Oleh: Isbedy Stiawan adalah

Kapal Diam

7 Juni 2015 - 06.59 WIB > Dibaca 1439 kali | Komentar
 
SEBUAH kapal teronggok di dalan hutan keret. Kapal pengangkut rempah-rempah dan kopra dari Eropa itu sudah tak berbendera lagi. Ujudnya juga tak sempurna.

Kapal itu mungkin tersasar hingga menyeruak jauh dari aliran sungai yang membelah Way Kanan dan Way Kiri1 di mana berdiri Kerajaan Tulangbawang2 yang amat dekat dengan Kesultanan Banten.

Kapal itu bagaikan seonggok batu besar. Menyatu dengan tanah. Hutan karet bagaikan tirai menyelimutinya. Begitulah, kami menyebutnya kapal tenong3 dan tiada apa-apa lagi. Cerita tentang kapal itu menyebar dari mulut ke mulut. Setiap orang bisa menambahkan dan mengurangi, sesuai yang didengarnya

***

SEKALI loncat ia sudah berada di kapal pembawa rempah. Kapal yang ditumpanginya akan menuju suatu daerah yang banyak tanaman cengkih, lada, kopi, dan kelapa. Dari Soenda Kelapa membelah Laoet Djawa, kemudian menyusuri sungai nan sangat panjang dan meliuk-liuk bagaikan tubuh ular.

Lelaki itu berperawakan tinggi, kulit putih, sedikit berkumis, namun  cambangnya amat lebat hingga ke dagunya. Berdiri di paling depan kapal besar itu, di bawah tiang layar yang kelak dipakai juga jika mesin motor tak berguna. Atau saat angin berkenan mendorong kapal tersebut.

Tangannnya memberi aba-aba. Kru pelayaran siap pada tugasnya masing-masing. Sekitar 10 awak kapal.

Siaaap

Siap Yan, sahut John Everhart kepada Yan Eugenius.

Kau?

Ok, timpal Eustatius yang berada di pucuk tiang layar.

Sekarang, lepaskan tali-tali itu. Tarik jangkar. Bergerak

Siap. Siap. Siap, jawab Andre de Viera Godinho, Godewyn, J.J. van Alphen bersahutan.

Kapal pembawa rempah dari Eropa melaju. Mula-mula lamban dan setelah memasuki lautan baru tampak cekatan. Langit putih. Bentangan permadani membiru melebihi keindahan lukisan siapapun. Bukit-bukit menghiasi laut, pulau-pulau kecil sunyi.

Yan Eugenius asyik sendiri di palka kapal. Matanya tak berkedip. Ini pelayaran pertama dalam hidupnya mengarungi benua dan pulau. Ia tinggalkan negerinya, Holanda. Mungkin untuk beberapa tahun atau selama hidupnya menetap di negeri jajahannya ini. Karena, tak lagi dipikirkan secepatnya pulang.

Tugas negara adalah segalanya dan harus dijunjung melebihi daripada urusan pribadi. Bukankah setiap manusia dilahirkan, diniatkan untuk pertama adalah menghormati orang tua, taat pada agama, dan mengabdi pada negara? Kata-kata itu yang terpatri dalam jiwanya, dan hanya kematian yang menghapusnya.

Bagi pelaut, sekali berlayar, akan terus mengarungi lautan. Rumah bagi pelayar adalah laut. Itulah rumah paling hakiki. Biarpun badai yang penuh rahasia, namun bagi seorang pelaut tahu bagaimana menundukkan. Kecuali takdir dan rasi tiada di langit hitam.

Jika laut adalah perempuan, seorang pelayar akan bersamanya selalu. Dermaga cuma pesanggrahan, sekadar untuk singgah. Setelah pulang ke laut. Amati bagaimana ombak mengecup pantai, tetapi ia akan pulang ke laut juga. Bukankah, kecupan itu mesra? Tetapi, mengapa ombak meninggalkan pantai dan kembali ke haribaan laut? Pertanda apakah itu?

Lelaki berperawakan tinggi, kulit putih, dan sedikit berkumis itu belum juga piindah dari sana. Meski tubuhnya sudah banjir peluh dan matanya merah saga. Semalam ia tak tidur sebentar pun. Beberapa kaleng minuman yang dibawanya dari Holand diteguknya, seperti orang menyeruput kopi atau teh. Sampai siang ini matanya belum layu. Ia berpanas-panas di bawah matahari pagi. Hingga peluh menyungai di tubuhnya.

