Oleh: Riki Utomi

Perempuan Aneh

21 Juni 2015 - 09.23 WIB > Dibaca 2205 kali | Komentar
 
Kau harus tahu, jangan sembarang dekat dengan perempuan itu. Berada didekatnya—seperti pengakuan rekan-rekanku—adalah sebuah siksaan yang membakar batin. Kau akan mengutuk hari itu karena telah berjumpa dengannya. Kau akan serba salah oleh sikapmu akan kehadirannya. Kau akan, bahkan menyumpahnya sekaligus dirimu sendiri oleh karena satu hal, yang lambat laun kau anggap begitu bodoh. Semua itu menjurus kepada kebencian, tapi berujung pada akhirnya penyesalan.

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti akan semua itu. Mereka seakan lebai dalam menyikapi sesuatu. Bahkan menjurus kepada sebuah penilaian ganjil pada seseorang. Aku masih tidak mengerti.  Apa pula yang menjadi dasar penilaian mereka begitu? Atau karena aku masih baru berada di sini? Tapi apa salahnya hati-hati? Untuk itu aku setakat ini hanya diam ketika berada di lingkungan asing itu. Asing, karena aku baru menjalani mutasi ke sekolah di pusat kabupaten, setelah sebelumnya terkurung dalam sebuah desa terpencil di kecamatan yang tak memiliki apa-apa dalam segala bentuk prasarana.

Di sekolah ini, aku kadang hanya berteman sepi, sebab hanya aku guru lelaki yang mungkin selalu datang mengisi keriuhan majelis, karena juga jadwalku sangat banyak mengajar setiap hari. Hampir semua guru adalah perempuan dan perempuan itu, yang kata mereka perempuan aneh, baru aku menjumpainya hari ini tepat pada saat akhir waktu istirahat, dua jam terakhir aku akan masuk di kelas dua belas. Aku memandangnya, sosok perempuan yang katanya aneh itu… tapi ternyata dalam hatiku berucap memuji tuhan (karena begitu rugi kalau tidak berbuat demikian. Sebab bukankah kita hamba yang kufur kalau menyia-nyiakan mata karena telah memandang sesuatu yang indah ciptaan Tuhan?).

Perempuan itu, berperawakan sedang: tidak terlalu tinggi atau pendek, dia gemulai, berjalan serasi dengan gerakannya yang pas oleh ketukan tumit sepatu, berjilbab modis serasi dengan pakaian yang dikenakannya, bibirnya disapu lipstik yang tak terlalu ketara, tapi cerah dan merekah membuat bibir mungil kecil tipis itu ketika tersenyum sungguh membuat jantung lelaki bergetar, dan matanya… bening mirip batu permata yang selalu dipakai oleh perempuan yang dikalungkan pada leher. Mata itu, biasa: tidak tajam, tidak manja, apalagi genit. Tapi mata yang jelas, halus, dan menyiratkan kepastian tanpa ragu untuk memandang, termasuk memandangku sambil tersenyum. Aku membalasnya juga dengan—seperti yang sudah kuduga—getar jantungku tak dapat berbohong. Tapi jujur aku bukan sedang jatuh cinta. Tapi… dia masih perawan atau janda?

***
Lalu… dari semua yang kupandang dari sosoknya, apanya yang aneh? Aku tidak merasakan sesuatu keanehan padanya, bahkan sebaliknya dia perempuan yang sangat sempurna—tentu ini tidak berlebihan. Dia mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia. Merangkap semua kelas oleh sebab telah sertifikasi yang harus 24 jam. Kutaksir diam-diam dia setidaknya seumur dengan kakak iparku di usia 30-an.

Sebagai guru baru, aku harus merasa dekat dengan siapapun personel sekolah ini. Termasuk guru perempuan satu ini. Tak ada salahnya kalau aku mulai dekat untuk bertukar pikiran seputar masalah siswa atau pelajaran, sebab aku juga memegang mata pelajaran yang sama. Sepertinya dia bukan perempuan pendiam, tapi cukup memberi kontribusi keributan oleh sikap, kata-kata, atau pendiriannya yang membuat orang lain merespon.

