Oleh: Devi Fauziyah Ma’rifat

Iluminasi

7 Juni 2015 - 07.09 WIB > Dibaca 2352 kali | Komentar
 
Iluminasi
Pada 17 Maret 2015, kami (tim Balai Bahasa Provinsi Riau) berkunjung ke Kabupaten Indragiri Hulu, tepatnya di Kecamatan Pasirpenyu, Kelurahan Airmolek Satu, guna pengambilan data bahasa dan sastra di daerah tersebut. Sebelum pengambilan data, kami berkunjung ke rumah salah seorang warga.  Di sana, kami temukan sebuah Alquran berukuran 1x1 meter. Alquran tersebut disampul rapi dengan kain satin berwarna kuning.

Menariknya, Alquran ditulis tulisan tangan dengan tiga jenis tulisan berbeda. Asumsi awal kami, Alquran ini ditulis oleh tiga orang yang berbeda atau memang menggunakan tiga jenis tulisan (khat) Arab yang berbeda. Menurut M. Misbachul Munir dalam bukunya “325 Contoh Kaligrafi Arab”, (1991), ada delapan bentuk/jenis tulisan Arab (khat) yaitu Khat Naskhi, Riq’ah, Raihani, Tsuluts, Farish, Diwani, Diwani Jalil, dan Koufi. Khusus, Alquran yang ditemukan ini, tim belum mengklasifikasikan bentuk/jenis tulisan yang ada dalam Alquran tersebut, apakah memakai Khat Naskhi, Riq’ah atau lainnya.

Dilihat dari segi fisiknya, Alquran ini dapat dikategorikan sebagai sebuah manuskrip (naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi, KBBI, 2008) dan berumur lebih dari limapuluh tahun. Ini dapat dilihat dari jenis kertas yang digunakannya, yaitu kertas dari kulit kayu. Selanjutnya, para penetiti akan lebih mendalami usia sebuah naskah dengan melihat watermark/cap kertas yang menempel pada kertas tersebut. Watermark berfungsi sebagai alat bantu artifisial dalam penelitian naskah. Biasanya watermark dapat mengungkapkan gambaran kapan kertas tersebut dibuat. Bahkan watermark sudah terbukti mengungkapkan nilai sejarah pembuatan kertas pada beberapa negara. Terkait dengan penemuan Alquran ini, penulis baru mampu menemukan iluminasi pada halaman pertama dan kedua.

Mu’jizah dalam disertasinya mengatakan bahwa iluminasi adalah istilah khusus dalam ilmu pernaskahan (kodikologi) untuk menyebut gambar dalam naskah. Istilah itu pada awalnya digunakan sehubungan dengan penyepuhan emas pada beberapa halaman naskah untuk memperoleh keindahan. Pada perkembangannya, iluminasi yang semula mengacu pada gambar yang membingkai teks sebagai gambar muka (frontispiece), tidak lagi sekadar hiasan tetapi menjadi meluas maknanya karena juga berkaitan dengan teks (Folsom, 1990:40).

Lebih jauh sedikit tentang iluminasi. Iluminasi banyak ditemukan dalam naskah di Nusantara, di antaranya dalam naskah Melayu tidak terkecuali juga Alquran. Chamber-Loir (1997:7) pernah mengatakan bahwa segi estetis naskah sangat menarik, mengingat banyaknya naskah yang memuat gambar yang indah yang jarang sekali disebut dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Gaya menggambar masing-masing daerah mempunyai ciri khas masing-masing dan dapat mengungkapkan simbol-simbol motif dan fungsinya. Tradisi hiasan naskah tersebut dapat mengungkapkan kekhasan masing-masing daerahnya.

Ambil contoh, iluminasi surat yang ditulis oleh Sultan Mahmud Riayat Syah dari Johor-Pahang akan berbeda dengan iluminasi surat yang ditulis oleh Pangeran Ratu Muhammad Aliuddin dari Banten. Begitu juga iluminasi surat yang ditulis oleh Sultan Abdul Qadir Muhyiddin dari Tenette, akan berbeda pula dengan iluminasi surat yang ditulis oleh Sultan Muhammad Hasanuddin Iskandar dari Gorontalo. Bahkan, masih banyak lagi surat-surat kerajaan yang ditulis, semisal oleh Sultan Banjar dari Banjarmasin, juga menonjolkan kekhasannya masing-masing.

