Oleh: Arman AZ

Masjid di Kotamu

5 Juli 2015 - 09.14 WIB > Dibaca 919 kali | Komentar
 
Dalam bis yang membawamu pulang, ketika kelokan demi kelokan telah terlewati, kau lempar pandang ke luar jendela. Di luar sana, lebaran masih terasa hangat, sehangat kepala lelaki tambun di sebelah kirimu. Saking pulas dia tidur hingga tak menyadari kepalanya sejak tadi bersandar di pundakmu.

Usai sudah kau mudik di kota kecilmu yang terletak di pinggang bukit. Telah kau sambangi tetangga dan sanak famili. Telah kau minta maaf selapang hati pada mereka semua. Telah kau ziarahi makam ibumu, juga kakek nenekmu. Tunai sudah rindu dendam. Kini kau dalam perjalanan kembali ke pulau seberang. Membaur dalam gelombang manusia. Begitulah, berdesakan dalam bis dan kapal laut sudah jadi ritual tahunan buatmu.

Kau dan mereka, setelah merayakan lebaran di kampung masing-masing, harus pulang ke tempat kalian banting tulang peras peluh mencari nafkah. Telah tipis isi kantongmu dibagikan pada kemenakan dan gerombolan bocah. Hanya kau dan Tuhan yang tahu berapa sisa uang dalam dompetmu kini.

Lelaki yang duduk di sebelah kirimu batuk-batuk dan terjaga dari tidurnya. Tak ada kata maaf atau terima kasih darinya setelah menyandarkan kepala di pundakmu. Untunglah lobang-lobang jalan yang rusak parah dan tak kunjung diperbaiki, membantumu membangunkan lelaki itu.

Pikiranmu menembus jendela bis. Kau ingat lagi suasana lebaran kemarin. Setiap mudik kau selalu menyaksikan perubahan demi perubahan, dari yang sepele sampai yang besar, sekitar kampung dan rumahmu. Beberapa tahun belakangan, perasaan itu kian menghantuimu. Perasaan kehilangan sesuatu yang membahagiakan, sesuatu yang pernah kau miliki pada suatu masa yang telah kau tinggalkans. Barangkali suasana lebaran saat kau masih bocah.

Terakhir kemarin, kau terkanjat  menyaksikan kotamu yang kian ganjen. Suara takbir timbul tenggelam dikalahkan deru motor di jalanan. Mereka remaja-remaja tanggung dalam kelompok-kelompok kecil. Juga dentum mercon dan kembang api dari berbagai penjuru macam menyambut tahun baru. Yang tak keluar rumah, khusuk dengan ponselnya, menyebar ucapan selamat lebaran kepada sekian nama yang tersimpan dalam benda mungil itu. Tak kau temukan lagi iring-iringan remaja dan bocah mengumandangkan takbir keliling kampung. Tak ada tetangga yang saling bertukar hasil masakan. Mayoritas mereka membeli kue-kue yang telah dipajang di toko dan supermarket.

Melintasi sebuah masjid di tepi jalan, seketika tergambar dibenakmu Al Masyhoer, masjid yang selalu kau singgahi sejak kecil. Letaknya hanya beberapa puluh langkah dari rumahmu, namun kau masih harus menyeberangi dua ruas jalan raya untuk sampai ke sana. Dari depan rumahmu, kubah masjid itu terlihat dibalik rimbun pohon peneduh jalan.

Sejak beranjak dewasa, setiap sholat Ied kau selalu berangkat ke masjid itu sebelum pukul enam pagi. Alasanmu sederhana saja; tak ingin kebingungan mencari ruang untuk duduk bersila. Dengan datang lebih awal, kau bisa memilih tempat yang kau kehendaki. Kau hayati nian jalan kaki seorang diri di pagi sejuk tenang itu, ditemani takbir yang bersahutan sayup-sayup sampai dari berbagai penjuru mata angin. Nampak olehmu satu doa orang berjalan kaki. Muara langkahmu dan mereka sama: masjid Al Masyhoer.  

Tempat yang selalu kau pilih adalah sisi kiri dekat jendela, antara bagian tengah hingga belakang. Jika kebetulan tempat itu telah diduduki orang lain, kau akan duduk paling belakang. Menyandarkan punggung di tembok dekat lemari tempat menyimpan peralatan sound system sederhana, setumpuk Quran, lusinan Yassin, dan berkas-berkas penting milik masjid.