Seorang yang tengah duduk, memberiku isyarat mata tapi aku dapat membahasakannya seperti (hati-hati, kau jangan sampai terkena olehnya!) ah… aku hanya tersenyum. Guru perempuan yang katanya aneh itu berada di dekatku. Tersenyum dan berbicara agak pelan. Aku baru tahu dia bernama Indah. Benar-benar selaras dengan dirinya sendiri yang memang indah.

“Apakah Bapak mau menggantikan saya sebentar? Saya terpaksa harus keluar karena ada sedikit urusan penting mendadak. Biasalah, orang Dinas Pendidikan menelpon lagi, urusan pangkat yang tak sudah-sudah menyusahkan itu…” ucapnya seperti kesal pada segala peraturan pemerintah. Aku tersenyum dan mengiyakan. Namun aku tidak keberatan menggantikan piket sementara, sebab jadwal masukku ke kelas sudah selesai. Tapi tentu juga aku agak sedikit repot kalau dia pergi lebih lama dari apa yang dijanjikannya. Dengan seulas senyum pelan-pelan dia melaju dengan Beat-nya.

Di sela-sela aku menikmati rokok dan meneguk secangkir white coffee, handphone-ku berdering, ternyata dia. Mengatakan bahwa ada sedikit barang yang tertinggal, sebuah lembaran copy-an (barangkali SK) yang harus segera diantar, dan dia wanti-wanti meminta tolong kepadaku. Aku serba salah, sebab harus ada target yang kuselesaikan di rumah. Tapi sekali ini saja, mungkin aku harus menolongnya. Lalu aku tancap ke kantor dinas, aku sendiri heran mengapa mau, bukankah tadi aku menggantikan piketnya? Inilah susahnya lelaki—mungkin lelaki sepertiku—yang bertekuk lutut di depan perempuan manis. Dan di kantor dinas, dia telah tersenyum menyambutku.

“Maaf telah merepotkan. Tapi memang tak dapat dihindarkan karena Beat saya mendadak tak mau hidup,” katanya sambil meraih keperluan yang dimintanya itu. Aku mengiyakan tanpa merespon sebuah kekesalan, aku tidak ingin dia tersinggung.

***

Malam bagi seorang lelaki bujangan sepertiku setidaknya sungguh sesuatu yang menyiksa. Sepi yang melingkupi diri tentu sangat tidak baik untuk dipelihara. Setakat ini aku masih malas untuk bepergian katakanlah keluyuran kumpul bersama teman-teman lain. Tapi tentu itu agak aneh, mengingat saat ini semua teman-teman sebayaku sudah banyak yang mendirikan rumah tangga. Masih ada beberapa orang tapi mereka sepertinya telah positif memiliki calon pendamping. Tinggal aku sendiri yang dikurung penjara kesendirian ini.

Hanya berteman secangkir kopi hangat dan sebungkus rokok, acara televisi di malam minggu tak ada yang menarik untuk diikuti. Sedang gemuruh jalanan di luar terasa menggema meski sudah pukul sembilan malam. Hatiku dingin membuat badan enggan untuk kemana-mana. Dalam pikiran bodohku (entah salah entah benar) keadaan keuangan yang tipis sangat tidak etis membawa anak gadis orang keluar malam.  Aku tersenyum sendiri dalam kesepian malam—tepatnya tersenyum sinis.

Diiringi angin yang tiba-tiba kesiur kencang, handphone-ku berdering. Kupandang dan aku seketika terkejut. Tapi berusaha tenang, barangkali bukan apa-apa. Tapi ada apa dia—Indah—perempuan manis itu menelponku?

“Kau bisa membantu?”

Aku bingung…

“Kuharap kau bisa, sebab Beat-ku tak mau hidup lagi. Kembali berulah. Barangkali harus diganti yang baru,” lanjutnya sambil tertawa.

