Sajak-sajak Kunni Masrohanti

7 Juni 2015 - 07.13 WIB > Dibaca 2085 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Kunni Masrohanti
bimbang baling

dalam malam seperempat gelap terbaring di antara batubatu
mengawang antara arus subayang dan bintang mengingatkan betapa jauhnya pagi
; kita sedang bersembunyi

ada yang bimbang terbaring di tepian sungai antara batu dan lagu
serpihan syair tentang hidup cinta dan mati terus menyusup
ke tulang malam renta hingga menjelang pagi
mereka melantunkan sunyi
dan kita tetap sembunyi

ada yang bernyanyi diam menyimpan gamang dalam tenang
duduk antara batubatu dan malam yang semakin malu
hatinya rusuh mencari sesuatu yang ia tahu bersembunyi dalam nyata
bukan di balik ranting atau di dasar lubuk larangan
sampai kapan kataku
tak berkapankapan
tak berbatasbatas zaman
tetaplah bersembunyi sampai waktu tak mennghendaki
katamu dalam bisu

kita pun masih bersembunyi
di antara batubatu dan arus subayang
di tepian rimbang yang baling melantunkan sunyi

rimbang baling, kampar,  21 April 2015



pelipat langit


;barangkali matahari juga membujuk rajuknya

ia berjalan begitu jauh
jalan ke rumah sudah tak terlihat
apalagi tingkap berwarna gelap
kemana rajuk hendak diobat
ke laut atau mungkin ke langit
bisa jadi

;karena langit hilangkan rajuknya

setiap kali ia pergi
bersimpuh menunduk hamba
bahu ini tak cukup kuat memikul yang entah tanah, bunga atau batubatu darimu
gunung tak lagi menumpuk amuk kecamuk resah jiwa
laut tak lagi menampung sungai tak hendak jadi muaram
merimbalah nestapa
hasrat tersesat
biarkan hamba bersimpuh menunduk
melipat langit menjadi makam segala yang entah apa darimu
jika jarimu tak mungkin menjadi tiangtiang surga

;tersebab langit di bawahnyalah segala kisah

setiap kali ia pergi
ada mereka yang lain melipat langit
dengan bersimpuh, berdiri, bahkan berlari
menggamit ujungnya dari sungai ke sungai , dari bukit ke bukit, dari bakau ke bakau
menjadikannya makam lalu mengubur mimpi diamdiam

pekanbaru, februari 2015



simpang jalan menuju langit

bidadaribidadari itu
telah lama berdiri di sana
di depan laut
di simpang jalan menuju langit
menungguku pulang membawa bintang
haruskah aku pulang hanya dengan airmata
dan tangan hampa

mak, cepatlah pulang
bawa banyak bintang yang benderang
untuk suluh kami di kala malam

suara itu
mengangkat kepalaku dari tunduk lama
perih luka menjadi bunga
aku berlari
bahkan terbang setinggi yang kubisa
memetik bintang dengan apa saja
dengan cara mana jua
sebisabisa jiwa
 
aku pulang menjemput mereka
di depan laut di simpang jalan menuju langit
dengan bintang dan airmata yang tersembunyi
:duka yang menangis

pekanbaru, 13 Januari 2013


pelantar itu kami puannya

tuan
pelantar itu kami puannya

jangan sebut kami takut
kami bukan pengecut
menyebut sungai berwajah laut
tunjuk menunjuk sikut menyikut
yang muda turut menurut
jika semput patut mematut

kami berdiri di sini
berjejer lurus dengan kaki terbuka
wajah tengadah ke langit
kedua tangan terbentang
mata terbuka lebar
bukan senyum hambar kami tawarkan
kemarilah mendekat kami dekap
atau menjauh kami kan mengayuh

tuan
sehelai daun kami rimbakan
segumpal tanah kami bumikan
sebutir pasir kami lautkan
segenggam awan kami langitkan
rimba merimba bumi membumi
awan mengawan langit melangit
kami punya hati punya mau
kami adalah masa
pergilah

pelantar itu kami puannya
jangan telajak sikap di tengahnya
apalagi terbahak dengan mata menjeling
menuding jiwa menduadua
beri laluan
kami akan menari di seberangnya
di pelantaran rindu tempat menjaga setia pada tuannya

jika faham tak sejalan
jalan tak sehaluan
haluan tak bertujuan
tujuan tak segenggam
menyingkirlah
pelantar ini kami puannya

kepulauan meranti, 15 mei 2013


dendam bermusim

kita musim yang tak pernah gugur
tak pernah semi
tak pernah panas
tak pernah dingin
tak terlihat gelap
tapi nyata benarbenar dekat
dekat di antara kita
tak bisa disentuh
tak bisa ikut mersakan parau galaunya
atau kacau risaunya
kita tenggelam di dasarnya
bukan semusim bukan bermusimmusim

musim tak bermusim tak terlihat
dan kita di dalamnya mendendam kesumat

pekanbaru, 24 oktober 2013



Kunni Masrohanti
lahir di Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura. Selain menulis puisi, ia juga aktif berteater. Setelah sebelumnya aktif berproses di Sanggar Latah Tuah, kini ia menggerakkan komunitas Rumah Sunting. Puisi-puisinya termuat di sejumlah media dan antologi bersama. Buku puisinya yang pertama berjudul Sunting, terpilih sebagai buku terbaik Anugerah Sagang 2011. Kini ia bekerja sebagai jurnalis.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us