Sementara teman-temannya yang lain, Estatius, Everhart, Godinho, Gottfried, Amalo, dan Alphen, tengah bermain kartu di buritan. Hanya Houten tetap berada di depan kemudi. Ini waktu gilirannya, berganti dari Godwyn.

Ah, setiap menyebut Godewyn, dalam pikiran Eugenius, lelaki itu benar-benar teman yang baik, seperti makna namanya itu. Godwyn selalu mendahulukan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri. Sebagai teman yang baik, Godewyn4 berkali-kali menyelamatkan jiwa orang lain, meski dirinya suatu ketika nyaris tewas.

It terjadi tatkala kapal baru lepas dari Holand, tiba-tiba mesin berhenti. Godewyn turun dari ruangannya. Ia selain piawai mengemudi kapal, juga teknisi dalam pelayaran ini. Saat menuruni tangga, Everhat5 mendahuluinya. Berniat memperbaiki mesin kapal. Namun, lelaki pemberiani itu ceroboh, rambutnya yang panjang masuk ke dalam mesin yang tiba-tiba hidup lagi. Tubuhnya terseret nyaris tergulung di dalam mesin. Godewyn meloncat dan secepatnya menggunting rambut rekannya itu. Cuma karena panic, justru tangannya masuk dan tergiling oleh mesin. Telapak tangan kirinya remuk. Ia mesti diamputasi.

Dalam keadaan keberadaannya yang kurang setelah amputasi, Godewyn masih sering menolong atau menjalani pekerjaan orang lantaran kawannya berhalangan. Begitulah Godewyn.

Sedangkan Gottfried6 adalah kawan yang sangat menyebalkan, meski lelaki damai ini menyenangkan dan selalu dirindu. Tanpa Gottfried, tak akan ramai suasana. Dialah yang membuat percakapan menjadi hangat dan riang.

Ah, orang-orang yang menyenangkan. Batin Yan Eugenius sambil memainkan ekor matanya di laut lepas. Entah kenapa hingga sesiang ini dirinya malas bergabung dengan kawan-kawannya. Ia lebih senang sendiri. Mengenang masa anak-anak di suatu wilayah di Holand. Sejak kecil ia amat suka bermain kapal-kapalan. Setiap orang tuanya hendak pergi ke pasar atau toko, yang dipesannya ialah bawakan kapal-kapalan.

Sudah banyak koleksi kapalmu itu. Yang lain lagi suatu hari orang tuanya berujar.

Ia merajuk. Tak mau makan juga belajar. Sampai ibunya segera ke pasar dan membawakan kapal-kapalan dalam model yang lain. Betapa senangnya Eugenius menerimanya. Ia lalu menyerbu kolam di samping rumahnya. Bermain dengan mainan barunya, sambil berenang.

Kini melampaui Selat Soenda. Rakata7 terlihat amat angkuh di antara Sebesi dan Sebuku. Setelah itu kapal yang dibawa Eugenius dan kawan-kawan akan memasuki muara, kemudian menyusuri sungai yang berliku bagaikan tubuh ular. Mungkin sepekan lagi kapal akan meniti Way Tulangbawang dan bermalam di Menggala. Dua hari berikutnya, kapal melepas jangkar menuju daerah bagian utara.

Di Menggala,8 orang-orang Eropa akan mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lainnya seperti kopra. Setelah itu ke daerah lain, hingga keluar dari sungai di Pulau Sumatera bagian Selatan.

***

YAN Eugenius memberi aba-aba kepada Godewyn bahwa mereka akan memasuki pertemuan dua sungai di dekat Pagardewa. Arus di sekitar Way Kiri dan Way Kanan amat deras, dan memiliki pusaran air yang bisa menenggelamkan kapal.

Godewyn yang berada di kemudi tersenyum sambil mengacungkan jempolnya, pertanda ia memahami perintah rekannya itu. Ia memegang erat kemudi, sesekali matanya mengarah ke kompas.

Uph! Kapal bisa meliwati Way Kanan dan Way Kiri. Kapal dia arahkan ke Way Kanan. Dari sini, mungkin setengah hari lagi, memasuki Blambangan. Ya, itu jika lepas dari rintangan yang setiap saat selalu datang.

