Sajak-sajak Cahaya Buah Hati

5 Juli 2015 - 09.18 WIB > Dibaca 1639 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Cahaya Buah Hati
Simpang Haru

di simpang haru
kita menunggu
kereta pukul lapan

pasir memutih buih
di ujung kaki
kita tuliskan
esok

pantai gandoriah
melamun ombak
selebihnya
airnya membasah
ujung rambut

kita tenggelam
memulai mimpi



Sudah Lama

sudah lama kekasih
kau dan aku memetik hujan
terakhir di antara kita
kulihat kau
dan temanmu
menirai angin

sesekali kau berdiri

adakah kau puncak gunung
embun putih selepas hujan

di bawah
orang-orang berpasangan
menatap tengah matamu

hujan mulai mengendap
diam yang kau tanyakan



Renyai di Sepanjang Labuhan

renyai yang turun menitik
sesekali datang
di sepanjang Labuhan
pukul tujuh

hingga,
matahari merambat
hangat daun
satu dari arah itu

kau
ke awal
atau menelikung



Malam di Jalan Arifin Ahmad

Di pinggir jalan menuju pulang
masih dalam ingatan
lampu merah yang kiri
orang-orang lupa
bahwa di kaki jalan
kau menjatuhkan kunci
dan semua menjadi salah di tatapmu
hingga paku yang kau tebar mengenaimu
tepat di jantung
kita sama berhenti
dan saling menyalahkan
tigapuluhlimaribu yang bukan milikmu



Kosong

yang tertunduk
kosong hitunglah

kita putuskan
untuk duduk
menghadap laut
diantara riuh ombak
kau dan aku

lalu
kita merasa lelah
sebab pagi
sebab tadi



Adakah Kau Puncak Gunung

sudah lama
kau dan aku memetik hujan
terakhir diantara kita
kulihat kau
dan temanmu
menirai angin

sesekali kau berdiri

adakah kau puncak gunung
embun putih selepas hujan

di bawah
orang-orang berpasangan
menatap tengah matamu

hujan mulai mengendap
diam yang kau tanyakan



Emak

menatah tanganmu
bagimu waktu

dan terdiammu
menandakan masih ada hitungan

entah kali ke berapa

memulai baru


Di Kelok Kuburan

Lepas pulang
kau sempat singgah
di Senapelan
rumah yang kau tinggal
di ujung bulan

di kelok kuburan
kau tahu hari
tetap saja berlalu
kau dan mereka
atau siapa saja

pada hitungan yang entah
kita tidak tahu

waktu tetap saja berlalu
jalanmu yang pasti
entah kapan



Cahaya Buah Hati
bergiat di Komunitas Paragraf dan guru di SDN 65 Pekanbaru. Membaca puisi pada beberapa event seperti: Temu Taman Budaya Nasional 2010, Hijrah di Purnama, Event Satelit Ubud Writers and Readers Festival di Balai Bahasa Propinsi Riau (2010), Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Anjung Cahaya Kota Tanjung Pinang (2011), Aksi Panggung Penyair Perempuan Riau (2011). Sajak-sajaknya dimuat di Riau Pos, Batam Pos, Indopos dan lain-lain, juga termaktub dalam buku antologi bersama seperti  Ziarah Angin, Mengucap Sungai, Fragmen Sunyi, Rahasia Hati (2011), Munajat Sesayat Doa (2011) dan Ayat-Ayat Selat Sakat (2013), dan Bendera Putih untuk Tuhan (2014).

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us