Sajak-sajak Doddi Ahmad Fauji

21 Juni 2015 - 09.27 WIB > Dibaca 1487 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Doddi Ahmad Fauji
Sayap-sayap Imaji
 Litaniar Qonakis Iskandar

01
Aku membaca selarik intuisi yang sublim
melesat dari langit yang retak-retak
bersayap violet keperak-perakan
berkilauan diterpa serbuk matahari
aku terkesiap seperti nona kecil
di hadapan boneka barbie

Kaukah malaikatku

Ia terbang merendah di jalan bercabang    
barisan pohon ketela telah lama raib
sejak ladang kami disingsingkan
dari keluarga besar khatulistiwa
dan bangsa kami kembali terpuruk
sebagai budak di rumah sendiri
diawasi panser dan anti virus
seiring susutnya cadangan batu-bara
sebongkah-sebongkah, yang tak mungkin
kembali lagi, bersama hembusan gas
yang menguap dari ubun-ubun

02
Aku bertemu selarik intuisi, seperti ragu-ragu
menguar dari tubuh putih setengah Tokyo
lentik jemarinya menggesek erhu
membantun Prelude yang familiar
di suatu siang, di ruangan yang duk-dek
mengingatkanku pada sekelumit kalimat
yang menggugat bernama traktat
digubah para pembangkang dari benua biru
aku terpincut, maka aku menjadi penggugat
di rumah ibadat, aku menggugat pengkhotbah
yang menabuh genderang perang
dengan berlindung di sebalik dalil
di koran aku menggugat dengan puisi famplet
di Museum Sribaduga aku menggugat-mu
dengan kritik yang lunak dan terselubung
kau tak terima, dan ujug-ujug ingin pulang
aku melongo. Sejak itu aku kapok
aku kini menjalani hari sebagai anak manis
di haribaan selarik intuisi

03
Selarik intuisi, dialah komponisku
di masa depan yang tak lama lagi tiba
bulan pun mempurnamakan dirinya
dalam sejengkal senyuman berdaulat
senyuman paling menawan
sepanjang zaman
aku mengagumi keindahan
tanpa kehilangan selera kejantanan

04
Dan kau memilih bunga melati
pilihan yang selaras harapanku
terlebih aku tak pernah bersepadan
dengan pemilih anggrek atau mawar

05
Aku mengagumi lenkingan erhu
yang mengabadikan gelisah Bizantium
pengrawit Bataven mengadopsinya
membibitkannya hingga ke batas Jamrud
dan kau terpikat mempelajarinya
di suatu siang, di ruangan yang remang
dan kau selalu nampak sempurna
denganerhu di bahu
jemari kiri menari

06
Aku tak pernah reda kagum
pada Fur Elise yang merdu
digubah justru ketika si komponis sakti itu
telah benar-benar tuli
namun itu ada, sebagaimana juga ada-mu
di hadapanku, dan bukan di kebun tebu
tiba-tiba aku merasa terlalu cepat lahir
atau kau terlambat tiba
telah separuh lajur matahari kujelajahi
sayap-sayap-ku sebagian gosong
tapi rasanya kita akan singgah
pada waktu yang setara
dan sayap-sayapku
kembali bertunas
dalam senyum-mu
sungai mengalir deras
ke muara di jantungku

07
Aku ingat kisah sang bocah
yang mengalahkan Goliat itu
setelah jadi pengelana sejati
di bawah terang purnama
selalu melantunkan Mazmur
mengetuk langit dengan rengek rebab
ada yang berujar lewat kerlip bintang
dan Tuhan menjelma bait-bait puisi
suatu hari, di kelam yang lanun
kuingin menyaksikan selarik intuisi
menjelema trubador bersayap violet
denganerhu di bahu
bersabda kepadaku
menyatakan kesetiaannya
seperti Critias kepada Socrates
garam kepada laut
atau ibuku kepada ayahku
hingga hayat memisah
dan keduanya masuk sorga

08
Sorga yang hilang itu bernama Atlantis
tak lain ialah Pentas Sunda
tempat karuhun merapal mantra
untuk anak-cucunya, termasuk kita
kita juga bakal masuk sorga
jika bersetia dalam janji
sebagai apapun
untuk apapun

09
Aku bertemu selarik intuisi
di suatu siang, di ruangan yang senyap
kuukir di bahuku, menjelma sayap imaji
terbanglah Litaniar ke galaksi terjauh
sebelum hari pembuktian tiba
aku telah menjadi sayap-mu
bersama sekelumit kalimat
yang menggugat

Aku akanbersetia di samping-mu
sebagai apapun, untuk apapun

Bandung, 2015


Sungai Citarum
Litaniar Qonakis Iskandar

Sungai menuju rumah-mu
hitam, sunyi, dan ditinggalkan ikan
disesaki pekik kelelawar belang
pekik dari dasar jurang pikiran
membenturi jantung lelangit
langit merah menembaga
langit belepotan polusi dari ledakan mesiu
koran memuatkan berita darah ke darah
darah tumpah segumpal-segumpal

Aku ingin memelihara dunia
yang bisa disuruh-suruh seperti robot
dengan langitnya yang mana aku
dapat melembayung bersama-mu

Sungai menuju rumah-mu
nampak gelisah dan bergolak
seakan neraka yang telah matang
buaya-buaya gosong tak berekor

Tak ada sungai yang sungai
sehabis melintasi kota
tak ada air yang air
dalam kemarau warga kota

Aku akan menyeberangi sungai itu
dan pasti sampai ke kamar-mu
aku ingin melestarikan pikiran-mu
menjadi sebatang sungai arkais
dengan ikan kancranya
yang berkecipak
menggeliatkan
daya hidup

Bandung, 2015


Doddi Ahmad Fauji
dulu menulis namanya dengan Doddi Achmad Fawdzy. Menulis karya sastra (puisi, prosa, esai) sejak 1990-an. Mendirikan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) di UPI Bandung, kini bergiat di Sekolah Kewajaran Bersikap (SKB) di Kota Bandung. Membukukan puisi-puisinya secara partikelir: Poeima (1997), Yth. Nona Yumar (1997), Bukan Ken Arok (1997), dan Aku Cinta Pada-mu, Memor, dan Traktat (2006).
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us