Sajak-sajak Muhammad Irsyad Al-djaelani

21 Juni 2015 - 09.29 WIB > Dibaca 1795 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Muhammad Irsyad Al-djaelani
Ahlul Al-Mahabbah
: Maulana Jalaluddin Ar-rumi

Memecahlah buih-buih pembatas kesemenanjungan diri. Benaknya serupa pencuri yang mencari jalan keluar dalam sebuah pengepungan. Nalar tanpa batas!
Tatkala keangkuhan, mutlak beranak pinak memegahkan sebuah entitas yang dikebat erat pada sebatang pohon. Bernama Aku.
 
I
Dilepasnya jubah ortodoks demi telanjang di kibaran bidaah. Rumi memacari, membukakan pintu sekat per sekat di dalam kepalanya. Menyambut datangnya renungan berjasad kepala yang tumbuh di dalam tubuh seorang pengelana tua. Syams, ia perkenankan dirinya dilafalkan seperti itu. Tabriz, ia sebut tanah berpijak setelah begitu enggan meninggalkan rahim ibunya.

Mansour al-Hallay, bidaah sufiistik dilantangkannya di tanah abad kesepuluh berujung pada hukum kematian. Ortodoks tak selalu nyaman. Mereka kenakan pakaian anggun menuju hidangan makan malam di atas meja agama. Tapi, telinga mereka menelisik ketika sebuah pesona lain tersembunyi dari lapar matanya, berjalan di sekitaran jendela ruang makan demi sebuah pencarian. Betapapun, akar luka agama sampai hari ini sulit direngahkan. Jesus selalu dihujat dan tak pernah dilaksanakan ajarannya habis-habisan.

Para imam agama, ayah-ibu, lembaran kitab. Tak ada yang salah. Menghentikan cara kerja rindu bisa melalui kiriman surat. Namun, selalu ada yang menggebu. Hatinya menyeruak keluar, jauh berlari meninggalkan jasadnya. Menakdirkan hidup melakukan perjalanan demi sebuah pencarian. .

II
Dikumandangkannya kidung bahagia mencintai Tuhan. Tak akan kaudapati dari kekasih mana pun. Tak ada luka dalam surah cinta untuk melapangkan dada menjadi iba. Tak ada geletar yang gentar dari ingatan; frasa curiga dalam sebuah kerinduan.
Berjalan ia kelilingi kota. Senandung dan ungkapan-ungkapan gila keluar dari mulutnya menjelma kupu-kupu. Berterbangan. Hinggap di gedung-gedung tua, pohon-pohon jenaka, dan pasar-pasar yang buta; perihal matanya yang dicungkil oleh sekeping hingga beribu-ribu keping dirham bergambarkan neraka. Ia tak mengukirnya di secarik kertas atau pelepah kurma yang selalu menjadi ritual para penyair. Murid-murid yang mencintainya, kita dihubungkan oleh luka bahagia yang mereka rawat. Janganlah kunjung mengering!   

III
Berputar ia menentang jalan jarum jam, air yang mengalir, dicintai-mencintai, hidup-ke-mati. Cinta yang lebih cinta dari hakikat cinta itu sendiri. Dihantarkannya menuju langit luas renungannya. Ia sangat dekat mengenalnya untuk sampai memahami-Nya. Katanya, Bakarlah dirimu dalam nyala api yang berkibar. Jangan kau hanya tersentuh oleh lilin-Nya. Sebutir garam tenggelam di dada laut yang luas. Ia pasrahkan diri seolah di dalam kepalanya menjalar ingatan-ingatan bahagia eksekusi kematian para mujahid di jaman quraisy.

Atas nama cinta. Menari ia melupakan lekuk angin. Mengoyakkan lembar per lembar malam dalam jamah bulan di liuk tidur yang tentram. Menanggalkan ciuman, meninggalkan pelukan, pada prolog roman picisan.
Ditenggaknya dari bejana anggur kesucian. Mabuk illahiah di tingkat entah. Kaki-kaki semesta berjingkat mengawasinya. Ia semakin dalam. Tenggelam.   

