Sajak-sajak Cahaya Buah Hati

5 Juli 2015 - 09.18 WIB > Dibaca 1596 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Cahaya Buah Hati
Simpang Haru

di simpang haru
kita menunggu
kereta pukul lapan

pasir memutih buih
di ujung kaki
kita tuliskan
esok

pantai gandoriah
melamun ombak
selebihnya
airnya membasah
ujung rambut

kita tenggelam
memulai mimpi



Sudah Lama

sudah lama kekasih
kau dan aku memetik hujan
terakhir di antara kita
kulihat kau
dan temanmu
menirai angin

sesekali kau berdiri

adakah kau puncak gunung
embun putih selepas hujan

di bawah
orang-orang berpasangan
menatap tengah matamu

hujan mulai mengendap
diam yang kau tanyakan



Renyai di Sepanjang Labuhan

renyai yang turun menitik
sesekali datang
di sepanjang Labuhan
pukul tujuh

hingga,
matahari merambat
hangat daun
satu dari arah itu

kau
ke awal
atau menelikung



Malam di Jalan Arifin Ahmad

Di pinggir jalan menuju pulang
masih dalam ingatan
lampu merah yang kiri
orang-orang lupa
bahwa di kaki jalan
kau menjatuhkan kunci
dan semua menjadi salah di tatapmu
hingga paku yang kau tebar mengenaimu
tepat di jantung
kita sama berhenti
dan saling menyalahkan
tigapuluhlimaribu yang bukan milikmu



Kosong

yang tertunduk
kosong hitunglah

kita putuskan
untuk duduk
menghadap laut
diantara riuh ombak
kau dan aku

lalu
kita merasa lelah
sebab pagi
sebab tadi



Adakah Kau Puncak Gunung

sudah lama
kau dan aku memetik hujan
terakhir diantara kita
kulihat kau
dan temanmu
menirai angin

sesekali kau berdiri

adakah kau puncak gunung
embun putih selepas hujan

di bawah
orang-orang berpasangan
menatap tengah matamu

hujan mulai mengendap
diam yang kau tanyakan



Emak

menatah tanganmu
bagimu waktu

dan terdiammu
menandakan masih ada hitungan

entah kali ke berapa

memulai baru


Di Kelok Kuburan

Lepas pulang
kau sempat singgah
di Senapelan
rumah yang kau tinggal
di ujung bulan

di kelok kuburan
kau tahu hari
tetap saja berlalu
kau dan mereka
atau siapa saja

pada hitungan yang entah
kita tidak tahu

waktu tetap saja berlalu
jalanmu yang pasti
entah kapan



Cahaya Buah Hati
bergiat di Komunitas Paragraf dan guru di SDN 65 Pekanbaru. Membaca puisi pada beberapa event seperti: Temu Taman Budaya Nasional 2010, Hijrah di Purnama, Event Satelit Ubud Writers and Readers Festival di Balai Bahasa Propinsi Riau (2010), Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Anjung Cahaya Kota Tanjung Pinang (2011), Aksi Panggung Penyair Perempuan Riau (2011). Sajak-sajaknya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Indopos dan lain-lain, juga termaktub dalam buku antologi bersama seperti  Ziarah Angin, Mengucap Sungai, Fragmen Sunyi, Rahasia Hati (2011), Munajat Sesayat Doa (2011) dan Ayat-Ayat Selat Sakat (2013), dan Bendera Putih untuk Tuhan (2014).

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us