Oleh: Gde Agung Lontar

Filosofi Tenas Effendy dalam Kearifan Pemikiran Melayu

5 Juli 2015 - 09.11 WIB > Dibaca 5184 kali | Komentar
 
Das andenkende denken.1)

Kepergian Tenas Effendy (TE) seperti telah menimbulkan lubang besar dalam rangkaian mosaik kebudayaan Melayu. Mosaik yang telah turut dilukisnya, melalui pemikiran yang muncul dari hasil perenungan dan pembacaan serta pengamatan sepanjang hayat. Salah satu keping mosaik itu berbentuk buku berjudul Kearifan Pemikiran Melayu (KPM), terbitan DisBudPar Provinsi Riau, 2013 (cet. ke-3), ISBN 978-602-17380-0-9.

TE di dalam bukunya itu mengklaim bahwa kebudayaan Melayu pada dasarnya telah menggalakkan orang untuk berpikir, dengan menggunakan akal dan hati nuraninya secara cermat (KPM: 30). Ungkapan Melayu semacam “berpikir adalah pelita hati” banyak sekali untuk mendukung pendapat ini. Di KPM saja TE setidak-tidaknya mencatat ada 22 ungkapan yang berhubungan langsung dengan kata pikir. Kebiasaan dan kebisaan inilah yang menurut beliau menjadi latar bagi kearifan berpikir orang Melayu, yang merupakan kegiatan utama dalam filsafat.

Kearifan Pemikiran Melayu
KPM sendiri mungkin bukanlah sebuah buku filsafat, tetapi jelaslah ia setidak-tidaknya merupakan sebuah buku etika. Buku yang berisi ulasan tentang hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral, dan hal-hal yang berkaitan dengan tingkah-laku dan interaksi kemanusiaan lainnya. Dengan demikian KPM sebenarnya juga dapat disebut sebagai sebuah buku filsafat, karena secara tradisional etika termasuk bagian dari filsafat (selain estetika, logika, metafisika, dll). Meski demikian buku ini tidak semata-mata berisikan persoalan etika, namun juga secara cukup menonjol masih memuat persoalan-persoalan yang berkaitan dengan politik, ekonomi, dan metafisika.

Sebagai peradaban yang berlandaskan kemaritiman, puak Melayu juga dikenal memiliki sifat yang terbuka, lentur, egaliter, namun juga elegan. Ini timbul barangkali oleh karena interaksi yang begitu intens dengan orang-orang asing, di masa zaman kapal layar dahulu – sebagaimana juga dapat kita temukan pada beberapa peradaban pesisir lainnya. Oleh karena itulah, menurut TE dengan keterbukaan budayanya itu, orang-orang Melayu secara arif dan bijak menyerap pula unsur-unsur budaya luar yang dianggap sesuai dan serasi dengan nilai-nilai asas kebudayaannya (tentu dengan tujuan untuk memperkuat dan/atau memperkaya kebudayaannya sendiri – gal), namun juga menolak masuknya unsur-unsur yang buruk dan merusak (KPM: 5).

Lanjut beliau pula: “Dalam proses yang panjang, kebudayaan Melayu yang berlatar belakang beragam budaya di dunia ini, ‘diluruskan’ dan ‘dibersihkan’ serta ‘diayak’ dan ‘ditapis’ oleh ajaran Islam, sehingga wujudlah kebudayaan Melayu yang islami. Kebudayaan inilah yang menjadi “jati diri” kemelayuan, terutama adat istiadatnya, ....” (KPM: 6). Masih di tempat yang sama, klaim beliau lagi: “Perpaduan budaya dengan nilai Islam, melahirkan orang Melayu yang memiliki budi bahasa yang mulia, budi pekerti yang terpuji, akal budi yang tinggi, ....”. Dengan demikian ini menunjukkan bahwa sejak agama Islam diimani oleh orang-orang Melayu di [setidak-tidaknya] kawasan Asia Tenggara, maka agama Islam telah menjadi salah satu penentu “kejatidirian” puak Melayu.2)

Ada 7 bab yang mengisi buku setebal 344 halaman ini, dengan 5 bab utama seluruhnya berisi pemikiran Melayu tentang topik tertentu; yang sebagian besar dalam lingkup etika. Dengan demikian KPM barangkali dapat juga disebut sebagai buku Etika Melayu.