IV
Konya, Turki. Tuhan melukis senja pada sebuah pigura yang di dalamnya bermain anak-anak manusia. Namun tak didapati lagi Rumi di dalamnya. Ia dihapuskan-Nya untuk menuju senyata-nyatanya kehidupan.   

Ia tanggalkan seluruh pakaiannya. Tetapi tak ia tinggalkan hati yang merindukannya. Menyebur ke liang kubur. Makamnya harum di hati orang-orang yang tafakur.

(Minas, 3-8 Juni 2015; Diilhami oleh Mukadimah Kitab Rubaiyat Terlarang Rumi. Terjemahan: Nevit O. Ergin dan Will Johnson)    


Yang Ada dalam Lingkar
Tali Gantunganmu


Yang tertinggal dari kesunyian, hanyalah amarahmu. Serupa Tuhan yang kaucari dari segala peradaban Langit. Bak petapa Efessus dari Kuil Artemis, kau puja Heraklitos dengan segala falsafah kesendiriannya. Bukankah telah kautelanjangi puncak bukit Khaf hingga jerit memekik dari burung Anqa, tiada lagi di sana selain setianya.

Kau hanya hijrah ke sebuah tempat yang menjadikanmu buta. Di bawah kangkangan gumul awan hitam, kau percaya jika air mata yang jatuh adalah bagian dari perjanjian cinta. Bukankah Tuhan mencipta Hawa kepada Adam agar ia tahu;  jika di surga kesedihanpun mampu menyerang.

Ketika hati, kepala, dan nyalang matamu bergetar. Di antara waktu dan masa kelak kau tahu, manusia memelihara kejam usia melalui cinta.

Ada isyarat berkeliaran di urat rawan telinga. Ikutlah bersamanya, ke manapun hendak dibawa, kelak kautemukan rahim dan lahat dalam sebuah kesamaan.
Yang ada dalam lingkar tali gantunganmu: cinta, dalam denyut nadi yang hingga
rindu merawatnya atau bahkan balik menyayatnya berlinang darah. Bermartabatlah dalam sebuah kesedihan.

(Pekanbaru, 18 Februari 2015)


Nibbana
:Suatu malam kukenal namanya di sebuah klenteng.

Siapa yang kaupanggil?
Terbirit jubah memaksa langkah
Diseret arah.
Nafas telanjang terengah-engah.
Dupa di tangan kiri uzur nyalanya
Semuram telapak kanan membunuh padamnya.
Tak lama ia memeram diam.
Api yang legam sesak tak menemukan merahnya. Berahi ditikam ketalutan.
Renungan gemerlap hening
Bongkahan jasad menujuke adatiadalahir
Ada jalan utama berunsur delapan, dan
Empat kebenaran mulia, wahai anak manusia
Hidup meniadakan nafsu, menumbuhkan anak kecil di dalam diri
Pada lingkaran fana, tiada lagi kecemasan
Bathin memapah menyeka segala yang bernanah darah
Lorong ghaib pelepas rekat belenggu Mara
Nibbana tidaklah pada di mana
Ia, wujud yang tiada
Getar kebahagiaan dari langit, menjulang hampa
Kulminasi Bikkhu, menyeru sang Budha.
(Pekanbaru,15 Mei 2014)


Muhammad Irsyad Al-djaelani
lahir di Minas, 24 April 1988. Alumnus Universitas Islam Riau. Tinggal di Pekanbaru. Turut menggerakkan Malam Puisi Pekanbaru dan bergiat di Komunitas Paragraf. Beberapa puisinya pernah dimuat di Riau Pos dan termaktub dalam buku antologi puisi Bendera Putih Untuk Tuhan (Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos 2014)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Follow Us