Oleh: Tahta Kurniawan

Tuhan Sedang Tidur

28 Juni 2015 - 10.07 WIB > Dibaca 2057 kali | Komentar
 
Ketika mataku terpejam. Terkadang bermimpi tentang mimpi dan berkhayal tentang khayal. Ketika itu pula ruhku terangkat dari ragaku. Merangkak perlahan dan menjauhi tubuhku. Aku melihat ragaku terkulai, mataku tertutup, dan hidungku bernafas. Diriku belum mati tetapi hanya tidur atau biasa di sebut sementara mati.

Anehnya tiba-tiba kulit ruhku mengelupas dan mengganda menjadi tiga. “Aku Putih, Aku Merah dan Aku Kuning.”

Entah mengapa ruh asliku seperti di tarik-tarik mereka, oleh ruh putih, kuning dan merah. Terbang menjauhi ragaku. Hingga melewati langit yang berakhir di angkasa raya yang hitam. Di kejauhan matahari menyepuh cahayanya, menyinari jejeran konstelasi bintang di sekitarnya hingga ke bumi, duniaku, dunia di mana ragaku terbaring, dan imajinasiku terjun bebas.

Tanpa sadar “Aku Merah” menggigitku dan menarikku terjatuh, menembus lapisan-lapisan termosfer hingga troposfer. Ruhku menyala seperti api berkobar-kobar yang di ceritakan dalam Neraka. Jatuh menembus langit hingga tubuhku terhempas ke tanah datar di mana aku di lahirkan. Indonesia.

Telingaku mengental, semakin dalam aku mendengar suara-suara, semakin nyaring segala macam suara yang aku dengar. Tanpa sadar sampai-sampai aku mampu memperhatikan deru-deru angin dingin bulan November yang menusuk tulang rusuk dan semakin tinggi pula daya imajinasiku. Namun hanyalah suara tangis yang aku dengar. Lebih dalam aku tenggelam mendengarkan suara-suara namun hanyalah kesengsaraan yang berkelebat. Lebih jauh lagi mendengar tetapi hanya jiwa-jiwa rapuh manusia berbunyi berjatuhan.

Aku dengar dengan seksama satu-persatu. Hanya tangis seorang janda di tinggal suami yang tercipta, atau bunyi berjatuhan air mata gadis belia menjual diri, atau suara kesakitan hati lelaki yang merangkap menjadi wanita, atau suara-suara kesengsaraan yang di lantunkan kecapi-kecapi kecil pengamen untuk sesuap nasi. “Aku Merah” berbisik dengan lembut suara parau. “Tuhan sedang tidur.”

***
Ruhku terbang dengan sendirinya tak sesuai dengan pikiran sang pemilik jiwa. “Aku merah” memimpin jalan. Ia menunjukan langit-langit bewarna hitam di atas salah satu kota yang berpetir-petir seperti cerita dalam dongeng-dongeng tentang kerajaan langit, ia menunjuk kembali kepada salah satu pilar raksasa yang berdiri megah namun terlihat lesu. “Itu simbol kebesaraan bangsa rapuh ini. Monas.” Katanya. Tiba-tiba “Aku kuning” muncul dan berucap. “Itu disepuh dengan tangan-tangan indah manusia dengan sentuhan-sentuhan emas di sekililingnya.” Namun dalam sekejap “Aku merah” melambaikan tangan dengan tatapan bak Iblis menipu Adam. Anehnya aku mengikuti seruannya.

Kami, ruhku dan “aku merah” maksudku, bertengger di sebuah tanah lapang yang di sekitarnya lembah-lembah rawa, tumbuhan merambat, batang-batang berduri, binatang-binatang pengerat, dan rumput-rumput menghiasi hingga mata tak sampai untuk memandang.  Dalam satu kedipan mata lembah-lembah menjelma menjadi sungai-sungai indah, batang-batang berduri menjadi pohon-pohon megah, binatang-binatang pengerat bertransformasi menjadi kerbau-kerbau gembala dan rumput-rumput menjadi hamparan sawah hijau hingga jauh menusuk nusantara. Dalam kedipan kedua sungai-sungai tiba-tiba terlihat lesu dalam alirannya terbatuk-batuk, pohon-pohon menjadi cerobong asap yang garang, kerbau-kerbau menjelma menjadi kendaraan-kendaraan transportasi tak layak pakai, dan hamparan sawah menjadi tempat limbah industri. “Aku Merah.” Berkata. “Sungguh Ironi Negeri ini. Seperti kehancuran Baghdad di tangan Tartar.”

