Jatni Azna AR

Bunian

31 Mai 2015 - 09.53 WIB > Dibaca 1884 kali | Komentar
 
Lihatlah lelaki itu, tubuhnya tak segagah dulu. Lingkaran hitam di matanya, kulit rapuhnya, rambut sula-nya. Apa yang terjadi padanya? Setelah sekian lama kami tak bersua dan ia menghilang entah ke mana. Kini, setelah ia kembali. Tak ketemui ia adalah suamiku. Tapi, ia adalah suami wanita lain, suami wanita bunian.  

***
Dengung sayup-sayup suara chinsaw penebang kayu itu bergema memecah kebisuan hutan larangan. Tak ada pagelaran musik binatang magrib itu. Sedangkan teman si penebang asyik saja menyumpal sepucuk rokok tembakau di bibirnya. Sesekali ia melirik ke sekeliling. Pekatnya malam kini merangkak ke dalam hutan. Berbekal cahaya pelito di susulnya si penebang kayu.

“Sudahlah dulu kawan! Kita selesaikan lagi potongan-potongan kayu ini besok pagi, baik kita lekas pulang ke bagan,” ajaknya. Si penebang kayu bergeming hanya dijawab hening.

“Ayolah! Lekas kita pulang! Tak baik kita terlalu lama di hutan larangan ini!”

“Kenapa rupanya? Takutkah kau? Bukannya sejak awal sudah kuperingatkan, kalau kau ingin ikut kerja denganku, aku tak kenal itu. Tapi, kalau sampai di sini kau tiba-tiba mengajakku berhenti. maaf-maaf saja aku tak bisa!” jawabnya sepele.

“Terserah kaulah, aku tak mau tahu!” sahut si kawan. Dibuangnya puntung rokok sembarang digenggamnya erat pelito untuk menjadi penerang. Ditinggalnya si penebang dengan pekerjaan. Lantas, beringsutlah ia berjalan pulang. Tak disangka, ada masalah yang ia tinggalkan di belakang. Masalah yang merubah se isi dunia mereka.

***
Pekik pingkauku menyambut saat tersiar kabar bahwa hutan larangan seberang kampung terbakar. Sekarang bukan hanya hutannya. Tapi, seseorang yang ada di hutan itu adalah suamiku tercinta. Sementara Bakar, kawan suamiku menebang pulang dengan selamat. Tak ada yang terbawa pulang olehnya. Selain lusuh baju di badan yang di bawa. Lantas mana suamiku? Aku menangis mengiba-ngiba. Seluruh kerabat dan sanak saudara kini telah berkumpul di balai adat untuk membicarakan masalah ini. Sedangkan aku hanya bisa diam membisu. Serasa bumi menghujamku, menelanku dalam dan menguburku hidup-hidup.

“Mana suamiku?” Bisikku lirih. Sedangkan si Bakar melirikku iba dan Datuk menggeleng-geleng tak tega.

“Sabar Cung! Ini cobaan untuk engkau!” Digenggamnya bahuku erat.

“Maaf Datuk, bukankah kita sudah sepakat. Barang siapa yang menjamah hutan larangan seberang sana maka ia akan terima bala,” celetuk seorang warga. Aku menatap tajam.

“Apa maksudmu?” hardikku.

“Wajarlah suamimu dilalap api. Ia tak dengarkan petuah negeri. Bukankah kau tahu, barang sesiapa yang menebang hutan larangan seberang sana maka akan menuai celaka”.

“Tutup mulutmu! Kau buka telinga kau luas-luas! Kau dengar perkataanku keras-keras! Bisa saja kumaki kau dengan maki hamunku. Jika kusumpah kau mati diterkam harimau, mati matilah kau! Bahkan saat ini juga! Tapi, itu urung kulakukan. Karena aku percaya kita ber-Tuhan. Begitupun suamiku. Bukan karena ia menebang hutan larangan tetuah kita dulu ia mati tak berbau. Tapi, karena ajal menjemputnya lebih dulu,”

“Apa bedanya? Tahu di sana halimunnya bunian, pergi pula ia ke sarangnya. Jangankan dilalap api, dinikahi peri bunianpun jadi,” sahutnya tak mau kalah. Sebagian tertawa, sebagian iba, sebagian diam saja. Sedangkan aku, menatap tajam pada lelaki itu.

