Oleh: Muhammad Amin

Para Pejuang Umat

28 Juni 2015 - 10.52 WIB > Dibaca 1481 kali | Komentar
 
Para Pejuang Umat
Di masa lalu, sebelum era globalisasi ini, para pendakwah hidup dalam kesunyian dan keheningan. Mereka adalah para pejuang sepi yang muncul ke hadapan umat dengan semangat keislaman tinggi namun tanpa ingar bingar. Mereka bisa keras atau tegas di mimbar dakwah, tapi tak banyak cakap, tak mengumbar kisah di luar itu. Mereka menyelesaikan perkara-perkara umat di luar mimbar, tapi tak pernah “bising” setelahnya dengan penghargaan atau apresiasi. Mereka adalah orang-orang tawaduk yang memilih jalan sepi.

Era globalisasi mengubah peta para pendakwah. Kini, dengan hadirnya era pertelevisian, dakwah menjadi serba “glamour”. Dakwah tak lagi identik dengan para pejuang umat di jalan sunyi, yang datang ke kampung-kampung dengan sampan atau sepeda ontel itu. Para pendakwah di televisi adalah mereka yang sudah memiliki kemampuan broadcast dengan standar televisi juga. Maka yang populer di media dakwah jenis ini adalah mereka yang bisa menjadi pendakwah sekaligus “artis”.

Mengapa artis? Inilah fenomena baru saat ini. Para pendakwah di televisi era sekarang tak hanya menjadi pejuang sunyi yang menyibukkan dirinya dengan dakwah dan umat. Mereka juga kadang menyibukkan diri dengan diri mereka sendiri. Sebagian mereka mulai diekspos siapa calon istrinya, bagaimana ia akan menikah, apa pakaian pengantin yang akan dikenakan, apa maharnya, di mana akad dan walimahnya, siapa saja para tamunya. Lalu jika sudah punya anak, maka akan diekspos juga siapa nama anaknya, bagaimana acara aqiqahnya, dan lain sebagainya. Sangat artis, bukan?

Teknik dakwah dan broadcast memang tak jauh berbeda. Keduanya menuntut penyebaran informasi secara luas dan mudah diserap para audiensnya. Para pendakwah dituntut untuk bisa menyampaikan pesan agama seluas-luasnya agar umat paham dan mampu mengaplikasikannya. Teknik komunikasi brodcast pun pada umumnya seperti itu: membuat acara televisi diminati pemirsa dengan rating tinggi. Kalau perlu gunakan banyak cara bahkan segala cara untuk meningkatkan rating.

Titik pertemuan inilah yang dimanfaatkan para pengendali siaran televisi untuk mempertemukan dakwah dan broadcasting. Banyak para ulama yang menentang cara ini, karena dakwah kemudian memasuki area asing dan oleh karenanya bisa tersesat dalam labirin yang tak berujung. Tak sedikit para pendakwah di televisi yang kemudian lebih dikenal sebagai ikon selebritisnya di banding isi dakwahnya. Ini dibuktikan dengan lebih banyak kupasan kehidupan pribadinya ala artis daripada kupasan dakwahnya. Karya keartisannya lebih kuat dibanding karya dakwahnya.

Di sisi lain, tak sedikit juga yang membela, karena dakwah kadang perlu sentuhan popularitas. Umat yang awam perlu contoh dan model yang kadang justru didapat dari televisi. Jika televisi hanya berisi para artis model glamour dan seksi atau kontroversial, maka model kehidupan ala televisi hanya akan diisi manusia-manusia semacam itu dan umat akan teracuni dengannya. Televisi telah menjadi mode kehidupan dan model dari televisi akan dicontoh habis-habisan. Maka diperlukan model alternatif. Model alternatif itu muncul dari kehidupan pribadi, keluarga, dan gaya hidup para ustaz yang tampil di televisi. Tentu saja mereka yang tampil jadi model itu bukanlah ustaz sepuh dengan baju lusuh, ringkih, jenggotan, sorban melengser, banyak anak, dan sebagainya. Ustaz ala televisi yang jadi model itu haruslah memenuhi standar broadcast: muda, gagah, gaul, enerjik, pandai bertutur kata, punya keluarga kecil, klimis, dan memiliki pakaian yang simpel dan tren islami.

Jalan dakwah memang beragam dan makin kompleks. Mereka yang muncul di televisi mungkin punya argumennya sendiri untuk terus berdakwah dengan cara dan teknik keartisannya. Tak sepenuhnya keliru walaupun banyak pertanyaan yang menggantung di sana. Di sisi lain, tak sedikit juga para pejuang umat yang berjuang ke kampung-kampung dengan sampan dan sepeda ontel. Merekalah para pejuang dan pendakwah sesungguhnya. Merekalah pendakwah yang ikhlas, tanpa pamrih dan tak memikirkan popularitas. Kepada merekalah perhatian dan apresiasi umat seharusnya tertuju. Mereka adalah ujung tombak dakwah sebenarnya. Sebab, tanpa mereka, kaum pinggiran di ceruk negeri mungkin tak mengenal ajaran agama yang sebenarnya.***


MUHAMMAD AMIN
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 09:00 wib

Alat Rekam KTP-el Banyak yang Rusak

Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Follow Us