Oleh: Musa Ismail

Senandung Amanah (Amarah) Melayu untuk Masa Depan

5 Juli 2015 - 09.15 WIB > Dibaca 1684 kali | Komentar
 
Senandung Amanah (Amarah) Melayu untuk Masa Depan
Musa Ismail
“Timang-Timang Nak Ditimang Sayang”

Ini esai kedua saya untuk buku kumpulan puisi kedua karya Jefry Al Malay. Esai pertama yang saya tulis bertajuk “Ke Mana Nak Melenggang”: Menandai Melayu dengan dialektika naratif. Dialektika naratif inilah yang menjadi kekhasan penyair ini. Kekhasan itu masih berlanjut ke kumpulan puisi keduanya, “Timang-Timang Nak Ditimang Sayang” (TtNDS-Seligi Press, 2014) yang terpilih sebagai Buku Pilihan Sagang 2014.

Sama halnya dengan judul kumpulan puisi pertama, kumpulan puisi kedua ini juga menggunakan judul yang sangat Melayu. Diksi timang, nak, dan sayang merupakan diksi yang sangat kuat dengan kebiasaan masyarakat Melayu, terutama dalam menumbuhkan kasih sayang kepada keturunan. Diksi timang/menimang merupakan suatu aksi memegang anak dalam budaya Melayu sambil mengayun-ayunkannya dengan berbagai pujian sebagai motivasi dalam menjalani kehidupan. Timang/menimang juga bisa ditafsirkan  melindungi generasi dari berbagai gangguan. Diksi Nak dalam bahasa Melayu dapat diartikan sebagai anak  dan hendak/keinginan. Dalam peradaban Melayu yang ranggi, anak merupakan sumber rezeki. Ini sebenarnya suatu pesan religius yang bernas bahwa anak adalah amanah dari Allah Taala yang semestinya mendapat kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan. Ungkapan banyak anak, banyak rezeki merupakan keyakinan dari janji Ilahi bahwa semua makhluk pasti akan memperoleh rezeki. Diksi sayang berarti cinta, kasih, suka, suatu perasaan menyukai terhadap orang/benda/zat. Jadi, penjelmaan yang muncul dari interpretasi judul puisi penyair asal Kecamatan Bukitbatu, Bengkalis ini, yaitu menimbang-nimbang kembali suatu tradisi agung Melayu dalam hal menyagang, menyangga, memotivasi kehidupan seseorang/generasi sambil menanamkan nilai-nilai religius (ke-Melayu-an).

Puisi-puisi Jefri Al Malay merupakan bentuk puisi yang sangat unik. Keunikan puisi-puisinya ini bisa disamakan dengan karya-karya puisi Sobirin Zaini. Perbedaan utamanya, yaitu diksi Melayu yang sangat kuat terkesan di dalam karya-karya penyair ini. Diksi-diksi yang dimainkannya terkadang seperti melompat-lompat di antara larik dan bait. Karena itu, pembaca perlu upaya yang kuat untuk memahami dan menginterpretasi sebanyak 24 puisi dalam antologi ini. Namun demikian, amanat penting dapat kita tangkap dalam puisi bertajuk Timang-timang Nak Ditimang Sayang. Karena amanat yang ranggi dan nilai estetika-budaya Melayu dalam puisi inilah, menurut saya, tepat sekali penyair menempatkan puisi ini sebagai tajuk utama di buku kumpulan puisi yang kedua ini.

Timang-timang Nak Ditimang Sayang merupakan larik pertama yang sengaja dimiringkan penulis sebagai bentuk rima atau irama yang bisa didendangkan/dinyanyikan. Larik lain yang dimiringkan, yaitu Aduhai dondang/Nak di dondang sayang (larik ke-10 dan ke-11).  Selain itu, Dong dongkak/Pekasam labi-labi/Anak siapa yang tebekah gelak/Mak bapak siapa yang lupa mengaji (larik ke-24 – ke-27). Selanjutnya, rima dan irama itu terdapat pula pada larik ke-67 hingga ke-72. Lalu, dilanjutkan lagi pada larik ke-81 hingga larik ke-88. Larik-larik bersenandung ini sangat khas karena menyampaikan pesan-pesan Melayu dalam mendidik anak-cucu di masa depan. Beberapa bait dari larik-larik tersebut berima seperti pantun, salah satu puisi Melayu klasik. Senandung-senandung larik inilah yang menjadi penyangga utama bangunan puisi TtNDS.

Senandung amanah pertama, menanamkan nilai-nilai kekuatan, baik fisik maupun psikis. Amanah ini bertujuan agar generasi muda memiliki kekuatan dan keberanian menghadapi berbagai masalah/rintangan, yang disimbolisasikan dengan diksi kabut. Kau mengusung cucumu/Dijunjung-junjung/Diayun-ayun/Dilonjak-lonjak/Diangkat-angkat/Larik-larik tersebut memberikan dorongan yang kuat terhadap kebahagiaan generasi. Bait ini ditutup dengan larik Padahal diluar sudah menelungkup kabut/Perlukah kita takut? Larik-larik sebelumnya tentu sudah menjelaskan bahwa seorang Melayu tak perlu takut dengan berbagai rintangan. Senandung amanah kedua, pemimpin/sesepuh/orangtua patut peduli dengan aspirasi generasi muda. Generasi muda biasanya sangat idealis. Perlu juga sesekali kau dengan bisik/Jengah ke luar tingkap/Sudah berapa banyak/Teriak budak-budak/Tak lagi dengar kicau bicau.

Senandung amanah ketiga, kebersamaan Melayu patut diutamakan daripada sikap individualis. Jangan sampai jadi induk ayam kau/Kebulur, santap telur sendiri! Karena itu, kebersamaan dalam budaya Melayu layak ditimbang kembali. Bait dan larik ini merupakan protes sosial penyair terhadap orang Melayu yang merasa hebat sendiri.

Senandung amanah keempat, penyair menyampaikan pesan begitu lemahnya Melayu melalui metafora sebutir labu yang hanya membiarkan diri dikuasai hingga tercerabut. Amanah ini ingin membangkitkan kesadaran bahwa di tanah Melayu begitu banyak pengkhianat atau pengambil kesempatan melalui larik Sadarkah ada yang sedang berkucah/Kebun kita di belakang rumah semakin lecah.
Timang-timang nak ditimang/Jangan pula membayang/Tengok lesot jemari yang masih mengepit bayi/Tak jemu merapal azimat/Dan senandung itu/Adalah pesan keramat menyambut masa depan. Larik-larik bait terakhir ini mempertegas bahwa puisi ini merupakan senandung yang sarat amanat untuk membangun masa depan.

Puisi TtNDS bertujuan memberikan pencerahan kepada pembaca, terutama Melayu yang masih pulas. Mahayana mengatakan, karya-karya agung dalam kesusastraaan dunia selalu mencerahkan (2005:259). Puisi-puisi Jefri Al Malay juga mengajak kita untuk kritis menanggapi berbagai persoalan kehidupan sosial-budayanya. Sikap-sikap kritis penyair ini muncul karena adanya fenomena melecehkan keberadaan bangsa Melayu di peradaban Indonesia Raya. Begitulah puisi-puisi Jefri Al Malay. Ada geram, amanah, amarah, berontak, atau amuk dan kesetiaan dunia Melayu. Penyair merangkainya dengan beberapa senandung budaya Melayu yang nyaris punah.***


Musa Ismail
Guru SMAN 3 Bengkalis
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us