Sajak-sajak Kiki Sulistyo

5 Juli 2015 - 09.16 WIB > Dibaca 1847 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Kiki Sulistyo
Lidah Bangkol Tuan Haji

apa yang lebih tajam dari ladik lebih ringan dari api sepercik
adalah lidah bangkolmu, Tuan Haji. di dusun ini, kami harus menyapa
bahkan apabila tiap detik kaulintas di depan beranda
juru tenun yang rabun oleh hitungan bentang benang
dan batang-batang ketujur yang terlanjur layu di kusen dapur

barangkali kau turunan raden yang pernah menulis surat pada residen
meminta amunisi, timah dan sumbu-sumbu mesiu
ketika orang-orang Sasak Timur yang mengaku miskin dan bodoh
menyatakan perang pada raja lantaran pajak terlalu tinggi
dan anak-anak lelaki dijadikan panjak berkali-kali

tapi lidahmu itu, Tuan Haji. seakan mau bilang,
di Ampenan masih ada bandar, dimana Arya Banjar Getas
bersiap menyeberang, pertempuran sudah ambang
dan wabah malaria menyerang dari rawa-rawa

tapi tak ada malaria, kecuali datang dari kapal-kapal pedagang
sebagaimana sekarang, manakala sirih-pinang kering di pinggan
dara-dara keluar rumah tanpa salam atau ciuman pada tangan

di lidah bangkolmu, Tuan Haji, Arya Banjar Getas masih saja bersuara

(Bakarti-Pagesangan, 2015)



orang kerdil

tepat ketika bunyi benturan datang dari ladang
orang kerdil itu berkata, sumur akan hidup dan
kalian semua bisa berkumur sebelum tidur.
di dalam tenda, serangga berputar-putar,
peri-peri hijau duduk di punggungnya, menghisap
cahaya lampu, -gelap pelan-pelan menetap
bayi bermimpi melihat jalan yang menjorok ke langit
dan kereta-kereta tanpa kuda
mengangkut batu-batu pengharapan
malam lebam seperti bayangan paman yang berdiri
di pinggir sumur, bau ragi, bau gamis dan kapur barus
timba berayun-ayun, baju orang mati berjalan seakan
ada ruh di serat benangnya, orang kerdil itu terjun ke sumur
dari dalam sumur bulan meluap, cahayanya tumpah ke ladang
orang-orang berkumur, rambut mereka memutih seketika
   


pembaca kartu

perempuan itu datang membawa kartu
di belakangnya seekor anjing buta
menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung
setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru
bergerak bagai wabah
perempuan itu menyalakan pelita , api berkedip
seperti mata siluman dalam botol limun
yang berkilau-kilau
kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu-persatu
gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah
hidup dan tumbuh:
cacing air yang terus menerus menghisap cahaya
wayang yang meniup bayangannya sendiri
seorang  menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap
seperti kepiting.
perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang
padam di rambut setiap orang

(Bakarti, 2015)



Kelampan Gabah

gabah dijemur di belakang rumah. gabah orang yang punya tanah.
butir gabah menyerap keringat buruh penyakap,
dalam pikirannya cincin mahar bersinar di meja pegadaian
harus ditebus sebelum penanggalan tanggal dari surat perjanjian.
kapan hari ada datang kerani kabupaten. menjelang musim panen.
dari mulut mereka manis sekali kata-kata, seperti gula merah dalam
bubur ketan. untuk selamatan tetangga yang berangkat ke Mekah.
meski setelah semuanya, harga-harga bergerak semaunya.

gabah tak bisa dijual sebab kapal-kapal merapat di pelabuhan
membongkar muat ke gudang-gudang. sedang disini orang masih bermimpi
nanti apabila modal sudah kembali dan kepala ditutup topi haji
tak ada masalah apabila ingin berulah mencari istri lagi

keringat buruh penyakap sudah mengendap di kulit gabah.
gabah orang yang punya tanah, setelah tinggi matahari
rencana-rencana akan menguap ke atap, tak bisa lagi diharap
       
(Bakarti, 2015)



Gerantung Gunung

badannya ditinggikan dan kepalanya dibalikkan
menghadap bumi menyerap bunyi-bunyi besi
di tanah ini berdiam semua yang disingkirkan
setelah datang para perumus waktu sembahyang

di labuhan, sunan menepi bersama mereka
yang berhak atas surga, untuk mensucikan orang-orang tuli

tapi jangan ditanya, berapa lama sunan di sana
sebab tak sekalipun ia menyentuh tanah, hanya para awak
yang bergerak bagai segerombolan biawak

jangan pula ditanya apakah ia harus dipukul tiga kali
atau lima kali sebagaimana ajaran nabi
sebab tuhan hanya hidup lewat kerongkongan pejabat
dan juru selamat perlente di lensa-lensa tele

semakin tua ia, semakin sia-sia semua sungkawa
bahkan apabila bah akan datang untuk kesekian kali
sunan sudah mati dan mimpi buruk dijatuhkan burung
ke arah mereka yang bertahan di gunung-gunung

(Bakarti, 2015)



Bibi Keriting

keriting rambutnya berdenting di hari tua
berpaling dari kami, berpaling dari misan sendiri

mula adalah ujaran berakhir sebagai usiran
warisan hilang, orang bilang, keluarga malang

keluarga yang menebang pohon di halaman
keluar dari lingkaran, melingkar di luar bayangan

bibi kami, kini, matanya sepi
seperti mata puisi, puisi terakhir di bumi ini

(Bakarti, 2015)       



Kiki Sulistyo
lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku puisinya adalah Hikayat Lintah (Akarhujan, 2014), Rencana Berciuman (Halindo, 2015) dan Penangkar Bekisar (Nuansa Cendekia, 2015). Ia juga menulis dan menyiarkan cerita pendek serta rajin mengisi kolom di surat kabar lokal. Bersama sejumlah kawan mendirikan dan mengelola  Komunitas Akarpohon. Suatu komunitas non-sanggar yang mengupayakan penerbitan buku, kelas menulis, dan proyek-proyek seni lainnya.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Selasa, 13 November 2018 - 16:45 wib

Momen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Follow Us