Sajak-sajak Jefri al Malay

28 Juni 2015 - 10.14 WIB > Dibaca 3038 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Jefri al Malay
Jefri al Malay
Engkau Mengaji Malam di Dini Hari

Seberapa lekaskah engkau terbangun ketika malam mengayunkan igau. Padahal yang kau cekau berupa setitik bayang dari kenyataan yang bertekuk di pembaringanmu.

Sudah demikian lama tertidur agaknya. Dan malam ini, kau membasuh selimut dengan rentetan dongeng yang berbilas genangan yang sama dari air mata. Tepat, di dini hari, ketika sunyi telah mati.
Engkau pun melafaskan dengung-dengung. Padahal malam sudah berjarak.
Malam dengan sederetan langgam, kau lafazkan. Seketika angin mendesah, parau suaranya menyalakan gelora irama di setiap nandung yang kau semburkan. Sehingga banyak ucap yang harus menyungkur di hadapan waktu.

Dini hari, dengan tangis sunyi adalah ramalan, katamu. Nyaring suaramu menghimbau dendam atau ada sesal yang menyala-nyala, membakar hati, jiwa dan otakmu. Sehingga pada bait-bait akhir, justru tersembunyi erangan yang tak bisa ditafsirkan sebagai amanat peradaban.

Bandar Seteru, Mei 2015



Kampung

Jangan bertanya kau, di mana kampungku!  
Hanyirnya ada di sekujur tubuhku.  
Meski tak kau temukan berjela tanah milikku
Tapi cukuplah kau hidu amis melayu yang membuak
Di dada yang telah berjelaga sengkarut tuah.
Alahai, siapakah yang telah lari?  
Engkau atau aku yang bermimpi?
Menating sebongkah kepongahan.
Seolah-olah dialah tuhan!  
Lalu aku yang tidak lagi menetap di ceruknya
Yang telupa mengemas sembah  
Terlanjur mengusung khianat
Terpacak dari rimbun sejarah berabad-abad
Tak mungkin merangkakkan niat
Menyalakkan janji yang dulu terpatri.

Tapi di sini
Kita hendaknya mencari tempat berpimpin
Sebab jalan yang menelingkung semakin licin.

Bandar Seteru, Desember 2014



Tentang Bandar dan Prihal Rindu

Kadang di bandar ini, rindu menjadi deru...!
Sepatut-patut langkah agaknya menghias hilir dari rupa hulu.

Maka tak heran, semua mulai kutelan
Pacu ambisi sedari pagi sudah menyesak
Ianya menyemak, tak dapat dielak.
Lalu, akukah budak kampung yang harus pandai berlagak!

Seteru bertalu-talu dipukul siapakah agaknya?
Tindih menindih serupa cuap-cuap ucap yang tak selesai dieja
Kita pun jelma makhluk yang dikutuk untuk merutuk
Disini, tampaknya nafas berulam dendam
Lalu, akukah budak kampung yang kerap mengidam!

Di kebisingan ini, matlamat tidak sampai ke hajat
Tuju ke mana tuju tak berkait erat pada alamat
Singgah saja sebagaimana layaknya hendak
Hinggap saja sepertimana persisnya sigap
Lalu, akukah budak kampung yang rindu mengukir tapak?

Kadang pula, di bandar ini, deru menjadi sepi.
Semesti arah agaknya mengutip kenang agar tak membayang.

Sebingkai potret yang kugenggam
Adalah musim di mana kita menjahit rindu
Sambil menyapa hari dengan sebait ungkap
Aku bertelanjang dada menghadap sang surya
Merumuskan tusukan mendera mana lagi
Yang akan kusapa.

Disini barangkali tidak ada kecipak
Pun riak di permukaan basah tak kan pernah dapat dilacak
Apatah lagi gelak tawa dan ilai riang
Seperti yang pernah kau tampung sewaktu petang menjelang
Semuanya bagai kenang dipajang memanjang
Sepanjang usia di rerapuhan waktu
Aku, dan engkau pastilah sudah muak menduga-duga
Adakah rindu lebih perlu dalam sigau deru
Yang mendesing bagai peluru?

Mungkin kau bersangka telah lahir anakku di bandar.
Menyeduh sibuk yang kian berdebar
Tapi sesungguhnya, ada bekas telimpu berselimput
Di kampung yang memeram untung
Walau telah beberapa purnama tak kujejakkan sangsi
Tapi sadarku bahwa di sini
Kerap kali kakiku terpasak di kedalaman rela yang paling anyir.
Dan tanpa pula terduga, tenggelam aku
Ke dalam masygul yang paling bacin
Lantas aku mendecak-decak saja
Seperti engkau yang masih setia
Mengintai hujan di celah-celah tingkap.
Masih adakah kebasahan yang perlu kita tangkap?

Bandar Seteru, Mei 2015



Jefri al Malay
lahir di Sungai Pakning, 16 Oktober 1979. Alumni Akademi Kesenian Melayu Riau dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning ini kini adalah jurnalis dan dosen luar biasa di almamaternya. Buku puisinya Kemana Nak Melenggang (Yayasan Pusaka Riau, 2013), dan Timang-timang Nak Ditimang Sayang (Seligi Pres, 2014. Meraih Buku Pilihan Anugerah Sagang 2014). Pernah dinobatkan sebagai Johan Penyair Panggung se-Asia Tenggara dalam helat Tarung Penyair Panggung 2011, di Tanjung Pinang.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Inovasi Altrak 1978 di Mini Seminar Produk

Follow Us