Setelah Bab I Pengenalan, Bab II berisi Pemikiran Melayu tentang Pendidikan Keluarga. Ini adalah bab terpanjang dalam buku ini; agaknya secara kuantitatif ingin menunjukkan betapa pentingnya isi bab ini. Di banyak puak atau kebudayaan, persoalan keluarga dan kekerabatan selalu menjadi hal yang paling penting. Demikian juga dengan orang Melayu. Dalam hal anak, TE menyebutkan bahwa: “Orang Melayu meyakini bahawa setiap anak hakikatnya dapat menjadi ‘orang’ karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Kuncinya tergantung kepada sikap dan perilaku serta tanggung jawab orang tuanya. Sepanjang orang tua berusaha ‘membela pelihara’ anaknya, memberikan ‘tunjuk ajar’ yang baik, akan baiklah anak itu. Tetapi apabila anak itu diabaikan, terlantar dan tidak ‘dibela pelihara’ secara wajar pastilah anak itu tidak akan menjadi ‘orang’.” (KPM : 34-35).3)

Selanjutnya di dalam bab ini secara panjang-lebar TE menguraikan pandangan dan tradisi orang Melayu dalam hal keluarga dan bangsanya, diiringi dengan ratusan ungkapan yang berhubungan dengan hal tersebut. TE menyebutkan tentang “Hutang orangtua kepada anaknya”, yaitu tentang kewajiban orangtua kepada anaknya. Lalu tentang “Sikap orangtua terhadap anaknya”, yaitu tentang sikap-sikap terpuji yang harus ditampilkan orangtua terhadap anaknya, agar anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya dalam “Upaya menanamkan nilai-nilai luhur” ada yang dilakukan sebelum kelahiran ataupun sesudahnya. TE menguraikan bahwa ada berjumlah 25 “Nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan kepada anak” yang lazim disebut sebagai Sifat Duapuluh Lima atau Pakaian yang Duapuluh Lima, yang kelak akan menjadi dasar bagi ciri-ciri watak dan jati-diri orang Melayu. Di samping sifat-sifat terpuji itu, ada juga sifat-sifat atau perilaku buruk atau merusak yang harus dipantangkan pada anak yang jumlahnya juga 25.

Bab III berisi Pemikiran tentang Jatidiri Melayu. Orang Melayu adalah penganut Islam dan kebudayaannya adalah budaya Melayu yang Islami, sehingga orang Melayu bersikap terbuka, santun dan bertimbang rasa, bersangka baik dan rendah hati, lapang dada dan menjauhkan silang sengketa. Oleh karena orang Melayu bersifat terbuka, tak jarang terjadi perbauran berbilang suku, kaum, dan puak yang kemudian memberi pengaruh terhadap kebudayaan Melayu. Akhirnya, kebudayaan Melayu tumbuh dan berkembang menjadi kebudayaan yang majemuk pula, yang sarat dengan keberagaman nilai.

TE menjelaskan bahwa jatidiri yang dimaksudnya dalam buku itu adalah tentang nilai-nilai asas yang menjadi acuan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup, dan landasan hidup orang Melayu yang akan tercermin dalam tindak-tanduk sehari-hari. Teraju nilai asas jatidiri Melayu adalah Islam. Kemelayuan seseorang tidak lagi sepenuhnya mengacu kepada tali-darah, suku dan puak, tetapi juga merujuk kepada nilai yang dianutnya.

Bab IV berisi Pemikiran Melayu tentang Kepemimpinan. Di sini sebagian besar adalah persoalan etika politik, yang di masa-masa ini secara memprihatinkan nyaris di(ter)abaikan sama sekali oleh para pemimpin dan politisi kita. Dalam budaya Melayu, untuk menegakkan tuah dan marwah serta harkat dan martabatnya seorang pemimpin dituntut untuk memiliki kepribadian terpuji, yang lazim disebut sebagai “pakaian diri” atau “pakaian batin”; juga paham dengan kedudukan, fungsi, dan tanggungjawabnya. TE selanjutnya juga menguraikan keutamaan-keutamaan yang harus dimiliki seorang pemimpin dan pantang-larangnya.

Bagi orang Melayu dalam hal kepemimpinan “raja berdaulat bersama rakyat, raja bertuah memegang amanah, raja terpuji kerana berbudi, raja termasyhur tiada tekebur, raja terpandang hatinya lapang.” (KPM: 163). Oleh karena itu “ketaatan Orang Melayu bukanlah ketaatan yang ‘membabi buta’, tetapi adalah ketaatan yang mengacu kepada kebenaran yang hakiki, sesuai dengan adat dan budaya serta agama yang dianutnya.” (KPM: 165).

Bab V berisi Pemikiran Melayu tentang Ekonomi. Menurut TE orang Melayu dalam melaksanakan kegiatan ekonomi menurutkan pada “alur dan patutnya”, memiliki tenggang rasa yang tinggi, serta tidak menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh agama Islam. Kegiatan ekonomi Melayu intinya menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kahidupan akhirat. Dengan landasan ini dapat ditumbuhkan kehidupan perekonomian yang sehat, adil dan merata, serta tetap memelihara sumber-sumber alam yang ada.

Bab VI berisi Pemikiran Melayu tentang Pemukiman dan Lingkungan Alam Sekitar. Ada banyak sekali ungkapan yang berkaitan dengan hal ini yang dapat menggambarkan sesungguhnya betapa dekatnya masyarakat Melayu dengan alam dan lingkungannya. Menurut orang Melayu: “Yang disebut adat di kampung, adat dijaga lembaga dijunjung, rumah beratur dusun dikungkung, halaman luas ladang bersambung, suak dan sungai sama dilindung, hutan dipelihara hidup bersambung, di sana tempat anak-cucu berlindung.” (KPM: 231).

