Oleh: Helfizon Assyafei

Hukum Modern

14 Juni 2015 - 08.26 WIB > Dibaca 1687 kali | Komentar
 
Hukum Modern
ALKISAH sebuah perampokan dan pembunuhan menimpa pasangan suami istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Tahun 1974. Beberapa saat kemudian polisi menciduk Sengkon dan Karta, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka. Keduanya dituduh merampok dan membunuh pasangan Sulaiman-Siti Haya. Tak merasa bersalah, Sengkon dan Karta semula menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. Tapi lantaran tak tahan menerima siksaan polisi, keduanya lalu menyerah.

Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa. Maka pada Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara, dan Karta 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Dalam dinginnya tembok penjara itulah mereka bertemu seorang penghuni penjara bernama Genul, keponakan Sengkon, yang lebih dulu dibui lantaran kasus pencurian. Di sinilah Genul membuka rahasia: dialah sebenarnya pembunuh Sulaiman dan Siti!. Akhirnya, pada Oktober 1980, Gunel dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

Meski begitu, hal tersebut tak lantas membuat mereka bisa bebas. Sebab sebelumnya mereka tak mengajukan banding, sehingga vonis dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap. Untung ada Albert Hasibuan, pengacara dan anggota dewan yang gigih memperjuangkan nasib mereka. Akhirnya, pada Januari 1981, Ketua Mahkamah Agung (MA) Oemar Seno Adji memerintahkan agar keduanya dibebaskan lewat jalur peninjauan kembali.

Ada pertanyaan menggelitik dari budayawan nasional Emha Ainun Nadjib soal hukum modern. Apakah benarnya hukum modern itu benar sejati? Ternyata tidak. Seandainya dalam institusi negara kita pemerintah dan rakyat sudah sama-sama sanggup melaksanakan ketaatan yang maksimal terhadap hukum, Anda masih menyaksikan sejumlah kepahitan di belakangnya.

Misalnya, sebuah pabrik kecap puluhan tahun sukses dan digemari konsumen, suatu hari pimpinannya diseret ke pengadilan dan dipenjarakan, dituntut oleh salah seorang karyawan yang membelot, membuat pabrik sendiri, mendaftarkannya ke lembaga hak cipta- sementara pabrik aslinya tidak pernah mendaftarkan. Itu berkat hukum modern. Ribuan tahun orang Jawa menciptakan cara membuat tempe dan pada suatu siang tiba-tiba saja tempe adalah milik orang Jepang. Setengah mati orang Jogja, Solo, dan Pekalongan membanggakan budaya dan karya batik, sampai mendadak mereka hampir stroke mendengar bahwa batik adalah hak patennya Malaysia. Juga berkat hukum modern.

Dalam konteks itu hukum modern adalah Dajjal bermata satu, bertangan satu, bertelinga satu, berhati sebelah dan berakal terbelah. Orang-orang menyebutnya hukum modern tetapi fungsinya tidak lagi menegakkan keadilan tetapi memenangkan orang yang punya kepentingan dengan memanfaatkan hukum itu.

Dulu ketika saya mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) Unri tahun 1993 di sebuah desa di seberang sungai di Baserah, saya sempat bertemu seorang tua yang rajin mengaji. Tiap berjumpa dengan dia saya harus menyiapkan diri mendengarkan nasehat-nasehatnya yang diberikan meski tanpa diminta. Namun saya senang bisa membuat orangtua itu senang karena punya lawan bicara. Nasehatnya biasanya soal-soal agama. Tetapi ada juga soal-soal kehidupan.

Di antara nasehatnya yang berkesan bagi saya sampai kini adalah yang ini. Dalam hidup janganlah ananda sampai berurusan dengan polisi, jaksa dan hakim. Hindarilah. Kebanyakan mereka penghuni neraka, ujarnya. Saya tak tahu juga apa dalilnya ia mengatakan itu. Saya juga heran mengapa orangtua yang hidup jauh di desa dan ingar bingar kota kok tahu juga urusan begini. Belakangan baru saya tahu ketika melihat buku catatan tangannya ketika ia belajar dari seorang guru tarekat bahwa di antara profesi yang rawan terjerumus ke perbuatan haram adalah orang-orang yang punya kekuasaan di dunia. Mereka punya potensi paling besar tergelincir pada ketidakadilan itu sendiri.***


HELFIZON ASSYAFEI
Pemred Xpresi Magazine
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us