Oleh: Zulkaidah

Fenomena Bahasa Alay

17 Mai 2015 - 07.22 WIB > Dibaca 2397 kali | Komentar
 
Fenomena Bahasa Alay
Persoalan bahasa, tidak ubahnya dengan masalah politik dan ekonomi yang dihadapai bangsa Indonesia. Selalu saja ada hal menarik untuk diulas atau didiskusikan, salah satunya bahasa alay. Kata alay merupakan singkatan dari anak layangan atau anak lebay.  Istilah ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup norak atau kampungan. Selain itu, alay merujuk pada gaya yang dianggap berlebihan (lebay) dan selalu berusaha menarik perhatian teman bicara.

Seseorang yang dikategorikan alay umumnya memiliki perilaku unik dalam hal bahasa dan gaya hidup. Dalam gaya bahasa, terutama bahasa tulis, alay merujuk pada kesenangan remaja menggabungkan huruf besar-huruf kecil, menggabungkan huruf dengan angka dan simbol, atau menyingkat kata secara berlebihan. Dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan gaya yang berlebihan. Fenomena serupa juga terjadi di banyak Negara di dunia. Filipina menyebutnya dengan istilah Jejemon, Amerika Serikat: Redneck, Australia: Bogan, Amerika Selatan: Zef, Jerman: Proll, dan Italia menyebutnya dengan Truzzi.

Koentjaraningrat, alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi bangsa Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian mereka. Istilah alay hadir setelah di facebook semakin marak penggunaan bahasa tulis yang tak sesuai kaidah bahasa Indonesia oleh remaja. Hingga kini belum ada definisi yang pasti tentang istilah ini, namun bahasa ini kerap dipakai untuk menunjuk bahasa tulis. Dalam bahasa alay bukan bunyi yang dipentingkan tapi variasi tulisan. Bahasa alay merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Penggunaan bahasa sandi tersebut menjadi masalah jika digunakan dalam komunikasi massa atau dipakai dalam komunikasi secara tertulis.

Kini, di Indonesia, alay merupakan sekelompok minoritas yang mempunyai karakterisitik unik di mana penampilan dan bahasa yang mereka gunakan terkadang menyilaukan mata dan menyakitkan telinga bagi mayoritas yang tidak terbiasa bersosialisasi dengannya. Biasanya para Alayers (panggilan para alay) mempunyai kecendrungan dalam busana tersendiri yang dapat menyebar cepat layaknya wabah/virus di kalangan para Alayers yang lain, sehingga menciptakan satu keseragaman bentuk yang sedikit tidak lazim. Tidak hanya itu, dalam bahasa alay juga memiliki aturan huruf tersendiri, yaitu para alayers hanya diperbolehkan memakai 13 abjad huruf saja. Sisanya angka dan simbol. Contohnya, 4ku ciNT4  K4moe (Aku cinta kamu), IH kAmOE JaHAddd (ih kamu jahat).

Selain itu, ada kalanya pengguna bahasa alay ini menambahkan x atau z pada akhiran kata atau mengganti beberapa huruf seperti s dengan dua huruf tersebut dan menyelipkan huruf-huruf yang tidak perlu. Cara penulisan seperti ini merusak tatanan penulisan yang sudah diatur dalam EYD. Ciri lain yang bisa ditangkap dalam penulisan bahasa alay adalah mengganti huruf s dengan c sehingga seperti balita berbicara. Contoh: xory ya, becok aQ gx bica ikut. Selain itu, tidak jarang mereka menggunakan singkatan-singkatan kata: semangka (semangat kaka), stw (santai wae), otw (on the way). Bahkan, pengguna terkadang mengganti huruf dengan angka maupun tanda-tanda dalam bacaan. Contoh huruf i diganti !/1 (pap!). Begitu juga dalam menuliskan, Besok kita pergi. Kalimat ini diubah menjadi, b35ok k1ta p3rg!.

Munculnya bahasa alay merupakan ancaman yang cukup serius pada penggunaan bahasa lisan dan tulis. Khusus untuk bahasa lisan, penggunaannya tidak terlalu menjadi sorotan, karena merupakan bahasa percakapan sehari-hari. Meski demikian pada situasi formal penggunaan bahasa lisan yang kurang baik akan menimbulkan kesan kurang baik pada penggunanya. Seseorang terbiasa menggunakan ciyus akan cenderung sulit menggunakan kata serius. Banyak remaja yang lancar dalam penggunaan bahasa alay, tetapi kesulitan dalam berbahasa Indonesia. Contoh lain, kata binund (bingung) yang berarti ayah dan ibu, kemudian ada lagi penggunaan kata dimana menjadi dimandose.

Kini, kerisauan terhadap pesatnya penggunaan bahasa alay, ternyata tidak hanya menjadi kecemasan pemerhati bahasa, namun juga para guru yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ragam bahasa formal dan informal yang diajarkan di sekolah ternyata tidak berhenti pada varian saja, namun lebih dari itu. Bahasa Indonesia telah menjelma menjadi bahasa aneh yang tidak mudah diterima oleh banyak kalangan. Lantas apa yang harus dilakukan ketika bahasa alay mulai merajalela dan jelas-jelas merusak tatanan bahasa yang sesungguhnya? Tentu perlu adanya tindakan nyata untuk menanggulangi penjajahan bahasa seperti ini.

Jika dibiarkan, dikhawatirkan penggunaan bahasa alay mempunyai pengaruh negatif bagi kelangsungan bahasa Indonesia. Pertama, masyarakat Indonesia tidak mengenal lagi bahasa baku. Kedua, masyarakat Indonesia tidak memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Ketiga, masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Keempat, dikhawatirkan anak-anak yang sudah diperkanalkan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, akan memilih menggunakan bahasa alay. Dulu kita memanggil orang tua dengan sebutan ayah atau ibu, tapi sekarang anak-anak kita akan memanggil ayah atau ibu dengan sebutan bokap atau nyokap. Kelima, terjadinya penulisan bahasa Indonesia yang tidak benar. Misalnya, penggantian menulisan huruf menjadi angka.***


Zulkaidah
Guru di SMA Negeri 1 Perhentian Raja, KabupatenKampar
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us