***
Lelaki itu terlunta-lunta sendiri. Sedari tadi setelah ia tersadar ia masih berputar-putar tak menentu.
Di mana aku? Pikirku. Bahkan tak kutemukan jalan pulang sedari tadi. Tak kulihat matahari terbit. Tak tampak olehku bulan sabit. Yang kutemukan hanya halimun pekat bergumul mengiringi langkahku. Di mana aku? Bahkan tempat ini sangat asing. Jangankan di kampungku, di alam mimpipun barang kali aku belum pernah ke mari.

Lantas, kulihat ada aliran sungai nan permai. Aku bergegas. Barangkali di seberang sana adalah kampungku. Hutan tempatku menebang sekarang dibelah oleh sungai dalam dan panjang hingga ke muara Teluk Kosik. Dan di seberang sana pulalah istriku berada. Walau hanya terbelah sungai saja. Tapi, tetap saja selama menebang kami tak bersua. Terakhir yang kuingat ia menangis tersedu melepas kepergianku dengan Bakar. Bakar? Di mana ia? Ia bahkan tak terlihat batang hidungnya. Apa mungkin perkataanku kala itu menyinggungnya? Tak kupahamkan segala tegur dengan daya. Tak kusangkakan segala kalimat jadi nyata. Mungkin saat ini aku sedang memakan karma.

Aku bergegas menuju sungai. Sangat haus dahagaku. Aku teguk seberapa air yang sanggup masuk dengan kedua telapak tanganku. Aku basuh mukaku. Lantas, benar saja saat aku kembali membuka mata. Jika ini karma, bahkan wanita yang muncul di hadapanku lebih cantik daripada istriku. Ia benar-benar seperti bidadari. Ia tersenyum menghampiri. Dirangkulnya pundakku dan kami beranjak pergi. Tak kuasa aku menolak. Tak kuasa aku kembali. Bahkan untuk menoleh ke belakangpun aku tak sempat. Sekedar mengucapkan, “Selamat tinggal istriku,”
Dan semua dibaluti halimun pekat yang ketat. Aku terbangun dari mimpi burukku. Bang Wan melambaikan tangan padaku. Namun, mukanya sendu seperti sedang terjadi sesuatu.

“Tak kupahamkan apa pesan tersirat dari mimpi ini Datuk,” kataku mengadu. Datuk termanggu.
“Kalau memang begitu rupanya,” katanya datar.

“Apa”
“Barang kali,”
“Apa?”
“Lelaki ini adalah ganti dari lelaki itu,”
Aku mengernyit tak mengerti.

***

Kuturutkan saja apa permintaan warga kampung. Termasuk lelaki itu yang sangat senang dengan kesusahanku dan suamiku. Tak kupahamkan ritual pemangilan dengan segala kemeyan dan mayang kelapa serta segala benda-benda yang diminta Datuk dan dicarikan lelaki itu. Ritual itu dilakukan tepat jelang tengah malam saat bulan naik jenjang. Saat tepat orang-orang shalat malam tempat mengadu paling aman. Saat aku tak paham apa hal sebab-musabab aku malah mengikut orang-orang ini yang aku sendiri tak mengerti. Lantas, dimanakah Bakar? Bahkan sampai saat ini aku tak melihatnya. Apa ia juga senang melihat suamiku hilang?

Ritualpun dimulai. Mulut Datuk mulai bergumam tak henti. Segala hantu dan jembalang dipanggilnya.