Kawasan hutan atau rimba belantara adalah salah satu yang mendapatkan perhatian paling penting dalam budaya Melayu, karena hutan memiliki fungsi yang begitu beragam. Karena itu ada banyak sekali ungkapan yang berhubungan dengan hutan atau rimba belantara ini, seperti: “apabila hidup tak berhutan tanah, ke laut menjadi lumut, ke darat menjadi ulat”, atau “apabila hutan sudah meranggas, adat lembaga ada yang lepas”, atau “selagi ada hutan tanah, hidup tak kan berkeluh kesah”; yang dapat menggambarkan bagaimana relasi dan perlakuan orang Melayu terhadap hutan-tanah. Namun di dalam bab ini juga TE menyampaikan keprihatinannya akan perkembangan terkini bagaimana orang-orang memperlakukan hutan-tanah kawasan [puak] Melayu [Riau] terkini, sudah begitu meruyaknya perkebunan kelapa sawit dan hutan-industri akasia, persoalan pembalakan liar, dan terutama ketakberdayaan masyarakat Melayu [Riau] melihat kawasan hutan-tanahnya dijarah secara semena-mena itu.

***

Mengenai kemampuan daya pikir orang Melayu ini, tulis TE pula: “Kesedaran ini menyebabkan mereka menjadi orang yang ‘tahu diri’, ... yang menumbuhkan dan mengembangkan pola fikir yang berwawasan luas, ... yang mampu merumuskan rancangan yang bernas, yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi mahupun kehidupan berumahtangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kesedaran ini pula yang menyebabkan lambat laun orang-orang Melayu memiliki pengalaman yang luas, yang menempa dan mencanai mereka menjadi orang-orang yang arif, bijaksana dan piawai dalam berfikir.” (KPM: 2). Ini menurut beliau erat kaitannya dengan wawasan berfikir orang Melayu yang luas dan menyeluruh, yang tidak hanya sekadar memikirkan hidup di dunia ini saja, tetapi juga kehidupan di akhirat; yang tidak sekadar memikirkan diri sendiri belaka, tetapi juga memikirkan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta alam sekitarnya; sehingga menyebabkan mereka mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk Allah yang dijadikan “khalifah” di muka bumi ini (KPM: 28).

Klaim seperti ini bila dibawa ke gelanggang yang lebih luas bisa saja menimbulkan sanggahan, perdebatan, atau setidak-tidaknya pertanyaan. Tetapi sementara ini kita tidak akan membahas hal ini.

Selamat Jalan, Tengku
Demikianlah, dengan membicarakan Kearifan Pemikiran Melayu Tenas Effendi dalam konteks filsafat/etika ini, Penulis berharap kita dapat menemukan benang merah yang tebal dengan keadaan Melayu [Riau] terkini. Mungkin pembicaraan bernada filsafat terasa mengawang-awang, mungkin juga mimpi, khayal. Mungkin segala ungkapan, tunjuk-ajar, dan peribahasa hanya sebagai pemanis dan pematut belaka. Tetapi sebagaimana “Jarwo quote” ia tetap dinanti, karena filsafat memuat landasan dan sistematika kebudayaan suatu bangsa, yang pada akhirnya akan memberi pengaruh pada pengalaman dan perilaku hidup penyandang kebudayaan itu. Ia juga mungkin timbul dalam bentuk mitos, tradisi, atau pun ilmu pengetahuan.

Ya, filsafat itu memang menakjubkan, secara harafiah penuh keheranan, atau bahkan membingungkan. Boleh jadi ia juga merupakan sebuah kemewahan, namun kemewahan yang sebenarnya dapat dihasilkan oleh setiap orang. Sebenarnya, ia bahkan sangat dibutuhkan pada masa-masa keraguan, kesulitan, dan kekalutan (Solomon et al, 2002: 604).

Selamat jalan, Tengku.

“Maka entahlah apa datang seorang perenung lain ataupun tidak.”4)***


Payungsekaki, 020515.


CATATAN:
1)“Pemikiran yang memperhatikan” (dari Martin Heidegger dalam K Bertens, 1981: 154).
2)Dalam pandangan yang lebih ketat lagi, bahkan ada yang “mengabaikan” – atau sekurang-kurangnya tidak mementingkan – faktor genealogi/keturunan. Meski Anda berdarah Melayu, Anda bukan Melayu kalau tidak beragama Islam dan tidak menjalankan adat-istiadat Melayu; atau sebaliknya.
3)Ada cukup banyak kesalahan suntingan maupun tipografis, termasuk buku ini nampaknya masih menggunakan ejaan/dialek bahasa Malaysia (ini mungkin ada hubungannya dengan TE pernah menjadi pengajar di sana) yang dapat saja membuat makna suatu kalimat menjadi berbeda sama sekali dalam pembacaan bahasa Indonesia.
4) Penggalan syair Iqbal yang diucapkannya setengah jam sebelum wafat (Iqbal. Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam. Alih bahasa: Osman Raliby. Jakarta: Bulan Bintang, 1978, h: 18).
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Follow Us