Oleh: Homaedi

Sungging Raga, Sarelgaz dan Cerita yang Memukau

12 Juli 2015 - 09.05 WIB > Dibaca 2711 kali | Komentar
 
Sungging Raga adalah sebuah nama yang patut diperhitungkan dalam deretan cerpenis masa kini. Lahir di Situbondo, sebuah kota yang jauh dari hingar bingar peta kekuatan prosais Jawa Timur, yang berpusat di Surabaya dan sekitarnya, ia melakukan gebrakan dengan menerbitkan antologi cerpen cantik pertamanya “Sarelgaz dan Cerita-cerita Lainnya” dengan style, tema, serta kebaruan gagasan gaya cerita yang patut kita appresiasi kehadirannya.

Tentu langkah ini menambah sinyalemen bahwa Jawa Timur memang terkenal sebagai sebuah provinsi tumbuh suburnya para penulis prosa potensial dari tiap generasi yang selalu diperbincangkan dalam konstelasi sastra Indonesia yang terbangun secara kokoh dari masa ke masa (Baca: Masa Depan Sastra, Tjahjono Widarmanto).

Terlepas dari n    ama-nama penulis era 2000-an sebagai misal, Lan Fang (alm), Masyuri, Wina Bojonegoro, di samping nama-nama prosais yang lebih awal (saya ambil beberapa contoh saja) seperti Budi Darma, M. Soim Anwar, Suparto Brata, Tan Sin Tjiong dan banyak lagi yang lainnya, Sungging Raga muncul sebagai aset besar cerpenis muda Jawa Timur yang cukup matang dalam proses kreatifnya untuk mendorong progresivitas sastra cerita pendek masa mendatang.

Tak hanya itu, antologi “Sarelgaz dan Cerita-cerita Lainnya” ini, berbeda dari latar cerpen Jawa Timuran yang biasa kita temui di media massa, buku antologi, atau majalah sastra mutakhir. Yang relatif berpusat pada tema-tema sejarah, kekayaan lokalitas, tradisi, budaya dan kearifan yang tak pernah habis untuk digali.

Sarelgaz lahir dengan corak yang disesuaikan dengan keadaan zamannya. Dengan tokoh-tokoh memikat, seperti; Nalea, Oxymora, Alesia dan Isara telah berhasil merekonstruksi cerita imajinatif (cenderung) fantasi. Bahasa dan narasinya gemulai membungkus tema-tema kekinian yang akan menggiring pembaca pada sebuah refleksi kehidupan lain. Kehidupan yang terbentuk dari alam bawah sadar intuisi penulis itu sendiri—dengan mencipta realitas kehidupan baru pada pembaca.

Seperti cerpen “Hipotenusa”, Sungging Raga menghidupkan seorang anak keturunan iblis. Oxymora tampak gelisah, bahasa gaulnya ‘galau’ apakah akan hidup di alam manusia mengikuti saran ibunya, atau meneruskan langkah ayahnya menjadi penguasa iblis. Hingga pada akhirnya ia memilih hidup dengan manusia meski ia tahu, pada saat bersamaan iblis pendatang dari london berhasil menumbangkan ayahnya dengan kecanggihan teknologi modern yang tak dipunyai iblis-iblis lokal.

Beda halnya dengan “Pesugihan Zombie” yang berkisah tentang seseorang melakukan pesugihan. Jika dahulu pesugihan menggunakan tuyul atau babi ngepet, yang tentu sudah klise, lapuk tergerus zaman seperti sekarang, pesugihan terbaru ini kerjanya cukup berkeliling di kampung saja. Dengan sekelebat mata, tubuh sang zombie akan ditempeli berbagai jenis perhiasan, kalung, gelang, cincin dengan sendirinya. Pelaku pesugihan ini juga bisa mengatur barang-barang berat yang tak bisa dibawa, seperti kulkas dan televisi. Istimewanya lagi, orang yang barangnya raib di bawa zumbie tidak akan pernah sadar jika barangnya telah hilang.