Hai hantu jembalang tanah…jembalang laut…jembalang hitam…jembalang putih…
Hai…saudaraku yang berempat. Jibril, Mikail, Izrafil, Izrail…
Minta tolong jagakan! Peliharakan! Jangan binasakan! Jangan Rusakkan!
Kami antara belukar dengan rimba…
Di situ simpedan engkau…
Di sinilah tempat tanah kita berjanji dan merangkak berkat tawar!
La…illahaillallah!!!!
Kembalikan anak cucu Adam!!! Kembalikan anak cucu Adam!!! Kembalikan anak cucu Adam!!!
Suara Datuk makin tinggi. Bulu kudukku meremang. Dan Angin tiba-tiba menjadi beliung. Segala benda-benda digulung. Kemeyan terkulum. Mayang kelapa melambung-lambung. Tak kupahamkan apa yang terjadi. Apapun nanti yang terpenting suamiku kembali. Namun, tiba-tiba halimun tebal membalut membuat semua kalut. Halimun itu meninggi dan menukik, menuju pada satu orang, laki-laki itu! Halimun itu terus melaju menuju laki-laki itu. Dalam pada itu, ia berlari macam tak jejak tanah. Kemeyan mengepul, asap bergumul, amsal mengulum laki-laki itu. Lantas, tak terlihat lagi raganya yang tersisa hanya halimun tebal nun hingga ke pulau seberang sana.

Tepat saat halimun itu menyusut lenyap, tepat saat semua ketar-ketir, ketakutan memaku pada penglihatan, tepat saat Datuk berhenti memantra, tepat saat itu pula kulihat bakar datang. Namun, di belakangnya ada seseorang. Kulihat ia dengan segala kekuatan. Segala daya sampai aku tak tahan. Dengan langkah tertatih. Kubelai lembut wajahnya yang sendu.

“Kemana saja kau suamiku?” Kataku lirih. Bakar melirikku iba. Dan semua hening bergeming.

“Begitulah aku menjemputnya pulang. Hampir setiap malam ia datang dalam mimpiku sambil melambaikan tangan. Namun, mukanya sendu seperti sedang terjadi sesuatu. Tak sampai hati rasanya. Lalu, Kulewati sisa pohon lapuk di atas sungai yang tidak terlalap api. Kutembus alam mereka dengan lalu dibawah pohon lapuk itu. Tak kusangka ia tersesat kian jauh bahkan sudah beranak pinak dengan bunian itu. Namun, ada satu yang tak kumengerti. Saat mereka melihatku, mereka bahkan tak mengusikku sedikitpun. Mereka menjamuku layaknya tamu. Lantas, keganjilanku terjawab saat peri bunian itu berucap, lelaki ini adalah ganti dari lelaki itu,”
Lantas, Datuk turut berucap seraya mengusap janggutnya.

“Konon, dulunya ia mempunyai sema dengan orang bunian. Jika ia mengadakan acara semacamola, maka orang bunian akan turut serta membantu memberikan bahan pangan dan segala yang diinginkan dengan perjanjian, yang dipinjam harus kembali dan mentah harus dikembalikan jadi. Semua berlangsung lancar sampai tiba masa, ia lupa memberikan hasil makanan dari bahan pangan orang bunian.

Semenjak itulah segala acara, usaha dia lamat-lamat menyusut dan ia jatuh bangkrut. Dalam pada itu, saat ia tahu suamimu terkurung di hutan larangan ia sengaja menukar insannya dengan suamimu untuk dijadikan suami peri bunian, agar ia bisa melanjutkan usahanya.”
Kutelisik baik-baik Bakar dan Datuk berkisah. Begitu rupanya aku mengerti sekarang.  Patutlah lelaki itu selalu terlihat senang saat suamiku hilang. Saat hutan larangan terbakar. Ternyata ia adalah dalang dari segala dalang.
“Lantas, apa yang terjadi dengan ia Datuk?” Selidikku.

“Entahlah, barang kali ia sudah menuai benih yang ia semai, menikahi wanita bunian!”
Aku bergidik ngeri.***

*Banyak kisah dari tetuah
Kiab Jaya, 2015
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 15:30 wib

Bupati Puji Kepala BPN

Selasa, 25 September 2018 - 15:30 wib

Museum Ganja Tampilkan Bong Tertinggi di Dunia

Selasa, 25 September 2018 - 15:00 wib

Narkoba Adalah Tiket ke Neraka

Selasa, 25 September 2018 - 14:50 wib

Diduga Pelaku Pencuri Sepeda Motor Kantor Gubri Ditangkap

Selasa, 25 September 2018 - 14:40 wib

34 Pegawai Terima Satya Lencana

Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia

Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Semarakkan HPI, Penyair Riau Hadir di Pasaman Sumatera Barat

Selasa, 25 September 2018 - 14:30 wib

Waspadai Penipuan Seleksi CPNS

Follow Us