Oleh: Bambang Kariyawan Ys

Malam Kai ...

24 Mai 2015 - 07.19 WIB > Dibaca 1450 kali | Komentar
 
Lempeng cahaya menyulam malam. Tudung malam menangkup bulan terapung. Aku tergagu dalam fajar yang selalu kutangkup. Aku hanya selalu rindu pada malam. Ya ... malam. Malam selalu membuatku berada di dengkuran masa lalu. Masa lalu yang membawaku menjunjung asal-usulku sebagai orang Sakai. Orang yang selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, alam asri tempat kami berlindung mulai punah. Kawasan yang tadinya hutan, berkembang menjadi daerah industri perminyakan, usaha kehutanan, perkebunan karet dan kelapa sawit. Dengan asalku itu, aku biasa dipanggil Kai. Penggalan suku kata terakhir dari nama sukuku. Kegilaanku pada malam membuatku dianggap sebagai orang yang seharusnya berada di keranda waktu. Aku tidak mengerti mengapa sebutan itu diberikan padaku. Yang jelas setiap fajar yang seharusnya kusambut dengan sepenuh telah membuatku lelah dan sesak. Tiang-tiang langit dikala fajar seperti menukar angin sejuk dengan hawa bara dalam sekam.

Aku selalu menanti ratusan senja untuk mengayuh di anjung malam. Menikmati sensasi malam yang mengendap dalam secawan embun. Sehamparan malam kunikmati bersama waktu yang kusut. Waktu yang meranggasi hijau dan lebatnya hutan larangan. Hutan yang dulu selalu dijaga secara adat untuk keseimbangan alam. Hutan bagiku sebuah detak nadi yang mengundang unsur magis dan penuh arti bagi kehidupanku. Hutan sialang, kapur, labuai, dan buah-buah hutan yang berada di daerah aliran sungai dan sama sekali yang awalnya tidak boleh diusik apalagi ditebang kini hanya meninggalkan hutan yang lembab dan debu-debu waktu bersama rimbunan sawit. Sawit ... tanaman asing yang sebelumnya tidak pernah kukenal dan kini menjadi simbol pembatas aku dan entah siapa.

Aku rindu damar, rotan, getah lebuai, ubi menggalo dan jamur yang biasa kupetik. Sulit lagi untukku bermain di tanah peladangan, rimba kepungan sialang, dan rimba simpanan. Dalam malam aku terbiasa menarikan tarian olang-olang bersama rembulan. Bergerak perlahan-lahan, berjongkok dan sesekali berputar mengikuti hentakan irama yang dihasilkan dari bunyi gendang bebano dan tetawak (gong). Sepiring hujan menari bersama angin. Aku gerakkan jemariku yang kaku berteman kepekatan malam. Itu dulu saat malam begitu ramah menyenyakkanku. Kini aku hanya bisa memandangi umah. Rumah yang telah rentah dan rapuh oleh kulit-kulit kayu pepohonan. Jangkrik menambah lengang yang beranak pinak. Hening tak bernyanyi meretas berhektar sunyi diantara damar, rotan, dan karet. Rimba telah tak terbaca pada angin yang mendiamkan malam. Sebongkah gelap memekatkan gulita yang membara.

Bagiku malam belumlah lengkap bila bulan belum menyabit awan. Bulan termangu mendiamkan bebatuan. Bulan menjadi lentera kenikmatan. Kutengadahkan tangan menerima curahan cahaya indahnya. Serimbun pesona tertampung pada malam. Aku bermandi sinar malam yang tidak mampu diberikan siang. Malam tak berpintu mendulang sauna berkabut. Jemari malam terselip di balik pelepah nibung. Pohon yang dianggap sebagai simbol semangat persatuan dan persaudaraan masyarakat. Ketika siang ... ahhh aku selalu ingin berlari darinya. Jalan-jalan setapak yang dulu kulewati berteman ilalang, kini terasa memekakkan telinga. Lalu lalang kendaraan pabrik membuatku pusing. Ambruk. Selalu ada kegalauan setiap sinar siang menyambutku. Kadang teriakan histeris keluar dari mulut sunyiku. Aku tak peduli mau dibilang manusia macam apa aku ini.

