oleh: Kunni Masrohanti

Pemersatu

21 Juni 2015 - 09.13 WIB > Dibaca 2919 kali | Komentar
 
Pemersatu
LIHAT dan dengarlah. Suasana di dalam masjid itu begitu tenang. Tidak ada suara lain selain suara sang imam. Merdu dan mendayu. Ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkannya sangat menenangkan jiwa, memecah gumpal-gumpal kerisauan batin. Tidak ada seorang pun yang mendahuluinya atau berusaha mendahuluinya saat takbir, rukuí, sujud atau gerakan-gerakan lain dalam salat.

Shaf demi shaf yang berjejer rapi di seluruh ruangan masjid itu berbentuk sama. Lurus. Tidak ada yang lebih maju ke depan atau ke belakang. Tidak ada yang bengkok. Jika imam, sujud, segera bersujudlah orang-orang yang ada dalam barisan itu. Saat imam mengakhhiri bacaan alfatihah, serentaklah mereka semua mengaminkan. Semua dengan nada suara yang sama. Tidak ada yang lebih lantang atau berteriak.

Subhanallah. Indahnya berjamaah. Besarnya peran imam dalam salat. Pemimpin. Sang pemersatu. Diturut sampai ke habis salat. Dipercaya berdiri di baris paling depan dan tidak ada seorang pun yang berani membangkang dengan melakukan tindakan sendiri yang mendahului imam. Sudah pasti ia juga dianggap lebih pandai membaca Alquran, lebih fasih, lebih merdu suaranya, lebih mengerti serta memahami kondisi seluruh makmum di belakangnya dan tidak mengutamakan diri sendiri.

Ketika seseorang dipercaya dan dipilih untuk menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok, sesungguhnya perannya sangat besar; harus bisa menjadi pemersatu. Ia dianggap mampu dan sudah pasti ia mau. Mampu mengkoordinir seluruh orang yang yang telah mempercayainya, mampu menjadi contoh, mampu berkomunikasi, mampu berbagi, mampu mengambil kebijakan yang tepat dan lebih mampu dari yang lainnya dan berbagai hal.

Berat memang. Besarnya kepercayaan yang diberikan kepada seorang imam atau pemimpin sebagai pemersatu. Tidak mengambil keputusan sendiri bukan berarti menyerahkan semuanya kepada jamaah. Tapi lebih bagaimana mampu menyatukan persamaan hati, pandangan dan pendapat seluruh jamaah dengan dirinya sendiri. Lalu, diambillah sebuah keputusan yang bijaksana tanpa merugikan siapa pun dan bisa diterima seluruh jamaah.

Tidak harus berfikir luas tentang pemimpin besar sekelas pemimpin dunia atau sebuah bangsa, bertiga saja, lalu salah satu dipercaya menjadi koordinator, ia juga pemimpin. Jika pemimpin tidak lagi menjadi pemersatu, seluruh makmum atau imam berjalan sendiri-sendiri, gunjing sana gunjing sini, bahkan menggunjingkan sang imam, segeralah berbenah. Itu berarti pemimpin tidak lagi bisa menjadi pemimpin. Mundurlah! Makmum juga harus segera mencabut kedudukannya sebagai pemimpin dan mengganti dengan pemimpin lain. Senang dipuji, bahagia dikritisi, hobi berbagi, tidak ada dengki yang tersembunyi, majulah mereka yang perduli.***


KUNNI MASROHANTI
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us