Sajak-sajak Andesta Herli

28 Juni 2015 - 10.12 WIB > Dibaca 1495 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Andesta Herli
Andesta Herli
Sebuah Pagi

Pagi merah dalam rabuku.
Matahari datang dengan percak canggung, dengan
angin-angin menebar rona mendung. Seribu kutilang
di dedahan lembab melengkingkan racau penuh kesumat.

Tapi aku mabuk dinihari. Ah...
Di manakah jantungku bermalam kini?

Dari celah terali, jelan setapak memutih, mengepulkan
jejak sepatu serombongan gadis remaja berangkat sekolah.
Seorang ibu membuka kran air di depan kedai lontong,
sambil bercerita seadanya dengan seorang lelaki tua yang
membuang batuk sembarangan di sela rimbun keladi tepi jalan.

Tapi tubuhku dirundung bebal:
serasa ia ringan, sesekali seolah membenam
ke sebalik lantai yang memeram sepasukan dingin.

Kudengar jam tujuh berdetak. Serupa ketok sepatu bocah lelaki
yang pemalu. Juga seperti derak tulang-tulang dalam tubuhku,
seolah semua meretak, berserak lantas hanyut di sepanjang kanal-
kanal darahhanyut, seperti lajunya kayu-kayu gelondongan
yang meruah ketika musim hujan. Sementara serbuk kopi yang
saban malam setia memungut pecahan cemas dari dadaku,
kini mengerak di poci, merupa raut wajah  perempuan tua
yang dadanya bertahun-tahun memeram kesumat.

O, hari terlampau lembab.
Tak ada kretek kali ini, sekadar pengepul hangat
di langit-langit loteng. Kecuali asbak dengan gundukan abu
yang tampak sesak (adakah hantu malam tertimbun di antaranya?).

Matahari merah dalam rabu.
Tapi tak ada yang retak di sini.

Jantungku, di malam manakah ia bertingkah kini?

(Padang, 2015)



Tapa Layar

Kami adalah layar yang dikuncupkan badai-badai.
Berbilang pergantian angin, mesti merawat lipatan-
lipatan di badan, sekadar agar tak rubuh dari tiang,
lantas kembali jadi kain tanpa siasat hari depan.

Sebab dalam kibar kami yang penuh tuah,
ada yang tak kunjung menguap, meski
beribu arah musim kami ringtangkan.
Sesuatu yang entah bernama luka,
kenangan, entah demam kanak-kanak yang
tak mau tenggelam.

(Kamilah benang. Kamilah kapas. Kamilah tanah.)

Namun siapa paham, untung badan membawa kami
ke tiang pancang, dan belajar siasat dari kesunyian
gelombang?

O, perkenankanlah kami kini menguncup, meredup
sejenak dari maut. Sebab bila hantu musim itu telah lesap
jauh ke dasar samudera, akan kau temukan kibar kami
yang merona dan penuh salam pengabdian

sebab menemu badan tak sampai kembali ke kubangan.

(Padang, 2015)



Wasiat Sebelum Mengutuk
: Malin

Seberapa jauh kau bisa membaca jejak,
jika bukan sebatas tanah masih menebar bercak?

Bayangkanlah selagi jantung keras berdetak,
dan kau mulai merasakan ada bagian yang terasa sesak.

Barangkali sengilu laju ombak menggulung dari arah
nun jauh, demi memecah di dingin karang.
Kelak kau akan paham, betapa tangan-tangan lain senantiasa
memalang getar kehendak, membentang di depan jalan setapak
yang tengah kau gasak.

Sungguh, siapa bisa membaca laut
hingga segenap tuah hikayat kau usut hingga genap?

Bahkan sebuah doa pun tak pernah benar-benar
menjadi doa, meski kau sampaikan dalam tapa-barata
seribu musim.

Sebab tingkah laut senantiasa berubah, Nak,
laju angin senantiasa beralih.
Bagaimana bisa mengatakan hendak melipat gelombang
sementara kau tak sekali pun yakin kapan ia berniat datang?

Kau pikirlah selagi angin musim masih bertapa nun di kejauhan,
Selama tanah setia mendendangkan kisah kematian para lanun.
Barangkali di antaranya kau paham garis antara yang rindu dan
yang dendam mengelabu.

(Padang, 2015)


Tibanya Petuah Lanun
-lelaki insomnia

Angin selatan.
Angin musim yang berkali-kali retak,
memeram kematian para lanun di amuk ombak.

Ia datang, menyusup di antara celah terali besi,
cepat dan menggebubu ke langit-langit. Merundungku,
seperti sepasukan tentara bersepatu berat mengepung
gudang senjata musuh dan menawan seorang tentara muda,
si penjaga yang sejak beberapa hari menjalani wajib-militer.

Oh, dingin yang teramat. Ribuan tombak angin menembus
pori, lesap di alir darah. Segala terasa mengelam, tubuhku
tenggelam dalam ruang asingpenuh gundukan salju.

Dalam itu, terhembus dendang.
Entah dari luar jendela, entah dari dalam dada:

Jauh, jauh laut telah dikayuh.
Jauh puncak maut telah tersentuh.
Seribu musim dan seribu gerak angin telah dipilin.
Badai, gelombang, hanyalah perayaan tengah malam
yang gaduh, namun memberi teduh di dalam dada.

O, mengapa tak sampai badan ke kebesaran doa-doa tetua
tak pernah jelas di jauh teluh dalam lambung akan
menemu tempat membenam hingga khatam dendamnya.
Meski lama layar tak henti terkembang,
sungguh tak ada tanah lapang sebagaimana dijanjikan
dalam hikayat para lanun.

Hingga tubuh habis dalam sansai gelombang..
Hingga detak jantung alpa dari gamit-gamit pulang.
Selamanya layar sekadar terkembang, bersama riwayat
yang bersetubuh untuk bersitegang dengan maut.

Tinggal papalah untung badan, abadi, tanpa hari depan.
Tiada hari kini, kecuali ingatan terus meratapi
siasat langkah di masa silam.

Angin menguar, menggesek canggung di batang-batang
bambu di halaman. Bunyi derak pintu memanjang
serupa rengek bocah. Dingin pun legam, serasa darah
merembesi nadi, lantas meruahi sesendi tulang.

Dalam itu, mataku tumbang
: insomnia luruh, entah terbang ke arah jauh.

(Padang, 2015)


Rumah Puisi

Rumahku, tulang-belulang puisi.
Yang setia jadi saksi sakitku.
Yang setia jadi saksi mabukku.
Yang setia merawat luka-luka
di sekujur tubuhku.

Bila malam kian turun, dan embun menguar
dari tebing bukit, rumahku menjelma masa silam.
Di dalamnya aku berlari sepanjang hari, kadang
bermain petak umpet.

Sesekali menggunduk batu-batu, lantas
menanggalkan sepatu dengan terburu
untuk menyerbu ke arah hujan,
sebelum akhirnya berpura
jadi kanak-kanak yang manis di peluk ibu.

(Padang, 2015)


Andesta Herli
lahir dan besar di nagari Tapan, Pesisir Selatan, 1994. Tercatat sebagai mahasiswa tahun kedua di jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang. Aktif dalam bidang sastra dan teater. Tulisannya berupa cerpen dan puisi, beberapa kali dimuat di media massa koran daerah, seperti Haluan, Singgalang dan Padang Ekspres.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Follow Us