Aku duduk bersila di samping “Aku Merah” mataku mengatup cepat. Hingga sedikitpun bola mataku tak terlihat. Ruh dalam ruhku keluar berjingkit-jingkit menghidari penciuman dari “Aku Merah”. Aku terbang melintasi beberapa bagian sebuah kota. Air mataku berlinang membuat anak-anak sungai di sekitar pipiku ketika melihat anak-anak kecil bermain api dan akhirnya terbakar, mengintip gadis remaja di perkosa di sebuah taksi, melihat seorang kakek rela mencabuli cucunya, mendengar desahan wanita-wanita menjual diri di tempat prostitusi, dan melihat penjabat agama korupsi kitab-kitab Tuhan. Dalam sekejap “Aku Merah” di sebelahku dan berbisik lembut dengan suara parau. “Aku sudah pernah bilang. Tuhan sedang Tidur.”

***
Imajinasiku buyar oleh delikan dan bunyi gusar jiwaku. Aku sadar “Aku kuning” menatapku sendu dengan mata sayu seolah-olah ia berkata “Carilah jiwamu yang lain. Mungkin saja tentang hal-hal di masa lalu.” Dalam sekejap pikiranku menggelembung, menghamburkan ribuan kisah-kisah masa lalu. Lalu dalam hitungan detik prahara di dalam batok kepalaku menjelma menjadi sebuah keinginan dan hasrat kembali ke masa lalu. Hingga sebuah pertanyaan muncul tak terduga, tertangkap tak di tangkap, menyerahkan diri dan berkata “Bagaimana jika daerah masa lalumu memiliki keretakan di salah satu bagiannya.”

***
Ruhku meninggalkan “Aku Merah” dan mendekati “Aku Kuning” lalu mulutku menyemburkan kalimat “Tuntunlah aku kembali ke tempat asalku di lahirkan, di susu, di timang.”. Si “Aku Kuning.” Tersenyum dengan senyuman yang biasanya aku tampilkan ketika aku sedang senang. Ia menjawab perlahan. “Dengan senang hati.” Lalu kami terbang menyingkap langit menembus cakrawala langit-langit kota dan berubah menjadi kumpulan awan-awan di atas lautan di pulau Jawa arah ke Utara, yaitu tujuanku Pulau Kalimantan.

Kami menusuk angin-angin malam Kalimantan Selatan yang menyisakan bau-bau gaib dari hutan dan gunung-gemunungnya. Kami menuju kota tercinta di mana aku di lahirkan Martapura, di Kabupaten Banjar yang terkenal dengan berlian bernama Intan yang aku anggap adalah air mata dewa-dewa yang menjelma menjadi batu-batu mengkilap yang apabila orang awam melihatnya akan mendesah kagum karena indahnya.
Aku masuk ke dalam rumah. Memandang ibuku yang sedang tidur dan memasuki mimpinya. Ketika itu aku melihat ia sedang di hantui rasa cemas terhadap anak-anaknya yang sedang merantau dan menimba ilmu di pulau seberang. Yang ia pikirkan adalah aku dan kakakku. Dalam mimpinya aku berucap “Tenanglah ibuku tersayang. Ulun* dan Abang baik-baik saja. Ulun hanya sedang gusar tentang kesengsaraan yang menyelimuti negeri ini bak tangan hitam mencengkram dengan kerasnya.” Ibuku tersenyum. Lalu aku terbang keluar dari tempatku.

