Oleh: Agus Sri Danardana

Puasa dan Efisiensi

14 Juni 2015 - 08.14 WIB > Dibaca 839 kali | Komentar
 
Puasa dan Efisiensi
Kata efisien berpadanan (bersinonim) dengan efektif, praktis, realistis, sangkil, utilitarian, dan tepat guna (Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, 2007:167). Dalam praktik penggunaannya, kata-kata yang sepadan itu ternyata tidak serta-merta dapat saling menggantikan. Setiap kata memiliki “nuansa” makna tersendiri—yang  berbeda satu sama lainnya—sehingga tidak serta-merta dapat dipertukarkan begitu saja, tanpa penjelasan tertentu. Bahkan, efisien pun dibedakan dengan efektif (‘dayaguna’ dan ‘tepatguna’; ‘sangkil’ dan ‘mangkus’).

Perbedaan nuansa makna kata-kata yang bersinonim akan semakin terasa mencolok jika mengalami proses morfologis dan/atau sintaksis. Efisien, misalnya, setelah mengalami proses morfologis (berubah kelas katanya, dari ajektiva menjadi nomina): efisiensi, memiliki makna yang lebih spesifik, yakni (1) ‘ketetapan cara (usaha, kerja) dalam menjalankan sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya)’; kedayagunaan; ketepatgunaan; kesangkilan’ dan (2) ‘kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya)’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:352).

Oleh banyak orang, efisiensi sering dimaknai ‘penghematan’ (bahkan ‘penghapusan’) dan umumnya hanya berkaitan dengan masalah kuantitas, seperti waktu, tenaga, dan biaya. Artinya, efisiensi tidak lagi dikaitkan dengan masalah kualitas, seperti kedayagunaan, ketepatgunaan, dan kesangkilan. Hal itu dapat dilihat, misalnya, pada kebijakan pemerintah akhir-akhir ini: efisiensi anggaran perjalanan dinas di semua lembaga/instansi, yang kemudian melahirkan “larangan” pelaksanaan kegiatan di hotel itu.

Mungkin karena tujuannya semata-mata hanya untuk penghematan (penghapusan) anggaran perjalanan dinas, bukan untuk efisiensi, kebijakan pemerintah itu justru menimbulkan dampak buruk. Kebijakan (pelarangan pelaksanaan kegiatan di hotel) itu, di satu sisi, belum tentu dapat benar-benar menghemat biaya (karena harus membiayai pos lain yang semula tidak/belum teranggarkan, seperti biaya sewa dan transportasi). Di sisi lain, kebijakan itu juga tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah di bidang lain, seperti ketenagakerjaan, perhotelan, dan retail. Sejak kebijakan itu diberlakukan, banyak orang kehilangan pekerjaan. Pengangguran bertambah. Hotel bangkrut. Petani-petani pun kesulitan menyalurkan hasil panennya. Syukurlah kebijakan itu telah ditinjau ulang. Kini, berkegiatan di hotel sudah diperbolehkan lagi.

Tidak lama lagi umat Islam akan menyambut datangnya bulan suci, Ramadan. Aktivitas utama pada bulan penuh rahmat itu adalah (ber)puasa atau saum, yakni salah satu rukun Islam: berupa ibadah menahan diri (berpantang) makan, minum, dan segala yang membatalkannya sejak fajar terbit hingga matahari terbenam. Puasa di bulan Ramadan, dengan demikian, mewajibkan umat Islam bergaya hidup hemat alias efisien.

Sekalipun telah diwajibkan hidup hemat, dalam kenyataannya, masih banyak umat Islam berfoya-foya di bulan Ramadan. Mereka terjebak dalam gaya hidup hedonis: mengonsumsi segala hal, membeli barang-barang yang sesungguhnya tidak diperlukan, serta memanjakan badan secara berlebihan. Sebagai akibatnya, mekanisme pasar pun terganggu. Harga barang melambung. Si miskin semakin tercekik. Sang kaya beroleh angin, seolah menjadi pemegang otoritas sedekah.

Pertanyaannya adalah mengapa hal itu terus terjadi? Bukankah efisiensi sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Islam mengajarkan hidup yang hemat, sederhana, tidak berfoya-foya, dan mubazir.

Mungkinkah hal itu terjadi karena bangsa ini memang belum terbiasa hidup hemat? Umumnya, orang baru berhemat jika dalam keadaan terpaksa atau dalam “keterbatasan”. Padahal, pembiasaan berhemat itu dapat dimulai dari (ber)bahasa. Mengapa? Karena dalam berbahasa sesungguhnya orang (siapa pun) tidak mengalami “keterpaksaan atau keterbatasan” apa pun. Dalam berbahasa, orang tidak membutuhkan “modal” apa pun, kecuali kemauan.

Dalam berbahasa, efisiensi dapat dilakukan dengan dua cara: (1) menggunakan bentuk singkat (baik singkatan, akronim, maupun inisial) dan (2) mengindari bentuk lewah. Sayang, upaya efisiensi berbahasa itu pun belum dilakukan secara konsisten dan konsekuen oleh kebanyakan orang.

Singkatan, akronim, dan inisial sering tidak digunakan sesuai dengan tujuan semula, yakni efisiensi. Tidak jarang bentuk singkat itu digunakan secara berulang (terus-menerus) disertai bentuk panjangnya. Celakanya, tidak jarang pula singkatan, akronim, dan inisial digunakan tidak disertai bentuk panjangnya (hal ini terjadi, mungkin, karena penulis menganggap pembaca sudah tahu). Sebagai akibatnya, penggunaan bentuk singkat itu pun menjadi tidak efisien.

Ketidakkonsistenan dan ketidakkonsekuenan penggunaan bentuk singkat terjadi, setidaknya, karena dua alasan/anggapan. Pertama, anggapan bahwa bentuk singkat yang digunakan belum diketahui khalayak. Anggapan seperti itu menyebabkan orang cenderung selalu mengulang, tidak hanya bentuk singkatnya, tetapi juga bentuk panjangnya. Kedua, anggapan bahwa bentuk singkat yang digunakan sudah (sangat) diketahui khalayak. Anggapan seperti itu menyebabkan orang cenderung hanya menyebut bentuk singkatnya, tanpa menyebut bentuk panjangnya.

Sementara itu, kelewahan atau kemubaziran berbahasa pun terus terjadi. Dari waktu ke waktu bentuk-bentuk seperti maju ke depan, mundur ke belakang, naik ke atas, turun ke bawah, adalah merupakan, demi untuk, agar supaya, seperti misalnya, dan sejak dari masih terus digunakan, seolah sudah menjadi baku. Padahal, antara maju dan ke depan, mundur dan ke belakang, naik dan ke atas, turun dan ke bawah, adalah dan merupakan, demi dan untuk, agar dan supaya, seperti dan misalnya, serta sejak dan dari memiliki kesamaan arti.

Konon, di samping tidak mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia, menurut ajaran agama (Islam), perilaku mubazir juga sangat dimurkai Allah. “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan adalah sangat ingkar kepada Tuhannya,” demikian firman-Nya (Al-Isra:27).

Selamat berpuasa, Saudara-saudaraku. Mudah-mudahan pada Ramadan 1436 H ini kita beroleh hikmah puasa: hidup hemat (efisien) di segala bidang kehidupan, tidak terkecuali dalam berbahasa. Semoga.***


Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us