Kajian tentang iluminasi terhadap Alquran ataupun naskah lain, memang tidak cukup dan berhenti sampai pada jenis kertas dan watermark semata, namun ada hal yang lebih mencolok yang bisa membantu kajian naskah, yaitu motif yang dipakai/menempel pada naskah tersebut. Biasanya motif-motif pada iluminasi dapat menjadi ciri khas suatu daerah pada masa tertentu. Dengan melihat/mengkaji motif, seseorang bisa menetukan waktu penulisan naskah-naskah prosa atau syair beriluminasi yang anonim. Perlu diingat bahwa iluminasi dan teks (tulisan dalam naskah) adalah satu kesatuan. Jika iluminasi yang mendukung teks diabaikan dapat menyebabkan pemahaman terhadap teks tidak utuh.
 
Pada umumnya, iluminasi tidak terdapat pada semua halaman sebuah naskah, tetapi hanya pada halaman-halaman tertentu saja. Hal ini dapat dilihat pada “The Legacy of The Malay Letter” (Warisan Warkah Melayu), Gallop, (1994).  “Syair Jawi naskah Melayu dari Ambon” juga hanya terdapat pada halaman depannya saja. Begitu juga dengan Alquran tersebut, iluminasi  tidak ditemukan pada setiap halamannya, akan tetapi hanya terdapat pada tiga tempat/posisi (dua di halaman pertama, dua di halaman pertengahan, dan dua di halaman terakhir).

Penempatan/memposisikan iluminasi pada tiga tempat yang berbeda dalam Alquran tersebut diasumsikan sebagai sebuah tanda (penanda) bagi orang yang melihat/mengamati/membaca Alquran. Bahkan, selain penanda dan maksud agar Alquran menjadi indah, bisa saja ada tujuan-tujuan tertentu lainnya tentang penempatan iluminasi. Ini terbukti dari keindahan iluminasi pada setiap tempat tersebut juga berbeda. Ada yang sudah mencapai sempurna seperti pada halaman pertama dan kedua, sedangkan pada halaman terakhir, ilumniasi terkesan belum sempurna (belum selesai).

Khusus iluminasi yang dibuat di bagian awal, terdapat pada surat al-Fatihah yang dianggap sebagai surat pertama dan sebagai ummul-kitab (ibu surat dalam Alquran). Iluminasi kedua terdapat pada pertengahan yang dianggap sebagai penanda bahwa surat tersebut adalah pertengahan Alquran. Sedangkan, iluminasi ketiga terdapat pada akhir Alquran  yang  dianggap sebagai penanda akhir dari Alquran.

Begitulah pengamatan awal terhadap Alquran yang ada/ditemukan di Air Molek Satu, Kabupten Indragiri Hulu. Masih diperlukan kajian mendalam dari sudut keilmuan filologi, terutama iluminasi terhadap naskah yang dianggap kuno. Itu baru untuk sebuah Alquran. Mungkin masih banyak naskah-naskah kuno lain yang perlu pengkajian sebagai bagian kekayaan sastra yang dimiliki masyarakat Riau. Tidak hanya mengandung nilai estetika, namun ada kandungan budaya/kearifan lokal yang bisa/pantas kita ambil untuk menunjukan identitas sebuah daerah. Semoga!***


Devi Fauziyah Ma’rifat
Fungsional Peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 17 Januari 2019 - 09:00 wib

Dokter Muda Come Unri- Puskesmas Minas Gelar Kegiatan Rabies

Rabu, 16 Januari 2019 - 18:35 wib

Toyota New Avanza dan Veloz Lebih Mewah, Stylish dan Senyap

Rabu, 16 Januari 2019 - 18:02 wib

Kompetisi eSport Berhadiah Golden Ticket Grand Final Indonesia Master 2019

Rabu, 16 Januari 2019 - 17:15 wib

Masyarakat Keluhkan Banyak Jalan Rusak

Rabu, 16 Januari 2019 - 17:00 wib

Piala Adipura Diarak di Kota Bangkinang

Rabu, 16 Januari 2019 - 16:30 wib

Dewan Minta Pemkab Perhatikan Guru Komite

Rabu, 16 Januari 2019 - 15:55 wib

Biaya EKG dan Rontgen Ditanggung Jamaah

Rabu, 16 Januari 2019 - 15:43 wib

Pengurus OPSI Riau dimintai keterangan di kantor Satpol PP Pekanbaru

Follow Us