Sejak kecil kau terbiasa sholat di masjid itu. Sholat jumat, sholat Ied, saat Idul Adha, dan sering juga sholat maghrib. Masih terekam dalam ingatanmu bagaimana bentuk masjid itu. Kau jadi tahu apa saja yang berubah di sana. Begitu juga kemarin. Tampak luar masjid itu makin mewah. Teras depan yang dahulu hanya semen kasar dialasi tikar atau karpet, kini telah berlantai keramik. Memasuki masjid, sajadah beludru telah berganti warna dan corak. Kipas angin telah bertambah. Tempat imam pun telah dikeramik dan mimbar tempat khotib terbuat dari kayu yang diukir indah.

Mujur nian nasib masjid ini, pikirmu. Banyak rezekinya hingga bisa memoles penampilan. Tapi kau nyengir kuda teringat sesuatu. Setiap keluar kota kau sering memergoki para peminta sumbangan pembangunan masjid. Mereka berdiri di tengah jalan, menjulurkan jaring atau kaleng, mengharap bantuan seikhlasnya dari kendaraan yang lewat. Ah, di negara yang mayoritas penduduknya muslim, hal macam itu masih terjadi, pikirmu.

Ponsel di saku kanan celanamu bergetar. Kau mencomotnya. Seorang famili menanyakan kau sudah sampai mana dan berpesan agar hati-hati di jalan. Kau enggan membalas. Kau matikan ponselmu, menyimpannya kembali ke saku celana.

Malam takbiran kau ngobrol dengan bapakmu. Dialah yang pertama kali membawamu sholat ke masjid itu. Lelaki yang usianya hampir tujuhpuluh tahun dan pendengarannya mulai berkurang itu menasehatimu seolah kau masih kecil. Katanya, mudik itu perlu untuk mengingat asalmu, tempat kau lahir dan dibesarkan. Kau tak menyanggah bapakmu. Namun usai dia bicara, kau menambahkan dengan isi pikiranmu sendiri. Buatmu, mudik bukan soal mengingat silsilah semata, bukan soal kembali ke akar belaka.

Kau beberkan pada bapakmu; jika di kota ini ada pekerjaan dengan gaji layak atau setara dengan gaji di tempatmu bekerja saat ini, kau pasti memilih pulang dan kerja di kotamu saja. Kau mengakui mudik beberapa tahun belakangan ini telah menjelma jadi semacam ketakutan buatmu. Keluarga dan sanak famili menganggap kau sukses di rantau dan lebaran pulang bawa uang banyak.

Ada wajah-wajah yang acap kau temui setiap sholat Ied di masjid itu. Wajah-wajah yang hingga kini terpatri ingatanmu. Lelaki tua berbadan gempal yang selalu duduk di pojok kiri saf paling depan. Selain masih famili jauh, ia termasuk sesepuh di kampungmu. Semua jemaah seakan mahfum bahwa pojok kiri depan itu telah jadi miliknya. Memakai peci putih, berwajah keras, lantang mengucap salam saat memasuki masjid, lalu menyalami satu per satu jamaah. Dia pemotong hewan kurban andalan di kampungmu. Jika ada tetangga hajatan, dia yang selalu dijadikan tempat bertanya, menyelesaikan silang pemikiran. Jika ada warga yang meninggal, dia yang mengurus adab memandikan jenazah, mengkafani, hingga mengantar ke pemakaman. Namun sholat Ied kemarin, tak kau temui sosoknya di tempat itu. Kau tak tahu apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Diam-diam kau merasa kehilangan.

Dua pengurus masjid itu masih orang yang lama. Kau kenal dengan mereka. Yang satu gemuk hitam. Melihat gerak tubuh dan tangan kanannya yang kaku, kau menerka dia pernah tersengat stroke. Yang lain kurus berkacamata dan kepalanya telah penuh uban.

