Sajak-sajak Afryantho Keyn

14 Juni 2015 - 08.21 WIB > Dibaca 916 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Afryantho Keyn
Menunggu, 1

Seperti memahami hari jadi
perpisahan:
Laut pasang, tenggelamkan karang-
batuan.
Jejak masa kanak menyisir pasir menjadi
kenangan
Kekal. Bakal diri mengutuki girang
pertemuan.

Seperti memahami hari yang kerap
sendiri:
Laut menimang tongkang yang bergerak
bimbang.
Ikan-ikan dalam koyak dan perangkap jala berkeriap
perih
Menambah sulur debur yang lekas beranjak
lekang.

Seperti memahami kilat belati
duka:
Ombak kehabisan gemeretak
geligi.
Dermaga melepuh dengan hati
terluka.
Hilang temali, tubuh tergeletak
sunyi.

Seperti memahami ruang penuh
rindu:
Pantai awas ke laut lepas seperti
darah
Yang merintik lentik. Nyanyikan lagu
sendu,
Perahu tak tabah, mengkhianati
arah

Seperti  memahami detak-detak
waktu:
Laut pasrah, angin barat dan timur
mendesah.
Sepecat kecamba, derap-jarak
sepatu
Bertambah. Usia, kutelah berlumur
senja.

Seperti siang—malam yang semu
Agar hari selesai jadi satu.
Seperti kita tak pernah bertemu
Sekalipun sekadar berbagi bisu.

Nusadani, 2013


Menunggu, 2

Sebab rebah cahaya
Senja adalah hari raya.

Tetapi ada detik
Mengusik, menarik
Setiap serat kenangan
Yang tiba-tiba
Menusuk, merasuk,
Masuk ke
Lengang ruang.

Denyut lembut jam
Hanyut ke dalam sesak
Dada. Dalam pejam mata
Dalam segenap pasrah,
Kutunggu semuanya tiba:

Dermaga,
Kepul kapal,
Gemulai lambai,
Gegas sepi,
Lepas tali,
Lekas sedu-sedih.

Kemudian
Senja menjadi sungguh biasa.
Tanpa kata.
Tanpa hari raya.
Tanpa kita.
Di bisu bangku
Ruang tunggu.

Larantuka, 2014


Mata, 1


Akhirnya kumengerti, mengapa
lekat kaumenatap mataku. Betapa
indah, katamu, bak bintang jatuh:
muara segala rinai yang kerap luruh.

Kusembunyikan halte dan bus
kota yang meramaikan airmata.
Sampai kau mengajakku menembus
danau, bersampan berdua tanpa kata.

Dengan hatimu, kau mengusap
mataku, hingga kulupa meratap
masa lalu. Dermaga kita temukan
tempat segala dahaga dilabuhkan.

Nusadani, 2013


Mata, 2


Menetap duka, katamu,
Pada sepasang retak mataku:

Perih—rebah senja yang menghapus
Lambaian bunda di peghujung jendela bus;

Tangis—detik yang kehilangan kata
Dan gerimis yang jatuh terbata;

Sunyi—sepi tiba-tiba bak kematian membunuh
Dan rindu yang tak ingin lagi lama menunggu.

Kemudian cermin—pintu kumenuju masa lalu
Remuk di peluk jemarimu
Seusai cecapmu lebur ke dalam dukaku:
“Kuingin menatap matamu!”

Nusadani, 2014
 


Afryantho Keyn
lahir 28 Oktober 1991. Karya cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan  di  koran  Timor  Express, Jurnal Sastra Santarang, dan Majalah Warta Flobamora. Kini  tinggal di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us