Baru perjalanan dua jam, Yan Eugenius tiba-tiba berteriak.

Belokkan ke kanan. Setelah itu arahkan kapal lurus, jangan sedikit pun bergerak, kata Eugenius seraya mengarahkan telunjuknya. Itu dermaga besar. Sepertinya kita harus bermalam di sana. Kau lihat?

Ya, jawab Godewyn.

Tapi, itu bukan pelabuhan, sela  Everhat. Kukira itu istana. Ya, aku yakin itu istana kerajaan

Tentu banyak noni-noni9 cantik. Aku sudah rindu balas Gottfried.

Ah, perempuan saja yang ada di benakmu! entak Godewyn dari anjungan. Tapi, bolehlah sambungnya kemudian.

Istana atau pelabuhan tak begitu penting, balas Eugenius santai. Tapi aku setuju pada Gottfried, aku juga rindu

Oke kapten, aku arahkan kapal ke sana. Turunkan layar! Biarkan mesin yang mengantar, perintah Goedwyn.

Segera layar dilipat. Mesin motor dalam putaran lamban mendorong kapal menuju pelabuhan atau istana itu. Terus masuk, mendekat, hingga melampaui arus sungai. Baru sadar, tatkala kapal mereka tak bisa lagi bergerak.10

Di tempat kapal karam itu, mereka tak melihat dermaga apalagi istana yang semula tampak bercahaya. Juga noni-noni***

Bandarlampung, 7 Mei 2015


Footnotes
  1. Konon di dekat pertemuan dua sungai, Way Kanan dan Way Kiri, pernah bediri Kerajaan Tulangbawang di bawah kepemimpinan Minak Rio Mangkubumi semasa  animisme dan Minak Kemala Bumi pada masa masuknya Islam. Yang disebut terakhir adalah raja pertama pada masa Islam, yang dikenal juga Minak Pati Pejurit.
  2. Kebenaran adanya Kerajaan Tulangbawang ini belum bisa dipastikan, apalagi tak ditemukannya situs maupun artefak. Sejarahwan/budayawan Hilman Hadikusuma pernah menyimpulkan dari hasil risetnya, Kerajaan Tulangbawang tak ada. Sementara pendapat lain menyebutkan, boleh jadi Minak Rio Mangkubumi ataupun anaknya Minak Kemalabumi (Minak Pati Pejurit) hanya pemimpin di suatu marga di Pagardewa (kini masuk Kabupaten Tulangbawang Barat).
  3. Diperkirakan dari bahasa Lampung, yang berarti diam.
  4. Godewyn dalam bahasa Belanda, berarti teman yang baik (telusuri nama-nama dan arti dari nama orang Belanda, google)
  5. Everhat dalam bahasa Belanda berarti berani.
  6. Gottfried, berarti damai (Belanda)
  7. Nama gunung di Selat Sunda, yaitu Gunung Krakatau meletus pada Agustus 1883, saat ini masih aktif adalah Gunung Anak Krakatau. Sementara Sebesi dan Sebuku adalah pulau-pulau  yang letaknya tak jauh dari Rakata.
  8. Menggala adalah kota/ibukota Kabupaten Tulangbawang. Sungai yang ada bisa menghubungkan kabupaten ini dengan daerah lain seperti Tulangbawang Barat, Abung di Lampung Utara, dan lain-lain.
  9. Noni adalah gadis/perempuan. Kata popular dalam masa penjajahan Belanda, kerap muncul/ditulis oleh sastrawan.
  10. Kejadian kapal kandas di perairan dangkal, pernah terjadi sekira tahun 2006/2007 di Lampung Barat (kini Kabupaten Pesisir Barat). Akhirnya mesin kapal diambil oleh pemiliknya, sementara badan kapal hingga beberapa tahun kemudian masih teronggok di pantai. Menurut cerita awak kapal, mereka seperti melihat sebuah dermaga yang gemerlap. Kiranya hanya ilusi.


Isbedy Stiawan adalah
sastrawan asal Lampung yang produktif menghasilkan berbagai karya sastra, baik esai, cerpen, maupun sajak. Karya-karyanya, selain telah dibukukan dalam kumpulan karya tunggal maupun antologi. Ia juga kerap diundang membaca sajak ke berbagai acara sastra di tanah air maupun manca negara. Saat ini, ia menetap di Kota Bandar Lampung. 
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Follow Us