Aku pun tak peduli dengan sebutan manusia kelelawar yang telah lekat dengan diriku. Siang tidur, malam kelayapan tak tentu arah. Kebiasaanku menikmati malam diikuti oleh anak-anak lain yang menjadikanku pemimpin untuk bermain-main di malam hari. Selendang bulan menyentuh dalam jiwaku. Liang hutan menating hujan pada batu-batu resah. Secuil tanah layu mendekap rembulan. Kupungut cahaya diantara cericau serindit. Burung lincah yang tak pernah lelah menjelajahi pepohonan. Ayat-ayat hutan membelah langit. Tali-tali hujan menembus sumur kesunyian. Riak sungai semakin busuk karena percikan-percikan limbah.
Kebiasaanku seperti kelelawar, membuatku disangka telah dimasuki Antu jembalang malam sehingga harus melakukan pengobatan Longkap Pokao Tujuh. Pernak-pernik ditangan bomo yang mengobatiku menggeleng kepala kalau aku tidak ada masalah penyakit apapun. Seperti yang pernah kukatakan bahwa aku hanya menekuni sunyi dalam rimbun yang telah lelah.

Tebing malam menyulam cahaya. Kampung kecilku hanyalah beberapa petak yang kami jadikan tempat berteduh. Kicau pagi yang selalu berpayung awan melukis kaligrafi pelangi pada udapan hujan terasa sulit kini kudengar. Ranting malam syahdu menghempas bulan dan menikam kemarau. Gersang yang meranggas. Kedamaian yang dulu kami nikmati sebebas dan sejauh kaki melangkah kini hanyalah tinggal beberapa petak lahan yang kami tanami menggalo. Ubi beracun yang menjadi sangat nikmat bila kami yang mengolahnya. Kampungku bernama Pinggir. Aku tak mengerti mengapa disebut pinggir. Mungkin karena letaknya di pinggiran jalan raya. Atau mungkin saja karena kami dianggap orang terpinggir. Entahlah tak penting sebutan itu bagiku.

Subuh mendengung mewarnai hijau dengan seluruh ucap. Pinggirku kini tergerus. Matahari tumpah sempurna merujuk sunyiku. Hutan yang menjadi nadiku kini diberangus dengan mesin chansaw. Berganti dengan ladang sawit. Aku semakin terpinggir hanya menyaksikan pagar-pagar besi melindungi perkebunan sawit nan luas itu. Pabrik sawit yang meninggalkan sisa-sisa limbah dan aroma bau yang menusuk. Tempat yang biasa aku berlarian menarikan tarian olang-olang kini telah berganti menjadi ladang sawit yang tidak bisa kuinjak tanahnya lagi. Belukar kusut menyuguh layu. Menggalo yang banyak di dalamnya kini tercerabut tak bisa kunikmati. Sepotong malam memurungkan burung hantu. Kunang-kunang menangis dibawa malam ke pangkal kalimat. Namun sebilah daun meneguhkan keteguhanku.

Ketabahan bumi tak terkalahkan walau ladang telah menggersangkan ingatan.

Hutan lebam melelapkan bulan. Bulan betina memungut gemintang. Malam dengan bulan yang pucat membawaku ke tepian sungai. Si pungguk pun meneguk purnama yang sedang melafaskan gurat mimpi. Parau pungguk merayu bulan pada awan hitam yang rancu. Kunang-kunang menyambut pekat. Aku nikmati bersama lukah mencari ikan yang bisa untuk kumakan. Ikan tapa, ikan baung, ikan selaih, ikan kayangan telah menjauh yang tinggal hanyalah ikan-ikan tanah. Walaupun ikan kadang enggan singgah ke lukahku yang penting bagiku aku bisa bersama malam. Jangkrik yang bersahutan membenamkanku larut dalam ketermanguanku. Angin bersimpuh pada bujukan malam. Angin yang biru menggeletarkan sepi pada setelunjuk langit. Bintang-bintang padam ditemani awan seram. Bentang cahaya menadahkan purnama pada sungai kecilku. Percikan airnya selembut kabut yang memagut malam.