Dalam sekilas masa laluku muncul berbaur dengan kenyataan sekarang, lalu bergumpal dengan imajinasi yang aku ciptakaan. “Aku Kuning” Menyiratkan senyumnya lalu melangkah pergi menuntunku, aku mengikutinya seperti kaki Musa mengikuti langkah-langkah Khidir. “Aku akan membawamu ke tempat di mana dulu kamu tersenyum, tapi nanti lihatlah bagaimana reaksimu ketika tiba.” Kata “Aku Kuning.” Ia membawaku melewati Pasar terapung di Lok Baintan*. Apabila subuh menjelang para pedagang menyiapkan barang dangangan di atas klotok, mereka memakai caping atau ikat kepala serupa surban para wali. Hingga “Aku Kuning” membawaku melewati Rumah Banjar Gajah Manyusu* yang kaki-kakinya terbuat dari kayu galam yang terendam di dalam rawa, badannya megah berkepala panjang menyerupai kepala rumah-rumah di Toraja, ukirannya khas seperti ukiran di Eropa di kombinasikan dengan ala Persia, ia indah, tegas dan berwibawa seperti laki-laki berjas berpidato di kala perang. Lalu ia membawaku berbelok melintasi rumah nenekku di Pasayangan, aku membayangkan dahulu para nenek moyangku melakukan ritual bemandi-mandi* dan masih di lakukan hingga kini. Kami melewati makam Syekh Arsyad Al-Banjari* yang selalu di ramaikan peziarah dari ujung riam kiwa* hingga ujung riam kanan.

Berpapasan para petani pohon enau yang getahnya panas jika terkena kulit, para pemetik buah kasturi yang baunya seperti mangga di campur apel, para pencari gamal, dan kami melewati sungai yang di samping-sampingnya keramba-keramba ikan, pohon-pohon besar di pinggirannya kadang menjuntaikan akar-akar, kami melihat anak-anak bermandi keringat yang bercampur riak-riak air sungai. “Sebentar lagi kita sampai.” Kata “Aku Kuning. “Ke tempat masa lalumu.”

Semakin lama kami melewati, melintasi banyak hal. Semakin banyak pula pikiran-pikiran takut yang menggelayuti, tanpa sadar pikiran itu telah menisbikan segala hal yang indah tadi menjelma menjadi bayangan-bayangan kelam di masa lalu di daerah ini, anak-anak peminta-minta yang menangis tak di beri uang, orang-orang kampung yang cacat duduk di pinggiran jalan menadahkan tangan, atau para petani tua yang berjalan memegang selangkangan lantaran burut telah membesar, dan truk-truk besar pengangkut batu bara yang menimbulkan debu tebal dan akhirnya menimbulkan penyakit pernafasan. Pikiran itu telah merajai kepalaku menendang-nendang pikiran baik dalam diriku.

“Inilah tempatnya.” Kata “Aku Kuning” dengan tatapan mata sedih.

Aku melihat tanah berlubang sebesar lapangan sepakbola di mana-mana. Di utara ada, di timur banyak, di barat juga, di selatan apalagi. Lubang-lubang itu menyerupai danau mati namun bukan danau. “Mereka danau tapi bukan danau, mereka hidup tetapi tidak hidup, mereka berbicara tetapi bisu. Ini perlakuan orang-orang tak bermoral.” Si “Aku Kuning” berucap. Bau sulfur bercampur debu dan gersang bercampur jadi satu. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnnya walaupun air di tengahnya berwarna hijau, namun sebenarnya di dalamnnya mengandung racun yang mampu membunuh hewan-hewan ataupun tumbuhan dalam sekejap. “Mereka galian bekas batu bara yang di tinggalkan tanpa di lakukan reboisasi.”

Mataku menutup di depan danau, aku mendengar jeritannya, degup jantungnya alakadarnya, isak tangisnya dan rasa sakitnya. Ini adalah perlakukan orang-orang perusahaan yang tak bertanggung jawab dan masyarakat sekitar memiliki sebutan untuk itu “Orang-orang mengambil lalu pergi.”

Nelayan-nelayan malam melempar kail
Kembali sewaktu pagi
Orang tak bermoral sukanya mengambil
Sebentar lalu pergi

Sekilas masa laluku bersama anak-anak kecil sekampung muncul. Dari balik-balik pohon pedak kami saling mengumpat, kadang di waktu pagi mencari ubi, ada kalanya bermain balogo* permainan menggunakan batu yang di taruh di kaki lalu berjalan seolah-olah sambil menari, adapula bermain campah* batu yang disusun di terka oleh batu menggunakan sebilah bambu. Lalu semuanya buyar ketika truk pengeruk mengambil tanahnya, laki-laki bermandi peluh memotong pohonnya, dan pergi tanpa permisi.

