Oleh: Marlina

Enkranisasi dan Serial Animasi

28 Juni 2015 - 10.10 WIB > Dibaca 1470 kali | Komentar
 
Enkranisasi dan Serial Animasi
Ekranisasi adalah istilah yang akhir-akhir ini semakin familiar dalam kajian sastra di Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis, écran ‘layar’. Sapardi Djoko Damono mendefinisikan ekranisasi sebagai alih wahana, yaitu pengalihan karya seni dari satu wahana ke wahana lain. Secara sederhana, enkranisasi dapat dikatakan sebagai pengadaptasian karya sastra (wahana tulis) ke dalam film (wahana audio-visual). Sedangkan Pamusuk Eneste mendefinisikannya sebagai pelayarputihan, pemindahan/pengangkatan sebuah novel (karya sastra) ke dalam film.

Sri Sabakti dalam tulisannya “Enkranisasi” (Riau Pos, 14 April 2013), menyebut bahwa dari sisi penikmat (pembaca/penonton), ekranisasi merupakan konkretisasi karya sastra (resepsi teks). Dalam hal ini, ekranisasi dapat disejajarkan dengan tanggapan pembaca (sutradara) atas karya sastra. Ekranisasi, dengan demikian, idealnya sangat bermanfaat untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra (dan film).

Fenomena ekranisasi tentu tidak lepas dari keterkenalan awal suatu karya. Novel yang sukses tidak jarang menjadi pijakan awal bagi lahirnya film yang sukses juga. Hal itu sering menjadi acuan lahirnya kesuksesan baru suatu bentuk pengalihan, baik dari novel ke film maupun sebaliknya. “Salah Asuhan”, “Rara Mendut”,  “Atheis”, “Si Doel Anak Betawi”, “Ketika Cinta Bertasbih”, “Laskar Pelangi”, dan lainnya adalah novel yang sukses diangkat ke layar lebar. Hampir pada umumnya karya yang di-ekranisasi-kan ditujukan untuk kalangan umum atau remaja. Lantas, mana karya sastra anak yang mampu diangkat ke layar tv.

Kini, yang ada adalah itu adalah anak-anak yang gemar terhadap serial kartun atau film animasi. Mungkin karena tampilan gambar yang menarik, alur cerita yang imajinatif dan ide cerita yang biasanya juga menarik bagi anak-anak. Sebenarnya, film animasi bisa digunakan sebagai salah satu media pengajaran bagi anak. Ini berguna untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif dan moral. Dari sudut pandang psikologi, film animasi dapat menambah perbendaharaan kosa kata anak, mempelajari hal-hal baru, dan meningkatkan rasa ingin tahu pada anak.

Sebut saja film animasi “Dora Explorer”. Dilihat dari segi isi, film animasi petualangan Dora ini memiliki nilai-nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan, seperti menyusun kata-kata, mempelajari kata benda dan kata sifat, mengenali benda, simbol-simbol pada penggunaan peta, mempelajari cara kerja suatu alat, penyelesaian teka-teki, dan sebagainya. Begitu juga dengan serial animasi “Upin dan Ipin”. Melalui film animasi ini, anak-anak diajarkan untuk memandang hidup secara sederhana dan senantiasa bersyukur. Selain itu juga mengajarkan ketegaran, kemandirian, kejujuran, saling menyanyangi, tenggang rasa, dan toleransi.

Sayangnya, film animasi atau serial kartun yang tayang di televisi, tidak semuanya bernilai edukatif dan mengandung pesan-pesan moral. Kajian KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) tahun 2009, ditemukan unsur kekerasan dalam program tayangan anak-anak. Berpedoman pada P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program siaran), unsur kekerasan pada program anak tersebut ditemukan dalam bentuk penayangan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak.

Sebut saja “Sinchan”. Sikap dan perilaku Sinchan tidak sesuai untuk anak seumuran Sinchan. Beberapa perilakunya menjurus pada pornografi. Kata-kata yang diucapkannya pun sering tidak sopan dan tidak santun. Begitu juga dengan serial animasi “Naruto”. Serial animasi ini selalu menampilkan adegan kekerasan melalui pertempuran yang berujung pada pembunuhan. Adu kekuatan dan permainan pedang merupakan hal yang lumrah di dalam serial ini. Setiap permasalahan selalu diselesaikan dengan pertempuran.

Tidak jauh berbeda dengan “Naruto”, serial animasi “Tom and Jerry” juga menampilkan adegan kekerasan, seperti pemukulan, penusukan, pembakaran, perusakan alat-alat rumah tangga, dan penyiksaan terhadap masing-masing tokoh. Meski diperankan oleh tokoh hewan, tetapi kekerasan yang terjadi di serial animasi ini bisa juga ditiru oleh anak-anak.

Sementara serial animasi “SpongeBob SquarePants” menurut beberapa penelitian juga bisa memberikan dampak negatif pada anak. Serial yang satu ini menampilkan tokoh Patrick yang bodoh, Mr. Krabs yang serakah, Squitward Tentacles yang sombong dan penggerutu. Semua itu dikemas dengan kata-kata yang kasar, yang tidak layak didengar oleh anak-anak.

Perlu diingat, anak-anak memang memiliki kecendrungan untuk meniru dan mencontoh apa-apa yang dilihat dan didengarnya. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mendampingi anaknya ketika anaknya menonton televisi. Orang tua bisa menjelaskan mana yang boleh ditiru dan dicontoh dan mana yang tidak boleh ditiru dan dicontoh. Sehingga serial animasi yang memang menjadi tontonan wajib anak-anak tidak memberikan dampak negatif kepada anak-anak.

Tentu, seiring perkembangan keilmuan, di antaranya teori sastra dan teknologi, yang memberikan jembatan dan pencerahan pada pemikiran kita, enkranisasi karya sastra anak adalah jawaban pas untuk persoalan ini. Tinggal bagaimana kita mengemas karya sastra anak (alih wahana) tersebut ke dalam bentuk film animasi yang bernilai posistif terhadap perilaku anak. Ingatlah bahwa pendidikan anak merupakan kewajiban orang tua. Allah SWT telah memerintahkan dalam Al-Quran;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,…..” (QS. At-Tahrim: 6)

Maka selayaknya bagi orang tua untuk bisa mendidik anak-anaknya dengan cara yang paling baik guna meraih kebahagian di dunia dan di akhirat, serta terhindar dari adzab-Nya. Amin.***


Marlina
Staf Teknis Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us