Senja pudar menggaduhkan angin. Hampa senja menagih malam. Senja yang tertinggal berlari diantara angin. Dianjung malam terjal sunyi menjemput gelisah. Malam dendam membawa perahu kelam. Lindap malam rebah pada hutan yang gagu. Belukar cemas pada mata bulan. Tubuh subuh yang teduh menarikan ranting-ranting angin. Namun entah mengapa ketika mata ini sedang mencoba melelapkan diri dari fajar setelah menikmati malam, keributan-keributan kudengar teriakan-teriakan.

Naik semua!!! Suara-suara berat tentara bersama senjata apinya membuat kami tak mampu berbuat apa-apa.

Malam penat diperam luka. Suara-suara perempuan menangis dan bentakan-bentakan lelaki mengumbar emosi. Aku hanya terseret bersama fajar digiring ke truk yang mengangkut kami dengan paksa. Gerungan truk membelah rimbunan dedaunan yang menangis dan melambai seperti tak ingin kehilanganku. Pagi yang runyam menyergap kegelapan. Selembar pagi telah melemparkan kabut. Rumput pun lupa cara bercumbu karena angin sudah terluka.

Alam rimbapun kian tak nurut pada selubung embun. Angin serakah telah menohak langit gersang. Aku dan masyarakatku dipaksa untuk turun di tepian jalan beraspal dengan hamparan gundukan tanah merah yang gersang dan sepi dari keramaian. Bahkan kegaduhan langit membaham cahaya matatari di tepian hutan karet. Sepotong siang tertanam di lubuk larangan. Siang sudah diam pada daun daun karet yang gemetar.

Turun kalian di sini. Tempat seperti inilah tempat yang pantas untuk kalian! Kai!!! Turun kau!!

Matahari pecah di jalanan sunyi. Kelopak sunyinya merobek bias cahaya. Aku tak mengerti atas pengusiran ini. Aku hanya mendapat sepenggal penjelasan kalau sepetak hutan yang kami miliki akan dijadikan pabrik pengolahan sawit secara moderen. Yang aku ingat pemimpin-pemimpin suku menolak keras rencana itu. Tapi kekuasaan dan uang telah bicara lain. Kami dipaksa turun. Aku hanya termangu menatap hamparan tanah merah yang tidak biasa kutatap. Aku menyambut malam dengan gamang. Jenjang malam menembus titik jenuhnya. Malam yang biasa menjadi teman dengan keindahannya kini menyiksaku. Tidak ada lagi kabut menadah halimun turun. Cuaca pasi menggegas purnama. Aku memilih angin pada debu-debu siang yang terpaut.

Aku tidak bisa lagi menemukan kenikmatan malam. Mihrab malam telah mengkalutkan kabut. Malam rapuh mengguyur kelam. Malam cemburu melabuhkan perahu kelam pada dadaku yang rusuh. Fajar yang kujelangpun semakin membakar sisi batinku. Entah dorongan apa yang membuatku harus berteriak. Sekuat yang kubisa. Aku kehilangan malam. Tertatih memujuk gelap pada resahnya peradaban kering. Siang timpus mempercepat kelam. Sayap terik pasrah berjubahkan angin. Tidak ada lagi malam kesumat mengoyak lembaran angin. Bisikan angin memeluk gelap. Aku terus berteriak dan berlari dan berlari sekuat yang kubisa. Aku melayang dalam menuju titik jurang terdalam. Tanah ngilu menjauhkanku dari segala dari gelap malam.***


Bambang Kariyawan Ys
Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas 2010, Penerima Anugerah Sagang 2011, Nominator Anugerah Pena 2013, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival 2014.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us