Aku menangis melihat tempat masa laluku menjelma menjadi bagian dari kehancuran, bagian dari korban penistaan oleh orang-orang tambang batu bara. Ketika itu pula “Aku merah” tiba-tiba di sampingku berdiri dan berbisik suara parau dengan lembut. “Aku sudah tahu. Tuhan sedang Tidur.”

 ***

Dalam sekejap ruhku kembali berada di kursi di kamarku. “Aku Merah” Tersenyum bak Setan menangkap jiwa manusia. “Aku Kuning” diam tertunduk di antara buku-buku kuliah yang berserakan. “Aku putih” mendekatiku lalu ia memegang kepalaku.

Kesengsaraan, kepedihan, kesakitan, dan kegusaran perlahan menciut di pikiranku bersama hal-hal negatif lainnya. “Aku Putih” berucap “Jangan melihat hanya dari sudut pandang. Terimalah semua kebahagiaan yang aku berikan ini.” Perlahan-lahan aku tersenyum, merasa senang dan bahagia. Belum terpikir bahwa hal-hal lain di daerahku banyak yang indah dan juga baik. Tidak hanya penderitaan semata. Si “Aku Putih” memperlihatkanku hamparan tanah di samping danau-danau mati menjadi taman-taman yang indah, rumah-rumah penduduk pinggiran sungai yang menawan, tanah lapang yang di dirikan tonggak-tonggak masjid yang kubah-kubahnya memantulkan cahaya kebahagiaan di kala senja, para penjaja kopiah meneriakan jajaannya, para pengunjung masjid berhamburan di pinggiran sungai, para anak-anak remaja berbondong-bondong membawa kitab untuk belajar bersama ustadz pondok pesantren darussalam dan aku baru ingat semua keindahan ini telah tersembunyi di balik kesengsaraan hampir saja membuatku melupakan bahwa tempat aku lahir, di timang, dan belajar memiliki gelar istimewa Martapura adalah “Kota Santri” yang indah bukan kepalang.

***

Mataku terbuka, ruhku telah kembali, jiwaku telah pulih dari alam imajinasi yang panjang. Aku mengambil air wudhu, menyiapkan buku-buku untuk di bawa kuliah : Pengantar Hukum Indonesia, Pengantar Hukum Islam, Ilmu Negara dan lain-lain. Aku tersenyum kepada diriku sendiri. Aku masih ingat kata-kata terakhir dari “Aku Putih” di alam mimpi “Tuhan memang sedang tidur. Namun di dalam tidurnya ia bangun dan dalam bangunnya ia tidur. Ia selalu berada di sekitar kita. Sekali lagi aku tegaskan. Tuhan sedang tidur sekaligus bangun.”

Aku membuka pintu kamar kos. Menghirup udara dunia melangkah santai dan bahagia. Aku menirukan kalimat Aku Putih terakhir “Tuhan sedang tidur sekaligus bangun.***

Catatan-catatan
1.Ulun dalam bahasa Banjar berarti saya.
2.Pasar Terapung Lok baintan adalah pasar tradisional yang berjualan di kapal kayu oleh pedagang tradisional.
3.Gajah Manyusu adalah salah satu jenis rumah adat Banjar atau yang biasa di sebut rumah bubungan tinggi.
4.Bemandi-mandi adalah ritual adat banjar ketika menjelang pernikahan konon untuk penyucian
5.Syekh Arsyad Al-Banjari adalah tokoh Islam di daerah Banjar namanya juga menyebar di pulau-pulau lain seperti jawa, sulawesi, sumatera dan pulau lain.
6.Riam kiwa artinya bendungan sebelah hulu.
7.Permainan balogo adalah permainan tradisional anak-anak banjar.
8.Permanian campah termasuk permainan tradisinal anak-anak banjar.


Tahta Kurniawan
kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan. 10 Januari 1996 .Saat ini berkuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Hukum.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

Maksimalkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 16:44 wib

Australia Diserang Stroberi Berisi Jarum

Selasa, 18 September 2018 - 16:30 wib

Bupati Terima Dua Permendagri

Selasa, 18 September 2018 - 16:00 wib

Truk Laga Kambing, Pengemudi Tewas

Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Follow Us