Boy Riza Utama

Ambivalensi Kelasi Hindia

31 Mai 2015 - 09.55 WIB > Dibaca 683 kali | Komentar
 
Meski ratusan khayal telah dituliskan di sepanjang pantai, tapi percintaan
Belaka hanya petilasan kisah yang tak lagi memedulikan segala perjuangan
Ketika gelora memenuhi seluruh kepala tapi jantung tak kuasa bakal meronta
Hingga nasib pun serisau dengus angin yang tersisih dari kumparan badainya.

Kecuali pada pasang, hidup jelas hanya tinggal cemas buih memapas karang
Selagi hasrat menggegarkan ingatan pada segurat nama indah di pelabuhan
Bila peta perjalanan itu mulai meremas angan pada sejalin rambut ombak,
Kacaukan igau tentang kantuk yang tertahan menjelang akhir pertemuan.

Mungkin rindu akan menjerat di mana haru dirapatkan, meski merupa puing
Hari-hari yang terlewati terkekalkan satu peristiwa persetubuhan di dini hari
Tapi pada remang bayang senja di sudut palka lamunan tak mudah terasa biasa
Kini sedingin hujan kuyup-gigilkan sekujur hasrat yang rentan kepenatan.

Mimpi mutlak hanya tinggal seungkai kabar dibawa debar kepak seluruh camar
Isyarat terlanggar janji ‘tuk pulang ketika bangkai tak jelas di mana terdampar
Dan harap jadi segaduh kelapa tumbang mendesakkan keriuhan seluruh bandar
mengejawantahkan gurat kekasih malang yang terjepit isaknya di lengking peluit.

Demi dingin yang naik ke pucuk anjungan, demam pun tak musykil melanda
Pada keasingan raut dunia di ranah lain ketika asmara tak jua mampu teralihkan
Sebelum di garis pantai senja turun perlahan melengkung bagai perih senyuman
Yang kelak dibiarkan mengeruhkan pernapasan demi sampai pada satu kematian.

2015



Serenada
–buat Ika
1
Jalan kecil selalu saja diciptakan agar sepasang kekasih melewatinya dalam kegembiraan meski tersela angin yang terus menggerai rambut hujan. Aku pun akan memberimu jalan kecil lain: kukunci gigilmu dalam pelukan yang paling akrab ketimbang bentang hujan. Atau beri aku jalan lain: berteduhlah dalam hatiku. Kita biarkan, di luar maut menunggu. Dan usia menggerai waktu.

2
Di bibir sungai, setelah jalan kecil itu usai, sepasang kekasih akan sampai. Pada beningnya
mereka berkaca, tapi tetap saja hanya di mata kekasihnya dikenali raut sejarah. Aku pun akan memberimu sungai itu: mabuklah dari gejolak buih darahku. Atau berkacalah pada genangan itu: gerak nafasku akan meretakkan kenangan yang memburu hidupmu. Kita berkaca di mata waktu.

3
Sebuah rumah kecil berdiri tepat di tempat cahaya lesap. Di sana, selain gelap, malam tiba untuk melipur pengap. Jangan tanyakan purnama, sebab ia selalu ada dalam hati para pecinta. Kita tahu, malam tak benar-benar ada. Aku pun akan memberimu rumah itu: empat penjuru kebahagiaan dalam wajah tuhan. Sebab kutemukan rumah itu: beranda surga dalam hatimu.

2015



Opera Slavenquartiers

Gemar bersugi selepas mengulam jantung pribumi
Kembali ia akan datang menawar kami punya hati.
Selembut gisik kanal Rotterdam memerangkap geram
Ancaman pun datang lewat tas belanja seorang Madam.

Lebih gerindil dari lentik angin merapai tungkai bendi
Kotak sirih memang kerap melambungkan harga diri.
Serupa jalan ke pelabuhan dalam peta kebencian para kuli
Jakun Meneer naik-turun menampik seluruh kegusaran ini.

Tapi dengan sisa dentuman panjang moncong meriam
Selalu kau buat kami mencari di mana doa bermakam.
Maka seperti kecemasan yang ditebar pijar matahari
seluruh jalan ini kelak dipenuhi pecah tawa kompeni.

2015



Toponimi Konstantinopel

Kutemukan silsilahmu jatuh dalam sekian legenda
tentang seratus kasidah panjang dari Timur Cahaya
Seperti isyarat di mana batu pertama digulingkan
Sebagai jalan bagi koloni yang hijrah dari Megara.

Ditinggikan namamu dengan doa gusar seluruh Roma
Ketika di lain masa Septimus Severus tiba mendekat
Jauh setelah perpindahan dan peralihan kuil dewa
Sebagai perekat bagi dinding sejarah jelang punah.

Kini, beratus tahun setelah para punggawa Ottoman
Mengurap pedangnya dengan butiran pasir Bosporus
Masih juga dapat kudengar sambung-menyambung
sebaris kidung para trubadur yang tak berkubur.

