Oleh: Yusrizal MPd

Kecerdasan Berbahasa

24 Mai 2015 - 07.20 WIB > Dibaca 2967 kali | Komentar
 
Kecerdasan Berbahasa
Bahasa pada hakekatnya digunakan orang sebagai alat komunikasi. Sejalan dengan itu, bahasa mengandung sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional untuk melahirkan perasaan dan pikiran terhadap suatu topik atau objek. Oleh karena itu, perlu adanya pengetahuan yang cukup antara si pembicara dan teman (bukan lawan) bicara dalam mengkomunikasikan suatu masalah. Dengan demikian akan tampak tingkat kecerdasan berbahasa seseorang. 

Kecerdasan berbahasa yang dimaksud adalah suatu kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan yang meliputi kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme atau irama dan intonasi dari kata yang diucapkan. Dalam kecerdasan berbahasa, seseorang juga memiliki kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah keadaan pemikiran dan penyampaian informasi. Kecerdasan ini sangat berguna bagi semua orang terutama para penulis, aktor, pelawak, selebriti, penyiar radio dan para pembicara hebat, serta juga dapat membantu kesuksesan karier seseorang di bidang pemasaran dan politik. Menurut Dr. Howard Gardner (1983), seorang profesor dalam bidang pendidikan di Harvard University dalam bukunya “Multiple Intelligences , ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yaitu: kecerdasan linguistik/bahasa (word smart), kecerdasan matematik/logika (number smart), kecerdasan visual-spasial/senirupa (picture smart), kecerdasan kinestetik/gerak/jasmani (body smart), kecerdasanmusikal (music smart), kecerdasan intrapersonal/diri (self smart), kecerdasan interpersonal/sosial (social smart), dan kecerdasan alam. (nature smart).

Dari jenis-jenis kecerdasan tersebut, kecerdasan berbahasa menempati posisi pertama. Hal ini menandakan bahwa kecerdasan berbahasa merupakan kecerdasan yang mampu menggali berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di alam sebagai mekanisme interaksi sosial, sehingga akan mengungkapkan jenis-jenis kecerdasan lainnya. Seorang ahli matematika atau jenis kecerdasan lainnya tidak akan diketahui oleh masyarakat jika dia tidak mampu menjelaskan argumen-argumen tentang apa yang dia ketahui melalui pemakaian bahasa yang tepat.

Belajar pada sejarah masa lalu, Lois Pasteur (1822-1895), seorang ahli di bidang kimia dan biologi berkebangsaan Perancis, menemukan pengembangan teknik penyuntikan terhadap manusia untuk mencegah penyakit rabies. Awalnya tidak ada yang percaya bahwa Ia mampu membuktikan kalau seseorang dapat selamat dari gigitan anjing gila setelah diberikan vaksin melalui teknik penyuntikan. Ketidakpercayaan orang terhadap Lois Pasteur disebabkan karena penemuan ini tidak disampaikan/dijelaskan dengan bahasa yang bagus kepada orang lain.

Kasus yang sama juga terjadi dengan Aristoteles (330SM) yang mengatakan bahwa bumi itu berbentuk bulat dianggap sesat oleh bangsa Yunani. Teori atau peryataan tersebut diketahui kebenaranya setelah dapat dibuktikan oleh Nicolaus Copernichus (1473-1543), seorang astronom berkebangsaan Polandia. Hal ini mestinya tidak perlu terjadi jika para penemu tersebut memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Orang yang memiliki kecerdasan berbahasa dapat dilihat dari keberanian dan kemampuanya dalam berbicara; kreatif dalam menulis berbagai hal, baik fiksi maupun ilmiah; suka membaca segala jenis buku; menyukai sastra seperti pantun, puisi dan permainan kata; atau lebih banyak berbicara dan terkesan hanya pandai bercerita saja/membual.

Jika kecerdasan berbahasa tersebut dibawakan ke dunia pendidikan maka seorang guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap perbedaan individu (siswa) yang memiliki berbagai macam tipe cara belajar serta bakat yang berbeda, baik kemampuan dan kebutuhannya. Kepekaan seorang guru harus mampu mengarahkan serta mengembangkan gejala-gejala kecerdasan yang dimiliki siswa, bukan mematikan karakter siswa dengan memaksakan jenis kecerdasan tertentu. Jangan sampai mengatakan mereka tidak pintar (bodoh) secara terang-terangan sehingga menimbulkan opini yang salah pada mereka “hanya siswa yang memiliki kemampuan matematika saja yang boleh dikatakan pintar” (opini yang berkembang di tengah masyarakat selama ini). Pada hal masih banyak jenis kecerdasan lain yang juga penting untuk dimiliki oleh setiap pribadi.

Kini, tugas gurulah memfasilitasi dan menghantar perkembangkan unik setiap kecerdasan siswanya. Guru lebih memahami ilmu perkembangan peserta didik di bandingkan dengan orang tua mereka. Guru harus memberikan masukan dan berkolaborasi dengan orang tua guna menemukan jenis kecerdasan yang dimiliki siswa. Hal ini bermanfaat untuk memperdalam dan mempertajam kecerdasan mereka. Guru harus mampu menggunakan berbagai metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

Misalnya, untuk menjelaskan pokok bahasan pada suatu mata pelajaran dapat dilakukan melalui proses eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan menanamkan keyakinan kepada siswa bahwa untuk menjadi cerdas bukan harus pintar matematika saja. Akan tetapi dapat melalui pemberian contoh-contoh para tokoh terkemuka yang sukses di bidangnya. Jadi tidak hanya tugas guru bidang studi bahasa Indonesia saja untuk mendobrak paradigm bahwa hanya siswa yang menguasai matematika saja yang dianggap sebagai siswa pintar karena tidak semua siswa bisa menjadi “Enstein”, bukan berarti siswa itu tidak memiliki kecerdasan.

Dengan demikian, ajaklah siswa untuk berbicara, bercakap, berkata, berbincang, bertukar pendapat sesuai usia dan kemampuannya. Ucapkan kata dengan jelas menggunakan bahasa yang baik dan benar. Ajarkan siswa bermain drama, sandiwara, deklamasi sebagai salah satu cara memfasilitasinya agar cerdas berbahasa. Tanamkan kepada siswa bahwa kegiatan membaca merupakan salah satu kegiatan yang dapat memberikan pengetahuan. Arahkan para siswa untuk menceritakan apa yang dia pelajari melalui tulisan. Hal ini berguna menstimulasi kecerdasan bahasa-tulis, yang amat diperlukan kelak saat membuat karya ilmiah seperti kertas-kerja, skripsi, tesis bahkan disertasi.***


Yusrizal MPd
Guru SMKN 5 Pekanbaru
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us