kepada penjaga yang mengantar kiriman istriku ke pintu sel, aku membujuk lagi untuk mengambilkan buku-bukuku yang dirampas di pos. tapi cuma dijawab dengan senyum.

Apa kau mau makan buku? tanya Cak Noral.

Aku butuh membaca untuk membunuh waktu, kataku.

Di sini yang akan membunuhmu, kata Cak Noral.

Aku terkejut. Semalam aku sudah disiksa oleh waktu. Herannya, selalu semalaman tak tidur, sepanjang siang aku tak ngantuk. Mereka tidur dengan seenaknya sehabis makan siang. Di sini tidur sangat penting, kata Cak Noral, bisa menunda penderitaan.

Pada hari-hari pertama aku risau dan kacau macam seekor kera di dalam kandangnya di kebun binatang. Mondar-mandir memutari kandangnya tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.

Pada hari Minggu anak-anak pegawai penjara yang tinggal di lingkungan penjara berdatangan menonton kami. Barangkali dalam khayal mereka seperti nonton beraneka macam monyet di kebun binatang. Cak Noral melotot kepada mereka dan mereka lari serabutan, sambil tertawa-tawa. Tapi kemudian datang merubung lagi.

Setelah sebulan aku baru bisa merasa seperti di rumah sendiri. Istriku juga sudah tahu bagaimana mengirim suaminya yang dalam bui. Sekali waktu ia mengirim mie satu karung kecil, sebotol kecap, dan satu kilo cabe. Bukan hanya di blok tahanan yang kebagian, bahkan meluap sampai ke blok narapidana dan blok wanita di bagian belakang. Para sipir penjara terpaksa menjadi perantara untuk mengantar-antarkan mie campur kecap itu.

Kata Cak Noral kehadiranku telah mengubah suasana. Para sipir penjara yang tadinya galak-galak, kini terpancing suasana akrab. Bagaimana pun mereka adalah manusia yang bila disentil hati nuraninya akan tergerak rasa harunya. Tapi bukan pujian itu yang kuinginkan. Ketika aku dipanggil Kepala Penjara dan buku-bukuku dikembalikan, aku mengucap terima kasih. Lalu aku diminta mengelola perpustakaan yang ada dalam penjara. Aku senang, karena ada kesibukan.***

Jakarta Binus Palmerah; 06 Mei 2015.


Restoe Prawironegoro Ibrahim,
cerpenis tinggal di Jakarta.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us