Ada mantan penjudi dan pemabok yang tak pernah absen saat sholat Ied. Jika bersalaman dia selalu meringis, merahasiakan deretan gusinya yang menghitam tanpa gigi. Ada bapak tua yang jalannya sudah tertatih dan gemetar. Mengingatkanmu pada iklan susu penguat tulang. Hampir semua berbaju koko dan kain sarung baru. Ada yang datang membawa sajadah dari rumah, tersampir di bahunya, seolah meragukan kebersihan sajadah yang disiapkan masjid. Banyak juga wajah-wajah asing yang kau lihat. Mungkin warga baru di kampungmu, menikah dengan perempuan kampungmu, sanak famili tetangga yang berlebaran di kampung ini, atau anak-anak yang telah beranjak dewasa.

Lebaran kemarin kau beruntung bisa duduk di tempat yang sama dengan tahun lalu. Kau datang ketika masjid masih lengang. Baru ada sekitar sepuluh orang. Jendela kaca nako di kirimu terbuka lebar, mengantar angin segar ke dalam masjid. Sebelum duduk, lewat jendela itu, kau sempat memperhatikan sepetak tanah di samping kiri masjid sudah raib, berganti tembok tinggi rumah warga. Hanya dibatasi gang sempit. Kau ingat dulu, saat Idul Adha, tanah kosong itulah tempat menyembelih hewan kurban. Beberapa kali kau saksikan keceriaan warga saat pemotongan dan pembagian daging gratis itu. Sepetah tanah itu juga pernah juga dijadikan tempat pemungutan suara sekian tahun silam. Menengok lebih jauh ke kiri belakang, kau pergoki pantat ruko tiga tingkat. Kabarnya usai lebaran akan dibuka sebuah minimarket.

Ketika takbir masih berkumandang dan jamaah mulai berdatangan, kau menghela nafas haru. Zaman telah merubah banyak hal di sekitar masjid ini. Tak bisa kau lupakan kejadian beberapa tahun silam. Ketika masjid belum sesak oleh jemaah sholat Ied, kau menengok ke arah pohon jambu di tanah kosong itu. Di matamu, daun-daunnya seperti merunduk dan tak bergerak sama sekali. Kau tercekat beberapa lama. Seolah ada yang merembes sejuk dalam dadamu, membayangkan daun-daun itu turut serta mengumandangkan takbir.

Sejak kau kecil, masjid itu selalu penuh jika shalat Ied. Jemaah luber hingga tepi jalan. Dulu setiap sujud, pecimu acap menyentuh telapak kaki orang tepat di depanmu. Usai sholat Ied kemarin, kau menoleh ke belakang. Dua shaf terakhir telah hampa. Ada yang buru-buru pulang usai sholat. Tak mau mendengar khotbah. Ada yang terkantuk-kantuk menyimak kotbah yang temanya itu melulu setiap lebaran.

Kau hanya bisa bertanya pada dirimu sendiri; apakah kota ini telah meninggalkanmu sebagaimana kau telah sekian lama meninggalkan kota ini?

Bis yang membawamu pergi (atau pulang?) ke pulau seberang terus melaju bagai diburu waktu. Ketika kelokan demi kelokan telah terlewati dan jalan rusak parah yang entah kapan diperbaiki, untuk kesekian kalinya kau menghela nafas panjang.

Telah jauh kau tinggalkan kota kelahiran. Kian dekat jarakmu ke tempat menyabung hidup. Pandanganmu hampa ke luar jendela bis. Matamu berkaca-kaca. Batinmu disesaki haru. Ada yang merintih lirih di dalamnya. Kau tak tahu, apakah tahun depan bisa kembali menunaikan sholat Ied di masjid itu.***

Bandar Lampung, Agustus 2012



Arman AZ
lahir    : Telukbetung, 30 Mei 1977 adalah sastrawan Lampung yang aktif menulis. Karya-karyanya terbit diberbagai media massa di Indonesia.Buku kumpulan cerita anak Payung Warna-Warni (DAR! Mizan, Juli 2003), Senjata Makan Tuan (Beranda Hikmah, Oktober 2004), Dena dan Bidadari (Beranda Hikmah, 2005). Kumpulan cerpen tunggal Embun di Ujung Daun (Logung Pustaka, Februari 2005) dan Sekuntum Mawar di Depan Pintu (Lingkar Pena Publishing House, Mei 2005).Novel anak Loper Koran Cilik (Gema Insani Press, 2006), dan Nominasi 30 besar Lomba Cerpen Dinas Pendidikan Nasional, CWI, KSI, Oktober 2003, nominasi 5 besar Sayembara Penulisan Cerpen Lampung Post, Agustus 2004.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us