Tapi dari tubuhmu yang terantai itu kelak kutemukan
Jika seratus kubah dan kapel telah meleburkan diri
Lagi saling terus mengirimkan lenguh kedamaian
Sebagai saksi bagi girah yang menolak persaudaraan.

2015



Berlin
–Kepada Brandon Venzord

Leluhurmu, pemanggul sekampil benih darahmu–telah mengguratkan wajahmu di antara tembok bagi dua seteru itu. “Semoga penanggalan mencatatkan apa yang kurasakan,” ucapnya sebelum melebur hitam dan sirah untuk menandai dan menerka di mana bermula lagi berakhir usiamu.

Ayahmu–petarung garis depan berbaju halkah–tengah melubangi perut ibumu yang menyaru sebagai tembok bagi dua seteru itu. “Kurasakan lalu kulupakan perihal usia darah ini sebelum baju hujan menjadi pakaian kematiannya nanti,” rutuknya berkali-kali sebelum menyusun belulangmu.

Ibumu–pemilik sah kelabu matamu–menyisihkan mautnya dari hidupmu dalam tangkupan kedua martir itu. “Kukenang pertarungan kalian dengan menyemai api dalam perut anak ini,” desahnya berulangkali setelah menautkan bagian-bagian tubuhmu di antara parade seluruh magasin peluru dari dua seteru itu.

Sedang aku–pemukim baru di antara tembok purba itu–kelak gandrung menziarahi tubuhmu dengan gelap mata sajakku.

2015



Spilman
–The Pianist

Selagi jariku masih lancar meniti sunyi yang melenting
Melesat bagai angin, tetap akan kuantarkan ia pada Chopin.
Sebab dari balik ghetto yang dingin, ia pun tahu jika kini
Dendam hanya wabah semenjana yang biasa merebaki cinta.

Pasti terlampau mengetahui pula ia jika pertemuan kami ini
Nanti akan menjadi pertukaran paling sepadan baginya
Hingga kusuguhkan ia tanpa bertanya apakah persembahan
Ini mampu melunaskan kerinduannya pada gemaung birama.

Telah sekian lama kami memeram segala suara dalam dada
Sebab merasa jika dunia telah kehilangan banyak telinga,
Maka besar sungguh harapanku ia tak menangis di hadapanmu
Bila rumpang satu nada dari alunan kesedihan segenap kaumku
Yang belum memuaskannya atas kidung-kidung kegetiran
Setelah cukup lama kami bertahan di bawah hujan peluru
Bila kelak ia bersua denganmu lalu bertanya tentang aku.

Tapi bila terkenang batu terakhir itu–pemisah kami–
Yang dulu ditinggikan, betapa kami paham jika kesedihan
Terlunaskan di sekerat roti pengganjal rapuhnya keyakinan
Dan dengan segenap keharuan kuingat kembali air mukanya
Meski kulupa jika kami tak pernah saling bertukar nama.

Masih pula kukekalkan pirang rambutnya, coklat muda
Baju kebesaran negerinya–yang bagi saudara di jazirahku
Dianggap baju zirah pemicu angkara–dalam nubuat kearifan
Yang kelak bakal melingkupi sisa kehidupanku seluruhnya.

Maka jika kelak kami tak bersua, besar sudah perjuanganku
Mengantarkannya pada Chopin–selagi dunia masih punya
Daun telinga atau baris-baris kerinduanku dikirimkan angin
Jauh ke lubuk hatinya–di antara maut yang terus mendesakkan
Kebahagiaan dalam tangsi karma sebagai pembatas cinta
Atas wabah kekuasaan di balik sebuah perang yang terencana.

2015


Boy Riza Utama, lahir di Bukittinggi, 4 Mei 1993. Sedang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi, Universitas Riau, Pekanbaru. Ia menulis puisi dan esai yang termuat di beberapa media dan antologi, antara lain Negeri Langit (2014) dan Bendera Putih Untuk Tuhan (2014). Ia tinggal di Pekanbaru dan kini bergiat di Komunitas Paragraf, dan koordinator Gerakan Komunitas Sastra Riau (GKSR).





