Oleh: Risda Nur Widia

Berhala

14 Juni 2015 - 08.12 WIB > Dibaca 1303 kali | Komentar
 
Berbondong-bondong orang  berdatangan, dan berharap sebuah kesembuhan pada seorang pria paruh baya yang dianggap memiliki kesaktian tertentu. Kemampuan pria itu menyembuhkan penyakit dengan media batu telah tersohor ke seluruh desa. Orang-orang rela berdesak-desak; tertimpa terik sinar matahari; berbagi lepek keringat dengan pengunjung lain demi sebuah keajaiban dari batu itu. Orang-orang yang berdatangan pun berasal dari beragam tempat, bahkan banyak yang dari luar kota. Mereka rela menginap berhari-hari untuk mendapatkan berkah dari batu keramat.

 Masyarakat mengenal tabib sakti itu sebagai Ki Bangau. Nama itu muncul karena batu yang digunaka Ki Bangau untuk menyebuhkan penyakit, berasal dari pemberian seekor burung Bangau Putih. Memang, ada sebuah cerita yang sedikit tak masuk akal, tapi terus berkembang di tengah masyarakat. Konon, Ki Bangau mendapatkan batu itu ketika sedang memancing di sungai. Seekor bangau besar datang mengusik duduknya. Bangau putih itu terbang berpusing-pusing di atas kepalanya. Namun, tanpa ia sangka, bangau itu menjatuhkan sebuah batu kecil berwarna hijau ke kepalanya.

Awalnya, Ki Bangau menganggap batu itu hanya benda biasa. Akan tetapi, ketika senja mulai menua di ufuk barat; batu itu terlihat membersitkan sebuah cahaya benderang berwarana hijau mencolok mata. Ia pun mengambil batu itu; menjadikanya sebagai mata cincin di jari manisnya. Namun, ada sebuah kejadian cukup tak menyenangkan terjadi. Setelah menemukan batu itu hampir setiap hari di dalam mimpi, ia selalu didatangi seorang pria tua yang menceritakan kisah-kisah tak masuk akal. Hingga karena merasa penasaran, ia akhirnya membuktikan sendiri salah satu cerita yang terdapat dari mimpinya; sekalau batu itu dapat mengobati penyakit.

Begitulah. Saat ada seorang warga sakit parah, ia mendatangi rumah itu. Ia dengan percaya diri mengatakan: Mampu mengobati penyakit kudisan yang hampir membunuh tetangganya tersebut. Benar. Hanya sekejab matasetelah diolesi dengan air rendaman batuluka di seluruh tubuh orang itu mengering. Sembuh. Orang-orang yang melihatnya pun tercengang. Ia sendiri juga ikut tak percaya. Akan tetapi, ia cepat menyebunyikan perasaannya yang tak tentu itu.

Setelah kejadian tersebut tidak begitu saja masyarakat memercayai kemampuan ajaib batu Ki Bangau. Namun, sekali lagi, ada peristiwa mistis yang terjadi. Batu itu kembali mampu menyebuhkan seseorang yang telah kehilangan akal warasnya hanya dengan meminumkan air rendamannya. Orang yang semulanya senewan menjadi sehat sedia kala. Sejak saat itu, berita tetantang batu keramat dan Ki Bangau mulai meyebar ke seluruh desa. Berduyun-duyun orang pun mulai datang meminta sebuah keajaiban darinya.  
***

Siang itu, puluhan orang telah berdesakkan di sekitar halaman rumah Ki Bangau. Orang-orang dengan berbagai profesi berkumpul menjadi satu. Ya, selain dapat menyembuhkan penyakit; batu keramat Ki Bangau juga dipercayai mampu memberi berkah dan keberuntungan kepada seseorang. Maka tidak aneh, selain masyarakat biasa, banyak calon penjabat yang berbaur di tengah keramaian dengan botol-botol kosong di tangan; demi mendapatkan air rendaman batu keramat. Para calon politis itu percaya: Setelah meminum air rendaman batu keramat, aura bijaksananya akan muncul dan keberuntungan tak pernah putus menghampiri.

Sudah banyak memang pejabat yang membuktikan keajaiban batu keramat Ki Bangau. Para pejabat itu mengaku: Mereka merasa sangat bugar sesudah meminum air rendaman batu Ki Bangau. Mereka juga merasa sangat percaya diri ketika berorasi; menebar janji kepada masyarakat. Dengan demikian, saat musim pemilihan umum kembali bergulir; banyak pejabat datang ke rumah Ki Bangau.

Hari ini pun, Ki Bangau sudah melayani lebih dari tiga puluh orang pejabat kota. Kebanyakkan mereka datang seorang diri menemui Ki Bangaukarena salah satu syarat keajaiban batu keramat hanya akan terjadi, apabila si bersangkutan melakukan kontak langsung dengan si empu pemilik batu. Seorang dengan pakaian serba rapi mendatangi Ki Bangau. Pria itu membukuk-bungkuk; menghadap Ki Bangau.

Saya minta keberuntungannya, Ki, pekik pria itu meminta berkah. Saya ingin memenangkan pemilihan wakil pemerintah di kota sekali lagi.

Tanpa banyak bicara Ki Bangau mengangguk; merendam tangannya beberapa detik ke sebuah genangan air di dalam sebuah mangkuk yang dibawa pria itu; menariknya; orang itu lekas meminumnya sampai hambis. Ki Bangau pun tersenyum.

Setelah ini, apa yang harus saya lakukan, Ki? Tanya pria itu lagi dan berharap menemukan sebuah petuah yang dapat melancarkan niatnya untuk naik sebagai wakil rakyat.