Kekuatan Doa  
Dalam beberapa kisahnya, Sungging kerap menghadirkan doa sebagai kekuatan yang melebihi apapun. Kekuatan yang tak kasatmata, yang tak dapat di analisa ilmu ilmiah bahkan gaib sekalipun. Seperti cerpen “Sepertiga Malam Terakhir”, yang bercerita tentang dusun Ensifera yang akan digusur untuk dibangun pusat perbelanjaan. Dirminto, salah satu kepala keluarga di dusun itu lebih memilih pergi daripada melawan petugas. Namun, di sepertiga malam terakhir, saat Dirminto sedang pulas di sebuah bukit yang teramat sangat jauh dari dusun mereka, tiba-tiba Dirminto dikagetkan dengan suara gaduh berasal dari kota Wintersia yang terbakar, seluruhnya. Api menjilat-jilat ke angkasa, gedung-gedung tinggi seketika menjelma bara. Dirminto terheran-heran, kekuatan apa yang membuatnya demikian?, dan yang lebih mencengangkan lagi, saat ia menoleh ke belakang, melihat Nalea sedang mengangkat kedua tangannya, seperti mendoakan sesuatu yang cepat terkabul.

Untuk cerpen “Sifat Sedih Hujan”, Sungging mencoba menghidupkan benda mati layaknya manusia. Ia menghadirkan hujan sebagai objek yang bisa berdialog, menagis, bahkan resah memikirkan takdirnya yang tak jadi turun ke bumi. Hujan itu berkata, sudah mempersiapkan semuanya untuk turun ke bumi. Ia sudah berdandan, menyiapkan gerimis, menyelipkan pula gemuruh yang tak terlalu keras, tapi semuanya batal lantaran doa seorang gadis yang meminta kepada Tuhan agar hujan tak turun.

Dengan suasana yang kuat, setting lokal memikat, meski bukan lokalitas apalagi kearifan, Sungging Raga berhasil mempermainkan cerita masa kini untuk berangkat ke masa depan. Kisah-kisahnya mempresentasikan kehidupan makhluk-makhluk ghaib; iblis, sosok malaikat, bidadari serayu, sifat hujan, serta ratu laba-laba yang berbaur dengan kehidupan manusia.     

Simbol-simbol yang melekat dalam cerpen Sungging Raga terdapat pada kekuatan konflik serta penuturan cerita yang mungkin munskil ditangkap nalar karena berlapis-lapis makna dan hal-hal tak terduga. Pun daya tarik ceritanya tidaklah bertumpu pada kekuatan estetika yang dicipta atau diksi yang dipilih. Melainkan penafsiran-penafsiran yang harus ditelaah lebih kritis lagi oleh pembaca untuk menelusuri keajaiban hidup yang tak terbantahkan.

Namun tetap saja cara berceritanya memukau; begitu sangar, tegas, langsung menohok ke inti alur yang disuguhkan; konyol, munskil, nyleneh namun juga sublim. Bahkan salah satu cerpen “Alesia” masuk dalam antologi cerpen pilihan kompas 2013. Dan dibuatkan film pendek oleh kawan-kawan kreatifnya.

Tentu langkah ini upaya Sungging Raga memancing pembaca untuk mengembarai lebih intim tokoh-tokoh dalam ceritanya. Sekaligus memberi tawaran warna baru cerita kontemporer masa kini di Jawa Timur, sebagai tanah leluhurnya.***
    

Homaedi
pencinta sastra. Lahir di Sumenep-Madura.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 14:45 wib

Baznas Sosialisasi Zakat Petani Padi di Sungai Mandau

Rabu, 19 September 2018 - 14:30 wib

Beruang Madu Terkena Jeratan Babi

Rabu, 19 September 2018 - 14:00 wib

Habisi Guru karena Enggan Bayar Utang Minuman

Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Follow Us