Perkakas Rumah yang Dipenuhi
Senyummu
: Lasinta Ari Nendra Wibawa

- meja kayu
adalah sebidang tubuh berserat pekat. yang telah
terlapis pelitur berwarna cokelat. tempat meletakkan
dokumen ataupun surat. serta nasi lauk yang masih
hangat. telapak punggung yang siap menopang
serupa kegigihanmu yang pantang untuk tumbang

- piring melanin
seluas dua atau tiga porsi. berwarna hijau dan merah
hati. tempat segala ramuan tersaji. pertemuan antara
lauk dan nasi. tak lupa menuang kuah sayur
bersanding satu mangkuk tumis jamur

- sendok garpu
merekalah yang paling setia. mengaduk, mencampur
senyum bibir kita. diantara manis dan asin berada
atau sekedar membantu lidah bercinta. dengan
puding ataupun mie. bersama kopi atau seduhan
emas teh melati

- blender
inilah penghancur segala beban. dari bekunya es
dan serbuk rasa minuman. melelehkan segala kecaman
pada tetesan penat angkuh hujan dan udara minus
kelembaban. menentramkan panas yang melalap dahi
hingga tumbuh gula rindu di lubuk hati

- gelas plastik
kokohlah segala ratapanmu berada. pada dingin
dan panas semesta. tempat menuangkan sedih gulana
penghangat duri dingin di dada. kita bersulang sederhana
dengan sirup ataupun susu cokelat. favorit kita

- rak makanan
gudang amunisi segala kebahagiaan. penyelamat
saat terperangkap pagar hujan. juga hunian dari segala
keperluan. jimat ampuh agar tetap berduaan

- penanak nasi
yang ditunggu oleh mata yang terbangun pagi. atau
yang sering dibuka saat makan siang ataupun malam
hari. serupa cinta yang tak habis kau beri. dalam tiap
jabat tangan dan kecup kecil di dahi

- kipas angin
gugusan penawar terpusat disana. kala kita telah
tumbang diserang senja. tak perduli malam sampai
pagi buta. dialah yang paling terjaga diantara kita
mengusir roh nyamuk atau semacamnya. pencegah
bulir keringat jatuh dari  kepala

- cobek batu
barangkali dialah teman karib setiap hari. bersama
garam, bawang, tumbar dan kemiri. buah dari rasa
unik masakan jawa. yang tak bisa terpisah dari kita
yang kerap menumbuhkan senyummu sepulang kerja
penawar segala lelah yang kupunya.

Magetan, 2 April 2015
Koh Tao

pukul delapan pagi ini
bersiap landing di bandara Surat Thani
dengan musim panas sepanjang 300 hari
hendak bertandang ke pulau pujaan hati

setelahnya, masih kutunggu bis wagan
yang menghantarkan pagi ke pelabuhan
membawa kenyataan berwujud mimpi
menemui kapal ferry yang setia menanti

wahai  pulau yang dipenuhi pohon kelapa
namanya berasal dari endemik kura-kura
sarat dengan ikan hiu, paus, dan barakuda
yang tak sabar kucumbu satu diantaranya

mengundang hasrat bersantai sepanjang sore
sembari menitipkan keningmu di pulai Marine
di temani four wheel drive yang kukendarai
telah sukses mengusir enyah segala sepi

di kelilingi ratusan bukit terjal
melupakan ritme hidup penuh aral.

Magetan, 5 April 2015



Koh Phagan

akhirnya syal merah tak datang juga
pada meriahnya pesta bulan purnama
bersama 4 DJ yang disediakan Haad Rin
di pinggir pasir dan air biru yang asin

seperawan wajahmu yang cerah
demikian pulau ini belum terjamah
surga aktifitas yoga dan meditasi
sehening hamparan pohon kelapa
melapisi

adalah pulau milik negara Thai
berjarak 15 km, utara Koh Samui
sebelah timur teluk Surat Thani
tepat 100 km dari pantai berdiri

namun ini tiada arti
pesta bulan bulat hadir malam ini
walau ramai pasir putih mengelilingi
terasa sepi tanpa hadirmu disini

bukankah kau pernah bertanya tentang
aquamarine?
warna teluk cerah, saat kita meneguk
champagne.

Magetan, 3 April 2015




Aji Cocak Ijo Gaib

demikianlah aku tidur di gaibku
        bangun di gaibmu
        berdiri di gaibku
        berjalan di gaibmu
        dijalankan gaibku
aku menjalankanmu di gaibku
niat turunnnya cahaya
dari penguasa agung pemegang semesta
jerat si cocak ijo berkeliling mahkota jagat
untuk memiliki aura ratu sarat penjerat

melingkar pada tubuh jagat raya
agar disegani sarang gudang mantra

dalam setiap tepian ini bersinar
menyedot kasih, daya tarik yang terpancar
pantang berucap kasar ataupun sumbar
tuk menjaga daya pikat tetap berpendar.

Magetan, 3 April 2015
    

Kinanthi Anggraini, lahir di Magetan, 17 Januari 1990. Puisinya pernah dimuat di beberapa media massa, dan antologi Bendera Putih untuk Tuhan (Puisi Pilihan Riau Pos, 2014). Juara 1 lomba puisi Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya berjudul Mata Elang Biru (2014). Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini pernah  menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011 dan meraih Juara II pada Lomba Tutorial Hijab yang diadakan oleh Koran Bogor 2015. Aktif di Komunitas Bait Petir, Garut, Jawa Barat.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us