Tidak ada! Ki Bangau memberi isyarat dengan melambaikan tangnnya. Ia menyuruh agar pria itu lekas pergi; tidak menganggu antrian berikutnya.

Setelah mendapatkan apa yang diingankannya, orang itu berlalu. Tetapi, sesuai adatnya, orang-orang yang sudah menemui Ki Bangau akan menyerahkan selembar amplop berisi uang. Walau pada mulanya Ki Bangau tidak menaruh tarif kepada orang-orang yang meminta saran dan berkah kepadanya. Tetapi, seiring banyaknya orang yang datang, ia berinistif menaruh tarif berdasarkan keinginan si peminta berkah. Tidak aneh. Rumah Ki Bangau yang semula hanya berdinding tembikar, berubah menjadi bangunan beton. Sepasang mobil terparkir tenang di garasi rumah, karena tak jarang Ki Bangau harus melayani panggilan ke luar kota. Tentu dengan tarif yang lebih mahal.
***

Orang-orang yang berdatangan itu seakan tak pernah menyangkal keajaiban yang dimiliki oleh Ki Bangau dan batu keramatnya. Mereka seperti kerbau yang telah dicucuk hidungnya; menuruti setiap kehendak dan fatwa Ki Bangau. Selain sebagai tabit, beberapa pengikut setia Ki Bangau yang fanatik percaya: Kalau ia adalah seorang Nabi yang diperintahkan Tuhan menjadi pemimpin umat manusia. Ia merupakan  perantara penyampai wahyu, dan berkah kepada umat manusia.

Para pengikut setianya pun sering membuat sebuah pertemuan yang diadakan setiap Jumat keliwon di rumahnya. Di sana, mereka akan bertafakur serta membaca ayat-ayat yang tak jelas rujukannya. Orang-orang itu merasa: Kalau batu keramat yang melingkar tenang sebagai mata cincing di tangan Ki Bangau dapat memberikan keselamatan. Bahkan, karena begitu meyakini segala keajaiban itu, Ki Bangau pun diangkat sebagai Tuhan.

Tuhan telah begitu dekat dengan kita, maka doa-doa akan cepat terkabulkan!

Kita tak perlu takut kehilang Tuhan lagi dan merasa sia-sia berdoa!

Tuhan sudah kembali!

Ki Bangau adalah Tuhan!

Orang-orang yang telah dibutakan oleh hasrat, acap melakukan ritual-ritual yang tak masuk akal. Pada waktu tertentu, sesuai dengan anjuran Ki Bangau, mereka akan bertukar pasangan dan melakukan hubungan seks bersama-sama di suatu tempat. Terkadang mereka juga menumbalkan anak kandung sendiri yang masih perawan untuk ditiduri Ki Bangau. Mereka percaya: Setelah anak perawannya dijamah bahkan menghasilkan sebuah anak, kelak anak itu akan menjadi nabi yang mewarisi kekuatan batu keramat tersebut.

Ya, Ki Bangau seolah tidak kehabisan pesona. Setiap hari, pasti ada saja orang-orang  yang datang menemuinya; memohon-mohon meminta restu untuk bergabung sebagai salah satu umatnya.

Baiklah! Kau bisa bergabung menjadi umatku, Ki Bangau menyeringai pada seorang yang mengembik-ngembik ingin menjadi umatnya. Tetapi, ada syaratnya!

Apa pun syaratnya akan saya lakukan!

Kau punya seorang anak perawan?

Saya punya!

Suruh dia datang ke kamarku.

Pria itu dengan mantab menyeret anak perempuannya ke dalam kamar Ki Bangau. Ia menyerahkan anaknya yang masih perawan dengan sedikit menyeringai, dan berharap sebuah keberuntungan akan menghampirinya.
***

Malam itu, setelah menggauli seorang gadis perawan, Ki Bangau duduk menyeringai di depan cermin. Ia memandang dirinya yang telah begitu tua dan masih menjadi panutan setiap orang. Bahkan, dadanya semakin membusung mengingat; beberapa bulan yang lalu ia dinobatkan sebagai Tuhan.

Sesekali, ia mengutuki para pengikutnya yang bodoh. Pengikut yang rela memberikan apa saja termasuk kehormatan sendiri padanya: orang-orang yang telah meninggalkan Tuhan yang sesungguhnya.

Di dalam kamar, ia tertawa sangat kencang karena menyadari: kalau ia kini memiliki segalanya yang tidak akan pernah tergoyahkan.

Bodoh! Bodoh! Orang-orang bodoh!

Gontai. Ia melangkah ke sebuah lemari di sudut kamar. Ia memerhatikan setiap kepal uang berwarna merah yang menumpuk begitu banyak. Ia tertawa; mengusap sebuah batu berwarna hijau yang melingkar sebagai mata cincin di jari manisnya; mencopot batu yang dikeramatkan itu pelan-pelan; menghempaskannya dengan kasar di atas ranjang. Ia sekan tidak peduli akan  kutuk atau tulah dari perbuatannya. Ia lebih khusuk menghitung uang-uangnya yang berjumlah jutaan, sembari mengutuk para pengikutnya yang berhasil ia tipu selama bertahun-tahun dari sebuah batu. Yang sebenarnya tidak lagi memiliki kekuatan karena seorang pria misterius dahulu mengambil batu asli dari dalam mimpinya.***



Risda Nur Widia
Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah juara dua Festival Sastra 2013 (UGM), Nominator Sastra Profetik 2013 (UHAMK).  Buku kumpulan cerpen tunggalnya yang akan terbit, Bunga-Bunga Kesuyian (2015). Cerpenya telah tersiar di berbagai media.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us