Aku masih bingung, tapi dengan gelagapan aku berusaha menjawab.

“Oh, boleh saja, kau banyak uang, bukan? Apa yang mesti aku bantu?”

“Maukah kau menjemputku? Aku harus menemui seseorang malam ini juga.”

Aku terdiam, “Apakah menemui pacarmu?”

“Bukan. Tapi temanku. Dia peremuan kok.”

Aku agak lega. Setidaknya aku tentu tidak akan semakin menderita batin apabila dia ingin menjumpai seorang lalaki di malam terang bulan ini. Tapi tidak ada salahnya juga aku membantunya. Aku bergegas…

***

Dengan kaos oblong biasa; gaya khas anak muda. Rambut tersisir lurus ke belakang dan sapuan Gatsby keras, ditopang bedak Spalding membungkus tipis wajah, ditambah semprotan minyak wangi murahan, cukuplah menampilkan diriku apa adanya, setidaknya celana bluejeans yang baru kubeli kemarin akan sedikit membawa kesan apik, meski tidak memalukan. Dan aku telah tancap gas dengan Supra-X yang juga tidak terlalu bagus, tapi masih terasa asik ditunggangi. Menuju ke rumah Indah, guru muda manis itu, setidaknya membuatku gemetar dan kaku selama di perjalanan.

Indah menyambut sambil tersenyum khas. Dia berdandan seadanya juga, tapi tentu sungguh memikat bagiku. Aku semakin gemetar saat dia telah duduk di belakang.  Aku merasa bintang-bintang, bulan, angin, jalanan, trotoar, dan sejumlah warung dengan manusianya yang tumpah-ruh sedang menertawaiku. Mereka pasti mengejekku dengan sembrono yang anehnya, masih dapat kuterima dan kumaafkan. Dan aku masih membawanya melaju sampai ke tujuan.

Melewati simpang empat masuk ke sebuah gang kecil. Sebuah rumah mungil menyambut kami. Indah bilang ada sesuatu urusan penting tentang sertifikasinya yang masih terkendala. Niscaya tidak akan cair uang itu kalau tidak secepatnya diurus, begitulah… katanya. Dan di muka pintu menyambut seorang perempuan yang juga kutaksir sebaya denganku dan Indah. Perempuan itu memandangku dengan tatapan asing. Tapi aku tidak menggubrisnya. Kami masuk setelah dipersilahkannya. Indah memandangku dengan senyum.

“Kau mengenalnya?”

“Sepertinya pernah jumpa tapi aku lupa atau mungkin orang lain yang mirip.” Kataku datar.

Indah mendengus lalu berkata lirih, “Dia kenal denganmu tapi mengapa kau lupa? Bahkan dia sering bercerita tentangmu.”

Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Mengapa pula ini? Kepalaku mendadak pusing. Apakah rumah ini benar-benar rumah Lusi? Apakah dia Lusi?

“Aku merasa cemburu…” kata Indah lagi.

“Maksudmu?”

“Cemburu denganmu,” balas Indah lagi dengan agak sinis.

Aku memaksa Indah untuk menceritakan tentang perempuan itu. Setidaknya sangkaanku memang benar bahwa perempuan itu Lusi. Tapi bisa juga tidak, karena bisa jadi Indah mempermainkanku saat ini yang membuatku bertambah bingung, kacau, dan marah? Apa dia mesti cemburu? Kalau memang benar perempuan itu bernama Lusi yang memang dulu sempat menjalin hubungan denganku dan hampir menikah, tapi kandas di tengah jalan. Ah… aku bertambah tak mengerti dengan kedua perempuan di malam ini. Aku ingin segera pulang.***

Selatpanjang, 11 April 2015



Riki Utomi
pegiat dan penikmat sastra. Menulis puisi, cerpen, esai, naskah drama juga novel. Buku kumpulan cerpennya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Tengah menyiapkan kumpulan esai, puisi, dan buku teks pembelajaran sasrtra Indonesia. Tinggal di Selatpanjang, Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us